Search This Blog

Loading...

Wednesday, October 24, 2007

LEBARAN ITU YA MUDIK UNTUK KUMPUL

SUDAH 16 tahun saya merantau di Jakarta. Pada 2004, ayah dan mommy menempati rumah di Bekasi Selatan. Jakarta jadi tempat mencangkul, Bekasi jadi tempat tinggal. Sejak merantau sampai sekarang, rasanya tidak afdhol kalo pas lebaran tidak pulang kampung. Ketemu bapak, ibu, saudara, dan kawan-kawan lainnya. Ada perasaan yang hilang, rasa yang tidak nyaman, kalo melihat di televisi jutaan orang hilir mudik ke kampungnya. Sementara kita cuma tinggal di rumah. Wiihhhh...

Harian Kompas pernah memberitakan mengenai perasaan orang-orang yang tidak pulang kampung di saat lebaran. Saya masih teringat ucapan salah satu nara sumbernya: kalo tidak pulang, rasanya saya menangis setiap mendengar suara takbir... Saya jadi teringat pada suasana kampung.

Penyair WS Rendra mendefinisikan suasana seperti itu sebagai ''ikatan tanah''. Setiap orang akan merasakan magnet tertentu, yang senantiasa menariknya untuk teringat pada kampungnya. Situasi ini diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk. Orang Banyumas memiliki ''seruling mas'', seruan eling marang banyumas. Orang Minang punya ''gebu minang'', gerakan seribu minang. Orang Gunungkidul punya ''perhimpunan warga gunungkidul di jakarta''. Dalam skala lebih luas, orang China perantauan memiliki guanxi, perhimpunan china di rantau.

Bila pintar memanfaatkan potensi mereka yang di rantau, gelontoran ekonomi yang besar akan mengalir ke kampung...
*********

LEBARAN ini saya juga pulang ke kampung. Sebagai warga Muhammadiyah, saya ikut lebaran pada Jumat 12 Oktober 2007. Mommy juga salat id pada hari yang sama. Namun karena dia lagi banyak sekali pekerjaan, maka dia baru pulang ke Yogya pada13 Oktober. Kami memilih naik Garuda. Tiketnya sudah dipesan sebelum puasa dimulai. Hehehehe... mudiknya niat banget ya?

Mas Faisal Heryono, panggilan resminya adalah mas Joni, adalah kakak ipar kami. Ia suami dari mbak Yeni, kakak sulung. Mas Joni pulang tanggal 10, dua hari sebelum lebaran. Sementara Om Sigit Widyatmoko, yang paling bungsu, datang ke Yogya pada hari Sabtu, alias 13 Oktober padi. Keluarga mbak Tiwi-mas Rusdi tidak perlu mudik. Sejak tiga bulan ini mereka tinggal di Yogya untuk kuliah S3. Sedang Tante Atik dan Om Ando berlebaran di Dubai. Mereka baru Agustus lalu tinggal di negeri jauh itu, sehingga nanggung untuk balik.

Jadinya, suasana terasa meriah dan nyaman. Rumah Suryodiningratan di masa lalu hanya biasa keisi untuk tujuh orang. Lebaran ini, jumlahnya sudah menggembung. Bapak, ibu, mbak tiwi, mas rusdi, reza, shifa, fita, sila, om sigit, tante nurul, haidar, isfi, ayah, mommy, darrel. Wah... 15 orang. Sedap ya?

Ke-15-an itu, ditambah keluarga mbak Yeni, ke Klaten pada hari Ahad. Ada tambahan pasukan baru: mas Suroto dan keluarga. Mas Suroto berangkat sendiri dari rumahnya di Gunungkidul, untuk bertemu mas Sumpono. Mas Suroto dan Mas Sumpono pernah tinggal di keluarga Pak Syarief pada 1970-1974.

Sepulang dari Klaten, kami mampir ke kediaman Bu Warsito --mommynya om Ando, dan bu Zaidan--mommynya Pakde Joni.

