Search This Blog

Tuesday, October 25, 2005

Merancang Perjalanan Mudik

Lebaran tahun ini sangat berbeda artinya bagi Darrel. Ia kini sudah bisa bicara. Tahun lalu, ia baru bisa berucap sepatah kata ''becak''. Lebaran tahun ini, usianya 2 tahun 5 bulan. Lumayan. Ia sudah bisa ngeyel, ngeyel luar biasa. Mau maem, mau bobok, bahkan mau pipis, ia ngeyel. Tak apa-apa ya?
Lebaran tahun ini, Darrel juga mau mudik, ke Eyang di Yogya. Anda juga mau mudik? Ini tips agar mudik tidak bikin morat-marit.



MEMBERI HADIAH LEBARAN PADA ANAKOleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 721/XIV

Ketika Lebaran tiba, apakah Anda adalah salah satu dari orang tua yang suka memberikan hadiah kepada anak? Ibu Yus, misal-nya adalah ibu rumah tangga berusia 37 tahun yang punya dua anak lelaki berusia 7 dan 6 tahun. Sebelumnya, dia tidak pernah memberikan hadiah Lebaran kepada anak-anaknya. Namun demikian, ibu-ibu tetangga di sekitar rumahnya selalu bercerita bahwa adalah merupakan "kebiasaan" untuk memberikan hadiah Lebaran kepada anaknya.

Akibatnya, Ibu Yus sekarang kebingungan, apakah dia perlu memberikan hadiah Lebaran kepada anaknya yang masih kelas 1 dan 2 SD? Kalaupun diberikan, ia juga bingung hadiah apa yang akan ia berikan. Apakah baju, mainan, atau malah uang?

Perlukah Memberikan Hadiah Lebaran?
Kebiasaan pemberian hadiah Lebaran kepada anak sebetulnya bisa dipahami, mengingat orang tua biasanya mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya). THR itu, pada gilirannya lalu disisihkan pada orang tua dalam bentuk hadiah Lebaran. Entah itu berupa pemberian barang atau uang. Namun demikian, jangan lupa bahwa tidak semua orang tua mendapatkan THR, sehingga orang tua tidak selalu dalam kondisi keuangan yang memungkinkan untuk memberikan hadiah Lebaran.

Tapi bagi si anak, seringkali pemberian hadiah Lebaran itu memiliki akibat lain. Saya sendiri kebetulan juga merayakan Lebaran. Ketika masih kecil, saya ingat sekali bahwa orang tua saya pernah beberapa kali memberikan hadiah Lebaran. Sejak saat itu, bagi saya, Lebaran selalu identik dengan hadiah. Akhirnya, ketika suatu kali Lebaran tiba dan orang tua saya tidak memberikan hadiah, saya pun protes, "Mana hadiahnya?"

Kalau tak salah, saat itu saya kelas 6 SD. Saya tidak tahu kenapa mereka absen memberikan hadiah. Tapi yang mungkin tidak saya sadari, bisa saja waktu itu keadaan keuangan orang tua saya tidak begitu bagus. Tapi sejak orang tua saya tidak lagi memberi hadiah Lebaran, maka pada tahun-tahun berikutnya saya tidak lagi mengidentikkan Lebaran dengan adanya keharusan mendapatkan hadiah.

Saya menganggap bahwa Lebaran memang suatu hari yang harus dilewati tiap tahunnya. Dan hadiah hanyalah seperti pemberian bonus dari orang tua pada anak. Namanya bonus, tentu tidak dikasih juga tidak apa-apa dong?

Mengerti maksud saya? Yang ingin saya tekankan disini adalah, walaupun sepele, tidak ada salahnya bila Anda berhati-hati dengan pemberian hadiah Lebaran. Jangan sampai anak menganggap hadiah Lebaran adalah hak mereka. Tekankan bahwa bila Anda memberikan hadiah, sifatnya cuma sesekali dan itu lebih mirip bonus. Dengan demikian, bila kelak situasi dan kondisi tidak memungkinkan Anda memberi hadiah Lebaran, anak tidak akan "menuntut".

Anak Remaja Tidak Perlu Hadiah?
Banyak yang berhadiah Lebaran hanya pantas diberikan pada anak kecil, bukan pada anak-anak yang sudah remaja. "Ah, masak anak sudah besar masih harus diberikan hadiah sih?" Begitu mungkin pikir Anda. Jangan salah, hadiah sebetulnya bisa diberikan kapan saja dan kepada orang dengan umur berapa pun.

Kalau Anda datang ke sebuah Acara Ulang Tahun, misalnya, seringkali kita melihat bahwa orang yang berulang tahun mendapatkan hadiah, bahkan nilainya cukup besar. Padahal mereka yang berulang tahun tersebut seringkali tidak bisa dibilang muda lagi. Malahan, banyak orang tua merasa senang kalau mereka yang justru diberi hadiah oleh anak-anaknya sebagai tanda perhatian pada orang tua.

Jadi, walaupun anak Anda sudah remaja, tidak jadi masalah kalau Anda memang ingin memberikan hadiah Lebaran untuknya. Asalkan itu tadi, jangan sampai si anak merasa bahwa hadiah Lebaran hak yang wajib diberikan padanya.

Hadiah Apa yang Pantas?
Lagu anak-anak tentang Lebaran yang biasa diperdengarkan ketika saya masih kecil biasanya selalu mengandung kalimat bahwa Lebaran biasanya identik dengan hadiah berupa baju baru. Akhirnya, saya sempat mengganggap bahwa hadiah Lebaran harus selalu berupa baju.

Namun demikian, seringkali hadiah baju tidak terlalu menarik perhatian saya. Maklum, namanya juga anak lelaki. Kebanyakan mungkin lebih senang kalau diberikan hadiah berupa mainan, entah itu mainan kecil atau besar. Mainan yang paling saya suka ketika kecil dulu adalah lego, sebuah mainan kreativitas yang memungkinkan saya untuk membuat berbagai macam barang.

Dengan lego saya bisa membuat sebuah mobil yang ­ dengan bantuan mesin kecil ­ bisa berjalan dan memenuhi imajinasi saya akan sebuah mobil. Dengan lego, saya bisa membuat sebuah bangunan, entah itu rumah atau gedung tinggi, dan membuat kota kecil disekelilingnya. Pendeknya, lego membuat saya bisa mewujudkan kreativitas saya.

Selain mainan, barang yang biasanya saya minati adalah buku-buku bacaan. Entah itu komik atau bacaan biasa tanpa gambar. Dengan membaca, maka ketika besar saya jadi sudah terbiasa membaca berbagai macam buku. Ini tentunya sangat bermanfaat buat saya mengingat ada banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan pada sebuah buku. Dan sekarang, alih-alih hanya membaca, saya malah sudah menulis beberapa buah buku tentang keuangan keluarga.

Selain hadiah berupa barang atau bacaan, maka Anda juga bisa memberikan hadiah berupa uang tunai. Suatu kali ketika saya menginjak remaja, saya pernah senang sekali ketika ­ setelah beberapa tahun tidak memberikan hadiah lebaran ­ ayah saya memberi saya hadiah Lebaran berupa uang tunai. Jumlahnya kalau tidak salah tiga bulan uang saku saya. Hanya saja saya lupa untuk apa uang itu saya gunakan.

Buat Anda yang berpikir untuk memberikan hadiah Lebaran berupa uang tunai, mungkin Anda bisa juga melihat apa yang akan dilakukan anak Anda dengan uang tunai tersebut. Apakah ia akan membelanjakannya atau malah menabungkannya? Mungkin ini kesempatan buat Anda untuk mengajarkannya tentang apa yang sebaiknya ia lakukan dengan uangnya. Dengan demikian, bila kelak ia memiliki uang tunai yang cukup banyak, ia jadi sudah tahu apa yang akan ia lakukan dengan uang tersebut.

Yang Perlu Diperhatikan
Lihat kondisi keuangan. Bila memang memungkinkan untuk memberi hadiah, lihat apakah Anda memang perlu memberikan hadiah tersebut. Apakah dengan hadiah tersebut anak Anda jadi lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal yang sudah menjadi kewajibannya seperti belajar, ikut membersihkan rumah atau apapun itu? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Hadiah tidak selalu harus berbentuk baju. Barang-barang yang membangkitkan minat berpikir anak seperti mainan kreativitas atau buku bacaan juga bisa diberikan. Atau, bila Anda ingin mengajarkan tentang masalah uang kepada anak, bisa juga Anda memberikan hadiah berupa uang tunai dan memberitahukannya tentang apa yang sebaiknya ia lakukan dengan uang pemberian tersebut.

