Search This Blog

Loading...

Thursday, October 27, 2005

Bertemu Susi Ratu Pangandaran


MULANYA hanya percakapan telepon. ‘’Ada banjir di Kutacane, Aceh. Kalo wartawan you mau berangkat, aku ada seat kosong.’’
Telepon itu datang dari Susi Pudjiastuti, pengusaha ikan dari Pangandaran, Jawa Barat, yang bulan lalu mendapat anugerah Primaniarta sebagai UKM teladan, dari Presiden SBY. Sejak bencana tsunami melanda Aceh, Desember lalu, Susi banyak tinggal di Medan. Ia mendirikan markas di ibukota Sumatera Utara itu, membuka jasa penyewaan pesawat udara. Susi tak sekadar menyewakan. Ia juga menyediakan kursi gratis bagi wartawan, serta pihak-pihak sosial yang akan membantu korban tsunami.
Mommy termasuk yang pernah menikmati kursi Cessna Caravan, pesawat milik Susi. Ia pernah ke Meulaboh, Nias, Banda Aceh, dengan pesawat seharga US$ 2,7 juta itu.
Mommy mengenal Susi lewat saya. Susi adalah kawan SMA saya sewaktu sekolah di SMA 1 Yogya. Ia satu kelas. Hanya saja, sewaktu kelas satu, Susi sakit, hingga ia pulang kampung untuk berobat. Eh, tahu-tahu namanya muncul di koran Kompas sebagai aktivis anti-sodetan Citanduy.

Perkawanan saya dengan Susi pun akhirnya bukan sekadar hubungan kantor. Saya sering ngobrol untuk tukar kabar mengenai kawan-kawan sekolah. Pekan lalu, seusai mengontak saya soal Kutacane itu, ia menawari saya untuk ikut ke Pangandaran. Pagi meninggalkan Halim Perdana Kusuma, sorenya balik. Saya oke. Apalagi, kantor sudah berkurang kegiatannya.
‘’Wan, nek iso Dinar diajak melu neng Pangandaran…’’
Yang dia maksud adalah Dinar Utami Rahajeng, kawan sekelas di SMA, yang kini bekerja di sebuah lembaga riset. Saya segera mengirim pesan singkat ke Dinar. Rupanya ia lagi banyak pekerjaan. ‘’Aku jane pengin melu tenan. Tenan. Ning gaweanku lagi okeh banget, ora iso ditinggal tenan…’’

Saya berangkat Rabu pagi, 26 Oktober, dari Halim, bersama Heru dan Tantan. Heru Pamuji adalah redaktur ekonomi yang kini diperbantukan untuk mengelola advertorial. Hidayat ‘’Tantan’’ Suntana kini redaktur pelaksana kompartemen gaya hidup dan kesehatan. Ia tengah menantikan kelahiran puteranya yang kedua.
Saya duduk di depan, di samping Susi. Christian, suami Susi, jadi pilotnya. ‘’Nggak usah khawatir Wan. Pesawat ini dilengkapi radar cuaca. Kita diberi tahu satelit ada ato tidak ada badai, petir. Aman lah,’’ katanya. Ia rupanya tahu, saya dag-dig-dug. Puluhan kali saya naik pesawat terbang, selalu yang berbadan lebar. Waktu umrah kemarin, malah naik Airbus yang penumpangnya 400 orang. Pesawat Cessna Caravan ini penumpangnya 12.
Saya lumayan deg-degan ketika pesawat menembus awan. Sesekali menyentak turun, seperti kita habis melewati tanjakan. Tiba-tiba hukkk, seperti ada yang menghantam perut. Eh, Susi tenang saja. Ia tetap ngobrol dengan santai. Demikian pula Christian. Ketika mau mendarat di Bandara Nusawiru, Pangandaran, pesawat sudah menyentuh landasan. Eh, naik lagi. Rupanya ada kambing plus angin dari buritan.
Dari Nusawiru, saya naik mobil ke rumah Susi, sebuah kompleks seluas 6 hektare. Di situ ada bangunan pabrik, rumah tinggal, penginapan, dan pendopo. Bangunan terakhir ini menjadi arena bagi Susi untuk mengundang konco-konconya, termasuk untuk merumuskan kegiatan politik.

Saya diajak masuk ke pabriknya, instalasi pengolahan ikan seharga Rp 35 milyar. Udang, lobster, ikan bawal, ikan gergaji, semua ada. Hanya saja semenjak kenaikan BBM, pasokan ikan berkurang. ‘’Biasanya dapat 5 ton, kini cuma 2 ton. Itu sudah bagus,’’ katanya. Waktu saya, Heru, dan Tantan berkunjung, pasokan yang datang malah cuma 2 kwintal. ‘’Berat Wan. Hidup makin berat. Kalo ada yang bilang suasana membaik, itu bohong,’’ katanya. Dalam sehari, Susi harus dapat omset Rp 200 juta. Kurang dari itu, nombok.

Suasana paceklik ikan memang amat terasa. Ketika saya ke pantai, kapal-kapal pada ndongkrok. Nelayan tak melaut karena tak punya duit untuk beli solar. Kapal bercat biru hanya terdampar di pantai.
Ada sebab lain. Kata Susi, nelayan Pangandaran tak hati-hati menggunakan jaringnya. Udang kecil, juga lobster bayi, juga ditangkap. ''Kalo udang seukuran kelingking, harganya paling Rp 3.000. Padahal mau nunggu tiga bulan lagi, sudah sampai Rp 80.000,'' kata Susi. Kasihan.
Saya meninggalkan Pangandaran sorenya, jam 17.00. Cuaca mendung. Adanya radar cuaca membuat perjalanan, walau menyentak-nyentak, terasa sedikit tenang. Christian sengaja memilih jalan memutar, untuk menghindari petir dan cuaca buruk. Dari Pangandaran, Bandung, Subang, Purawakarta, baru Jakarta.

1 comment:

Cholili Irawan said...

Selamat malam, saya barusan browsing menemukan artikel ini, santai namun sangat menarik,saya pensiunan AP II sekarang sesekali kumpul sama teman di konsultan mengenai kebandar udaraan, berarti sudah sepuluh tahun artikel ini dibuat dan Beliau saat ini adalah salah satu Mentri yang ingin memajukan Republik ini, walaupun Presidennya .....,salut untuk Beliau