Wednesday, May 14, 2008

KE KIDZANIA LAGI

AHAD 11 Mei 08 lalu kami ke Kidzania, kawasan bermain bagi anak, di The Pacific Place, Jakarta. Ini kunjungan Darrel dan mommy yang kedua. Tahun lalu, sewaktu Kidzania baru dibuka, Darrel ke sana. Ia ditemani mommy dan eyang. Senang sekali. Biayanya cukup mahal, tiketnya saja Rp 150.000. Tapi suasananya sangat pas buat anak. Jauh lebih bagus ketimbang sekadar bermain di mall.
Kali ini Darrel ditemani ayah, mommy, dan mbak Mur.
Di kunjungan kedua ini Darrel tidak hanya bermain, tapi juga bekerja. Modal awalnya 50 Kidzos --ini mata uang yang hanya berlaku di area bermain. Uang itu ia tabung. Darrel memegang kartu ATM. Ia betul-betul menggunakan prinsip ekonomi. Kalau masuk ke area permainan yang membayar, ia pakai uang ayahnya. Tapi kalau bekerja, duitnya dimasukkan ke tabungannya.
Sewaktu menjadi dokter gigi, Darrel mendapat 8 Kidzos. Ketika masuk ke area PLN, ia membetulkan listrik yang --sengaja-- dibuat mati. Nah, Darrel masuk ke panel-panel, dan membetulkan tiang yang miring, plus sekring yang ''putus''. Ia dapat 8 Kidzos. Ketika membalap, ia harus membayar 10 Kidzos. Hehe... duitnya tetap utuh, karena duit keluar dari dompet bapaknya...
Bermain di Kidzania selama empat jam terasa kurang. Bagi bapak dan ibu yang ingin mengantar putera-puterinya, kami memberi saran, kalau buah hatinya lagi tidak sehat, jangan dipaksakan. Semua kegiatan membutuhkan fisik yang prima. Saran lainnya, jangan sekali-kali berangkat menggunakan motor. Kidzania berada di The Pacific Place, gedung yang tidak menyediakan sarana parkir bagi motor.
Posted by Picasa

Friday, May 02, 2008

Belajar Shalat





Belajar shalat itu tidak mudah. Sungguh. Untung di sekolah Darrel diajar dengan sabar oleh Miss Yayuk, Miss Novi, Miss Balqis, dan Uncle Mubaroq. Miss Novi kini sudah pindah ke sekolah lain yang lebih dekat dengan rumahnya di Cikarang.

Ini foto-foto Darrel lagi salat. Yang motret mommy. Kelihatan khusuk ya? Di foto memang begitu. Tapi kenyataannya, kadang masih sulit untuk mengajak Darrel salat. Misalnya, pas azan maghrib, di tv lagi film kartun.

Butuh kesabaran. Butuh ketelatenan. Saya sendiri, yang sudah puluhan tahun salat, juga merasa banyak sekali kekurangannya.

Sunday, April 27, 2008

Pilkada Gubernur, Apa Perlu?

IKUT Pemilihan Kepala Daerah –sekarang biasa disingkat pilkada—ternyata tidak mudah. Dibutuhkan keseriusan, kesediaan, dan yang tak kalah penting, informasi cukup mengenai siapa calon yang akan kita pilih. Repotnya lagi, semakin banyak informasi yang kita dapat, kita malah makin kesulitan menentukan gambar mana mau kita coblos.

Situasi itu yang kami hadapi ketika mendapat undangan pilkada gubernur Jawa Barat, 13 April lalu. Sebagai warga Jawa Barat –rumah kami sekitar 100 meter dari tugu perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi—kami mendapat ‘’Surat Pemberitahuan Waktu dan Tempat Pemungutan Suara’’.

Lokasinya di lapangan sepakbola Permata Timur 2. Jamnya 07.00-13.00. Tempat kami mencoblos di TPS 19 Kelurahan Jaticempaka, Kecamatan Pondokgede.

Begitu mendapat undangan itu, mommy bilang, ‘’Hebat juga, kali ini nama kita kedaftar.’’

Dalam pilkada dua bulan sebelumnya, untuk menentukan walikota Bekasi, kami memang tidak daftar undangan mencoblos. Heran juga, padahal yang dijadikan acuan untuk membuat daftar adalah pemilu 2004. Waktu itu kami ikut pemilu baik legislatif maupun untuk memilih presiden. Tapi kami waktu itu tidak mempersoalkan kenapa tidak kedaftar.

****

Pilkada Jawa Barat melibatkan tiga pasang calon: Danny Setiawan – Iwan Sulanjana (DaI –gubernur dan bekas Pangdam Siliwangi); Agum Gumelar-Ahmad Nukman (Aman –bekas menteri dan wakil gubernur), serta Ahmad Heryawan – Dede Yusuf (Hade –wakil ketua DPRD Jakarta dan artis plus anggota DPR).

Pilkada itu sebagaima kita ketahui dmienangkan pasangan Ahmad-Dede. Ketika tulisan ini dibuat, mereka tinggal menunggu pelantikan. Nomor dua adalah Aman, dan di paling buncit adalah DaI.

Kemenangan Hade sungguh di luar dugaan. Semua polling yang dilakukan seminggu sebelum pilkada menempatkan Agum sebagai kandidat kuat pemenang. Hade di paling buncit. Hanya dalam seminggu, ramalan itu dibantah habas.

Saya memaklumi komentar Pak Agum. ‘’Kredibilitas lembaga polling dipertanyakan,’’ katanya. Lembaga polling ini ada yang bekerja karena diupah calon tertentu. Apapun hasil pollingnya, mereka tetap dibayar. Menjadi pertanyaan juga, sejauh mana kredibilitas ilmu statistik yang mereka jabarkan dengan teori yang rumit-rumit itu.

Pak Agum pasti amat kecewa, karena ia banyak diunggulkan. Eh, ternyata meleset. Pasti ada penjelasan dari kacaunya hasil polling ini. Apakah metode sampling yang mereka gunakan salah, atau ada perubahan situasi yang membuat hasil pilkada amat di luar dugaan. Tapi saya belum membaca penjelasan para pengelola polling.

*****

Siapa yang kami pilih?

Jujur, saya dan mommy Uni Lubis betul-betul kesulitan. Kami mendapat kesulitan yang sama dalam menentukan pilihan.

Pasangan Pak Danny dan Pak Iwan kami akui keduanya orang baik. Pak Danny orang yang merintis karir dari bawah, hingga akhirnya menjadi Sekretaris Daerah Provinsi, sebelum akhirnya menjadi gubernur. Ia bukan tipe orang yang neko-neko. Pak Iwan Sulanjana, sebagai bekas Panglima Kodam, pasti orang yang logika berpikirnya mudah dipahami.

Cara berpikir dengan logis ini menurut saya cukup penting. Seorang pemimpin harus bisa menjelaskan suatu kebijakan lengkap dengan argumentasinya. Jangan zigzag, atau gampang mengobral ucapan.

Nah, ketika Indonesia dipimpin Gus Dur –mohon maaf dengan para pendukung beliau—saya merasa sulit memahami tindakan-tindakan beliau. Jumpa pers yang bikin deg-degan tiap habis salat Jumat, misalnya, adalah hal yang sulit kami pahami. Perjalanan ke luar negeri yang amat banyak, juga pernyataan beliau yang menyetujui referendum bagi rakyat Aceh kalau mau memisahkan diri dari Indonesia, juga sulit kami terima. Mungkin Gus Dur terlalu cerdas, sehingga kami kurang mudeng.

Dari sisi logika berpikir, Pak Danny dan Pak Iwan pasti oke. Hanya saja, dengan segala maaf kepada Pak Danny, sebagai warga perbatasan, kami belum merasakan manfaat kepemimpinan beliau. Jalan-jalan di sekitar rumah kami masih saja hancur lebuh. Walau, kami juga sadar, peran Walikota Bekasi lebih dominan dalam hal ini.

Pak Agum juga orang baik. Saya beberapa kali bertemu dengan beliau secara langsung, jadi sedikit banyak agak paham mengenai caranya berpikir. Nasionalis, persuasif, tidak banyak cerita negatif tentang beliau. Ketika menjadi Menteri Perhubungan di era Gus Dur, juga Megawati, beliau tampak bekerja keras.

Namun, saya lebih mengenalnya sebagai orang Jakarta yang tiba-tiba saja ingin pulang kampung menjadi gubernur. Mohon maaf, rasanya kok tidak elok. Saya tidak banyak menemukan catatan mengenai apa yang sudah dilakukan Pak Agum terhadap Jawa Barat selama ini.

Pasangan pemenang, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf, lebih sulit lagi untuk dipertimbangkan. Keduanya punya KTP Jakarta. Apa yang sudah mereka lakukan untuk Jawa Barat?

Ahmad Heryawan adalah Wakil Ketua DPRD Jakarta. Ia dikenal orang baik. Ustadz. Penguasaan terhadap Al Quran pasti bagus. Tapi itu saja tidak cukup. Sebagai Wakil Ketua DPRD, ia ikut bertanggungjawab atas pencoretan anggaran perbaikan ratusan gedung sekolah di Jakarta. Ia juga turut bertanggungjawab atas bertele-telenya pengesahan APBD. Jalanan berlobang, banjir, juga jadi tanggungjawab legislatif, mengingat di era reformasi, peranan legislatif dalam ketatanegaraan kita amat penting.

Dan Dede Yusuf? Mohon maaf, ia pantas untuk menjadi bintang iklan bodrex. Untuk menjadi wakil gubernur, saya belum bisa memberi komentar. Yang jelas, tidak ada peran menonjol dia sebagai anggota DPR.

*******

Di luar kesulitan menentukan nama, kami juga merasa, pilkada yang lumayan sering membuat kami jenuh. Baru dua bulan sebelumnya kami memilih walikota, kali ini harus bekumpul lagi untuk memilih gubernur. Saya merasakan, Pak Hansip, Pak RW, Pak RT, lebih capek lagi. Apalagi, anggaran yang disediakan pemerintah amat minim.

Kalau pemilu legislatif, presiden, dan pilkada, bisa digabung, saya yakin, tingkat partisipasti warga akan lebih banyak. Di komplek saya, jumlah pemilih juga tidak banyak.

‘’Sepi Pak, tidak banyak yang memilih,’’ kata Usman Hadi, petugas keamanan yang bertugas.

Pertanyaan lebih penting lagi, apakah gubernur mesti dipilih lewat pilkada? Kita sudah menganut Undang-undang Otonomi Daerah yang berbasis kabupaten. Peran bupati dan walikota amat sentral. Gubernur ibarat menjadi wakil pemerintah pusat di daerah, yang fungsinya sekadar mengoordinasi. Mirip kanwil sebuah departemen.

Bila demikian, mengapa gubernur tidak ditunjuk saja? Lebih irit, lebih cepat, dan mengurangi potensi konflik.

Thursday, April 03, 2008

BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA--2



SEPENGGAL dialog Cinta Laura Keihl di sinetron, banyak dikutip di berbagai media. "Mana hujan, nggak ada ojek," diucapkan dengan logat bahasa sono. Orang pun menirukan ucapan itu dengan berbagai sudut pandang. Tapi kebanyakan, paling tidak menurut yang saya dengar, dengan sinis.
Di media dotcom okezone, Cinta mengatakan dirinya biasa-biasa saja. "Aku surprised kata-kata yang aku ucapkan di sinetron diikuti banyak orang. Bahkan, ditambahin. Sebenarnya dialognya cuma, 'Mana hujan nggak ada ojek'. Nggak tahu kenapa ditambahin kata becek. Aku nggak ingin bikin hak paten. Biarkan saja mengalir karena aku orangnya cuek," tutur Cinta.
Ucapan Cinta yang khas dengan logat ala bule itu sampai dijadikan ring back tone oleh operator ponsel. Bukannya senang, Cinta mengeluhkan tindakan orang-orang yang terkesan melecehkan gaya bicaranya."Duh, jangan segitunya dong kasih komentar. Orang-orang nggak tahu kondisi sebenarnya yang aku jalani. Sejak kecil, aku tinggal di luar negeri dan bahasa yang digunakan bahasa asing. Jadi seperti ini logat aku. Sekarang, aku biarkan saja orang mau komentar apa," tegasnya.
Mommy Uni bercerita, pekan lalu ia mendengarkan Radio Delta FM. Penyiarnya Mbak Intan Nugroho, yang lebih kita kenal sebagai pembawa acara siaran berita berbahasa Inggris di TVRI. ‘’Dua jam lebih yang diomongkan sinetronnya Cinta Laura,’’ katanya.
‘’Maksudnya sinetronnya bagus?’’
‘’Bukan. Itu lo. Yang mana hujan nggak ada ojek….’’
****
Suka atau tidak, semangat beringgris ria memang ada di benak para penurut bahasa Indonesia. Bahasa Inggris di abad pertengahan sebetulnya hanya jadi bahasa pengantar oleh orang-orang di Kerajaan Inggris. Pemakainya makin luas setelah Inggris mempunyai negara jajahan di berbagai benua. Malaysia, Australia, Singapura, Afrika Selatan, India, adalah negara-negara yang sempat menikmati pemerintahan Britania Raya.
Secara fisik, penjajahan oleh Inggris kini tidak ada lagi. Namun ada sarana penyebaran bahasa Inggris yang jauh lebih ampuh. Kurir penyebar virus bahasa Inggris itu bernama film Hollywood, komputer, serta internet.
Terlebih-lebih setelah sekarang kita menggunakan telepon seluler (coba, apa istilah melayu untuk seluler? Pusing kan???). Kita ber –short messaging services, sambil mendengarkan 3G, dan di jalan kita bersurfing ria dengan menikmati mobile phone. Mau chatting? Bisa. Yang penting handphone kita didukung software yang up to date….
Maka yang terjadi adalah bahasa gado-gado. Kata Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono, sebagaimana dikutip di Suara Pembaruan, kesalahan menggunakan bahasa Indonesia sekarang ini semakin bertambah di era reformasi. Anda tahu kan, istilah electoral threshold? Pasti juga pernah dengar, Presiden SBY diancam mau di-impeach.
Fenomena boom istilah asing pernah terjadi pada tahun 1980-an ketika terjadi booming ekonomi yang luar biasa. Ketika itu muncul properti di mana-mana. Penggunaan nama-nama asing sangat marak, bisa dijumpai di papan namanya: North Tower dan South Tower (ini untuk gedung utara dan gedung selatan, di Kuningan Plaza), ada Mulia Tower, Landmark.
Pada tahun 1995, dilakukan pencanangan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nama-nama gedung, perumahan dan pusat perbelanjaan yang berbau asing diganti dengan bahasa Indonesia. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.
Angin reformasi justru membawa perubahan buruk bagi bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing kembali marak. Malahan dengan alasan globalisasi, percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing justru semakin marak. Kata-kata seperti 'new arrival', 'sale', 'discount', terpampang dengan jelas di berbagai toko dan pusat perbelanjaan
Pada tahun 1953, Poerwodarminta mengeluarkan Kamus Bahasa Indonesia yang pertama. Di situ tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000. Pada tahun 1976, Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia, dan terdapat 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru.
Tetapi pada tahun 1988, terjadi loncatan yang luar bisa. Dari 24.000 kata, telah berkembang menjadi 62.000. Selain itu, setelah bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, berhasil dibuat 340.000 istilah di berbagai bidang ilmu. Malahan sampai hari ini, Pusat Bahasa berhasil menambah 250.000 kata baru. Dengan demikian, sudah ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu. Sementara kata umum telah berjumlah 78.000.
******
Di Malioboro, dan jalanan lain di Yogya, ada kewajiban semua papan nama harus ditulis dengan dua jenis huruf. Huruf latin dan huruf Jawa. Contohnya bisa terlihat di papan nama Pasar Beringharjo, pasar tradisional bersejarah di Yogyakarta. Pasar ini letaknya di ujung Selatan jalan Malioboro.
Saya tidak tahu, apakah generasi anak-anak sekarang masih bisa membaca huruf Jawa itu.
****
Saya kutipkan di sini kalimat yang dipasang di website http://www.ialf.edu/bipa/march2002/bahasaabg.html. Situs ini mengutip kalimat-kalimat yang digunakan para ABG. Kalimatnya pendek-pendek. Pengungkapan makna menjadi lebih cepat, sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya.
Dalam contoh percakapan berikut antara tokoh Vira dan Alda dalam ‘Atas Nama Cinta’ (Kawanku, 08.XXX 14-20 Agustus 2000) kita melihat bagaimana bahasa ABG ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif. Dalam percakapan ini hanya kalimat pertama yang menggunakan pokok kalimat (subjek) sedangkan sisanya bahkan tidak menggunakan kata ganti orang (pronomina) sama sekali.
“Kamu anak baru, ya?” ‘Iya.” “Jurusan apa?” “Komunikasi.” “Pantesan cantik.” “Makasih.” “Eh, mau ini?” “Apa tuh? Obat, ya?” “Iya, kalau mau ambil aja.”
Coba deh, baca buku Pak Anton Moeliono, tokoh penutur bahasa Indonesia. Bila asas struktur subyek-predikat-obyek ditaati, dijamin, para remaja kita dapat nilai merah dalam pelajaran bahasa.

Apalagi kalau ketaatan menggunakan bahasa Indonesia yang jadi ukuran. Dijamin, para pembuat reklame tidak ada yang lulus.
‘’Great Sale. Special Discount Up To 30%. Original Brand from USA’’.

Paham kan yang dimaksud kalimat itu?
*****
Di luar bahasa ABG itu, juga berkembang bahasa jenis baru. Orang menyebutnya sebagai bahasa prokem. Malah sudah ada kamusnya, yang dibuat oleh artis Debby Sahertian.
Coba lihat contoh percakapan di bawah ini:

Jali-jali di Mal
A: Akika mawar belalang spartakus nih.
B: Emang spartakus yang lambreta napose?
A: Sutra Rusia! B: Akika mawar belalang Tasmania.
A: Tasmania kawanua yang lambada jugra sutra Rusia?
B: Tinta … pingin gaya atitah!
A: Sihombing loe! B: Tinta … soraya kayangan anjas! He … he …
(Sahertian, 1999: 23-25)


Mudeng? Kalau tidak paham, tidak usah khawatir. Saya siap menemani..hehehe..
*****
Bahasa menunjukkan bangsa. Mungkin karena itu, orang Jerman, Prancis, dan Jepang, sangat bangga pada bahasanya.
Mommy Uni bercerita, Februari lalu ia ikut acara Indonesa-German Media Dialog, dialog antar-pemuka media Indonesia dan Jerman. Dialog itu tidak menggunakan bahasa Inggris, sebagaimana pertemuan internasional lazimnya. Peserta dari Indonesia berbahasa Indonesia, yang diterjemahkan ke Jerman. Peserta dari Jerman menggunakan bahasa Jerman, diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
''Saat istirahat, saya ngobrol dengan mereka. Ternyata bahasa Inggrisnya bagus-bagus. Malah banyak yang lulusan Amerika,'' kata Mommy.

Bahasa menunjukkan bangsa. Kita sepakat dengan hal itu. Di satu sisi, berbagai perkembangan kosa kata baru yang masuk ke dalam perbendaharaan bahasa kita menunjukkan, bahasa kita memang makin gaul. Makin dinamis. Bahasa memang tidak bisa mandek.
Tapi, kalau sampai bahasa lokal tergerus oleh gempuran bahasa asing, kita tidak bisa berbangga lagi. Itu menunjukkan kita adalah bangsa yang tidak punya percaya diri.

Tuesday, April 01, 2008

BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA


BERBAHASA Indonesia itu tidak semudah yang kita bayangkan. Karena setiap hari kita sudah mudeng nonton tv, mendengarkan radio, ngobrol, dan baca koran, kita merasa diri kita sudah fluent, sudah cas-cis-cus berbahasa Indonesia. Akibatnya: meski di rak buku kita memiliki ratusan buku asing, kamus bahasa Indonesia-Jerman, kamus bahasa Prancis, tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia banyak yang tak punya. Akibatnya lagi: acap kali kita terbata-bata dalam berbahasa.
Harap dimaklumi, meski bahasa Indonesia kini telah menjadi bahasa nasional, juga bahasa negara, tetapi latar belakang pemakainya amat beragam. Ada yang dari Yogya, Sunda, Ambon, Mandailing, Aceh, dsb.
Di Jakarta kita akan merasa biasa untuk mendengar kalimat seperti ini: ‘’Apakah Gubernur sudah datang?’’ Di Yogyakarta, kalimat seperti itu akan terasa tidak sopan. Orang Yogya akan lebih srek kalau bilangnya begini: ‘’Apakah Ngarso Dalem sudah rawuh?’’ Rawuh adalah istilah lain untuk ‘’datang’’, untuk orang yang dihormati. Dalam strata bahasa Jawa itu disebut dengan kromo inggil, bahasa untuk orang yang kita tuakan, seperti orang tua, pejabat, ulama.
Di Surabaya, mungkin kita juga merasa biasa mendengar kalimat ini: ‘’Pancen sampean iku diancuk..’’ Duh, untuk ukuran Yogya, itu seperti makian yang amat kasar.
Kawan saya yang asli Bandung, sangat kesulitan untuk mengucapkan kalimat dengan huruf ‘’f’’. Seringkali terbalik-balik dengan huruf ‘’p’’. Kentucky Fried Chicken diucapkan sebagai ‘’Pried Chicken’’. Salah satu di antara yang pernah keseleo mengucapkannya kini menjadi petinggi di sebuah stasiun tv swasta. Ia bertutur, salah satu adiknya kerja di KFC, di Kalimantan Timur. Saya tanya, tugasnya apa? ‘’Dia lulusan Geologi, harus mencari tambang baru yang ada batu baranya.’’ Saya tanya, ‘’Apa yang dimaksud Kaltim Prima Coal?’’ Ia menjawab ‘’Ya’’. Hehehe.. ternyata yang dimaksud adalah KPC, bukan KFC.
*****
Kesulitan lain yang muncul dalam berbahasa Indonesia adalah, kita makin merasa bahwa bahasa kita ini miskin kosakata. Bahasa sehari-hari yang kita pakai sangat banyak mengandung unsur serapan.
Apa nama tempat pemberhentian bus? Jawabnya: halte. Itu dari bahasa Inggris. Kita juga mengenal istilah baru akhir-akhir ini: under pass (terowongan), fly over (jalan layang), traffic light. Kepolisian Daerah Jakarta mengenalkan lembaga yang mengontrol lalu lintas. Namanya: Traffic Management Centre alias TMC. Kenapa bukan PKL, Pusat Kendali Lalu Lintas? Mungkin khawatir derajatnya turun, disetarakan dengan pedagang kaki lima.
Sering kali istilah asing itu muncul lantaran kita malas mencari kata-kata padanannya dalam bahasa Indonesia. Atau kita merasa minder, merasa kalau dengan menggunakan bahasa Inggris, kita akan merasa menjadi kaum terpelajar.
Tapi juga unsur lain, bahasa Indonesia memang tidak memiliki kata yang sama artinya. Contohnya saja: internet, komputer, bank, atom, neutron, derivatif. Bisa saja kita menerjemahkan, tapi akibatnya akan menjadi naskah dalam bahasa Indonesia yang tergagap-gagap. Salah satu yang sangat bersemangat untuk membuat terjemahan untuk setiap istilah adalah Prof. Sudjoko, guru besar ITB Bandung.
Masuknya unsur serapan yang secara beruntun ditimpali dengan kemalasan mencari tahu grammar yang benar, dan cara penulisan yang benar. Akibatnya terjadilah tulisan: PHOTO COFFEE, HALTE PLY OFFER, TAMBAL BAN CUBE LESS.
Sebagian foto dari ‘’dinamika’’ –istilah halus saya untuk kerancuan-kerancuan berbahasa itu—saya muatkan di blog ini. Foto ini saya ambil dari surat elektronik alias email yang masuk ke saya. Mohon maaf saya tidak tahu, siapa yang memiliki foto ini, sehingga kami muatkan tanpa akreditasi.
*****
Salah satu penyebab kesulitan berbahasa Indonesia juga bahasa kita sering tidak konsisten, tidak taat azas dalam menyerap unsur asing. Kita lebih mengenal Selandia Baru ketimbang New Zealand. Tapi untuk Papua New Guinea kita menerjemahkannya menjadi Papua Nugini. Kenapa bukan Papua Guinea Baru? United States of America kita terjemahkan sebagai Amerika Serikat. Kalau United Kingdom kenapa bukan Kerajaan Serikat ya, tapi malah jadi Kerajaan Inggris?
Jaman gubernur Jakarta dijabat Pak Wiyogo Atmodarminto, pernah ada aturan untuk mewajibkan toko-toko, hotel, nama jalan, harus menggunakan aturan bahasa Indonesia yang baku. Artinya yang baik dan benar, mengikuti azas ‘’DM- diterangkan dan menerangkan’’.
Maka: BNI Bank menjadi Bank BNI, BII Bank menjadi Bank BII. Tapi juga ada kata-kata yang terjemahannya dipaksakan.
Sebuah hotel di Jalan HR Rasuna Said namanya ‘’Grand Melia’’. Kini berubah menjadi ‘’Gran Melia’’. Kenapa bukan Melia Raya ya? Anehnya, sebuah perumahan bernama ‘’Cassa Grand’’ berubah menjadi ‘’Cassa Grande’’.
Nah, pusing kan? Wajar kalau kemudian muncul: Ply Over, Ply Offer, Fly Oper, dan Photo Coffee…
Kalau cara berbahasa menunjukkan bagaimana sebuah bangsa, mungkin ini jawaban kenapa kok kita terus dipusing dengan beragam masalah….



Monday, March 31, 2008

DI KIDZANIA




November lalu, ada Kidzania Indonesia dibuka. Pemiliknya pengusaha minyak, Mohammad Reza Chalid. Darrel pergi ke wahana baru di gedung The Pacific Place, di SCBD, itu. Ia ditemani mommy. Ia mencoba menjadi pilot pesawat dan petugas pemadam kebakaran.

Kidzania menyebut dirinya sebagai ''the role play''. Anak yang datang ke sini bisa memilih ke berbagai jenis permainan: mau berlatih menjadi dokter, menjadi pilot, pemadam kebakaran, wartawan tv, atau permainan lainnya.

Silakan lihat saja fotonya. Sengaja kami tidak mengupload naskah yang panjang. Yang jelas, Darrel amat menikmati tempat permainan itu. Ia di situ selama tiga jam. Hasilnya? Ia baru mendapat tiga lokasi permainan. Ia ingin kembali lagi.

Untuk om, tante, serta teman-teman yang ingin membawa anaknya ke situ, harap diperhatikan, anaknya harus dalam kondisi sehat benar. Soalnya sangat dibutuhkan gerakan fisik yang cukup banyak. Jangan lupa, tiket masuknya Rp 150.000. Jangan lupa pula, Kidzania terletak di Pacific Place, yang tidak menyediakan tempat bagi parkir motor. Jadi kalo ke Kidzania, ya pakailah mobil, atau taksi sekaligus.

Sejak adanya Pacific Place, kawasan SCBD makin muacett saja...
Posted by Picasa

Sunday, March 30, 2008

CITIZEN JOURNALISM


BERAWAL dari baca artikel di bawah ini, "YouTube has a lucrative new rival", lahirlah program TOPIK Citizen Journalist, atau supaya terasa sentuhan "young", biasa disebut "TOPIK Citizen J". Melihat namanya, jelas bahwa ini adalah program yang berkaitan dengan Citizen Journalism, atau jurnalisme warga yang lagi jadi tren di mana-mana. Soal CJ tak akan saya bahas di sini, karena ribuan artikel soal ini bisa anda download dari dunia maya.

Artikel soal "Metacafe", rivalnya YouTube itu, mengilhami saya untuk menerapkannya di antv, dengan format yang beda dari yang diterapkan media lain di sini (menurut observasi saya lho.....). Sejumlah media di Indonesia, termasuk TV sudah ada yang punya program semacam ini, tapi sifatnya pasif. Nunggu kiriman artikel atau kalau buat tv ya video amatir. Dari sejumlah media yang menerapkan pola CJ, yang lumayan sukses adalah Elshinta Radio. Radio berita ini punya "reporter warga" di mana-mana sehingga berkembang pesat sebagai jaringannya. Saya tidak tahu apakah Elshinta pernah membuat "jumpa darat" bagi para "reporter warga tetap"nya.

Di awal tahun, tgl 1 Januari 2008, sambil menikmati secangkir panas teh hijau kesenangan saya, dan nonton program tahun baru di sejumlah TV, saya leyeh-leyeh di rumah sampai siang. Malamnya sih begadang sama beberapa teman kantor di gazebo belakang rumah. Bakar ikan, ngopi, makan-makan, de el el. Nah, yg namanya leyeh-leyeh buat saya, berarti blackberry dan handphone gak boleh jauh. Bahkan selalu ada di genggaman (alamak....saya sudah kecanduan blackberry)....

Saya pun berkomunikasi dengan sejumlah teman soal artikel YouTube dan Metacafe ini. Reya Sudharto (GM Marketing antv), Sonny Himawan (Manajer ANTV Interactive Media), Yanti Narizza (Manajer riset program ANTV), Mila Lubis (Manajer Publicity) dan Poppy Imlatti (Manajer Marketing Off Air) adalah sebagian dari orang-orang yang saya ganggu di hari libur itu. Saya ajak sharing kemungkinan buat program CJ, tapi dengan acara PRO-Aktif. Caranya, tim redaksi TOPIK antv membuat workshop, pelatihan jurnalistik di sejumlah SMA dan Universitas/Akademi.

Judulnya: "Membuat Berita TV itu Gampang". Kira-kira gitu deh. Nah, peserta akan diajari teknik standar minimal, termasuk pengambilan gambar, untuk menghasilkan berita yang layak tayang di TV. Soal angle, milih berita, juga diajarin. Tapi fokusnya adalah pengambilan gambar. Peralatan bisa pakai handycam, maupun handphone. Maklum, anak-anak sekarang kan hampir semua sudah pakai handphone berkamera.

Menariknya lagi, lewat program ini kami jadi punya acara off air buat TOPIK, program berita harian antv. Dan, ini yang paling penting, kami jadi punya jaringan baru di kalangan peserta. Lumayan, kan. Kalau lagi macet di seputar Jakarta, kali aja kami bisa minta tolong mereka merekam sesuatu untuk berita TOPIK.

Bagaikan bola salju, ide yang kami diskusikan bergulir cepat. Begitu masuk kantor, kami langsung rapat interdept untuk eksekusi program ini. Semua semangat...thanks buat ibu-ibu peserta working lunch......Friday ceria...Setiap kami ketemu, ngopi, lunch, atau nonton, selalu ada ide menarik yang bisa dilakukan untuk antv.....Dan, sudah banyak lho yang direalisasi....Siapa bilang peremuan kalau ngumpul cuma ngerumpi (ini sih dilakukan juga...kakakakakak).

Waktu dipresentasikan di rapat managemen antv, Bu Laureen Ong, COO STAR HK, yang juga pernah jadi "most powerfull woman in TV US TV Industri 2005", merespon positif. "Good idea, breaktrough," kata perempuan hebat ini. Senangnya. Jadi makin semangat.