*********

Buat apa sebetulnya lebaran dan berbagai silaturahmi itu dilakukan?

KH Cholil Bisri --semoga beliau diterima di sisi Allah SWT, pengasuh Pesantren Raudhatul Tholibin, Rembang, Jawa Tengah, pada Desember 2001 menulis artikel di Kompas.. Judulnya ''SHILATURAHMI DALAM HIKMAH FITRI''.

Saya salinkan di sini tulisannya:

BERBILANG Ramadhan telah kita lalui. Kita bisa berkata kepada
diri sendiri: Aku telah selesaikan kewajiban "berpuasa" dengan mulus,
tanpa mokel sehari pun. Tetapi, rasanya masih saja diri ini belum
bersih dari noda-noda dosa. Lapar yang kita rasakan seperti tidak
menyentuh apa-apa dari kulit nurani kita. Kita masih acuh terhadap
mereka yang lapar, tidak hanya di bulan orang-orang beriman berpuasa.

Berlapar dan dahaga di siang hari, seperti para dlu'afaa biasa kenyam
setiap hari. Kita rasakan yang dirasakan para fakir-miskin. Tetapi,
mereka belum-untuk tidak mengatakan "tidak"-kita ajak merasakan
kekenyangan kita akan kelebihan rezeki, pada setiap saat. Menurut
hadits, ketika seseorang berkurang dosanya dan bertambah banyak
pahala yang bakal diperolehnya karena di bulan Ramadhan
berkonsentrasi melakukan segala kebaikan yang pahalanya
dilipatgandakan itu, dia akan mendapatkan kejernihan nurani,
menanggung kelembutan hati dan mempertebal sayangnya kepada sesama.

Namun, angin apa yang kemudian mensirnakan pengaruh indah
Ramadhan itu dari kemanusiaan kita, dari keimanan kita dan keislaman
kita. Sehingga tangis bayi, rintihan orang tak beruntung dan keluh
dlu'afaa tidak menggugah kemurahan hati kita. Kita jajakan
"pengajian" dengan tarif relatif mahal. (Wong, hanya bermodal abab
semata, kok laku jutaan). Tetapi, berapa lugut atau cuping hidung,
yang kita alirkan kepada mereka yang dlu'afaa itu.

Ketika mereka yang berpuasa di bulan suci Ramadlan, berpesta
dengan hari raya yang selalu disebut Hari Raya "fithri", ketika itu
nurani mereka bertanya tentang "apa itu Fithri. (Dari kata dasar
Fithroh), oleh Alqamus Almuhith li Fairuzabadiy, diartikan dengan
"penciptaan yang berproses dari rahim sang ibu". Artinya dia bersih,
telanjang, tak ternoda oleh dosa dan tidak tahu apa-apa.
Begitu kita mengakhiri ibadah puasa di bulan Ramadhan, (dengan
hanya tidur saja, misalnya), berarti kita telah menyelesaikan "laku"
melaparkan perut dan mendahagakan kerongkongan karena Allah, Sang
Maha Kuasa, padahal tersaji di hadapan kita isi perut dan pembasah
kerongkongan. Kita telah selesai "menjujuri" niat kita sendiri,
karena Allah. Itulah yang menyebabkan Allah berkenan membersihkan
diri kita dari dosa-dosa kepada-Nya. Kita telanjang dari dosa-dosa,
yang diibaratkan sebagai pakaian kita sehari-hari.
***

ORANG awak menyebut hari raya itu dengan Lebaran. Lebar artinya
rampung, selesai. Rampung dari menguji kejujuran diri, selesai dari
berlatih menahan diri. Lalu ternyata jujur itu mudah, karenanya "aku"
bisa melewatinya dengan selamat. Ternyata menahan diri itu bisa "aku"
lakukan, karenanya "aku" mengakhirinya dengan suka cita bagai bayi
yang terpenuhi keinginannya. Ternyata jujur itu tidak membuat
sengsara, karenanya "aku" tidak keberatan melanjutkannya. Ternyata
menahan diri itu berakhir dengan kegembiraan bersama, karenanya akan
"aku" nikmati semampu aku bisa.
Di kampung saya, Hari Lebaran benar-benar hari pesta. Setelah
malam harinya membagi zakat fitrah, ayam yang sejak awal Ramadhan
digemukkan, dipotong dan diopor kering. Seusai shalat Iedul-fithri,
seluruh keluarga melanjutkan kegembiraan hati setelah saling
berangkulan memberi maaf satu sama lain dengan santap pagi yang
lezat. Dilanjutkan mengawali "keluar rumah" menuju makam. Ke pusara
tempat transit para famili dan kerabat menunggu pengadilan Makhsyar
kelak.

Mengirim do'a kepada yang telah tiada. Yang Lebaran tahun ini
tidak lagi bersantap pagi bersama kita. Lalu secara bersama pula
berkunjung kepada yang lebih tua untuk memohon maaf dan do'a. Kepada
sanak famili yang masih hidup, melebur kekhilafan selama ini.
Memang ampunan seusai beribadah puasa di bulan Ramadhan adalah
janji Allah. Meski demikian itu belum cukup membuat diri bebas
seratus persen dari gugatan-Nya. Bahkan ampunan Allah itu seperti
menggantung pada "Hak Adam" (kewajiban dengan sesama anak cucu Nabi
Adam) yang harus diselesaikan segera. Diriwayatkan dari Kanjeng Nabi:
"Ada seorang hamba menghadap Allah bermodalkan kekompletan ibadah dan
ketaatannya kepada-Nya. Namun, waktu dia hidup di dunia telah memaki
ini dan menyakiti itu, menghujat ini dan memukul itu. Ibadah dan
ketaatannya habis untuk menombok kesalahannya yang dilakukannya itu
kepada sesama.

Bahkan ketika belum cukup, maka dosa orang yang dimaki
dan disakiti, yang dihujat dan dipukul itu diambil dan dibebankan
kepada-Nya. Akhirnya dia pun dilempar ke Neraka". Itu sebabnya
Kanjeng Nabi bersabada: "Barang siapa mempunyai kesalahan kepada
saudaranya, bergegaslah meminta halal kepadanya hari ini juga". Dan
itu tidak bisa dilakukan kecuali setelah tersambung lagi tali
kekerabatan.

Dari itu, menyambung kekerabatan (atau shilatur-rahim) bukanlah
basa-basi. Dia merupakan kebutuhan niscaya yang mau tidak mau harus
dilakukan oleh mereka yang beriman kepada Zat Yang Maha Kuasa, jika
ingin selamat dunia-akhirat. Tentu saja setelah tersambung kembali
kekerabatan, tidak kemudian dengan sengaja diputuskan lagi dengan
cara dan dalih apa pun. Dia harus tetap terjaga. Dengan segala upaya
semangat shilatur-rahim semestinya terus bersemayam di tiap relung
dada warga bangsa yang beriman, sehingga tumbuh pada tiap pribadi
sebuah keyakinan bahwa yang namanya kerabat itu bukan merupakan
ancaman. Di saat negeri ini menghajatkan ketenangan untuk memulihkan
keadaan dan untuk gumregah dari keterpurukan. Hikmah Ramadhan dan
"Iedul-Fithri" dengan kandungan shilatur-rahim-nya seyogianya menjadi
sebuah acuan utama. Semoga.

*******

Itu tadi naskah Pak Kyai Cholil di Kompas. Semoga naskah itu memberi manfaat bagi kita semua.

Bagi kita, yang tak kalah pentingnya adalah: tahun depan, kita insya Allah berpuasa lagi. Semoga Allah memberi kita umur panjang, sehingga kita masih bisa berpuasa lagi. Semoga puasa kita yang lalu ada manfaatnya. Dan puasa tahun depan akan lebih baik dari puasa kemarin.

Amien.

No comments: