Search This Blog

Loading...

Monday, August 22, 2005

All About Strawberry


PERRY Tristianto, 46 tahun, adalah pengusaha ulet. Ia sudah mendirikan 12 factory outlet (FO), gerai belanja pakaian di Bandung dan Sentul, yang semuanya sukses. Perry pada 2003 meresmikan lahan wisata belanja seluas 8.000 m2 di kawasan Cihanjuang. Namanya All About Strawberry.

Ke sanalah Darrel ''Dayen'' Cetta Askara, Ahad 21 Agustus 05 lalu berkunjung. Ia datang berenam. Darrel duduk di belakang bersama ayah. Mommy di tengah dengan eyang. Di paling depan adalah Tante Agus dengan sopir, Pak Rejo. Baru jalan 30 menit, Dayen sudah ngantuk. Ia tidur lelap, kepalanya disenderkan di pundak ayah.

Dari rumah, jarak ke Bandung kini bisa ditempuh cepat. Setelah ada tol Cipularang, ke Bandung kini tak sampai 2 jam. Sejak tiga bulan lalu mommy bilang, ia ingin ke All About Strawberry. Kini, keinginan itu terkabul. Rupanya mommy menunggu Tante Agus berulang tahun.

Darrel bangun menjelang sampai kebun. Mommy membayar Rp 25.000 untuk membeli tiket masuk, yang kemudian ditukarkan dengan ‘’welcome drink’’. Dalam bahasa ayah yang british, itu artinya ‘’unjukan sugeng rawuh’’.

Begitu sampai di lokasi, Dayen seger meluncur ke tempat mainan. Ada kuda-kudaan, burung-burungan, juga permainan jungkit. Dayen dibantu Pak Rejo untuk bermain jungkit.


Kata ayah, All About Strawberry semula hanya tempat kediaman Perry dan keluarga. Di situ ia juga memiara kolam ikan Koi koleksinya. Dia bermaksud memanfaatkan rumah tinggalnya yang terpencil, sambil meringankan ongkos pemeliharaan.

Kini, Perry mencoba membuat terobosan perpaduan konsep bermain di alam terbuka, belanja, makan dan jajan, sambil mengenang masa bocah di tengah kebun strawberry. Perry adalah sosok kreatif dan inovatif. Ia mengusung kenangannya itu menjadi sebuah lahan bisnis yang menguntungkan.

Perry adalah lulusan Universitas Parahyangan, Bandung, dan Administrasi Bisnis Stanford College, Singapura. Sebanyak 12 gerai belanja (fashion) telah dihadirkannya dengan nama The Big Price Cut, Rich & Famous, GalleryClothing, The Summit, Happening, Oasis, Emirates, Metropolis, China Emporium, The Ware House, LA Clothing, dan The Container.

Di Strawberry, Perry ingin merangkul para penjual penganan tradisional yang dikumpulkan dalam konsep pasar. Ia juga berjanji memperbagus dan memperbaiki sarana jalan ke kawasan All About Strawberry. Ada jalanan tembus yang mempermudah orang Jakarta mampir melalui Cimahi, berjarak sekitar kurang dari tiga kilometer. Ada jalan lintas dari Padalarang melalui jalur tol Baros. Di samping itu ada arah masuk dari daerah Subang dan Lembang. Boleh dibilang, demikian Perry, All About Strawberry seperti awalnya (kawasan wisata) Kampung Daun saat pertama kali hadir.

"Think rest and fresh," katanya bila menatap ke kawasan All About Strawberry. Di tengah lahan seluas 8.000 meter persegi, Perry menyediakan kebun strawberry dalam rumah kaca, warung tradisional makanan renyah, serta kafe bernuansa Eropa.

Selain itu di All About Strawberry, pengunjung dapat menyalurkan kebiasaan berbelanja di Clothing and X'cessories Outlet (CX Outlet).

Arena bermain terbuka juga disuguhkan oleh Perry, sebutlah itu flying fox untuk anak serta orangtuanya, jembatan goyang di atas kolam, panjat tebing untuk anak, dan sejumlah jenis permainan lain.


Di sana dapat kita temukan Kampoeng Masa Kecil-Koe (Area I), yang selain ada perkebunan strawberry, juga permainan anak Low Rope Element yang berfungsi untuk melatih dan merangsang motorik kasar pada anak. Ada pula toko aksesori yang berbentuk "rumah keju".

Di Area II ada wilayah "Impian Masa Kecil-Koe" yang mengajak kita untuk sejenak bermimpi ke dunia khayal. Suasana yang dibangun adalah bentuk permainan Adventure Game berupa Flying Fox, dikelilingi oleh rumah liliput atau Hobbit's House, serta Gendalf House atau rumah topi dan rumah boneka yang bisa diubah fungsinya sebagai Camping Ground.

Konsep terbaru berbelanja untuk keluarga terdapat di Area III yang bertema Butik Rekreatif-Koe. Setelah itu bisa ditemukan "Bla...Bla...Koe", rumah koboi yang difungsikan untuk kafe Eropa dan dilengkapi kolam renang. Di situ sekaligus bisa dijadikan area permainan rakit, yang diselingi pertunjukan musik akustik pada akhir minggu.


Dayen tidak suka dengan butik, kolam renang, dan kebun-kebun. Begitu melihat permainan, ia langsung berhenti. Lebih dari satu jam ia habiskan dengan naik ‘’cuda’’. Ada juga mainan topeng monyet, tapi Dayen tak tertarik. Baru setelah digendong paksa oleh ayah, dibawa ke lapangan, Dayen diam. Soalnya di situ ada patung ‘’Strawberry Air’’ berdiri.

Di sini, juga hampir satu jam Dayen bermain-main. Naik pesawat, lalu turun lewat perosotan. Asyik!!!

Setelah itu, Dayen meneruskan perjalanan ke The Heritage, FO yang sangat terkenal di Bandung. Letaknya di Jalan Riau. Susah lo mencari tempatnya. Muter-muter, bermodal peta fotokopian, membuat mobil berkali-kali keblasuk. Di jalan ada pengasong yang menjual peta. Mommy membelinya, harganya Rp 6.000. Eh, ternyata petanya tidak bagus.

Dayen meninggalkan Bandung jam 16. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Walau, di jalan Dayen capek. Berkali-kali ia ''memukung'' ayah. ''Ayo.. ayah turun.. pindah mobil sana... ayah naik tuk sana... ayah nangis...''

No comments: