Search This Blog

Loading...

Friday, July 29, 2005

Inul Semakin Berkibar...


Uni Zulfiani Lubis:

Wawancara | 04/05/2003

Pertarungan Rhoma Irama, si Raja dangdut, dengan Inul Daratista, si Ratu Ngebor, belum mereda. Uni Z. Lubis, seorang perempuan karier yang berkecimpung di dunia pers, ikut prihatin atas pengekangan kreativitas terhadap Inul. Lebih-lebih, Inul yang diasosiasikan sebagai figur perempuan yang sukses merambah wilayah publik, banyak bersinggungan dengan dunia yang sekarang ditekuni mantan wapemred majalah Panjimas ini.

Sebagai sesama perempuan, Uni bisa merasakan “intimidasi” atas Inul, sembari menerawang jauh betapa dalam secuil pengalaman keagamaannya pernah mengalami segregasi perempuan dan laki-laki di ruang publik. Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla (Kajian Islam Utan Kayu) dengan Uni Z. Lubis, Ketua Harian Asosiasi Televisi Siaran Indonesia (ATVSI) pada 1 Mei 2003:

Saya ingin bertanya ke Anda tentang masalah Inul dan kaitannya dengan masalah perempuan. Inul adalah biduan perempuan dan banyak bersinggungan dengan dunia Anda. Apakah Anda merasakan adanya tekanan atau diskriminasi dari masyarakat terhadap perempuan pekerja seperti Inul?
Dalam amatan saya, ternyata banyak orang yang salah sangka, termasuk Rhoma Irama yang belakangan paling gencar mempermasalahkan Inul. Mungkin dia berpikir, dengan mengangkat isu bahwa dengan goyang ngebornya, Inul telah melecehkan derajat perempuan, maka dia akan mendapat dukungan dari banyak kalangan perempuan. Yang terjadi justru sebaliknya: Inul malah disukai kalangan perempuan, ibu-ibu dan segmen masyarakat lainnya. Saya suka pribadi Inul, dan sempat bertemu berkali-kali. Saya bisa mengatakan bahwa, Inul adalah seorang artis yang personality-nya bagus. Anaknya sopan dan baik.

Mungkin karena aslinya orang dusun, maka ada bawaan karakter itu?

Sebetulnya, kalau kita ngomong terus terang, banyak juga penyanyi dangdut yang muasalnya dari dusun juga. Tapi karena kemudian dia menjadi seperti “Bimbi” (lagu Titik Puspa yang menceritakan perempuan desa yang berubah setelah ke kota, Red), berubahlah gayanya. Sampai hari ini, menurut saya, Inul tidak berubah wataknya, kecuali dia semakin sibuk. Dia termasuk orang yang mudah diakses dan sangat dekat dengan pers. Saya khawatir, orang yang ingin menjatuhkan Inul dengan membuat kontroversi, hasilnya justru malah berbalik, Inul semakin berkibar.

Goyang Inul selalu dikaitkan masalah isu-isu moral. Ada tudingan bahwa goyang Inul telah meningkatkan kasus pemerkosaan dan pornografi. Tanggapan Anda?
Seperti termuat dalam Tajuk Rencana Kompas (1/05/2003), Inul memang menonjol, tapi biduan seperti Inul itu ada ratusan yang tidak mencuat. Mereka ada di tiap-tiap wilayah. Bagi saya, ada pertanyaan besar: mengapa selama ini mereka tidak mengomentari mereka, tapi hanya Inul yang relatif sudah mencuat yang “ditembak.”

Kalau mau jujur, selama ini penari-penari latar di televisi, bajunya malah lebih terbuka dari atas sampai bawah. Bahkan goyangnya tidak kalah sensual dan erotis, apalagi kalau pakai gaya salsa. Dalam gaya salsa, antara laki-laki dan perempuan terlihat hampir bergesek-gesekan. Inul itu, ‘kan masih sendiri. Coba Anda perhatikan goyang salsa! Itu sudah nyaris seperti melakukan “hubungan” di atas panggung. Anda juga mesti cermati, Inul tidak pernah tampil dengan pakaian terbuka, meski ketat.



Tentu ada kritikan yang tertuju pada Inul. Bagaimana goyang Inul menurut Anda?

Saya setuju dengan pihak yang mengkritisi Inul dari kalangan perempuan. Kalau ketemu Inul secara pribadi, saya merasa senang, dan saya nilai anaknya memang menyenangkan. Tapi bukan berarti saya senang dengan goyangnya, karena dari sisi variasinya, goyang Inul tidak banyak, begitu-begitu saja. Buat saya, kalau sudah melihat sekali dua kali, saya sudah bosan. Kalau dia nyanyi dangdut, rock, atau Latin, goyangnya begitu-begitu saja. Tidak ada koreografinya. Mungkin, kalau dari segi variasi, Liza Natalia lebih bagus.

Hanya saja, ketidaksukaan saya menonton Inul, tidak perlu membuat saya mesti membenci atau melarang dia tampil. Kita sudah sama-sama dewasa; kalau tidak suka goyangnya, ya tidak usah ditonton.

Ada yang mengatakan tindakan Rhoma Irama merupakan bentuk pembatasan kreativitas kesenian. Tanggapan Anda?
Bagi saya simpel saja. Bila dianalogkan dengan agresi Amerika menyerang Irak, ujung-ujungnya masalah ekonomi juga. Menurut saya, artis-artis dangdut yang sudah senior, termasuk Rhoma Irama sendiri, tidak rela saja menghadapi kenyataan menjadi the second. Sekarang Anda perhatikan saja! Kalau ada pertunjukan Inul, pamfletnya tertulis begini: saksikan goyang ngebor Inul, didukung oleh Kristina, Iis Dahlia, Elvi Sukaesih dan lain-lain. Siapa coba yang bisa menerima kenyataan seperti itu?

Tadi Anda mengutip majalah Time bahwa pangkal masalahnya adalah persoalan hipokrisi atau kemunafikan di masyarakat kita. Fenomena itu sudah ada dari dulu. Tapi mengapa permasalahan terfokus pada diri Inul, yang perempuan, dan “orang dusun” pula?
Mungkin, para politisi dan tokoh-tokoh yang bermasalah juga lebih suka kalau persoalan Inul saja yang mencuat. Dengan demikian, masalah mereka jadi menguap. Jadi, yang untung secara tak langsung adalah para koruptor, dan mereka yang bermasalah dengan rakyat, bukan yang dekat dengan rakyat.

Tapi sebetulnya, ada yang lebih bermasalah daripada Inul, yaitu aerobik. Pakaian aerobik, seperti acara senam di sebuah saluran TV swasta, pakaiannya juga ketat, transparan, dan gerak-geraknya juga tak kalah erotis. Makanya, aneh saja kalau orang mempermasalahkan Inul semata. Menurut saya, kalau mereka itu ingin membikin Inul tidak populer, caranya jangan seperti itu. Dampaknya malah membuat Inul semakin melambung.


Menurut Anda, bagaimana cara menyikapi fenomena Inul secara proporsional?

Memang, setelah ada ancaman boikot dari Rhoma Irama dan kawan-kawannya, berkembang pembicaraan di antara jurnalis yang tergabung dalam ATVSI. Saya katakan, seharusnya kita tak pernah tunduk pada tekanan-tekanan seperti itu, apalagi dari sebagian kecil publik. Itu sikap kami.

Dari isu Inul, saya ingin beralih ke pengalaman agama Anda. Anda kan perempuan masih muda yang cukup sukses dalam karir Anda. Adakah kaitan kesuksesan Anda dengan agama Anda? Bagaimana sih agama disosialisasikan pada diri Anda semasa kecil?
Pengalaman saya belajar agama dari keluarga dan sekolah tergolong agak “miskin.” Dari kecil, saya memang hidup dalam keluarga muslim. Ayah saya termasuk seorang muslim yang taat. Ketika saya SD, ayah yang menjadi hakim, ditugaskan di daerah terpencil. Otomatis saya ikut dalam suasana kampung. Seperti biasa, setiap maghrib ada pengajian Alqur’an. Saya pun ikut mengaji. Ketika itu gurunya dibayar dengan imbalan kayu bakar dan minyak tanah di botol, ditambah dengan keharusan menimbakan air untuk keluarga guru. Nostalgia itu terjadi di Sumba Besar.

Itulah pengalaman kecil saya. Kemudian saya ke Yogya dan mencoba hidup dalam lingkungan yang baru. Poinnya, saya tidak banyak mendapat pengajaran agama dari orang tua. Itu justru saya dapatkan dengan ikut teman-teman mengaji.

Sewaktu Anda mengaji, dikaitkan dengan kesadaran gender yang sekarang makin semarak, adakah pengalaman yang terasa diskrimitif?
Waktu itu tak terasa, sebab sejak kecil saya memang lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki. Saya termasuk satu-satunya anak perempuan yang ikut main sepak bola; bangun tidur loncat pagar, lantas main bola. Dari kecil, saya hanya punya teman perempuan sedikit. Makanya, teman laki-laki saya, tidak lagi menganggap saya berbeda, karena sudah menjadi bagian dari mereka. Kalau main sepak bola, lalu bola melayang ke muka, saya tidak pernah menangis. Saya sering diajak berantem, tapi kadang saya lebih galak dari anak laki-laki.

Saya tak pernah mengalami bentuk-bentuk diskriminasi. Ketika di bangku SD, SMP dan SMA, saya sering dapat ranking satu. Itu membuat saya punya perasaan superior atas teman laki-laki. Saya merasa mengalahkan mereka. Tapi waktu di kuliah, karena di sana sudah berkumpul banyak anak pintar, saya jadi tidak berarti apa-apa.

Tapi, saya mengalami keanehan dalam pola hubungan gender di masa kuliah. Itu terjadi ketika kuliah di IPB. Suasana keagamaan di kampus saat itu memang cukup kuat. Suatu ketika, pernah terjadi segregasi tempat duduk mahasiswa dan mahasiswi, karena memang ada teman-teman yang mengondisikan begitu. Saya ingat betul, ketika itu Prof. Andi Hakim Nasution marah besar. “Siapa yang bikin seperti ini? katanya. “Coba berbaur lagi! Saya tidak mau mengajar dalam kondisi seperti ini,” kata dia.

Apakah Anda menganggap segregasi antara laki-laki dan perempuan di ruang publik sebagai bentuk diskriminasi?
Memang ada teman yang punya keyakinan atas keharusan segregasi. Saya punya pendapat lain. Bagi saya, tak harus ada pemisah seperti itu. Saat itu, saya baru sadar, ada orang-orang yang memahami agama Islam seperti itu, lalu mempraktekkan bentuk-bentuk segregasi itu ketika kuliah. Tapi saya tidak pernah berdebat soal agama dengan mereka. Hanya saja, perasaan saya menganggap itu janggal. Saya merasa tak punya kompetensi atau pengetahuan keagamaan yang cukup untuk mendebat mereka.

Dengan akal sehat Anda saja dan sebagai perempuan, di mana letak kejanggalan pemisahan laki-laki dan perempuan?
Saya tidak habis mengerti mengapa pemisahan itu harus dilakukan di lingkungan kuliah. Tapi saya punya masalah juga karena tidak berusaha memahami atau belajar tentang ajaran-ajaran agama secara lebih serius. Makanya, saya tidak punya pengetahuan memadai mengapa itu mesti dilakukan. Hanya saja, saya merasa —karena lingkungan saya sejak kecil tidak dibentuk begitu— perlu mempertanyakan mengapa dan untuk apa itu harus dilakukan. Pertanyaan itu muncul saja, tanpa harus mengaitkannya dengan soal agama, karena saya tidak menguasai bidang itu.

Apakah Anda punya pengalaman keagamaan bersifat pribadi yang terasa unik?
Ya, saya mempelajari agama pertama kali justru karena saya dipaksa. Posisi saya menjadi pimpinan redaksi, sebelumnya wakil pimpinan umum, di majalah Panjimas ketika itu “memaksa” untuk belajar agama. Meski saya ngotot berprinsip bahwa Panjimas bukan majalah agama, tapi apa boleh buat. Sebab sedari awal, masalah rekrutmen pegawai, image orang, dan komunitas Panjimas itu sendiri adalah komunitas Islam. Nah, ketika di Panjimas itu saya naik haji. Bukan karena Panjimas-nya, tapi memang saya mampu setelah di Panjimas.

Menurut pengalaman saya, berlari ke agama itu justru membuat beberapa persoalan yang saya alami terselesaikan. Saya harus akui, bahwa Panjimas itu pernah hidup cukup sulit. Sempat ada kejadian, seminggu sebelum gajian pegawai, saya belum punya bayangan teman-teman bisa gajian. Panjimas dalam banyak hal, terutama masalah finansial, memang agak tergantung pada saya. Maka praktis saya harus mikir sendiri. Kalau sudah seperti itu, akhirnya tidak bisa tidak, mengeluh pada Tuhan.

Suatu kali, saya pernah membaca tulisan Widi Yarmanto yang waktu itu menjabat pimpinan redaksi majalah Gatra. Di situ dikatakan, membaca surat al-Fatihah sebanyak 600 kali, bisa manjur untuk menenangkan dan membuat pikiran kita tidak terganggu. Saya pernah melakukan itu. Di kantor, ketika saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi, saking takutnya bertemu karyawan yang belum gajian, saya pernah salat saja sekian rakaat. Ternyata, berkali-kali doa saya justru terkabul. Setelah itu, entah bagaimana caranya, ada saja jalan keluar.

Ada juga pengalaman lain. Dua tahun yang lalu, ketika hamil pertama kali, saya sulit leading. Namanya orang susah, rasanya setiap detik saya ingin saja berkomunikasi dengan Tuhan. Saya harus mengakui, bahwa hamil kedua saya kali ini, yang sudah berumur delapan bulan, ibadah saya kurang khusuk, karena hamil saya relatif tidak bermasalah dan sangat gampang.

Kadang saat punya masalah kita merasa dekat dengan Tuhan, ya?


Kadang memang begitu. Saya sampai mengatakan pada suami saya, bahwa ini aneh; karena hamilnya tidak bermasalah, salatnya jadi asal lima waktu saja. Biasanya pakai tahajud, dhuha, salat sunnat rawatib, ngaji dan lain-lain. Saya bilang, berbeda sekali perasaan keagamaan pada kehamilan sekarang dengan yang lalu. Mungkin karena sekarang diberi kemudahan yang relatif oleh Yang Di Atas. Tapi memang ada perasaan bersalah dalam diri saya karena terlalu sibuk dalam pekerjaan. Saya mengaku, bahwa saat ini saya memang kurang mendekat pada-Nya.

Memang manusiawi saja bahwa kita merasa dekat dengan Tuhan kala kesusahan. Seolah Tuhan adalah penampung keluh kesah kita dalam kondisi emergency. Apa begitu yang Anda rasakan?


Tapi saya sadar lho, Mas Ulil. Maksudnya begini. Sekarang ini, yang saya kandung katanya anak laki-laki, makanya saya banyak membaca surat Yusuf. Nah, surat Yusuf itu, ‘kan agak panjang dan capek sekali membacanya. Jadi sekarang malah tidak sesuai dengan target saya: selama kehamilan harus membaca sekian puluh kali.[]


Hak cipta ©2001-2005, Jaringan Islam Liberal (JIL). Kontak: redaksi@islamlib.com

No comments: