Search This Blog

Loading...

Friday, July 01, 2005

40 Tahun "Kompas"


Pengantar:
KOMPAS merupakan media yang terkemuka di Indonesia. Tahun ini, media cetak terbesar di Indonesia ini berusia ke-40. Tak mudah bagi sebuah media untuk hidup selama itu, di sini. Sejarah pers Indonesia menunjukkan lebih banyak yang terkubur, ketimbang yang hidup makmur.
Bagaimana Kompas bisa bertahan, bahkan berkembang, merupakan hal yang pantas untuk kita simak, dan pelajari dengan seksama.
Maka, saya lampirkan di sini tulisan salah satu pendiri Kompas, Jakob Oetama, mengiringi perubahan fisik dan gaya penulisan di Kompas.


Perjalanan Panjang Menuju Pengabdian Kedua
Oleh: Jakob Oetama

EMPAT PULUH tahun untuk usia surat kabar tidaklah
panjang. Di negeri kita umur itu panjang karena
kehidupan surat kabar di sini terputus-putus. Terputus
oleh faktor interen atau terputus oleh sistem politik.

Oleh karena itu, usia 40 tahun adalah usia yang pantas
disyukuri. Bersyukur kepada Tuhan yang menganugerahkan
rahmat dan berkat-Nya. Berterima kasih kepada para
perintis dan karyawan, kepada wartawan dan karyawan,
kepada khalayak pelanggan dan pembaca, kepada semua
mitra kerja, agen, loper, pemasang iklan, dan biro
iklan.

Pers bekerja dalam interaksi. Interaksi lewat surat
pembaca. Juga lewat para kontributor serta para
pemerhati dan pemberi masukan serta kritik.

Surat kabar bukan saja suatu lembaga yang organik,
tetapi sekaligus yang organis pula. Karena surat kabar
adalah organis, masuk akal jika ia juga hidup,
mempunyai peranan, mempunyai tujuan, dan memiliki
pandangan hidup, sikap, serta orientasi nilai.

Faham kemanusiaan

Pandangan, sikap hidup, dan orientasi nilai Kompas
adalah faham kemanusiaan yang beriman, yang percaya
kepada nilai abadi dan nilai kemanusiaan.

Bukan saja pendidikan yang diperlukan anak manusia,
tetapi juga pencerahan, pendidikan akal budi. Ilmu,
kepandaian, kecerdasan menjadi bagiannya. Tetapi juga
watak atau karakter, kepribadian, rasa tanggung jawab,
kejujuran, dan ketulusan.

Orang Perancis menyebut surat kabar sebagai un journal
c'est un monsieur, surat kabar bersosok, berpribadi
justru karena memiliki pandangan hidup yang transenden
serta pandangan hidup kemasyarakatan.

Lebih dari sekadar suatu informasi dan peliputan
perihal peristiwa dan permasalahan, surat kabar adalah
juga interaksi. Dalam bahasa sehari-hari karena itu
surat kabar mempunyai policy, editorial policy,
kebijakan editorial. Juga kebijakan perusahaan.

Interaksi antara kebijakan dan liputan lapangan itulah
dinamika yang menghasilkan berita, komentar, opini.
Seorang ilmuwan komunikasi seperti De Volder menyebut
obyektivitas dalam surat kabar adalah obyektivitas
yang subyektif. Obyektivitas itu untuk sampai menjadi
berita berproses lewat wartawan. Wartawan bekerja
dengan kompetensi profesional yang mencakup kode etik
profesi dan kebijakan redaksi.

Karena proses informasi aktual dan permasalahan
berlangsung lewat subyektivitas, apakah berita adalah
sewenang-wenang? Ada kriteria profesional dan etis
yang harus dipenuhi wartawan dalam tugasnya.

Lagi pula ada kriteria lain lagi, yakni kepercayaan.
Berita dan karya surat kabar harus pula memenuhi unsur
dapat dipercaya. Dapat dipercaya adalah sisi lain dari
obyektivitas. Bagian ini merupakan bagian dan respons
pembaca serta khalayak surat kabar.

Dapat dipercaya adalah syarat dan kondisi lain yang
membuat surat kabar dibaca orang dan akhirnya
berkembang.

Pergulatan lain bagi kehidupan surat kabar ialah
lingkungan, kondisi di mana ia hidup. Sangat
menentukan adalah sistem politik, sistem kekuasaan,
serta kultur kekuasaan.

Tiga periode

Kompas mengalami tiga periode. Periode akhir kekuasaan
Presiden Soekarno, periode penuh kekuasaan Presiden
Soeharto, serta periode reformasi dari Presiden BJ
Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati
Soekarnoputri, dan kini hasil pemilu langsung,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Suatu periode sejarah, perkembangan dan pergulatan
yang menarik. Berbagai pengalaman dan pelajaran
diberikan kepada kita sebagai bangsa berikut beragam
institusi dan kehidupannya. Termasuk pengalaman dan
pelajaran kepada pers, di antaranya Kompas.

Dari tiga periode yang dialami, ditunjukkan perubahan
sistem politik bukanlah seperti membalikkan telapak
tangan. Begitu berubah, sekaligus dan serentak
berubah, semuanya sesuai yang dikehendaki.

Taruhlah sekarang ini! Mulai terdengar suara dari
sana-sini: keadaan kemarin lebih baik. Tak ada busung
lapar, kekurangan gizi, polio, dan lain-lain. Bahkan
disarankan mengapa tidak dihidupkan lagi lembaga
pelayanan masyarakat seperti posyandu.

Argumen kontra pun terdengar. Mau menghidupkan sistem
lama yang peninggalannya masih kita rasakan hingga
kini seperti korupsi, kolusi dan nepotisme? Seperti
pelanggaran hak-hak asasi manusia?

Barangkali justru bukan serba simplistis itu yang kita
ambil. Kebalikannya, yakni perubahan yang disertai
kompleksitas dan kompleksitas itulah yang agar juga
dipahami dan disikapi. Tidak seperti membalikkan
telapak tangan.

Banyak persoalan

Indonesia berada dalam kondisi yang ditimpa dan
ditinggali banyak persoalan. Kondisi pun memberi kesan
serba longgar dan carut-marut. Keadaan seperti tak
kenal akhir. Ditangani yang satu muncul yang lain.

Ada kesan dan perasaan kita seperti kehilangan akar
dan jati diri. Kesan itu membuat kita seakan
kehilangan tali pengikat.

Hampir pada setiap kali ada penelitian atau jajak
pendapat dari lembaga internasional kita berada pada
tingkat paling rendah. Terutama menyangkut ko- rupsi,
kolusi, kepastian hukum.

Inilah tugas kita bersama, pemerintah dan seluruh
rakyat. Harus kita hidupkan konsep challenge and
response, tantangan dan jawaban.

Beberapa pandangan ini dapatkah ikut dipertimbangkan?
Pertama, kita temukan kembali Indonesia. Tanah Air dan
negara kepulauan yang indah, yang dikaruniai sumber
alam, yang berseni budaya, dan yang hidup dalam
komunitas Bhinneka Tunggal Ika, kesatuan dalam
keragaman. Dalam pandangan kemasyarakatan yang
mendahului zaman, yakni Berketuhanan yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan
Indonesia, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial.

Kita juga dalam zaman globalisasi. Kita sikapi
kenyataan itu dengan kritis tetapi kreatif. Orang
bertanya kenapa Ghana dan Korea Selatan, yang dalam
tahun 1970-an setingkat ekonominya, pada tahun 1990-an
berjarak jauh. Korea jauh lebih maju dari Ghana.

Ada banyak faktor. Salah satu yang semakin ditanggapi
dan diterapkan adalah pandangan dan sikap yang
tercakup dalam ungkapan culture matters. Sikap budaya
dan orientasi nilai suatu bangsa berperan menentukan
kemajuan bangsa itu.

Di antaranya sikap orientasi masa depan, menghargai
waktu, disiplin, kerja keras, pandai mengelola
keuangan, saling percaya, menempatkan pendidikan
sebagai jalan strategis dan sentral untuk pengembangan
diri.

Pers berubah

Selama 40 tahun itu pers juga berkembang dan berubah.
Pola perubahan berlangsung menurut proses sejauh ini,
ada interaksi. Media cetak memengaruhi media
elektronik. Perannya saling melengkapi.

Tabloisasi koran masuk dalam televisi. Namun tidak
berlebihan jika dikatakan dampak media elektronik dan
digital lebih besar.

Dalam media cetak berita adalah periodik, sesuai waktu
terbitnya. Pagi, petang, harian, mingguan, atau
bulanan. Paling-paling stop press atau menerbitkan
edisi khusus.

Pada radio, televisi, internet, berita terus-menerus,
setiap saat, tidak lagi periodik. Kecuali tak lagi
periodik, media kini mengangkat berita ke atas
panggung terbuka. Sebutlah panggung televisi.

Surat kabar pun lalu berubah total. Berubah ukuran,
kolom, dan kemasannya. Warna ikut bicara karena
membaca juga perlu dibantu oleh visualisasi.

Namun, dalam kemasan yang lebih visual, dengan
pembagian rubrik yang lebih lancar dan lebih mudah,
isi tetap "rajanya". Isi yang dapat dipercaya. Isi
yang diramu dengan serba dimensi, pergulatan, dan
ekstasi kemanusiaan. Dan isi pun agar disajikan dalam
bahasa dan gaya yang jelas, asyik, menyenangkan, dan
menggairahkan.

Apa jawaban media sendiri terhadap perubahan? Memicu
kualitas, kompetensi, profesionalisme, menghayati kode
etik profesi dalam melaksanakan pekerjaan dan
bertanggung jawab.*

*) Tulisan ini dimuat di Kompas, 28 Juni 2005

No comments: