Sunday, November 08, 2009

KEBUN RAYA TAMANSARI

 


LEBARAN lalu, Darrel ke Tamansari, Yogyakarta. Ini tempat yang bagi ayahnya Darrel, terasa kurang istimewa. Soalnya dulu waktu kecil, kalo ke Pasar Ngasem, pasti melewati Tamansari. Jalan kaki dari rumah.Kalo sekarang disuruh jalan kaki, ya nggak usah.

Darrel menikmati suasna di Tamansari. Ada undak-undakan. Ada kolam. Ada kamar-kamar kecil. Lengkaplah, cocok untuk bermain petak umpet.

Saya tak ingin berpanjang lebar mengenai acara kami di Tamansari. Kesempatan ini akan saya gunakan untuk memperkenalkan (sekali lagi) apa itu Tamansari. Naskahnya diambilkan dari wikipedia Indonesia. Inilah cerita tentang Tamansari:

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah sebuah situs bekas taman atau kebun istana (royal garden) Keraton Yogyakarta. Hal ini dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang

 

Tegis.

Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.


Bagian pertama
Bagian pertama merupakan bagian utama Taman Sari pada masanya. Pada zamannya, tempat ini merupakan tempat yang paling eksotis. Bagian ini terdiri dari danau buatan yang disebut "Segaran" (harfiah=laut buatan) serta bangunan yang ada di tengahnya, dan bangunan serta taman dan kebun yang berada di sekitar danau buatan tersebut. Di samping untuk memelihara berbagai jenis ikan, danau buatan Segaran juga difungsikan sebagai tempat bersampan Sultan dan keluarga kerajaan. Sekarang danau buatan ini tidak lagi berisi air melainkan telah menjadi pemukiman padat yang dikenal dengan kampung Taman. Bangunan-bangunan yang tersisa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Pulo Kenongo
Di tengah-tengah Segaran terdapat sebuah pulau buatan, "Pulo Kenongo", yang ditanami pohon Kenanga (Kananga odorantum[?], famili Magnoliaceae[?]). Di atas pulau buatan tersebut didirikan sebuah gedung berlantai dua, "Gedhong Kenongo". Gedung terbesar di bagian pertama ini cukup tinggi. Dari anjungan tertingginya orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya sampai ke luar benteng baluwarti. Konon Gedhong Kenongo terdiri dari beberapa ruangan dengan fungsi berbeda. Dari jauh gedung ini seperti mengambang di atas air. Oleh karenanya tidak mengherankan jika kemudian Taman Sari dijuluki dengan nama "Istana Air" (Water Castle). Saat ini (Januari 2008) gedung ini tinggal puing-puingnya saja.

Di sebelah selatan Pulo Kenongo terdapat deratan bangunan kecil yang disebut dengan "Tajug". Bangunan ini merupakan menara ventilasi udara bagi terowongan bawah air. Terowongan ini merupakan jalan masuk menuju Pulo Kenongo selain menggunakan sampan/perahu mengarungi danau buatan. Dahulu di bagian barat pulau buatan tersebut juga terdapat terowongan, namun kondisinya sekarang kurang terawat dibandingkan dengan terowongan selatan.

Pulo Cemethi dan Sumur Gumuling
Di sebelah selatan Pulo Kenongo terdapat sebuah pulau buatan lagi yang disebut dengan "Pulo Cemethi". Bangunan berlantai dua ini juga disebut sebagai "Pulo Panembung". Di tempat inilah konon Sultan bermeditasi. Ada juga yang menyebutnya sebagai "Sumur Gumantung", sebab di sebelah selatannya terdapat sumur yang menggantung di atas permukaan tanah. Untuk sampai ke tempat ini konon dengan adalah melalui terowongan bawah air. Saat ini bangunan ini juga tinggal puing rerutuhan saja.

Sementara itu di sebelah barat Pulo Kenongo terdapat bangunan berbentuk lingkaran seperti cincin yang disebut "Sumur Gumuling". Bangunan berlantai dua ini hanya dapat dimasuki melalui terowongan bawah air saja. Sumur Gumuling secara tradisional konon digunakan sebagai masjid. Di kedua lantainya ditemukan ceruk di dinding yang konon digunakan sebagai mihrab, tempat imam memimpin ibadah. Di bagian tengah bangunan yang terbuka, terdapat empat buah jenjang naik dan bertemu di bagian tengah. Dari pertemuan keempat jenjang tersebut terdapat satu jenjang lagi yang menuju lantai dua. Di bawah pertemuan empat jenjang tersebut terdapat kolam kecil yang konon digunakan untuk berwudu.

Bagian Kedua
Bagian kedua yang terletak di sebelah selatan danau buatan segaran merupakan bagian yang relatif paling utuh dibandingkan dengan bagian lainnya. Bagian yang tetap terpelihara adalah bangunan sedangkan taman dan kebun di bagian ini tidak tersisa lagi. Sekarang bagian ini merupakan bagian utama yang banyak dikunjungi wisatawan.
 


Gedhong Gapura Hageng
"Gedhong Gapura Hageng" merupakan pintu gerbang utama taman raja-raja pada zamannya. Kala itu Taman Sari menghadap ke arah barat dan memanjang ke arah timur. Gerbang ini terdapat di bagian paling barat dari situs istana air yang tersisa. Sisi timur dari pintu utama ini masih dapat disaksikan sementara sisi baratnya tertutup oleh pemukiman padat. Gerbang yang mempunyai beberapa ruang dan dua jenjang ini berhiaskan relief burung dan bunga-bungaan yang menunjukkan tahun selesainya pembangunan Taman Sari pada tahun 1691 Jawa (kira-kira tahun 1765 Masehi).
 


Gedhong Lopak-lopak
Di sebelah timur gerbang utama kuno Taman Sari terdapat halaman bersegi delapan. Dahulu di tengah halaman ini berdiri sebuah menara berlantai dua yang bernama "Gedhong Lopak-lopak", versi lain menyebut gopok-gopok. Sekarang (Januari 2008) gedung ini sudah tidak ada lagi. Di halaman ini hanya tersisa deretan pot bunga raksasa serta pintu-pintu yang menghubungkan tempat ini dengan tempat lainnya. Pintu di sisi timur halaman bersegi delapan tersebut merupakan salah satu gerbang menuju Umbul Binangun.

Umbul Pasiraman

Kolam Pemandian Umbul Binangun, Taman Sari, Kraton Yogyakarta"Umbul Pasiraman" atau ada yang menyebut dengan "Umbul Binangun" (versi lain "Umbul Winangun") merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri beliau, serta para putri-putri beliau. Kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Untuk sampai ke dalam tempat ini disediakan dua buah gerbang, satu di sisi timur dan satunya di sisi barat. Di dalam gerbang ini terdapat jenjang yang menurun. Di kompleks Umbul Pasiraman terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Di sekeliling kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam juga terdapat bangunan di sisi utara dan di tengah sebelah selatan.

Bangunan di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para puteri dan istri (selir). Di sebelah selatannya terdapat sebuah kolam yang disebut dengan nama "Umbul Muncar". Sebuah jalan mirip dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan sebuah kolam di selatannya yang disebut dengan "Blumbang Kuras". Di selatan Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk istirahat Sultan. Menara di bagian tengah konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi. Di selatan bangunan tersebut terdapat sebuah kolam yang disebut dengan "Umbul Binangun", sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja. Pada zamannya, selain Sultan, hanyalah para perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks ini.

Gedhong Sekawan
Di timur umbul pasiraman terdapat sebuah halaman bersegi delapan. Di halaman yang dihiasi dengan deretan pot bunga raksasa ini berdiri empat buah bangunan yang serupa. Bnagunan tersebut dikenal dengan nama "Gedhong Sekawan". Tempat ini digunakan untuk istirahat Sultan dan keluarganya. Di setiap sisi halaman terdapat pintu yang menghubungkannya dengan halaman lain.

Gedhong Gapuro Panggung
Di sebelah timur halaman bersegi delapan tersebut terdapat bangunan yang disebut dengan "Gedhong Gapura Panggung". Bangunan ini memiliki empat buah jenjang, dua di sisi barat dan dua lagi di sisi timur. Dulu di bangunan ini terdapat empat buah patung ular naga namun sekarang hanya tersisa dua buah saja. Gedhong Gapura Panggung ini melambangkan tahun dibangunnya Taman Sari yaitu tahun 1684 Jawa (kira-kira tahun 1758 Masehi). Selain itu di bangunan ini juga terdapat relief ragam hias seperti di Gedhong Gapura Hageng. Sisi timur bangunan ini sekarang menjadi pintu masuk situs Taman Sari.

Gedhong Temanten
Di tenggara dan timur laut gerbang Gapuro Panggung terdapat bangunan yang disebut dengan "Gedhong Temanten". Bangunan ini dulu digunakan sebagai tempat penjaga keamanan bertugas dan tempat istirahat. Menurut sebuah rekonstruksi Taman Sari di selatan bangunan ini terdapat sebuah bangunan lagi yang sekarang tidak ada bekasnya sedangkan di sisi utaranya terdapat kebun yang juga telah berubah menjadi pemukiman penduduk.


Bagian Ketiga

Bagian ini tidak banyak meninggalkan bekas yang dapat dilihat. Oleh karenanya deskripsi di bagian ini sebagian besar berasal dari rekonstruksi yang ada. Dahulu bagian ini meliputi Kompleks "Pasarean Dalem Ledok Sari" dan Kompleks kolam "Garjitawati" serta beberapa bangunan lain dan taman/kebun. Pasarean Dalem Ledok Sari merupakan sisa dari bagian ini yang tetap terjaga. Pasarean Dalem Ledok Sari konon merupakan tempat peraduan Sultan bersama Pemaisurinya. Versi lain mengatakan sebagai tempat meditasi. Bangunannya berbentuk seperti U. Di tangah bangunan terdapat tempat tidur Sultan yang di bawahnya mengalir aliran air. Sebuah dapur, ruang penjahit, ruang penyimpanan barang, dan dua kolam untuk pelayan begitu pula kebun rempah-rempah, buah-buahan, dan sayur-sayuran diperkirakan berada bagian ini. Di sebelah baratnya dulu terdapat kompleks kolam Garjitawati. Jika hal itu benar maka kompleks ini merupakan sisa pesanggrahan Garjitawati dan kemungkinan besar juga merupakan Umbul Pacethokan yang pernah digunakan oleh Panembahan Senopati.

Bagian Keempat
Bagian terakhir ini merupakan bagian Taman Sari yang praktis tidak tersisa lagi kecuali bekas jembatan gantung dan sisa dermaga. Deskripsi di bagian ini hampir seluruhnya merupakan sebuah rekonstruksi dari sketsa serangan pasukan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1812. Bagian ini terdiri dari sebuah danau buatan beserta bangunan di tengahnya, taman di sekitar danau buatan, kanal besar yang menghubungkan danau buatan ini dengan danau buatan di bagian pertama, serta sebuah kebun. Danau buatan terletak di sebelah tenggara kompleks Magangan sampai timur laut Siti Hinggil Kidul. Di tengahnya terdapat pulau buatan yang konon disebut "Pulo Kinupeng". Di atas pulau tersebut berdiri sebuah bangunan yang konon disebut dengan "Gedhong Gading". Bangunan yang menjulang tinggi ini disebut sebagai menara kota (Cittadel Tower) [?].

Kanal besar terdapat di sisi barat laut dari danau buatan dan memanjang ke arah barat serta berakhir di sisi tenggara danau buatan di bagian pertama. Di kanal ini terdapat dua penyempitan yang diduga keras merupakan letak jembatan gantung. Salah satu jembatan tersebut berada di jalan yang menghubungkan kompleks Magangan dengan Kamandhungan Kidul. Bekas-bekas dari jembatan ini masih dapat disaksikan, walaupun jembatannya sendiri telah lenyap. Di sebelah barat jembatan gantung terdapat sebuag dermaga. Dermaga ini konon digunakan Sultan sebagai titik awal perjalanannya masuk ke Taman Sari. Konon Sultan masuk ke Taman Sari dengan bersampan. Di sebelah selatan Kanal terdapat kebun. Kebun ini berlokasi di sebelah barat kompleks Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul. Kini semua tempat itu telah menjadi pemukiman penduduk. Kebunnya telah berubah menjadi kampung Ngadisuryan sedangkan danau buatan berubah menjadi kampung Segaran
Posted by Picasa

Wednesday, October 28, 2009

JK Pindah Rumah



PADA Senin 19 Oktober 2009, saya ikut hadir di rumah dinas wakil presiden, di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ini untuk kesekian kalinya saya hadir di pendapa di belakang rumah dinas itu. Pendapa yang tak begitu besar itu mungkin menjadi salah satu saksi penting perjalanan bangsa Indonesia, lima tahun terakhir.
Jusuf Kalla sering mengumpulkan berbagai organisasi kemasyarakatan, media, atau lembaga pemerintah di pendapa itu. Ketika mengumpulkan wartawan, Muhammadiyah, dan NU, untuk mengekspos soal terorisme, JK juga menggunakan pendapa itu. Rekaman gambar para teroris –setidaknya demikian vonis polisi—yang mengancam Amerika dan kepentingannya di Indonesia, pertama kali diputar di depan publik di pendapa itu.
Pertemuan 19 Oktober bagi saya punya makna penting. Hari itu adalah dua hari menjelang Pak JK berakhir masa tugasnya sebagai wakil presiden. Pada 21 Oktober ia digantikan Prof. Boediono.
Saya dan Mommy Uni Lubis merasa, Pak JK sosok yang pantas dihormati, diteladani, sekaligus dikenang. Sebagai wakil presiden, ia mendobrak tradisi keangkeran birokrasi. Rasanya tak terbayangkan seorang wakil presiden membalas SMS sendiri. Nomor handphone-nya semasa jadi wakil presiden masih sama dengan ketika ia di Makassar, sebagai direktur utama Bukaka, atau ketika ia jadi menteri perdagangan, dan kepala Bulog.

Alasan Pak JK sederhana. ‘’Nomor telpon saya ini sudah banyak diketahui orang. Kalau saya ganti telepon, kasihan mereka nanti yang susah ngontak saya.’’
Rumah Pak JK juga agak berbeda dengan rumah dinas wakil presiden atau pejabat pada umumnya, yang rapi jali. Dengan gampang Anda akan menemukan mainan anak-anak di ruang tamu, di pendapa, atau di dalam rumah. ‘’Ini menunjukkan rumah dinas ini betul-betul rumah,’’ kata Mommy.
Bagi wartawan, JK juga sosok yang enak. Ia bisa dicegat seusai salat Jumat. Ia juga gampang dimintai wawancara. Caranya? Cukup kirim SMS ke nomor handphone-nya. Pasti akan segera diproses.
Bukan berarti Pak JK tidak punya masalah. Ia pernah diberitakan soal helikopter untuk Basarnas. Majalah TEMPO mengungkap kasus helikopter itu dalam tulisan panjang. Tapi JK tidak marah.
Kata Toriq Hadad, pemimpin redaksi Tempo, ‘’Ketika saya temui untuk konfirmasi soal helikopter itu, Pak JK hanya bilang, hati-hati kalau kau menulis soal helikopter itu. Pertimbangkanlah, karena itu sebetulnya tidak ada masalah.’’
Bagi Toriq, yang pada Senin pagi itu juga hadir di pendapa rumah dinas wakil presiden, kalimat JK itu menunjukkan JK orang yang cukup bijak. ‘’Saya tidak diancam. Saya masih diberi ruang untuk menimbang-nimbang.’’ TEMPO kemudian memuat tulisan soal helikopter itu. Seingat saya, JK tidak menggugat atau menegurnya.

******
Mohon maaf kalau saya menulis Pak JK dengan nada positif. Bukan karena saya juru bicaranya, atau karena saya dibayar untuk mempromosikannya. Saya termasuk mengaguminya melihat caranya menyelesaikan masalah.
Contohnya, kasus Aceh. Negeri Serambi Mekkah ini bertahun-tahun hidup dalam kesusahan akibat terus-menerus digempur konflik sesaudara: antara yang menghendaki kemerdekaan dengan yang ingin tetap bergabung dalam pangkuan Republik Indonesia.
JK punya peran besar dalam membentuk tim perunding, yang bernegosiasi beberapa kali di Helsinki, Finlandia. Hasilnya kita ketahui, kini Aceh lumayan damai. Mereka bisa membangun.
Terobosan dalam pembangunan listrik 10.000 MW, serta jalan tol, adalah karya lain. Saya teringat, di awal-awal menjadi wakil presiden, JK bercerita, ‘’Kalau tidak ada terobosan, dari gagasan pembangunan pembangkit listrik sampai pelaksanaannya, butuh waktu paling lambat tiga tahun.’’
Karena itu, harus ada terobosan dalam hal peraturan. ‘’Peraturan itu bukan harga mati. Kalau dia mengganggu, ya harus diubah. Yang tak boleh diubah dan tak bisa diubah hanya kitab suci.’’
******
Memang, banyak yang menilai Pak Jusuf Kalla sebagai sosok yang pantas diteladani. Rabu malam, alias sehari setelah ia menyerahkan jabatannya kepada Pak Boediono, sebuah buku diluncurkan. Judulnya: Mereka Bicara JK. Penggagasnya adalah National Press Club of Indonesia (NPCI). Acaranya berlangsung di Ballroom Hotel Sultan Jakarta.

Saya kutipkan di sini tulisan di Media Indonesia, edisi Kamis pagi:
Jusuf Kalla tampak terharu mendapat kejutan yang digagas orang-orang terdekatnya tersebut. "Terima kasih surprise-nya," ujarnya dengan wajah sumringah.

JK mengaku bingung, karena sejak beberapa hari lalu sebenarnya ia ingin segera pulang ke Makassar, namun selalu dicegah anak-anaknya. Menurut JK, buku yang disampaikan tersebut merupakan apresiasi luar biasa bagi dirinya. "Kadang saya merasa apa yang saya kerjakan biasa saja," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut hadir para politisi Partai Golkar seperti Surya Paloh, mantan Sekjen Golkar Soemarsono, Ferry Mursidan Baldan, Poempida Hidayatullah. Terlihat pula, sejumlah menteri dan pejabat seperti Kepala BKPM M Luthfie, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, calon Menteri Perindustrian MS Hidayat, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan lainnya.

Buku yang terdiri dari lima bab tersebut merupakan kumpulan wawancara dan tulisan mengenai sosok JK dari orang-orang terdekat. Selain istri dan anak-anaknya, ada juga Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar 2004-2009 dan pemilik Media Group Surya Paloh, Direktur Pemberitaan Metro TV Suryopratomo, eks pemimpin tertinggi GAM di Swedia Malik Mahmud, delapan anggota Kabinet Indonesia Bersatu, serta wartawan dan wartawan senior yang bertugas meliput JK selama lima tahun terakhir.

"Apa yang terjadi selama lima tahun bagi saya suatu hal yang penting. Lima tahun mengabdi untuk masyarakat dan bangsa," tutur JK.

Sementara itu, Surya Paloh yang turut menulis Cerita di Balik Layar, mengaku mengagumi JK sebagai pribadi yang konsisten dan sabar. "Ini luar biasa, saya bisa pahami kebijakan yang ingin dilakukan JK semata-mata untuk bangsa dan negara. Kebijakan itu tidak semuanya mendapat apresiasi, ada juga kontroversi, dan itu disadari JK," ujarnya.

Ia menambahkan, meski jabatan telah selesai, namun semangat dan pemikiran JK tidak pernah usai. "Saya yakin Pak Jusuf masih sangat diperlukan, teruslah untuk kemajuan banngsa. Anda menjadi wapres atau tidak, kita tetap bersahabat baik suka dan duka," tukasnya.
*****
Di Gedung MPR, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan terima kasih kepada mantan wakil presiden Jusuf Kalla, pada Selasa 20 Oktober 2009. "Saya ucapkan terima kasih kepada mantan wapres M Jusuf Kalla. Pengabdian saudara, abadi dalam sejarah dan akan dikenang sepanjang masa pada jajaran Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009," kata Presiden Yudhoyono, saat pidato pelantikan presiden dan wakil presiden 2009-2014.

Mendengar Presiden Yudhoyono mengucapkan terima kasih, Kalla yang duduk di samping Wakil Presiden Boediono itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Menurut Presiden Yudhoyono, dalam alam demokrasi ada saatnya berbeda pendapat, ada pula saatnya berdebat. Namun, tambahnya, ada saatnya pula bersatu bahu-membahu untuk membangun bangsa.

Usai pelantikan presiden dan wakil presiden yang dipimpin Ketua MPR Taufiq Kiemas itu, Boediono mantan Kalla saling bersalaman dan cium pipi kiri dan kanan.

Sementara, saat Presiden Yudhoyono turun dari panggung utama dengan didampingi Ketua MPR Taufiq Kiemas, terlihat Kalla langsung menyodorkan tangannya kepada Presiden Yudhoyono. "Selamat bapak Presiden," ucap Kalla.

Melihat Kalla menyodorkan tangannya, Presiden Yudhoyono langsung menyambutnya dalam keduanya berpelukan sambil cium pipi kiri dan kanan.

Suasana akrab terlihat meskipun beberapa bulan lalu antara Presiden Yudhoyono dan mantan Wapres Jusuf Kalla terlibat perdebatan sengit saat pemilihan presiden 2009.

Thursday, February 12, 2009

Persaingan Satelit Iran-Israel

Peluncuran satelit Omid




Oleh: Iwan Qodar Himawan


LEWAT siaran nasional stasiun televisinya, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan dengan rasa bangga. ‘’Penduduk Iran yang saya cintai. Putera-putera terbaikmu berhasil menempatkan satelitnya ke luar angkasa. Mulai saat ini Iran menjadi negara yang berhasil membangun, meluncurkan, dan mengendalikan satelitnya sendiri.’’

Iran dilihat dari luar angkasa.

Peluncuran itu berlangsung Selasa lalu, bertepatan dengan 30 tahun Revolusi Iran, sebuah revolusi yang mengubah haluan politik Iran dari sekutu Amerika Serikat menjadi negeri yang senantiasa dicurigai. Dengan peluncuran satelit ini, Iran kini masuk ke dalam kelompok eksklusif, kelompok negara yang bisa merancang satelit, sekaligus meluncurkannya. Delapan negara lain yang lebih dulu adalah Rusia, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, China, Inggris, India, dan Israel.

Satelit itu diberi nama Omid, bermakna Harapan. Para insinyur Iran mulai membangunnya sejak Februari 2006. Pada Februari 2008, satelit memasuki masa uji coba. Satelit dengan berat hanya 27 kilogram itu diniatkan sebagai wahana komunikasi. Menurut janji Presiden Mahmoud Ahmadinejad, setelah meluncurnya Omid, akan menyusul satelit-satelit lainnya.

Bahkan ia sudah menggagas untuk mengirim astronot Iran ke luar angkasa, dengan kendaraan buatan dalam negeri. Roket Safir (bermakna Utusan) generasi baru sudah dirancang untuk mampu membawa satelit hingga ketinggian 600-900 Kilometer, jauh lebih tinggi ketimbang garis edar Omid sekarang, yaitu pada 245 km (terendah) dan 380 Km (terjauh).

Secara teknologi satelit, peluncuran satelit Omid sebetulnya merupakan hal biasa. Namun bagi Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel, kemampuan Iran menggotong satelit hingga luar angkasa menimbulkan kekhawatiran lain. Karena dengan mudah Iran mengganti muatan roket itu, dari satelit menjadi peluru kendali. Paling tidak, ia bisa menjangkau jarak 2.500 Kilometer, ibukota Israel pun bisa disasar. Ini jauh lebih canggih ketimbang roket Hamas, yang paling banter terbang 40 Kilometer, tanpa kemampuan membidik lokasi dengan presisi.

Dari segi pengalaman, Iran sebetulnya masih kalah jauh dibandingkan para pendahulunya di bidang satelit. Pada 1957, Uni Soviet sudah menempatkan Sputnik di luar angkasa. Setahun kemudian, Amerika Serikat menyusulnya.