Reza dari marketing publicity jadi PO program. Dan si ganteng ini semangat banget (thanks Reza, Raya, Vera, Reeka, Tyas, Santi, Sandi, Bowo, dll dari time marketing antv). Sari dan Juli dkk dari Network Creative Services antv juga membantu membuat segala macam logo dan ada T-Shirtnya lho.....aahh, pokoknya seru...
Singkat kata, TOPIK Citizen J jalan. Sudah 5 lembaga kami datangi. Di mulai dengan SMA 81 Jakarta. Juga IPB di Bogor (ini paling seru...100-an peserta gak mau selesai-selesai belajarnya......thanks buat Ken, Nyoman, Ecoy, Gede, Adel, Rafles, dkk tim redaksi TOPIK yang setia membagi ilmunya....). Kalau awalnya kami harus mendekati sekolah untuk menjalankan program pelatihan ini, sekarang kami harus menyeleksi banyak sekali permintaan workshop TOPIK CJ. Minggu ini, di akhir Maret, TOPIK CJ menyerbu STIKOM Interstudi. Hmm...rame deeh, dan seru. Bulan depan kami akan merambah kota lain, Cianjur dan Bandung. Ada yang sudah siap menunggu tim TOPIK CJ di sana.
Sonny dan Subhan Akbar dari Antv Interactive Media bahkan sudah buat blognya.... Kunjungi ya di http://www.topikcitizenj.multiply.com/. Thanks ya.....

Senang bisa berbagi pengalaman dengan adik-adik pelajar dan mahasiswa. Kalau kata teman-teman redaksi sih, seneng bisa ketemu dengan yang bening-bening....(kaca kaleee).
Beberapa murid sudah kirim berita ke redaksi, kami muat, dan....dapat honor uang tunai doong...lumayan buar nraktir teman....

Berita kiriman alumni TOPIK CJ dimuat dalam rubrik "Laporan Anda" yang ditayangkan di program TOPIK, program berita harian di antv.

Kami mendorong mereka untuk rajin buat "berita" tentang apa yang terjadi di sekitar mereka....semacam upaya mengasah kepekaan mereka terhadap problematika di sekitar mereka. Kebiasaan mendokumentasi juga bisa dibangun dari kegiatan ini. Kalau memang tidak minat jadi wartawan, ya minimal dengan ikuti workshop TOPIK CJ, adik-adik itu bisa bikin dokumentasi kegiatan pribadi dengan teknik lebih baik. Pokoknya, nggak ada ruginya deh ikut kegiatan ini.

Begitulah, sebuah ide yang muncul di awal tahun, kini bergulir, dan semoga awet.....
Artikel yang menginspirasi TOPIK CJ itu, saya sertakan di bawah ini:

YouTube has a lucrative new rival
By Nic FildesPublished:
31 December 2007

Metacafe, a website that pays people who upload popular videos thousands of pounds by sharing advertising revenue, is to focus on expanding its presence in the UK in 2008.Unlike its eBay-owned rival, Metacafe meticulously filters the content on its site to avoid any pirated material being shown and to ensure that the videos are of a good quality.

The site, which has around 30 million unique users every month, already has around two million UK users but is keen to expand further by signing up local content owners while tempting British filmmakers to utilise its website to make money.

Metacafe is thus far the only online video company to share its advertising revenue with people that upload videos onto its site – although YouTube is also considering such a move.Metacafe, which is based in California and is backed by a number of venture capital firms including Benchmark Capital –which notably funded eBay in its early days – has already paid out $1m (£0.5m) to its successful video producers, some of whom have become famous enough to appear on David Letterman's chat show in the US.

The company pays a producer $5 for every 1,000 views of a video on the site, although the clip has to be watched at least 20,000 times before the user is eligible for a payment.The site's top earner, who goes by the name Kipkay, has earned over $82,000 in the past year thanks to a series of 92 short videos. His videos are typical of Metacafe's style in that they are of a genre now referred to as "how to" clips, such as "how to make a cheap lie detector" and "how to get out of handcuffs".

One user from Gloucestershire, known as Shootingeggs, has funded a trip around the world by posting videos of scientific experiments showing how to make flash powder and self-lighting candles that have earned him more than $20,000.Erick Hachenburg, chief executive of Metacafe, said: "If you create quality content in the user-generated content space, you should be paid for it."

He said that users can make thousands of pounds overnight producing quality videos because of the popularity of the format and demand from advertisers. "Last year advertisers said you could never advertise on user-generated content. Now they are asking how they can advertise on user-generated content," he said.

Mr Hachenburg said that the site does not compete head-to-head with YouTube as it focuses predominantly on short clips that are produced by its users and that a community of 80,000 reviewers made sure that material is not duplicated or pirated. "Different sites have different cultures. If we put a duplicate of an existing video clip up, our community gets angry."

It is the evolution of content on the internet – we need to make sense out of the chaos," he said. Mr Hachenburg said that the online short form video space will emerge as a format in its own right as it is impossible to make money from pirated material.

However the company has started signing deals with movie producers to allow producers to cut up content from films such as The Bourne Ultimatum and American Gangster to make their own trailers. It has also struck deals with the likes of Skype and O2 to show its content on other platforms.