Search This Blog

Loading...

Monday, October 08, 2007

NEW YORK, NEW YORK

AKHIR September 2007 ini, mommy bersama kawan-kawan se kantor melawat ke New York, negeri yang ada di balik bumi sana. Tujuan utamanya adalah belajar, ngangsu kawruh ke Fox News. Antara Fox dan Antv memang ada hubungan darah. Keduanya punya bapak bernama Rupert Murdoch, dengan kadar genetik yang berbeda.

Pada saat yang sama, Presiden SBY ternyata juga datang. Ia mengikuti Sidang Majelis Umum PBB. Ini penting, bagi presiden yang tengah berupaya memperbaiki citra Indonesia di luar negeri. Mommy pun memperpanjang lawatannya. Dari semula cuma 4 hari, menjadi 9 hari.

Penerbangan ke New York butuh waktu cukup lama. Total lebih dari 24 jam. Pesawatnya dari Jakarta harus berhenti dulu di beberapa tempat. Kalau pake SQ ya mampir dulu di halte Changi, untuk mengangkut penumpang tambahan. Dari situ, langsung ke Frankfurt, Vancouver, habis itu baru New York.


Kalau pake maskapai MAS Malaysia, ya mampirnya Kuala Lumpur. Setelah itu, halte-halte yang disinggahi sama saja. Dan, semuanya memberi kesan sama: capek... Kalau ingin merasakan, cobalah duduk di ruang ber-AC, selama lebih dari lima jam saja. Kebayang pantat rasanya panas. Orang Sunda carios-na: panas pisan...

New York terkenal dengan berbagai atribut yang mendunia. Di masa lalu, kita mengenalnya lewat menara kembar WTC, world trade center. Gedung yang gagahnya luar biasa itu menjadi landmark kota New York. Siapa sangka, dengan cara sederhana, bangunan elok itu rontok: dihajar dua pesawat Boeing, yang dibajak teroris.

Bangunan WTC kini sudah rontok. Bekasnya disebut sebagai ground zero, titik nol. Saya kurang paham, mengapa bekas-bekas tragedi diberi nama ground zero. Depan Restoran Raja's di Kuta, Bali, berdiri monumen untuk mengenang bom bali, 2002. Monumen itu tepat berdiri di tempat ledakan yang meluluhlantakkan pulau wisata itu. Monumen itu juga disebut sebagai 'ground zero'. Mungkin, ground zero dimaksudkan sebagai titik nol, awal untuk perbaikan situasi...

Di New York juga ada bangunan PBB, yang didirikan di lahan hibah dari Rockefeller. Ia orang Yahudi yang merantau ke Amerika, sampai kemudian bisa menjadi raja minyak, raja kapal, raja properti, dsb. Kita masih mengenal Rockefeller Foundation, Exxon, Mobil, Chevron, dsb. Semua itu merupakan peninggalan Rockefeller.


Salah satu versi menyebutkan, New York awalnya adalah lahan pertanian gandum. Kota yang ultramodern itu, pada 1800 masih merupakan sawah. Ada lahan untuk permukiman. Ada lahan untuk ladang. Keduanya dipisahkan oleh pagar, untuk menjaga agar babi tidak membuat onar permukiman. Jalan yang ada pagar pembatasnya itulah yang disebut sebagai Wallstreet. Kini, Wallstreet merupakan nama untuk koran ekonomi terkemuka, plus nama bursa. Anda tentu pernah dengar: Wallstreet New York Stock Exchange?

Para pendatang seperti Rockefeller itulah yang membuat New York berwarna-warni. Di era baru, salah satu generasi pendatang itu bernama Rupert Murdoch. Asalnya ia dari Australia --kalo dilihat dari sini, berarti ia punya akar keturunan dari Inggris juga. Ia kini memiliki jaringan bisnis media yang menjejak hingga seluruh dunia. Benderanya bernama News Corporation. ''Perusahaan Berita'', demikian kalo dimaknakan.
Berita kok dijadikan 'perusahaan'? Ini mungkin kalimat pertanyaan dari kawan-kawan yang bekerja di media. Kalao kita membaca buku literatur klasik mengenai media, kita akan menemui kaidah baku: berita is berita, not for sale. Rumus seperti ini bisa ditemui, misalnya, di buku Sembilan Elemen Jurnalisme.

Tapi era baru menyadarkan, kalo berita tidak dijual, akibatnya para pengelola berita juga akan repot sendiri. Untuk mendapatkan berita bagus, kita harus punya modal cukup. Modal cukup hanya didapat kalo kita bisa mengongkosi sendiri biaya pencarian berita. Artinya, kita harus pintar-pintar mengomersialkan acara berita kita. Aneh kan, kalo upaya pencarian berita dibiayai orang lain?? Soal ini bisa menjadi pembicaraan sendiri.

Orang-orang seperti Murdoch itulah yang kini menguasai New York. Akuisisi terakhir oleh Murdoch adalah terhadap koran legendaris, Wallstreet Journal. Sebelumnya, ia mengakuisisi berbagai media. Ia juga mengakuisisi perusahaan film. Kalao Anda melihat filmnya Bruce Willis, Die Hard, ini adalah salah satu produksinya.

Murdoch sukses menaklukkan New York. Siapa pun yang sudah sukses menaklukkan New York, ia akan bisa menaklukkan tempat lain di dunia. Itulah yang disampaikan Frank Sinatra dalam lagunya: New York New York..


New york, new york


Start spreading the news, Im leaving today
I want to be a part of it - new york, new york
These vagabond shoes, are longing to stray
Right through the very heart of it - new york, new york

I wanna wake up in a city, that doesnt sleep
And find Im king of the hill - top of the heap

These little town blues, are melting away
Ill make a brand new start of it - in old new york
If I can make it there, Ill make it anywhere
Its up to you - new york, new york

New york, new york
I want to wake up in a city, that never sleeps
And find Im a number one top of the list, king of the hill
A number one

These little town blues, are melting away
Im gonna make a brand new start of it - in old new york
And if I can make it there, Im gonna make it anywhere

It up to you - new york new york

No comments: