Thursday, February 12, 2009

Persaingan Satelit Iran-Israel

Peluncuran satelit Omid




Oleh: Iwan Qodar Himawan


LEWAT siaran nasional stasiun televisinya, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan dengan rasa bangga. ‘’Penduduk Iran yang saya cintai. Putera-putera terbaikmu berhasil menempatkan satelitnya ke luar angkasa. Mulai saat ini Iran menjadi negara yang berhasil membangun, meluncurkan, dan mengendalikan satelitnya sendiri.’’

Iran dilihat dari luar angkasa.

Peluncuran itu berlangsung Selasa lalu, bertepatan dengan 30 tahun Revolusi Iran, sebuah revolusi yang mengubah haluan politik Iran dari sekutu Amerika Serikat menjadi negeri yang senantiasa dicurigai. Dengan peluncuran satelit ini, Iran kini masuk ke dalam kelompok eksklusif, kelompok negara yang bisa merancang satelit, sekaligus meluncurkannya. Delapan negara lain yang lebih dulu adalah Rusia, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, China, Inggris, India, dan Israel.

Satelit itu diberi nama Omid, bermakna Harapan. Para insinyur Iran mulai membangunnya sejak Februari 2006. Pada Februari 2008, satelit memasuki masa uji coba. Satelit dengan berat hanya 27 kilogram itu diniatkan sebagai wahana komunikasi. Menurut janji Presiden Mahmoud Ahmadinejad, setelah meluncurnya Omid, akan menyusul satelit-satelit lainnya.

Bahkan ia sudah menggagas untuk mengirim astronot Iran ke luar angkasa, dengan kendaraan buatan dalam negeri. Roket Safir (bermakna Utusan) generasi baru sudah dirancang untuk mampu membawa satelit hingga ketinggian 600-900 Kilometer, jauh lebih tinggi ketimbang garis edar Omid sekarang, yaitu pada 245 km (terendah) dan 380 Km (terjauh).

Secara teknologi satelit, peluncuran satelit Omid sebetulnya merupakan hal biasa. Namun bagi Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel, kemampuan Iran menggotong satelit hingga luar angkasa menimbulkan kekhawatiran lain. Karena dengan mudah Iran mengganti muatan roket itu, dari satelit menjadi peluru kendali. Paling tidak, ia bisa menjangkau jarak 2.500 Kilometer, ibukota Israel pun bisa disasar. Ini jauh lebih canggih ketimbang roket Hamas, yang paling banter terbang 40 Kilometer, tanpa kemampuan membidik lokasi dengan presisi.

Dari segi pengalaman, Iran sebetulnya masih kalah jauh dibandingkan para pendahulunya di bidang satelit. Pada 1957, Uni Soviet sudah menempatkan Sputnik di luar angkasa. Setahun kemudian, Amerika Serikat menyusulnya.

Dengan keterlambatan yang sedemikian lama, seharusnya Amerika Serikat dan sekutunya, tidak perlu terbengong-bengong. Apalagi buru-buru menghimbau Iran untuk menyetop pengembangan teknologi satelit. Kekhawatiran Amerika antara lain bisa dilihat pada headline koran New York Times edisi Selasa lalu, yang menyatakan peluncuran satelit Iran merupakan tantangan diplomasi Presiden Barack Obama.

****


Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad

Dengan demikian, peluncuran satelit Iran ikut menghangatkan suasana di Timur Tengah yang memang sudah panas. Padahal, apa yang dilakukan Iran dengan meluncurkan Omid sebetulnya belum seberapa bila dibandingkan dengan yang sudah dilakukan Israel, yang sudah meluncurkan satelit karya sendiri sejak 1988.

Satelit terakhir punya Israel diluncurkan pada 21 Januari 2008, namanya Tecsar, dari pusat antariksa Satish Dhawan, milik India. Satelitnya dibuat Israel Aerospace Industri, BUMN di bawah Departemen Pertahanan. Sedang India yang menyediakan pesawat peluncurnya. Roket yang dipakai memiliki kekuatan empat tingkat,

Peluncuran Tecsar membuat Iran sangat marah, karena ia memang diniatkan untuk memata-matai Iran dan negara lain yang dianggap musuh, yakni Suriah dan Palestina. Untuk menjalankan misinya, Tecsar dilengkapi kamera super canggih, yang diklaim sebagai paling maju. Meski lintasan orbitnya di ketinggian 450-800 Kilometer, ia bisa menghasilkan resolusi sampai 10 centimeter, melalui sistem radar gelombang X.

Dengan kemampuan sebesar ini, buku yang tengah dibaca Presiden Palestina Mahmood Abbas pun bisa dibaca judulnya. Selain itu, berbeda dengan satelit di masa lalu, pemindaian Tecsar tidak terpengaruh cuaca. Siang, malam, berawan, atau badai sekalipun, matanya bisa tajam menyorot bumi. Tidak mengherankan bila bangunan-bangunan penting milik Hamas di jalur Gaza dengan gampang diluluhlantakkan Israel.

Dengan adanya Tecsar, Israel kini memiliki sejumlah serial satelit. Sebelumnya ia sudah punya satelit mata-mata, yakni Ofeq, yang seri ke-7-nya diluncurkan pada 2007. Untuk observasi bumi, Israel memiliki Eros. Untuk komunikasi, ada Amos (sampai seri ke-4). Dewasa ini yang tengah dikembangkan adalah satelit Venus, Tauvex, Opsat, dan Insat.

Dengan berbagai kelebihan itu, Israel dengan gampang mengawasi pergerakan pasukan negara-negara tetangganya. Entah itu di Suriah, Saudi Arabia, Mesir, Iran. Negara-negara itu ibarat sosok telanjang bagi tentara Israel.

Suriah sudah merasakan kehebatan satelit Israel. Pada September 2007, sebuah bangunan yang dicurigai Israel dan Amerika sebagai kawasan pengembangan senjata nuklir, digempur. Berdasar informasi yang dipadukan antara intelijen satelit dengan lapangan, Angkatan Udara Israel terbang menempuh jarak ribuan kilometer, dengan mengisi bahan bakar di antariksa Turki tanpa sepengetahuan Turki. Dalam hitungan detik, instalasi yang dibuat dengan susah payah itu hancur.

****

Israel pertama kali meluncurkan satelit pada 20 September 1988. Langkah itu dinyatakan para pengamat strategi militer sebagai upaya mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat dalam hal intelijen. Satelit Ofek 1 itu diumumkan sebagai mengumpulkan data energi matahari, medan magnetik bumi. Selama sebulan satelit itu beredar di angkasa, sebelum kemudian menghancurkan diri.

Pembuatan satelit Israel

Semakin baru, Ofek semakin canggih. Ofek 5, yang diluncurkan pada Mei 2002 dari pangkalan Angkatan Udara Israel di Palmachim, dilengkapi kamera yang mampu membuat dengan jelas obyek di bumi dengan ukuran 80 cm. Satelit mata-mata Israel yang terakhir, Ofek 7, diluncurkan pada Juni 2007, bisa merekam obyek berukuran 40 cm. Dengan informasi dari Ofek 7, plus intelijen lapangan, Syekh Yasin yang baru pulang dari salat subuh, langsung dihajar dengan rudal.

Sebagai satelit mata-mata, Ofek ditempatkan di jalur rendah, di kisaran 300 km – 1.000 km di atas bumi. Dengan orbit yang rendah, ada dua manfaat yang diperoleh. Untuk satu kali orbit mengelilingi bumi, ia hanya butuh waktu 1,5 jam. Sehingga, kawasan negara tetangga seperti Iran, Palestina, Suriah, Lebanon, dan negara-negara Arab lainnya, bisa dipantau minimal enam kali sehari. Pemindaian sebuah lokasi dapat lebih sering dilakukan. Manfaat lainnya, kameranya bisa merekam pergerakan di bumi dengan jauh lebih akurat.

Kemandirian, itu adalah tujuan dari berbagai kegiatan peluncuran satelit Israel. Meski jelas-jelas selalu mendapat dukungan baik militer maupun ekonomi dari Amerika Serikat, tetapi Israel masih mengeluhkan kurangnya informasi yang diperoleh. Dalam Perang Teluk 1991, para pemimpin Israel mengeluhkan sulitnya mengakses informasi keberadaan rudal Scud punya Irak, yang diarahkan ke Israel. Moshe Aren, ketika itu masih menjabat calon menteri pertahanan, tegas berkata: Israel membutuhkan satelit sendiri. Katanya, sangat riskan untuk selalu tergantung pada Amerika Serikat.

****

Ada dua kesamaan antara Iran dan Israel mengapa mereka begitu berambisi mengembangkan teknologi luar angkasanya, yakni sama-sama memiliki perasaan terancam.

Israel yang senantiasa merasa terancam oleh negara tetangganya, merasa perlu mengembangkan teknologi satelit karena merasa suplai informasi dari Amerika tidak mencukupi. Tak ada jalan lain, kecuali mengembangkan wahana antariksa dengan kemampuan sendiri.


Citra Israel dari satelit.


Iran memiliki perasaan yang sama. Embargo Amerika Serikat terutama yang membuat negeri para Mullah ini bersikeras berupaya dengan kekuatan sendiri. Tak heran bila Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, bergurau. Setelah suksesnya peluncuran satelit, ia bekata, ‘’Terima kasih kepada Amerika Serikat. Berkat embargonya, kami sekarang memiliki teknologi nuklir sendiri, dan teknologi luar angkasa yang maju.’’

Bila itu kita refleksikan ke negeri kita, harusnya Indonesia berpeluang untuk mengembangkan teknologi luar angkasa dengan jauh lebih maju. Dewasa ini Indonesia baru memiliki satelit Tubsat, yang diluncurkan dari India, pada 2007. Sebagai negeri yang relatif tidak punya musuh, kesempatan Indonesia untuk mengembangkan teknologi luar angkasa terbuka luas.

*) Iwan Qodar Himawan, praktisi pemetaan, pengurus pusat Ikatan Surveyor Indonesia. Naskah sudah dimuat di Harian Seputar Indonesia, edisi 7 Februari 2009.

BADMINTON TELADAN 83

Aris Priatno, Suherwan, Agung Krishartanto, Iwan
Aris, Iwan, Anto Trail, Agung Kris, Suherwan


Ini sebagian foto dulminton --istilah sebagian orang yogya untuk badminton-- setiap sabtu pagi. ACaranya cukup gayeng. Kawan-kawan yang pernah sekolah di SMA 1 Yogyakarta angkatan lulus 1983, berkumpul, main badminton bareng. Setiap kali yang datang sekitar 10 orang. Yang paling rajin namanya Suherwan --panggilannya Herwan. Setelah itu Aris Priatno. Saya di juara 3.

Foto-foto lain mengenai acara ini, silakan diklik di www.teladan83.blogspot.com.

Badminton berlangsung di komplek menteri Jalan Widya Chandra III. Tapi mulai pekan ke-2 Februari ini, pindah ke SCBD, di Semanggi Expo. Tempatnya lebih luas, lebih terjangkau dari segi akses, dan yang penting: tidak bocor. Sabtu lalu sewaktu badminton di Widya Chandra, acara tampel bulu harus terhenti karena hujan deras. Air menetes dari atap. Satu-satu netes. Tapi lama-lama ngumpul jadi banyak, dan licin..

Kata Pambudi Mahanto, yang kini bekerja di Departemen Kehutanan, kalau yang berkumpul usianya di atas 40 tahun, tema pembicaraan pasti tidak bergeser dari kolesterol, gula, rambut rontok...
Dari monitoring pembicaraan setiap pekan, tampaknya omongan Hanto benar...
Posted by Picasa

Friday, December 19, 2008

LATIHAN TAEKWONDO


SEJAK dua bulan terakhir ini, Mohamad Darrel Cetta Askara, biasa dipanggil Darrel, ikut taekwondo. Seminggu sekali, tiap hari Kamis jam 13-14, dia berlatih di sekolahnya. Ada uncle bersabuk hitam yang jadi pelatih.
Kenapa ikut taekwondo, bukan silat, misalnya. Jawabannya sederhana. Semua olahraga beladiri apapun bagus. Kebetulan yang disediakan oleh sekolahnya, Embun Pagi Islamic Inteernational School, adalah taekwondo.
Waktu pekan pertama, latihan mulai jam 15.00. Jadi setelah acara sekolah selesai, Darrel pulang. Tapi jam 14.45 berangkat lagi untuk taekwondo. Dari sisi waktu tidak praktis. Baru tidur sebentar kok sudah berangkat lagi. Rupanya banyak orangtua murid yang merasakan hal yang sama. Pada latihan kedua, jamnya digeser. Begitu pulang sekolah, istirahat sebentar di sekolah, lalu taekwondo. Lebih praktis.
Latihannya mengambil tempat di ruang kosong. Cukup untuk latihan bagi 30-an anak. Tapi pada tahap awal ini pesertanya baru 15-an. Semoga pesertanya nanti bertambah.
****
Nama taekwondo cukup akrab dengan saya. Sewaktu sekolah di Yogya, saya ikut perkumpulan silat, namanya Krisnamurti. Ini perguruan silat yang dirintis oleh pangeran dari ndalem Tejokusuman Yogya, namanya Harimurti. Orang Yogya menyebutnya sebagai ndoro Hari –ndoro artinya tuanku yang mulia. Saya cukup lama ikut Krisnamurti, dari SMP hingga kuliah.
Nah, sebagai orang silat, saya ingin tahu bagaimana gerakan-gerakan taekwondo. Bersama beberapa teman, saya sering ke Sasono Hinggil Dwi Abad, gedung paling belakang di komplek Keraton Yogyakarta. Ketika taekwondo diluncurkan di Yogya, itu sewaktu saya masih SMA, jadi antara 1980-1983, saya ikut menyaksikannya. Acaranya di Sport Hall Kridosono, satu-satunya gedung olahraga di Yogya. Saya masih ingat, atlet yang jadi andalan namanya Liu Nam Kiong—mohon maaf kalau ejaannya salah. Gedungnya penuh banget…
Tidak sadar ya, peristiwa itu lebih dari 20 tahun lalu.
Gerakan-gerakan kaki taekwondo, harus saya akui: luar biasa. Power, akurasi, presisi, semuanya diolah dengan baik. Semuanya ditopang dengan manajemen yang baik, sehingga regenerasi dan pengembangan berjalan secara terencana.
****
Taekwondo, sebagaimana karate, kempo, harus diakui, jauh lebih terbakukan ketimbang perguruan silat di Indonesia pada umumnya. Beladiri ini, sebagaimana dengan LG, Samsung, Hyundai, KIA, menjadi duta Korea Selatan yang efektif ke seluruh dunia. Dengan berlatih taekwondo, orang-orang dipaksa untuk belajar bahasa Korea.
Kalau Anda kurang akrab dengan taekwondo, saya perkenalkan sejumlah istilah di olahraga pukul-tendang itu: Sabeum = Instruktur; Sabeum Nim = Instruktur Kepala; Seonbae = Senior; Hubae = Junior; Tae Kwon Do Junshin = Prinsip Ajaran Tae Kwon Do; Muknyeom = Meditasi; Dobok = Seragam Tae Kwon Do; Ti = Sabuk Latihan; Oen = Kiri; Oreon = Kanan; Joonbi = Siap; Sijak = Mulai; Kalryeo = Stop; Keysok = Lanjutkan; Keuman = Selesai; A Nee = Tidak; Yee = Ya; Eolgol = Sasaran atas; Moumtong = Sasaran tengah; Arae = Sasaran bawah; Kyungrye = hormat; chariot= mempersiapkan diri. Pukulan, tendangan, dan tangkisan, semua juga ada istilah korea-nya. Yeop Jireugi = Pukulan Samping; Chi Jireugi = Pukulan Dari Bawah Keatas; Dolryeo Jireugi = Pukulan Mengait. Ap Chagi = Tendangan Kedepan; Dollyo Chagi = Tendangan Melingkar Depan; Yeop Chagi = Tendangan Samping.
Pekan lalu, sewaktu puang dari latihan taekwondo, Darrel membisiki saya: ‘’Ayah, aku punya jurus rahasia.’’ ---ini kalimat yang menirukan kartun silat Avatar. Lalu ia melingkarkan tangannya di depan muka.
‘’Ini untuk menangkis serangan musuh.’’
Kemudian ia menendang kakinya ke depan.
‘’Ini untuk mengusir musuh..’’
Hehehe..
****
Taekwondo sering ditulis sebagai Tae Kwon Do, Taekwon-Do. Ini olahraga nasional Korea yang paling populer. Bahkan sejak olimpiade Sidney, sudah dipertandingkan. Dalam bahasa Korea, Tae berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki"; Kwon berarti "tinju"; dan Do berarti "jalan" atau "seni".
Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai "seni tangan dan kaki" atau "jalan" atau "cara kaki dan kepalan". Sebagaimana olahraga beladiri dari Asia lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olah raga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.
Meskipun ada banyak perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo,
Untuk warna sabuk saja, misalnya, ada perlambang-perlambang. Tahap awal, bersabuk putih. Artinya kesucian, awal atau dasar dari semua warna. Setelah itu sabuknya warna kuning, bermakna bumi. Lalu hijau, bermakna pohon. Paling tinggi adalah sabuk hitam, bermakna kedalaman, kematangan dalam berlatih.









Posted by Picasa

Wednesday, October 29, 2008

Berkunjung ke Masjid Kubah Mas

Selama tiga hari, 25-27 Oktober 2008, Bapak Muhammad Syarief dan Ibu Siti Asiyam berkunjung ke rumah kami. Mereka berdua adalah eyang dari Darrel. Selama ini beliau tinggal di Yogyakarta, di Suryodiningratan, di sebuah rumah yang ditempati sejak 1973.
Beliau ke Jakarta karena di rumah kami, di Permata Timur, pada 26 Oktober dilangsungkan pertemuan syawalan trah Kaligawe.
Kaligawe adalah sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah, tempat asal usul keluarga Pak M. Syarief. Bapak mempunyai tujuh saudara. Baik kakak maupun adiknya mempunyai anak dan cucu. Karena tempat tinggal saling berjauhan, plus kesibukan masing-masing, kami kurang mengenal dengan akrab. Kami pun mengadakan syawalan.


Untuk keperluan itulah Bapak dan Ibu rawuh ke Jakarta. Begitu sampai di Bandara Cengkareng, Bapak dan Ibu tidak langsung ke Permata Timur. Beliau ingin melihat keelokan Masjid Dian Al Mahri, yang lebih dikenal sebagai Masjid Kubah Mas, di desa Limo, Cinere, Depok. Karena jalanan macet, dari bandara kami butuh waktu 2,5 jam untuk sampai lokasi.

Masjidnya elok benar. Kubahnya emas --kabarnya emas beneran. Bangunan dalamnya lapang. Tiangnya tinggi dan besar. Gagah. Pintu dan taman didesain bagus, dan terawat. Pokoknya bangunannya pantas dipuji.
Kemegahan dan keelokan itu membuat Masjid Dian Al Mahri langsung ngetop, dan menjadi tempat wisata baru. Kehidupan ekonomi menggeliat. Dari tukang parkir, tukang foto, tukang jual makanan, semua mendapat rejeki. Tapi ada masalah lain: masuknya bis-bis besar membuat jalan kecil menuju masjid tidak kuat menyangga. Lobang pun bermunculan.
Kita berharap, dampak lingkungan akibat munculnya masjid nan elok ini dapat diselesaikan dengan cepat.
Insya Allah cerita soal kunjungan ke Masjid Kubah Mas akan kami lanjutkan di lain waktu.

Monday, October 13, 2008

LEBARAN DI ISTANA



LEBARAN 1429 H lalu kami sekeluarga ke Istana Negara. Acara ini kami lakukan setelah selesai sungkeman dengan Ompung, Eyang, serta bersalaman dengan tetangga dekat plus kerabat. Kami berbaur dengan banyak orang yang pada hari lebaran pertama itu, ingin bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi kami, bersilaturahmi dengan Presiden merupakan hal penting. Pertama, sebagai sesama muslim, bersilaturahmi ini wajib. 
Bila kita ingin bersilaturahmi dengan banyak orang dalam waktu singkat, datanglah ke Istana Negara. Pasti banyak orang berkumpul, yang banyak di antaranya kita sudah kenal. Jadi kita irit waktu dan tenaga. Tidak perlu mendatangi beliau satu demi satu. 

Lebih dari itu, bagi anak kami, Darrel, bersilaturahmi dengan Presiden, mendatangkan manfaat penting. Ia jadi berkenalan dengan lembaga negara. Ia tahu bahwa di Indonesia yang jadi boss adalah Presiden, bukan ''ayah'' dan ''mommy''-nya. 

Setelah menunggu selama hampir 30 menit, akhirnya kami bertiga bisa bersalaman dengan Presiden.

''Loh.. ini anaknya sudah besar. Siapa namanya?'' tanya Pak SBY

''Darrel..''

''Wah.. yang rajin belajar ya? Ayo... sekarang foto bersama..''

Jepret. Jepret. Jepret. Dua foto kami muatkan di website ini.

Seusai dari Istana, kami ke rumah Bu Megawati Soekarnoputri, penghuni istana sebelum Pak SBY. Bersalaman juga. Silaturahmi.
Dengan Bu Mega, Pak Taufiq Kiemas, dan Mbak Puan Maharani, kami mengenal cukup baik. Foto kunjungan ke kediaman Bu Mega saya postingkan di bawah ini.

Sepulang dari silaturahmi ke dua tokoh itu, kami mendapat pertanyaan sederhana dari Darrel, yang sampai sekarang susah menjelaskannya: mengapa Bu Mega diganti Pak SBY? pemilihan umum itu apa? kalau presiden itu bos di indonesia, apakah dia masih punya bos lagi?
Sungguh pertanyaan yang tidak mudah menjelaskannya, untuk anak 5 tahun.


Wednesday, September 24, 2008

MAAF LAHIR BATIN



Om, Tante, Pakde, Bude, Opung, Eyang, Darrel bersama Ayah dan Mommy mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H. Semoga puasa di Ramadhan ini diterima. Doakan Darrel makin sehat dan makin pintar yaaaa... Trims.

Livni Jadi Perdana Menteri

September 18, 2008

Israel’s Foreign Minister Wins in Party

 Election

JERUSALEM — Foreign Minister Tzipi Livni narrowly won election Wednesday to replace Prime Minister Ehud Olmert as the leader of Israel’s Kadima party, edging past her main rival, Transportation Minister Shaul Mofaz, by just over a percentage point, according to official results released Thursday.

Mr. Mofaz’s supporters called for a recount, but Israeli media reported that he had called Ms. Livni to congratulate her on her victory and had rejected a legal adviser’s proposal that he appeal the results.

When the polls closed at 10:30 p.m. Wednesday, exit surveys indicated that Ms. Livni had swept to victory with a 10-point lead. But as counting of the nearly 40,000 votes progressed, the gap narrowed sharply. Before dawn, officials announced that Ms. Livni had won by 431 votes, according to Israel Radio.

Speaking outside her home in Tel Aviv, Reuters reported, Ms. Livni vowed to start work immediately on forming a new coalition that would let her succeed Mr. Olmert as prime minister.

The difference between Ms. Livni, a diplomatic 50-year-old lawyer who has led peace talks with the Palestinians, and Mr. Mofaz, a hawkish 59-year-old former general who has derided those talks, appears substantial.


f Ms. Livni fends off any possible legal challenge and succeeds in putting together a majority coalition of the 120-member Parliament, she will be the first woman to lead this country since Golda Meir in 1974. If not, the country will hold general elections three months later. Polls show the right-ring Likud party of Benjamin Netanyahu a very strong contender in such a race.

Mr. Olmert, the object of several investigations alleging that he took money illegally while mayor of Jerusalem and industry minister, called Ms. Livni to congratulate her and promise his full cooperation.

He has agreed to step down once his replacement is chosen so that the police inquiry does not further interfere with matters of state, but he is likely to remain in a caretaker capacity until a government is formed.

Coalition options are complex and the small victory clearly could be seen as a reduced mandate to form a government without general elections.

The current government, headed by the centrist Kadima party, includes the left-wing Labor party, the Pensioners party and Shas, an ultra-Orthodox Sephardic party. There have been sharp tensions between Ms. Livni and the Labor leader, Defense Minister Ehud Barak, but he seems likely to join her to seek to avoid elections that could carry Likud to power.

The Pensioners will pose no difficulties but Shas is more naturally inclined toward Likud, which advocates a tougher approach toward the Palestinians, the ending of peace talks with the Syrians and a solemn vow never to give up sovereignty over any part of Jerusalem to the Palestinians who seek its eastern part as their capital.

Shas, whose members have large families, also wants a big increase in child welfare allowances, which Ms. Livni says she opposes.




I

She could turn to Meretz, which is to the left of Labor. She has also said she would try to attract Likud. But Mr. Netanyahu, the Likud leader, said on Wednesday that joining Kadima in a government would be tantamount to joining the board of Lehman Brothers.

He has argued that Kadima, formed by Prime Minister Ariel Sharon in late 2005 less than two months before he fell into a stroke-induced coma, has no future because it lacks vision, identity and popular support.

Other Likud leaders said it was scandalous that a primary election of a small party like Kadima — 70,000 members were eligible to vote and about half did so — could determine the country’s next prime minister and policy direction.

Gilad Erdan, a Parliament member from Likud, said on television that the roughly 20,000 people who elected the head of Kadima could barely fill a soccer stadium, and added: “I have no doubt that a new government would be legal, but it would not be morally legitimate. This is not the government the people have elected; this is not the agenda that was put up to elections."

Mr. Sharon, who left Likud three years ago to form Kadima, taking Ms. Livni and Mr. Olmert with him, promised to withdraw unilaterally from parts of the West Bank to preserve Israel as a Jewish democratic state, saying negotiations with the Palestinians were useless because there was no one on the Palestinian side with whom to negotiate.

But the unilateral withdrawal from Gaza several months earlier quickly turned sour, leading to the Hamas takeover of the area and a huge increase in rocket fire at Israel. So the current government has engaged in extended negotiations with the Palestinian Authority and has also begun serious, albeit indirect, talks with Syria over peace in exchange for a return of the Golan Heights.

In other words, Kadima has edged closer to the position of Labor, making it more left-of-center than centrist at a time when the national mood may be more hawkish.

Mr. Mofaz, who was born in Iran, has an image as a hawk whose views do not appear very different from those of Likud. But he said he would be eager to make peace with the Palestinians and has the military background to protect Israel as it faces major geopolitical and strategic challenges.

Ms. Livni, who is married to a businessman and has raised two sons, is well liked but not loved by Israelis who consider her something of a gray pragmatist. Her associates sometimes complain that she is slow to make decisions.

Isabel Kershner contributed reporting from Jerusalem.

Saturday, August 30, 2008

TZIPI LIVNI WANITA PERKASA







KAMI muatkan di sini foto tersisa dari kunjungan Mommy Uni Z Lubis ke Israel, Oktober tahun lalu. Foto itu kami muatkan baru sekarang karena mommy baru mendapat kiriman fotonya pekan ini, pekan terakhir Agustus 2008. Meski kunjungan itu sudah hampir setahun lewat, tapi foto itu dirasa cukup penting mengingat ketokohan yang difoto.

 

Tokoh yang difoto itu bernama Tzipi Livni, kini 50 tahun. Oktober tahun lalu ia menerima rombongan sejumlah wartawan Indonesia. Termasuk di dalamnya Mommy Uni Lubis, ibunya Darrel Cetta.

 

‘’Orangnya sibuk. Tidak berdandan. Kalo ngomong langsung, tidak pake muter-muter,’’ kata Mommy. Sebagai contoh, setelah sesi dengan wartawan Indonesia selesai, stafnya langsung datang mengerubung. Padahal pada saat itu wartawan Indonesia masih di dalam ruangan.

 

Wajahnya nyaris tanpa senyum. Gerakannya cepat. Mungkin ini karena ia pernah bekerja sebagai agen Mossad. Mossad?

                                                            *****

Mossad adalah lembaga agen intelijen punya pemerintah Israel, yang dikenal amat ampuh. Mossad ini kira-kira semacam CIA untuk Amerika Serikat dan BIN untuk Indonesia. Silakan klik www.mossad.go.il, ini situs resminya. Tapi jangan harapkan Anda akan mendapat informasi berbagai operasi Mossad. Yang ada di dalamnya sekadar visi, misi, dan berbagai bla-bla.

 

Agen Mossad diberi pelajaran krav maga, ini ilmu beladiri yang dikembangkan tentara Israel. Berbeda dengan silat atau kungfu yang juga menekankan unsur seni, krav maga betul-betul bicara bagaimana cara membunuh dengan cepat, menghancurkan dengan dahsyat, dan meloloskan diri dengan sigap.

 

 agen, Tzipi Livni diberi pelajaran krav maga. Kalau mau melihat bagaimana krav maga beraksi, silakan klik www.youtube.com. Gerakannya serba sederhana, ringkas, dan secepat mungkin melumpuhkan lawannya.

 

Mungkin prinsip krav mamga ini bisa kita camkan bersama-sama: jangan sampai luka; secepat mungkin lumpuhkan penyerang; secepat mungkin berganti posisi dari bertahan ke menyerang; latih gerak reflek Anda; pelajari titik-titik lemah tubuh; biasakan gunakan alat bantu seadanya sebagai sarana melumpuhkan.; jangan berlama-lama dalam berkelahi; hancurkan sebanyak mungkin dan segera lari secepatnya; jangan merasa grogi akan serangan lawan.

                                                            *****

Livni adalah putri dari Eitan Livni, bekas anggota sayap militer Irgun Tzwai Le'umi, yang juga merupakan anggota partai Likud. Tapi sampai sejauh mana Tzipi Livni ini menjadi agen Mossad, tidak banyak informasi yang beredar. Ini namanya intel yang benar. Kalau sampai ada intel mengaku-aku keahlian dan operasinya, itu namanya intel-intelan. Ada yang menyebut ia sebagai pemburu teroris.

 

Ensiklopedia gratis, www.en.wikipedia.org menulis cerita tentang profil Tzipi Livni. Di situ disebutkan bahwa sewaktu tinggal di Paris, Livni tinggal di sebuah apartemen biasa. Diduga, pada saat ini ia masih menjadi agen Mossad. Ia lalu berhenti menjadi agen pada 1983 untuk menikah dengan seorang akuntan, Naftali Spitzer, dan mempunyai dua anak, Omri and Yuval.

 

Karier hidupnya memang berwarna. Ia pernah menjadi letnan di Angkatan Pertahanan Israel. Setelah itu baru menjadi agen Mossad. Lalu menjadi pengacara praktek selama 10 tahun. Ia memang lulusan Fakultas Hukum Universitas Bar-Ilan. Setelah itu, ia baru terjun ke dunia politik, bergabung dengan Partai Likud. Kini, ia bergabung dengan Partai Kadima, bentukan Perdana Menteri Ehud Olmert. Ia menjadi kandidat kuat perdana menteri berikutnya.

                                                ****

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice, termasuk yang memuji Tzipi Livni. Saya kutipkan di sini tulisan Rice tentang Livni, yang dimuat di Majalah Time edisi 25 April 2007, edisi tentang orang-orang yang mampu menerobos pemikiran biasa.

’Tzipi, like me, became the second woman ever to hold her nation's top foreign policy job. Those early months were anything but easy: violence in Gaza, a war in Lebanon, a radical President in Iran. Tzipi's strength to endure, indeed to excel, in what were difficult, often heartbreaking, conditions was a testament to her character. Tzipi and Prime Minister Ehud Olmert have the foresight to know that a Palestinian state is in Israel's greatest interest, and that they must pursue the cause of peace with their Arab neighbors. President Bush and I deeply share this goal. And for Tzipi and me, it is now the focus of our work together.

Tzipi has not just been my colleague; she has become my friend. We have sat together for hours debating ideas—freely, openly, even combatively at times. I have learned of her deep pride in her children. We share an abiding respect for our now deceased fathers—mine, a successful son of the old segregated American South; hers, a defender of the Jewish homeland in its first days of independence.

Tzipi, 48, is a woman of conviction, intelligence and peace. I deeply respect her. I like being around her. And I know that long after we have both exited the world stage, we'll still be friends.’’

Mungkin Anda kurang begitu suka terhadap politik luar negeri Israel. Atau kurang nyaman melihat perlakuannya terhadap Palestina. Tapi tak bisa dimungkiri, Israel memiliki kekuatan luar biasa. Sebagai sebuah negara kecil ia bisa selamat, bahkan terus makin maju, meski ia berada di tengah kepungan negara-negara dengan sumber daya lebih besar.

Dalam kaitan inilah kami menuliskan cerita soal Tzipi Livni.

 

Tuesday, August 26, 2008

Ke Jogja dengan Trans Jogja

SELAMA tiga hari, Jumat 22 – 24 Agustus 2008, kami sekeluarga berada di Yogyakarta. Ini kota yang memiliki kenangan tersendiri bagi kami berdua. Kami – Iwan dan Uni—menikah di Yogya pada 1 April 1994 (hehe.. tak terasa sudah 14 tahun).

Eyang –ini bahasa kami untuk ibunya Mommy Uni—lahir dan besar di Yogya. Sampai kini rumah keluarga, di Panembahan, masih utuh. Rumah keluarga itu malah kini sudah menjadi milik Eyang. Namun kebanyakan Eyang tinggal di Jatiwaringin, Pondokgede, bersama Opung.

Sedang saya –Iwan—memang tumbuh dan besar di Yogya. Kedua orangtua juga masih tinggal di rumah, Suryodiningratan. Alhamdulillah, kedua orangtua kami, baik dari jalur ayah maupun mommy, masih dikaruniai umur panjang. Doakan mereka diberi kesehatan oleh Allah SWT.

****

Bagi yang sudah lebih dari setahun tidak ke Yogya, akan mendapat pemandangan baru, yaitu adanya bis Trans Jogja. Bisnya seukuran metromini di Jakarta, atau dalam bahasa sopir Pulogadung, ini bis ¾. Bisnya ber-AC, warnanya juga enak dilihat: kuning dikombinasi hijau. Di bodi belakang ada reklamenya.

Bisnya jalannya pelan, hanya berhenti di halte tertentu. Tarifnya juga murah, Rp 3.000. Mau berputar-putar ke seluruh Jogja dari pagi sampai sore, sepanjang tidak keluar dari halte, Anda cukup membayar Rp 3.000. Duit Rp 3.000 itu setara dengan US$ cen 30, atau Euro 25 cen. Turis Amerika atau Eropa pasti terheran-heran: kok bisa dengan tarif segitu bisa mengangkut orang sak kemenge???

Kalau mau dapat tarif murah, juga bisa. Silakan menyamar jadi pelajar. Ongkosnya cuma Rp 2.000, hampir sama dengan Aqua 500 cc….

Tarif ini untuk ukuran kita juga sangat murah. Dari bandara Adisucipto, bila tidak ada jemputan, dulu kita harus pake taksi atau ojek. Untuk jarak 15 Km, pake ojek butuh biaya sekitar Rp 35.000. Pake taksi sekitar Rp 40.000. Dengan Jogja Trans, ya cukup Rp 3.000. Hanya, Anda harus bersabar, soalnya bis ini berhenti di setiap halte.

Cara lain yang lebih hemat juga bisa. Sekarang ini sepur Prambanan Ekspress jurusan Solo Balapan-Stasiun Tugu Jogja juga berhenti di stasiun Maguwo. Ini stasiunnya persis di depan bandara Adisucipto. Dari Adisucipto mau ke Solo, cukup nunggu di stasiun. Mau ke stasiun Lempuyangan atau stasiun Tugu (keduanya stasiun besar di Jogja), juga cukup menunggu di stasiun Maguwo.

Pokoknya layanan transportasi bandara Adisucipto Yogya, kini jauh lebih baik. Angkutan udara, angkatan darat antar-kota, dan angkutan lokal Jogja, dipadukan.

*****

Rute trans Jogja gambarnya dipajang di depan halte Gedung Agung. Saya memuatkan fotonya di sini, saya ambil dari flickr. Kalau sempat, silakan klik website www.transjogja.net. Ini situs pengelola angkutan Trans Jogja.

Untuk membantu, kami muatkan di sini jalur Trans Jogja. Saya mohon maaf, jalur ini belum saya cek. Saya sekadar copy-paste.


Trayek 1A : Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - Stasiun Tugu - Malioboro - JEC

Terminal Prambanan - S5. Kalasan - Bandara Adisucipto - S3. Maguwoharjo - Janti (bawah) - S3. UIN Kalijaga - S4. Demangan - S4. Gramedia - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Malioboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Pasar Sentul - S4. SGM - Gembira Loka - S4. Babadan Gedongkuning - JEC - S4. Blok O - Janti (atas) - S3. Maguwoharjo - Bandara Adisucipto - S5. Kalasan - Terminal Prambanan.



Trayek 1B : Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - JEC - Kantor Pos Besar - Pingit - UGM

Terminal Prambanan S5. Kalasan Bandara Adisucipto S3. Maguwoharjo Janti (lewat bawah) S4. Blok O JEC - S4. Babadan Gedongkuning Gembira Loka S4. SGM S4. Pasar Sentul - S4. Gondomanan S4. Kantor Pos Besar - S3. RS.PKU Muhammadiyah S3. Pasar Kembang - S4. Badran Bundaran SAMSAT S4. Pingit S4. Tugu S4. Gramedia Bundaran UGM S3. Colombo S4. Demangan S3. UIN Sunan Kalijaga Janti S3. Maguwoharjo Bandra Adisucipto S5. Kalasan Terminal Prambanan.


Trayek 2A : Terminal Jombor - Malioboro - Basen - Kridosono - UGM - Terminal Condong Catur - Terminal Jombor - S4. Monjali - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Malioboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Jokteng Wetan - S4. Tungkak - S4. Gambiran - S3 . Basen - S4. Rejowinangun - S4. Babadan Gedongkuning - Gembira Loka - S4. SGM - S3. Cendana - S4. Mandala Krida - S4. Gayam - Flyover Lempuyangan - Kridosono - S4. Duta Wacana - S4. Galeria - S4. Gramedia - Bunderan UGM - S3. Colombo - Terminal Condongcatur - S4. Kentungan - S4. Monjali - Terminal Jombor.


Trayek 2B : Terminal Jombor Terminal Condongcatur UGM Kridosono Basen Kantor Pos Besar Wirobrajan - Pingit

Terminal Jombor S4. Monjali S4. Kentungan Terminal Condong Catur S3. Colombo Bundaran UGM S4. Gramedia Kridosono S4. Duta Wacana - Fly-over Lempuyangan - S4. Gayam S4. Mandala Krida S3. Cendana S4. SGM Gembiraloka S4. Babadan Gedongkuning S4. Rejowinangun S3. Basen S4.Tungkak S4. Joktengwetan S4. Gondomanan S4. Kantor Pos Besar S3. RS PKU Muhammadiyah S4. Ngabean S4. Wirobrajan S3. BPK S4. Badran Bundaran SAMSAT S4. Pingit S4. Tugu S4. Monjali Terminal Jombor.


Trayek 3A : Terminal Giwangan Kotagede Bandara Adisucipto Ringroad Utara MM UGM Pingit Malioboro Jokteng Kulon

Terminal Giwangan S4. Tegalgendu S3. HS-Silver Jl. Nyi Pembayun - S3. Pegadaian Kotagede S3. Basen S4. Rejowinangun S4. Babadan Gedongkuning JEC - S4. Blok O Janti (lewat atas) - S3. Janti S3. Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S3. Maguwoharjo Ringroad Utara Terminal Condongcatur S4. Kentungan S4. MM UGM - S4. MirotaKampus S3. Gondolayu S4. Tugu S4. Pingit Bundaran SAMSAT - S4. Badran S3. PasarKembang Stasiun TUGU - Malioboro S4. Kantor Pos Besar S3. RS PKU Muhammadiyah S4. Ngabean S4. Jokteng Kulon S4. Plengkung Gading - S4. Jokteng Wetan S4. Tungkak S4.Wirosaban S4. Tegalgendu Terminal Giwangan.


Trayek 3B : Terminal Giwangan Jokteng Kulon Pingit MM UGM Ring Road Utara Bandara Adisuciptp Kotagede

Terminal Giwangan S4. Tegalgendu - S4. Wirosaban S4. Tungkak S4.Jokteng Wetan S4. Plengkung Gading - S4. JoktengKulon S4. Ngabean S3. RS PKU Muhammadiyah S3. Pasar Kembang S4. Badran Bundaran SAMSAT S4. Pingit S4. Tugu S3. Gondolayu S4. Mirota Kampus S4. MM UGM - S4. Kentungan Terminal Condong Catur Ringroad Utara S3. Maguwoharjo Bandara Adisucipto S3. Maguwoharjo JANTI (lewat bawah) S4. Blok O JEC - S4. Babadan Gedongkuning S4. Rejowinangun S3. Basen S3. Pegadaian Kotagede Jl.Nyi Pembayun - S3. HS-Silver S4. Tegalgendu Terminal Giwangan.

*****

Kita doakan bis Trans Jogja ini bisa berjalan dengan bagus. Tidak hanya bagus di awal, melainkan ini terus berkembang, seiring dengan perkembangan Jogja yang makin hari terasa makin sesak.

Paling tidak, halte Trans Jogja kini sudah menjadi sarana baru: obyek foto bagi para ''turis''....