Dengan keterlambatan yang sedemikian lama, seharusnya Amerika Serikat dan sekutunya, tidak perlu terbengong-bengong. Apalagi buru-buru menghimbau Iran untuk menyetop pengembangan teknologi satelit. Kekhawatiran Amerika antara lain bisa dilihat pada headline koran New York Times edisi Selasa lalu, yang menyatakan peluncuran satelit Iran merupakan tantangan diplomasi Presiden Barack Obama.

****


Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad

Dengan demikian, peluncuran satelit Iran ikut menghangatkan suasana di Timur Tengah yang memang sudah panas. Padahal, apa yang dilakukan Iran dengan meluncurkan Omid sebetulnya belum seberapa bila dibandingkan dengan yang sudah dilakukan Israel, yang sudah meluncurkan satelit karya sendiri sejak 1988.

Satelit terakhir punya Israel diluncurkan pada 21 Januari 2008, namanya Tecsar, dari pusat antariksa Satish Dhawan, milik India. Satelitnya dibuat Israel Aerospace Industri, BUMN di bawah Departemen Pertahanan. Sedang India yang menyediakan pesawat peluncurnya. Roket yang dipakai memiliki kekuatan empat tingkat,

Peluncuran Tecsar membuat Iran sangat marah, karena ia memang diniatkan untuk memata-matai Iran dan negara lain yang dianggap musuh, yakni Suriah dan Palestina. Untuk menjalankan misinya, Tecsar dilengkapi kamera super canggih, yang diklaim sebagai paling maju. Meski lintasan orbitnya di ketinggian 450-800 Kilometer, ia bisa menghasilkan resolusi sampai 10 centimeter, melalui sistem radar gelombang X.

Dengan kemampuan sebesar ini, buku yang tengah dibaca Presiden Palestina Mahmood Abbas pun bisa dibaca judulnya. Selain itu, berbeda dengan satelit di masa lalu, pemindaian Tecsar tidak terpengaruh cuaca. Siang, malam, berawan, atau badai sekalipun, matanya bisa tajam menyorot bumi. Tidak mengherankan bila bangunan-bangunan penting milik Hamas di jalur Gaza dengan gampang diluluhlantakkan Israel.

Dengan adanya Tecsar, Israel kini memiliki sejumlah serial satelit. Sebelumnya ia sudah punya satelit mata-mata, yakni Ofeq, yang seri ke-7-nya diluncurkan pada 2007. Untuk observasi bumi, Israel memiliki Eros. Untuk komunikasi, ada Amos (sampai seri ke-4). Dewasa ini yang tengah dikembangkan adalah satelit Venus, Tauvex, Opsat, dan Insat.

Dengan berbagai kelebihan itu, Israel dengan gampang mengawasi pergerakan pasukan negara-negara tetangganya. Entah itu di Suriah, Saudi Arabia, Mesir, Iran. Negara-negara itu ibarat sosok telanjang bagi tentara Israel.

Suriah sudah merasakan kehebatan satelit Israel. Pada September 2007, sebuah bangunan yang dicurigai Israel dan Amerika sebagai kawasan pengembangan senjata nuklir, digempur. Berdasar informasi yang dipadukan antara intelijen satelit dengan lapangan, Angkatan Udara Israel terbang menempuh jarak ribuan kilometer, dengan mengisi bahan bakar di antariksa Turki tanpa sepengetahuan Turki. Dalam hitungan detik, instalasi yang dibuat dengan susah payah itu hancur.

****

Israel pertama kali meluncurkan satelit pada 20 September 1988. Langkah itu dinyatakan para pengamat strategi militer sebagai upaya mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat dalam hal intelijen. Satelit Ofek 1 itu diumumkan sebagai mengumpulkan data energi matahari, medan magnetik bumi. Selama sebulan satelit itu beredar di angkasa, sebelum kemudian menghancurkan diri.

Pembuatan satelit Israel

Semakin baru, Ofek semakin canggih. Ofek 5, yang diluncurkan pada Mei 2002 dari pangkalan Angkatan Udara Israel di Palmachim, dilengkapi kamera yang mampu membuat dengan jelas obyek di bumi dengan ukuran 80 cm. Satelit mata-mata Israel yang terakhir, Ofek 7, diluncurkan pada Juni 2007, bisa merekam obyek berukuran 40 cm. Dengan informasi dari Ofek 7, plus intelijen lapangan, Syekh Yasin yang baru pulang dari salat subuh, langsung dihajar dengan rudal.

Sebagai satelit mata-mata, Ofek ditempatkan di jalur rendah, di kisaran 300 km – 1.000 km di atas bumi. Dengan orbit yang rendah, ada dua manfaat yang diperoleh. Untuk satu kali orbit mengelilingi bumi, ia hanya butuh waktu 1,5 jam. Sehingga, kawasan negara tetangga seperti Iran, Palestina, Suriah, Lebanon, dan negara-negara Arab lainnya, bisa dipantau minimal enam kali sehari. Pemindaian sebuah lokasi dapat lebih sering dilakukan. Manfaat lainnya, kameranya bisa merekam pergerakan di bumi dengan jauh lebih akurat.

Kemandirian, itu adalah tujuan dari berbagai kegiatan peluncuran satelit Israel. Meski jelas-jelas selalu mendapat dukungan baik militer maupun ekonomi dari Amerika Serikat, tetapi Israel masih mengeluhkan kurangnya informasi yang diperoleh. Dalam Perang Teluk 1991, para pemimpin Israel mengeluhkan sulitnya mengakses informasi keberadaan rudal Scud punya Irak, yang diarahkan ke Israel. Moshe Aren, ketika itu masih menjabat calon menteri pertahanan, tegas berkata: Israel membutuhkan satelit sendiri. Katanya, sangat riskan untuk selalu tergantung pada Amerika Serikat.

****

Ada dua kesamaan antara Iran dan Israel mengapa mereka begitu berambisi mengembangkan teknologi luar angkasanya, yakni sama-sama memiliki perasaan terancam.

Israel yang senantiasa merasa terancam oleh negara tetangganya, merasa perlu mengembangkan teknologi satelit karena merasa suplai informasi dari Amerika tidak mencukupi. Tak ada jalan lain, kecuali mengembangkan wahana antariksa dengan kemampuan sendiri.


Citra Israel dari satelit.


Iran memiliki perasaan yang sama. Embargo Amerika Serikat terutama yang membuat negeri para Mullah ini bersikeras berupaya dengan kekuatan sendiri. Tak heran bila Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, bergurau. Setelah suksesnya peluncuran satelit, ia bekata, ‘’Terima kasih kepada Amerika Serikat. Berkat embargonya, kami sekarang memiliki teknologi nuklir sendiri, dan teknologi luar angkasa yang maju.’’

Bila itu kita refleksikan ke negeri kita, harusnya Indonesia berpeluang untuk mengembangkan teknologi luar angkasa dengan jauh lebih maju. Dewasa ini Indonesia baru memiliki satelit Tubsat, yang diluncurkan dari India, pada 2007. Sebagai negeri yang relatif tidak punya musuh, kesempatan Indonesia untuk mengembangkan teknologi luar angkasa terbuka luas.

*) Iwan Qodar Himawan, praktisi pemetaan, pengurus pusat Ikatan Surveyor Indonesia. Naskah sudah dimuat di Harian Seputar Indonesia, edisi 7 Februari 2009.

BADMINTON TELADAN 83

Aris Priatno, Suherwan, Agung Krishartanto, Iwan
Aris, Iwan, Anto Trail, Agung Kris, Suherwan


Ini sebagian foto dulminton --istilah sebagian orang yogya untuk badminton-- setiap sabtu pagi. ACaranya cukup gayeng. Kawan-kawan yang pernah sekolah di SMA 1 Yogyakarta angkatan lulus 1983, berkumpul, main badminton bareng. Setiap kali yang datang sekitar 10 orang. Yang paling rajin namanya Suherwan --panggilannya Herwan. Setelah itu Aris Priatno. Saya di juara 3.

Foto-foto lain mengenai acara ini, silakan diklik di www.teladan83.blogspot.com.

Badminton berlangsung di komplek menteri Jalan Widya Chandra III. Tapi mulai pekan ke-2 Februari ini, pindah ke SCBD, di Semanggi Expo. Tempatnya lebih luas, lebih terjangkau dari segi akses, dan yang penting: tidak bocor. Sabtu lalu sewaktu badminton di Widya Chandra, acara tampel bulu harus terhenti karena hujan deras. Air menetes dari atap. Satu-satu netes. Tapi lama-lama ngumpul jadi banyak, dan licin..

Kata Pambudi Mahanto, yang kini bekerja di Departemen Kehutanan, kalau yang berkumpul usianya di atas 40 tahun, tema pembicaraan pasti tidak bergeser dari kolesterol, gula, rambut rontok...
Dari monitoring pembicaraan setiap pekan, tampaknya omongan Hanto benar...
Posted by Picasa

Friday, December 19, 2008

LATIHAN TAEKWONDO


SEJAK dua bulan terakhir ini, Mohamad Darrel Cetta Askara, biasa dipanggil Darrel, ikut taekwondo. Seminggu sekali, tiap hari Kamis jam 13-14, dia berlatih di sekolahnya. Ada uncle bersabuk hitam yang jadi pelatih.
Kenapa ikut taekwondo, bukan silat, misalnya. Jawabannya sederhana. Semua olahraga beladiri apapun bagus. Kebetulan yang disediakan oleh sekolahnya, Embun Pagi Islamic Inteernational School, adalah taekwondo.
Waktu pekan pertama, latihan mulai jam 15.00. Jadi setelah acara sekolah selesai, Darrel pulang. Tapi jam 14.45 berangkat lagi untuk taekwondo. Dari sisi waktu tidak praktis. Baru tidur sebentar kok sudah berangkat lagi. Rupanya banyak orangtua murid yang merasakan hal yang sama. Pada latihan kedua, jamnya digeser. Begitu pulang sekolah, istirahat sebentar di sekolah, lalu taekwondo. Lebih praktis.
Latihannya mengambil tempat di ruang kosong. Cukup untuk latihan bagi 30-an anak. Tapi pada tahap awal ini pesertanya baru 15-an. Semoga pesertanya nanti bertambah.
****
Nama taekwondo cukup akrab dengan saya. Sewaktu sekolah di Yogya, saya ikut perkumpulan silat, namanya Krisnamurti. Ini perguruan silat yang dirintis oleh pangeran dari ndalem Tejokusuman Yogya, namanya Harimurti. Orang Yogya menyebutnya sebagai ndoro Hari –ndoro artinya tuanku yang mulia. Saya cukup lama ikut Krisnamurti, dari SMP hingga kuliah.
Nah, sebagai orang silat, saya ingin tahu bagaimana gerakan-gerakan taekwondo. Bersama beberapa teman, saya sering ke Sasono Hinggil Dwi Abad, gedung paling belakang di komplek Keraton Yogyakarta. Ketika taekwondo diluncurkan di Yogya, itu sewaktu saya masih SMA, jadi antara 1980-1983, saya ikut menyaksikannya. Acaranya di Sport Hall Kridosono, satu-satunya gedung olahraga di Yogya. Saya masih ingat, atlet yang jadi andalan namanya Liu Nam Kiong—mohon maaf kalau ejaannya salah. Gedungnya penuh banget…
Tidak sadar ya, peristiwa itu lebih dari 20 tahun lalu.
Gerakan-gerakan kaki taekwondo, harus saya akui: luar biasa. Power, akurasi, presisi, semuanya diolah dengan baik. Semuanya ditopang dengan manajemen yang baik, sehingga regenerasi dan pengembangan berjalan secara terencana.
****
Taekwondo, sebagaimana karate, kempo, harus diakui, jauh lebih terbakukan ketimbang perguruan silat di Indonesia pada umumnya. Beladiri ini, sebagaimana dengan LG, Samsung, Hyundai, KIA, menjadi duta Korea Selatan yang efektif ke seluruh dunia. Dengan berlatih taekwondo, orang-orang dipaksa untuk belajar bahasa Korea.
Kalau Anda kurang akrab dengan taekwondo, saya perkenalkan sejumlah istilah di olahraga pukul-tendang itu: Sabeum = Instruktur; Sabeum Nim = Instruktur Kepala; Seonbae = Senior; Hubae = Junior; Tae Kwon Do Junshin = Prinsip Ajaran Tae Kwon Do; Muknyeom = Meditasi; Dobok = Seragam Tae Kwon Do; Ti = Sabuk Latihan; Oen = Kiri; Oreon = Kanan; Joonbi = Siap; Sijak = Mulai; Kalryeo = Stop; Keysok = Lanjutkan; Keuman = Selesai; A Nee = Tidak; Yee = Ya; Eolgol = Sasaran atas; Moumtong = Sasaran tengah; Arae = Sasaran bawah; Kyungrye = hormat; chariot= mempersiapkan diri. Pukulan, tendangan, dan tangkisan, semua juga ada istilah korea-nya. Yeop Jireugi = Pukulan Samping; Chi Jireugi = Pukulan Dari Bawah Keatas; Dolryeo Jireugi = Pukulan Mengait. Ap Chagi = Tendangan Kedepan; Dollyo Chagi = Tendangan Melingkar Depan; Yeop Chagi = Tendangan Samping.
Pekan lalu, sewaktu puang dari latihan taekwondo, Darrel membisiki saya: ‘’Ayah, aku punya jurus rahasia.’’ ---ini kalimat yang menirukan kartun silat Avatar. Lalu ia melingkarkan tangannya di depan muka.
‘’Ini untuk menangkis serangan musuh.’’
Kemudian ia menendang kakinya ke depan.
‘’Ini untuk mengusir musuh..’’
Hehehe..
****
Taekwondo sering ditulis sebagai Tae Kwon Do, Taekwon-Do. Ini olahraga nasional Korea yang paling populer. Bahkan sejak olimpiade Sidney, sudah dipertandingkan. Dalam bahasa Korea, Tae berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki"; Kwon berarti "tinju"; dan Do berarti "jalan" atau "seni".
Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai "seni tangan dan kaki" atau "jalan" atau "cara kaki dan kepalan". Sebagaimana olahraga beladiri dari Asia lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olah raga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.
Meskipun ada banyak perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo,
Untuk warna sabuk saja, misalnya, ada perlambang-perlambang. Tahap awal, bersabuk putih. Artinya kesucian, awal atau dasar dari semua warna. Setelah itu sabuknya warna kuning, bermakna bumi. Lalu hijau, bermakna pohon. Paling tinggi adalah sabuk hitam, bermakna kedalaman, kematangan dalam berlatih.









Posted by Picasa

Wednesday, October 29, 2008

Berkunjung ke Masjid Kubah Mas

Selama tiga hari, 25-27 Oktober 2008, Bapak Muhammad Syarief dan Ibu Siti Asiyam berkunjung ke rumah kami. Mereka berdua adalah eyang dari Darrel. Selama ini beliau tinggal di Yogyakarta, di Suryodiningratan, di sebuah rumah yang ditempati sejak 1973.
Beliau ke Jakarta karena di rumah kami, di Permata Timur, pada 26 Oktober dilangsungkan pertemuan syawalan trah Kaligawe.
Kaligawe adalah sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah, tempat asal usul keluarga Pak M. Syarief. Bapak mempunyai tujuh saudara. Baik kakak maupun adiknya mempunyai anak dan cucu. Karena tempat tinggal saling berjauhan, plus kesibukan masing-masing, kami kurang mengenal dengan akrab. Kami pun mengadakan syawalan.


Untuk keperluan itulah Bapak dan Ibu rawuh ke Jakarta. Begitu sampai di Bandara Cengkareng, Bapak dan Ibu tidak langsung ke Permata Timur. Beliau ingin melihat keelokan Masjid Dian Al Mahri, yang lebih dikenal sebagai Masjid Kubah Mas, di desa Limo, Cinere, Depok. Karena jalanan macet, dari bandara kami butuh waktu 2,5 jam untuk sampai lokasi.

Masjidnya elok benar. Kubahnya emas --kabarnya emas beneran. Bangunan dalamnya lapang. Tiangnya tinggi dan besar. Gagah. Pintu dan taman didesain bagus, dan terawat. Pokoknya bangunannya pantas dipuji.
Kemegahan dan keelokan itu membuat Masjid Dian Al Mahri langsung ngetop, dan menjadi tempat wisata baru. Kehidupan ekonomi menggeliat. Dari tukang parkir, tukang foto, tukang jual makanan, semua mendapat rejeki. Tapi ada masalah lain: masuknya bis-bis besar membuat jalan kecil menuju masjid tidak kuat menyangga. Lobang pun bermunculan.
Kita berharap, dampak lingkungan akibat munculnya masjid nan elok ini dapat diselesaikan dengan cepat.
Insya Allah cerita soal kunjungan ke Masjid Kubah Mas akan kami lanjutkan di lain waktu.

Monday, October 13, 2008

LEBARAN DI ISTANA



LEBARAN 1429 H lalu kami sekeluarga ke Istana Negara. Acara ini kami lakukan setelah selesai sungkeman dengan Ompung, Eyang, serta bersalaman dengan tetangga dekat plus kerabat. Kami berbaur dengan banyak orang yang pada hari lebaran pertama itu, ingin bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi kami, bersilaturahmi dengan Presiden merupakan hal penting. Pertama, sebagai sesama muslim, bersilaturahmi ini wajib. 
Bila kita ingin bersilaturahmi dengan banyak orang dalam waktu singkat, datanglah ke Istana Negara. Pasti banyak orang berkumpul, yang banyak di antaranya kita sudah kenal. Jadi kita irit waktu dan tenaga. Tidak perlu mendatangi beliau satu demi satu. 

Lebih dari itu, bagi anak kami, Darrel, bersilaturahmi dengan Presiden, mendatangkan manfaat penting. Ia jadi berkenalan dengan lembaga negara. Ia tahu bahwa di Indonesia yang jadi boss adalah Presiden, bukan ''ayah'' dan ''mommy''-nya. 

Setelah menunggu selama hampir 30 menit, akhirnya kami bertiga bisa bersalaman dengan Presiden.

''Loh.. ini anaknya sudah besar. Siapa namanya?'' tanya Pak SBY

''Darrel..''

''Wah.. yang rajin belajar ya? Ayo... sekarang foto bersama..''

Jepret. Jepret. Jepret. Dua foto kami muatkan di website ini.

Seusai dari Istana, kami ke rumah Bu Megawati Soekarnoputri, penghuni istana sebelum Pak SBY. Bersalaman juga. Silaturahmi.
Dengan Bu Mega, Pak Taufiq Kiemas, dan Mbak Puan Maharani, kami mengenal cukup baik. Foto kunjungan ke kediaman Bu Mega saya postingkan di bawah ini.

Sepulang dari silaturahmi ke dua tokoh itu, kami mendapat pertanyaan sederhana dari Darrel, yang sampai sekarang susah menjelaskannya: mengapa Bu Mega diganti Pak SBY? pemilihan umum itu apa? kalau presiden itu bos di indonesia, apakah dia masih punya bos lagi?
Sungguh pertanyaan yang tidak mudah menjelaskannya, untuk anak 5 tahun.


Wednesday, September 24, 2008

MAAF LAHIR BATIN



Om, Tante, Pakde, Bude, Opung, Eyang, Darrel bersama Ayah dan Mommy mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H. Semoga puasa di Ramadhan ini diterima. Doakan Darrel makin sehat dan makin pintar yaaaa... Trims.

Livni Jadi Perdana Menteri

September 18, 2008

Israel’s Foreign Minister Wins in Party

 Election

JERUSALEM — Foreign Minister Tzipi Livni narrowly won election Wednesday to replace Prime Minister Ehud Olmert as the leader of Israel’s Kadima party, edging past her main rival, Transportation Minister Shaul Mofaz, by just over a percentage point, according to official results released Thursday.

Mr. Mofaz’s supporters called for a recount, but Israeli media reported that he had called Ms. Livni to congratulate her on her victory and had rejected a legal adviser’s proposal that he appeal the results.

When the polls closed at 10:30 p.m. Wednesday, exit surveys indicated that Ms. Livni had swept to victory with a 10-point lead. But as counting of the nearly 40,000 votes progressed, the gap narrowed sharply. Before dawn, officials announced that Ms. Livni had won by 431 votes, according to Israel Radio.

Speaking outside her home in Tel Aviv, Reuters reported, Ms. Livni vowed to start work immediately on forming a new coalition that would let her succeed Mr. Olmert as prime minister.

The difference between Ms. Livni, a diplomatic 50-year-old lawyer who has led peace talks with the Palestinians, and Mr. Mofaz, a hawkish 59-year-old former general who has derided those talks, appears substantial.


f Ms. Livni fends off any possible legal challenge and succeeds in putting together a majority coalition of the 120-member Parliament, she will be the first woman to lead this country since Golda Meir in 1974. If not, the country will hold general elections three months later. Polls show the right-ring Likud party of Benjamin Netanyahu a very strong contender in such a race.

Mr. Olmert, the object of several investigations alleging that he took money illegally while mayor of Jerusalem and industry minister, called Ms. Livni to congratulate her and promise his full cooperation.

He has agreed to step down once his replacement is chosen so that the police inquiry does not further interfere with matters of state, but he is likely to remain in a caretaker capacity until a government is formed.

Coalition options are complex and the small victory clearly could be seen as a reduced mandate to form a government without general elections.

The current government, headed by the centrist Kadima party, includes the left-wing Labor party, the Pensioners party and Shas, an ultra-Orthodox Sephardic party. There have been sharp tensions between Ms. Livni and the Labor leader, Defense Minister Ehud Barak, but he seems likely to join her to seek to avoid elections that could carry Likud to power.

The Pensioners will pose no difficulties but Shas is more naturally inclined toward Likud, which advocates a tougher approach toward the Palestinians, the ending of peace talks with the Syrians and a solemn vow never to give up sovereignty over any part of Jerusalem to the Palestinians who seek its eastern part as their capital.

Shas, whose members have large families, also wants a big increase in child welfare allowances, which Ms. Livni says she opposes.




I

She could turn to Meretz, which is to the left of Labor. She has also said she would try to attract Likud. But Mr. Netanyahu, the Likud leader, said on Wednesday that joining Kadima in a government would be tantamount to joining the board of Lehman Brothers.

He has argued that Kadima, formed by Prime Minister Ariel Sharon in late 2005 less than two months before he fell into a stroke-induced coma, has no future because it lacks vision, identity and popular support.

Other Likud leaders said it was scandalous that a primary election of a small party like Kadima — 70,000 members were eligible to vote and about half did so — could determine the country’s next prime minister and policy direction.

Gilad Erdan, a Parliament member from Likud, said on television that the roughly 20,000 people who elected the head of Kadima could barely fill a soccer stadium, and added: “I have no doubt that a new government would be legal, but it would not be morally legitimate. This is not the government the people have elected; this is not the agenda that was put up to elections."

Mr. Sharon, who left Likud three years ago to form Kadima, taking Ms. Livni and Mr. Olmert with him, promised to withdraw unilaterally from parts of the West Bank to preserve Israel as a Jewish democratic state, saying negotiations with the Palestinians were useless because there was no one on the Palestinian side with whom to negotiate.

But the unilateral withdrawal from Gaza several months earlier quickly turned sour, leading to the Hamas takeover of the area and a huge increase in rocket fire at Israel. So the current government has engaged in extended negotiations with the Palestinian Authority and has also begun serious, albeit indirect, talks with Syria over peace in exchange for a return of the Golan Heights.

In other words, Kadima has edged closer to the position of Labor, making it more left-of-center than centrist at a time when the national mood may be more hawkish.

Mr. Mofaz, who was born in Iran, has an image as a hawk whose views do not appear very different from those of Likud. But he said he would be eager to make peace with the Palestinians and has the military background to protect Israel as it faces major geopolitical and strategic challenges.

Ms. Livni, who is married to a businessman and has raised two sons, is well liked but not loved by Israelis who consider her something of a gray pragmatist. Her associates sometimes complain that she is slow to make decisions.

Isabel Kershner contributed reporting from Jerusalem.