© 2000 Safir Senduk & Rekan

EMPAT POS PENGELUARAN SAAT MUDIK
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 819/XVI

Mudik. Kata-kata itu mungkin sering Anda dengar sekarang-sekarang ini, dan akan sering Anda dengar pada minggu-minggu mendatang. Betul, mudik memang sudah menjadi tradisi di Indonesia selama bertahun-tahun setiap kali terjadi Hari Raya. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda juga mudik? Kalau memang iya, apakah mudik kali ini adalah mudik yang pertama kalinya untuk Anda? Atau justru tahun ini adalah yang kesekian kalinya Anda mudik?

Masih ingatkah Anda apa yang terjadi saat tahun lalu atau beberapa tahun lalu Anda mudik? Yah, suka cita dan kegembiraan saat bertemu dengan orang tua, sanak saudara atau teman-teman yang sudah lama tidak dikunjungi. Walaupun harus mengalami nikmatnya macet total di jalan tol, berdesakan di terminal bis atau stasiun kereta api, kehabisan tiket pesawat, dan berbagai pengalaman merepotkan lainnya. Anda tidak akan pernah jera bukan?

Yang pasti, setiap kali mudik kita harus menyediakan dana tambahan untuk membiayai pengeluaran kita disana. Bukan hanya transportasi pulang balik yang harus Anda tanggung, tetapi juga pengeluaran-pengeluaran lain seperti hadiah, oleh-oleh, rekreasi, makan dan lain lain.

Masalahnya, segala hiruk pikuk serta sukacita mudik inilah yang seringkali membuat pengeluaran-pengeluaran Anda ketika mudik menjadi tidak terkontrol. Nah, agar Anda tidak kebobolan saat mudik, maka mungkin tidak ada salahnya bila Anda mulai mempersiapkan anggaran untuk kegiatan Anda yang satu ini. Kita sebut saja ini: 'Anggaran Mudik'.

Sebaiknya sih anggaran mudik ini tidak hanya mencantumkan angka total perkiraan biaya mudik yang Anda lakukan, tapi sebaiknya juga dibagi lagi ke dalam beberapa pos-pos pengeluaran yang berisi rincian dari pengeluaran yang akan dilakukan saat mudik. Umumnya, ada 4 pos penting yang harus Anda rencanakan jumlahnya saat mudik. Bila Anda mengetahui apa saja mereka, maka Anda akan dengan mudah membuat anggaran untuk mudik Anda kali ini. Berikut ini adalah pos-pos tersebut:


Transportasi
Ya, Transportasi menjadi pos pertama. Berapa uang yang Anda keluarkan untuk transportasi ini akan sangat bergantung pada alat transportasi apa yang Anda pilih. Selain itu, juga akan ditentukan dari apakah Anda membeli banyak makan dan minum di perjalanan, belum lagi kalau Anda harus berhenti dan menginap selama Anda belum sampai di tempat tujuan. Entah itu dalam perjalanan pergi maupun perjalanan pulang.

Hadiah & Oleh-oleh

Hadiah biasanya menjadi salah satu pos yang harus Anda anggarkan untuk diberikan kepada sanak keluarga Anda di kampung halaman. Hadiah tersebut bisa berupa barang atau uang. Buatlah daftar dari orang-oarang yang akan Anda beri hadiah beserta anggaran untuk masing-masing orang. Saran saya, sesuaikan pembelian hadiah tersebut dengan persediaan dana yang Anda miliki. Selain hadiah, ada juga oleh-oleh. Biasanya sih, kita ingin membawa souvenir atau kue-kue khas kampung halaman untuk diberikan ke teman atau tetangga kita di tempat kita bekerja.

Rekreasi

Rekreasi juga menjadi salah satu hal yang mungkin Anda lakukan saat berada di kampung halaman. Saran saya, cobalah menganggarkan biaya maksimal yang bisa Anda bayar untuk rekreasi tersebut. Jika ternyata biaya tersebut melebihi anggaran Anda, sebaiknya carilah alternatif tempat rekreasi lain. Prinsipnya disini, rekreasi tidak harus mahal. Pengalaman saya selama ini, seringkali kebersamaan Anda pada saat rekreasi akan jauh lebih menaikkan kualitas rekreasi itu daripada mahal tidaknya rekreasi yang Anda lakukan.

Biaya Tak Terduga
Nah, ini yang justru paling penting. Seringkali ketika mudik, Anda akan banyak mengeluarkan uang untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang tidak Anda duga sebelumnya. Siapkan dana untuk membayar pengeluaran-pengeluaran seperti ini. Ibaratnya, Anda seperti menyediakan payung sebelum hujan karena kita tidak pernah tahu apa saja yang akan terjadi selama Anda mudik. Jadi jika ada pengeluaran yang tidak ada dalam anggaran, bayarlah dari persediaan dana ini. Nah, bapak ibu, itu saja dari saya kali ini. Saran saya, sebelum mudik, siapkan ke-4 hal tersebut dengan baik. Mudah-mudahan mudik Anda tahun ini membawa arti yang besar bagi Anda sekeluarga. Salam.
© 2000 Safir Senduk & Rekan

MENYIAPKAN KEUANGAN`SAAT MUDIK LEBARAN
Oleh: Safir Senduk
Dari Tabloid NOVA No. 669/XIII

Lebaran sebentar lagi tiba. Apakah Anda salah satu dari mereka yang mudik ke kampung halaman Anda? Apabila ya, maka selamat untuk Anda. Anda adalah salah satu dari mereka yang sangat merasakan berartinya berlebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Beberapa di antara Anda ada yang mudik dari kota besar ke pelosok, seperti dari Jakarta ke daerah ­ misalnya - Kebumen. Ada juga yang mudik dari kota besar ke kota besar, seperti dari Jakarta ke ­ misalnya - Surabaya. Sebagian di antara Anda ada juga yang mudik dari kota kecil ke kota kecil juga.


Saya harap Anda sudah mempersiapkan segalanya untuk mudik kali ini. Sudah? Betul sudah semuanya? Syukur kalau sudah. Termasuk keuangan Anda? Oo, jangan salah bukan hanya oleh-oleh saja yang perlu Anda persiapkan, keuangan Anda pun juga harus dipersiapkan dengan baik.

Bagaimana cara mempersiapkan keuangan Anda saat mudik? Di bawah ini adalah alternatif-alternatif yang bisa Anda pertimbangkan:

Uang Tunai
Anda perlu tahu berapa jumlah uang tunai yang perlu Anda bawa. Untuk bisa menentukan jumlah tersebut, tentu saja Anda perlu tahu terlebih dahulu kapan saja Anda akan memerlukan uang tunai. Yang jelas, Anda perlu uang tunai untuk segala urusan transportasi Anda. Bila Anda bepergian dengan kendaraan, Anda perlu uang tunai untuk membayar bensin Anda (walaupun beberapa pom bensin sudah menerima Kartu Debit BCA, tetapi kebanyakan pom bensin masih hanya menerima uang tunai).

Bila Anda bepergian dengan bis atau kereta, Anda juga perlu membayar tunai walaupun pembayarannya dilakukan di muka. Kalau Anda mudik dengan menggunakan mobil sewaan, Anda juga perlu uang tunai untuk membayar mobil sewaan tersebut.

Perhitungkan baik-baik berapa uang tunai yang akan Anda perlukan untuk membayar segala urusan transportasi Anda, baik sejak Anda berangkat sampai pulang lagi ke tempat Anda sekarang. Sebagai contoh, biaya sewa kendaraan (yang cukup untuk mengangkut satu keluarga: suami-istri dan tiga anak serta banyak bagasi dan oleh-oleh berupa barang) dari Jakarta ke Jawa Tengah mungkin sekitar sekian ratus ribu rupiah. Belum lagi pulangnya. Total untuk urusan transportasi saja ­ bila Anda menggunakan kendaraan sewaan ­ bisa beberapa ratus ribu rupiah.

Selain untuk urusan transportasi, Anda juga perlu membawa uang tunai untuk keperluan selama di perjalanan, seperti membayar makanan Anda, membayar penginapan (kalau Anda berhenti semalam dan menginap di sebuah kota), dan segala tetek bengek lainnya.

Sekarang, selama Anda di kampung, apakah Anda termasuk orang yang suka membagi-bagikan uang kepada sanak keluarga Anda? Ini jelas perlu uang tunai yang bagus sekali apabila sudah dipersiapkan sejak sekarang. Kalau misalnya ada 10 orang sanak keluarga Anda ­ yang masih SD ­ yang hendak Anda bagi uang Lebaran, maka bila satu anak Anda beri ­ katakan ­ Rp 50.000, maka Anda tentu perlu uang Rp 500 ribu hanya untuk dibagikan kepada sanak keluarga Anda.

Perhitungkan baik-baik semuanya, dan pastikan Anda membawa jumlah uang tunai yang cukup.


Kartu ATM


Bila Anda takut membawa uang tunai dalam jumlah banyak, Anda bisa saja membawa Kartu ATM Anda. Dengan membawa Kartu ATM, Anda tidak perlu khawatir akan kehilangan uang Anda selama di perjalanan. Hanya saja, perlu diketahui bahwa bagaimanapun Anda tetap perlu membawa uang tunai. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti:

Tidak tersedianya Uang Tunai di ATM Anda.
Pada saat Natal dan Lebaran yang datang hampir bersamaan kali ini, frekuensi dan jumlah penarikan di ATM biasanya jauh lebih besar daripada hari-hari biasa. Ini bisa mengakibatkan habisnya uang tunai di ATM tersebut, dan bisa saja bank Anda belum sempat mengisi lagi ATM tersebut dengan uang tunai.

Apa jadinya kalau Anda datang ke ATM dan kebetulan ATM-nya sedang belum diisi kembali dengan uang tunai? Saya saja yang tinggal di Jakarta masih sering datang ke ATM dan tidak bisa mengambil uang tunai karena ATM-nya belum diisi kembali. Padahal, pada saat Anda sedang di kampung halaman mungkin saja Anda lebih membutuhkan uang tunai itu untuk keperluan Lebaran Anda bukan?

ATM Rusak.
Wah, keluhan yang satu ini jangan ditanya. Saya seringkali menemukan banyak ATM yang rusak ketika ingin mengambil uang. Padahal bukan tidak mungkin ATM itu adalah ATM satu-satunya dari bank Anda yang ada di kampung halaman Anda.

Uang Terdebet Secara Tidak Sengaja.
Saya juga pernah mengalami uang terdebet secara tidak sengaja di ATM saya. Waktu itu saya ingin mengambil uang sejumlah tertentu: uangnya sendiri tidak keluar, tapi saldo di ATM sudah berkurang seolah-olah uangnya sudah keluar. Saya lalu datang ke bank dan mengadu, dan uang saya baru dikembalikan dalam waktu dua minggu. Bayangkan kalau uang Anda terdebet secara tidak sengaja di ATM Anda, dan uang Anda baru kembali dalam waktu 2 minggu di mana Lebaran sudah selesai. Padahal, uang itu Anda butuhkan selama Lebaran dan mungkin 3 - 4 hari sesudahnya, bukan 2 minggu sesudahnya.

Jumlah Pengambilan Dibatasi.
Bila Anda mengambil uang di ATM, Anda terkena pembatasan jumlah pengambilan yang bervariasi jumlahnya antara satu bank dengan bank yang lain. Bayangkan apabila Anda perlu mengambil Rp 1,2 juta, padahal batasan Anda untuk mengambil di ATM tersebut hanya Rp 1 juta dalam sehari. Repot kan?

Saran saya untuk Anda selama mudik kali ini, tetaplah membawa uang tunai. Jangan terlalu percaya pada bank yang memasang iklan seperti: "Selama Lebaran, ATM Kami Siaga Penuh Selama 24 Jam Di Seluruh Pulau Jawa dan Sumatra." Siaga sih siaga, tapi yang namanya teknologi mesin, siapa yang bisa menjamin kalau ATM di kampung halaman Anda tidak akan kehabisan uang tunai, rusak, atau bisa mendebet uang Anda secara tidak sengaja?

Kartu Debet dan Kartu Kredit
Pada saat Anda berada di kampung halaman, mungkin ada beberapa transaksi yang bisa Anda bayar dengan kartu debet atau kartu kredit Anda. Restoran misalnya. Kartu debet dan kartu kredit juga berguna bila Anda berbelanja ke pertokoan bersama sanak keluarga Anda di kampung halaman tersebut (artinya ketika Anda sudah berada di sana).


Saran saya untuk Anda, tetap bawa uang tunai walaupun Anda memiliki kartu debet dan kartu kredit. Tetapi bila Anda harus membayar sesuatu dan kasir Anda memang menerima kartu debet atau kartu kredit, prioritaskan untuk menggunakan kartu pembayaran tersebut. Dengan demikian, Anda tidak perlu mengurangi jumlah uang tunai di tangan Anda sehingga Anda tak akan kehabisan uang tunai dan tidak perlu harus selalu bolak-balik ke ATM untuk mengambil uang.

Cek Perjalanan
Kenapa Anda tidak mencoba membawa Cek Perjalanan? (Traveller's Check). Cek perjalanan adalah cek senilai jumlah tertentu yang bisa Anda beli di kota Anda sekarang, untuk lalu Anda cairkan kembali di kota tujuan Anda. Dengan demikian, Anda tidak perlu membawa uang tunai selama di perjalanan itu. Sebagai contoh, Anda ingin membawa uang Rp 1 juta ke kampung halaman Anda. Anda bisa datang ke bank yang menjual cek perjalanan dan membeli cek perjalanan senilai Rp 1 juta. Sampai di kota tujuan, Anda bisa tukarkan lagi cek itu dengan uang Rp 1 juta di cabang bank Anda atau agen yang ditunjuk. Dengan demikian, Anda tidak perlu membawa uang tunai senilai Rp 1 juta bukan?

Ada hal-hal yang perlu Anda perhatikan kalau Anda membawa Cek Perjalanan:

Tanyakan kepada bank Anda, apakah di kota tujuan Anda terdapat cabang bank atau agen di mana Anda bisa menukarkan kembali cek perjalanan tersebut. Bila tidak ada, maka percuma saja Anda membeli cek perjalanan tersebut karena Anda toh tidak akan bisa mencairkannya di kota tujuan Anda.

Bila di kota tujuan tersebut memang terdapat cabang bank atau agen di mana Anda bisa mencairkan cek perjalanan tersebut, tanyakan jadwal buka bank atau agen tersebut. Setelah sampai di kota tujuan Anda, Anda tentu tidak ingin datang ke bank atau agen tersebut dan mendapati tulisan: "Bank kami tutup karena Lebaran," sehingga Anda tidak bisa mencairkan cek Anda.

Cek Perjalanan sendiri sebetulnya terbagi dua, yaitu Cek Perjalanan Atas Unjuk dan Cek Perjalanan Atas Nama. Yang pertama, siapa pun pembawanya ke bank atau agen yang ditunjuk bisa mencairkannya. Sedangkan Cek Perjalanan Atas Nama adalah cek perjalanan yang mencantumkan nama Anda, sehingga hanya Andalah yang bisa mencairkannya cek itu nantinya dengan hanya menunjukkan KTP dan tanda tangan Anda. Untuk keamanan, saran saya untuk Anda adalah dengan memilih Cek Perjalanan Atas Nama. Dengan demikian, apabila cek Anda jatuh atau dicuri orang, maka tetap hanya Anda-lah yang bisa mencairkan cek tersebut, bukan orang lain yang kebetulan mencuri cek itu. Tapi kalau Anda ingin memberikan hadiah berupa uang kepada sanak keluarga Anda, maka mungkin Anda bisa memberikannya Cek Perjalanan Atas Unjuk. Dengan demikian, dia bisa mencairkannya sendiri nanti.


TIPS KEUANGAN PADA SAAT MUDIK

Bawalah jumlah Uang Tunai yang cukup. Cukup di sini artinya bisa digunakan untuk membayar transportasi, makan, dan penginapan selama perjalanan mudik pulang pergi, serta pemberian uang yang kecil-kecil kepada sanak keluarga Anda di kampung halaman.

Untuk berbelanja selama di kampung halaman, Anda bisa mengambil uang dari ATM Anda. Saya ingatkan agar jangan terlalu mengandalkan ATM dan menganggap ATM Anda tidak akan rusak atau kehabisan uang tunai. Anda perlu ATM, tetapi Anda tetap harus mengantisipasi kalau-kalau ATM Anda rusak atau tidak bisa dipakai.

Selama di kampung halaman, Kartu Debet atau Kartu Kredit bisa Anda gunakan bila Anda berbelanja di pertokoan bersama sanak keluarga Anda.

Bila Anda ingin membawa jumlah uang yang cukup besar untuk bisa dicairkan dan digunakan di kampung halaman, Anda bisa menggunakan Cek Perjalanan. Untuk keamanan, saya sarankan agar Anda menggunakan Cek Perjalanan Atas Nama.

Bila Anda ingin memberikan jumlah uang yang cukup besar untuk bisa diberikan kepada sanak keluarga Anda di kampung halaman, Anda bisa menggunakan Cek Perjalanan. Sangat disarankan agar Anda menggunakan Cek Perjalanan Atas Unjuk, sehingga biar dia sendiri nanti (orang yang Anda berikan) yang akan mencairkannya.
Selamat mudik. Semoga perjalanan Anda selamat.

No comments: