Search This Blog

Loading...

Thursday, November 10, 2005

Ke Klaten Mampir Rumah Pak Warsito

DI hari kedua lebaran, 4 November 2005, kami bertiga berkunjung ke Klaten. Tepatnya di Desa Kaligawe, Kecamatan Juwiring, Klateng, Jawa Tengah. Dari rumah eyang kakung dan eyang putri di Suryodiningratan, Yogyakarta, jaraknya sekitar 60 Kilometer. Untuk Jakarta, hanya dibutuhkan waktu satu jam lewat jalan tol. Bahkan mungkin tak sampe. Untuk ukuran Yogya-Klaten, di saat lebaran, waktu tempuhnya bisa mencapai dua jam.

Kami menggunakan dua kendaraan: Toyota Kijang model Eropa (maksudnya, AC-nya kalo dinyalakan, suhunya jadi lebih panas), dan Toyota Avanza. Om Sigit menyetir Kijang dari Suryodiningratan. Ayah dan Eyang Kakung duduk di belakang. Di tengah ada Tante Nurul, Eyang Puteri, Dik Haidar, Mbak Kia. Saya dan mommy di depan. Sesampai di Tahunan, saya pindah ke Avanza. Pakde Joni yang nyetir.

Berangkat dari rumah jam 08.30. Cukup pagi untuk ukuran kami. Soalnya, hari itu, Jumat. Kami sekalian mampir ke Gedongkuning. Di sebelah selatan jalan, ada rumah keluarga Ibu Zaidan. Ini adalah ibunya Pakde Joni, yang juga mertuanya Mbak Yeni. Di sebelah utara jalan ada rumah keluarga Pak Warsito, ayahnya Om Meilando, alias mertuanya Tante Atik.

Ibu Zaidan tampak sudah sangat sepuh. Beliau menitikkan air mata, ketika ayah, mommy, eyang, juga kakak-kakak sungkem. Mungkin beliau merasa sudah sangat sepuh. Sungkeman begini menjadi terasa amat bermakna bagi beliau.
*****
Kami kemudian meluncur ke kediaman Eyang Warsito. Wah, di rumahnya ada kolam ikan. Besar-besar. Seperti ikan koi. Juga ada ikan mujair.

Pak Warsito, demikian ayah menyebut beliau, baru saja masuk rumah sakit. Agustus lalu beliau masuk Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Om Ando, Tante Atik, Mbak Naila, dan Dik Azul sampe harus pulang dari Libya, untuk menengok. Waktu itu, kok ya ndilalah Eyang Zuraida, demikian nama eyang putrinya dik Azul, terkena stroke. Beliau harus menyusul Eyang Warsito ke rumah sakit. Duh, kasihan.

Pak Warsito sungguh beruntung. Meski dokter di Rumah Sakit Bethesda memvonisnya kanker paru-paru, tindakan operasi tak segera berlangsung. Katanya sih, menunggu kondisi membaik. Pak Warsito sangat terpukul atas vonis kanker ini.
‘’Semangat Bapak sangat menurun,’’ kata Om Ando kepada ayah.
Kanker paru-paru memang berbahaya. Kemungkinan untuk terobati sangat kecil. Uwaknya mommy, namanya Uwak Romly, juga wafat karena kanker paru-paru.

Om Ando datang, dan berkonsultasi dengan Pakde Joni. Disarankan minta pendapat kedua, dari dr. Sumadi, spesialis paru yang sangat terkenal di RSUP Sardjito. Pak Warsito mula-mula keberatan. Maklum, beliau sudah tidak begitu bersemangat lagi. Melalui berbagai bujukan, akhirnya Pak Warsito bersedia.

Pertemuan dengan dr. Sumadi mengubah semangatnya.
‘’Jadi aku ini Cuma divonis infeksi paru-paru gara-gara rokok. Saya ini sebetulnya tidak apa-apa,’’ kata Pak Warsito dengan amat semangat.
Beliau lalu menceritakan detailnya pemeriksaan. Mulai dari tangannya disuruh megang kepala. Lalu dari punggung ditusukkan jarum kecil…
‘’Dokter Sumadi bilang. Nih Pak… isinya Cuma nanah kan? Ini bukan kanker. Ngawur itu kalau orang seusia bapak sampai diberi tindakan semacam itu… jadi, Bapak tenang saja…’’

Saya membayangkan, andai tindakan operasi jadi dilangsungkan, akibatnya pasti sangat fatal. Alangkah ngawurnya dokter yang dengan ceroboh memvonis kanker paru-paru itu.

Ceritanya penuh semangat. Saya lihat ayah, Om Sigit, dan Pakde Joni bersemangat menanggapi. Sedang mommy dan Eyang puteri lebih banyak berbicara dengan ibunya Om Meilando.

Semoga, Eyang Warsito dan Ibu segera diberi kesembuhan. Amin.
****
Kami kemudian meluncur ke Klaten. Di situ, kakaknya eyang kakung, Eyang Parto, sudah menunggu. Eyang Parto adalah sulung di keluarga eyang kakung. Rumah yang ditempati adalah rumah keluarga. Ayah menyebutnya: rumah Mbah Solo. Soalnya, juga ada Mbah Magelang, ini adalah asal-usul Eyang Puteri.

Makanannya enak. Sop. Juga ada oseng-oseng daun pepaya. Ada tape. Semuanya segar. Nyaman. Ayah makannya banyak. Demikian pula mommy (Jangan lupa dietnya mom!!!)
Saya lebih banyak main ayunan di luar. Ayunannya dibuat dari ban mobil yang dipangkas di tengahnya.

Di bawah ayunan itu, ada pasir.Kelihatannya untuk meredam agar kaki tak begitu sakit kalo menyentuh bumi. Tapi saya melihatnya kok enak ya… Saya mengambil beberapa pasir. Makan. Eh, kok ayah dan mommy yang ribut…

Di rumah Eyang Parto, saya paling suka makan krupuk. Kalau ayah menyebutnya: karak. Enak sekali. Makan krupuk memang terasa kriuk-kriuk di mulut. Enak sekali. Tapi mommy paling suka ribut kalo saya makan banyak krupuk. ''Awas, bisa gendut lo nanti...''

Mommy kelihatan khawatir sekali. Padahal, gendut sedikit kan nggak apa-apa Mom. Toh nanti kalo sudah besar, saya bisa mengatur menu apa yang pantas untukku.
*****
Pulang dari Klaten, kami berhenti dulu di Tahunan. Di sinilah sejak 10 tahun lalu Bude Yeni tinggal. Rumahnya enak. Di sebelah rumah induk, ada rumah kayu. Bahannya dari kayu ulin. Kayu awer itu dibawa Pakde Joni langsung dari Palangkaraya, tempatnya bertugas. Hanya sebentar kami di sini. Terus pulang ke Suryodiningratan.

Dua hari kemudian, setelah mommy pulang, saya main ke Tahunan lagi. Wah, saya seneng lo. Rumahnya bertingkat. Di lantai atas ada DVD. Ayah membawa film Maisy. Kalo ayah dan mommy lagi pusing ngadepi saya yang banyak bermain-main, mereka menyetelkan Maisy. Heheh… saya memang seneng nonton Maisy.

Saya banyak bermain dengan Mbak Tifa. Mbak Cita lagi menerima tamu di teras depan. Sedang Mbak Bella di kamar, lagi main SMS. Bude Yeni kelihatan capek. Ia tidur di kursi.
*******
Saya diajak Ayah dan Eyang mengantar mommy ke Bandar Udara Adisucipto. Mommy pulang hari Ahad sore, dengan Garuda penerbangan jam 17.55. Kami tiba di bandara jam 16.45. Eh, ternyata pesawa mommy molor setengah jam.
Pulang dari situ, kami mampir ke rumah om Ando, di belakang airport. Rumahnya besar lo. Lagi didandani. Tamannya bagus, hanya sayang sudah muncul sayur bayamnya. Tante suka makan bayam ya?
Kami tidak bisa masuk, karena tidak membawa kunci. Kami hanya melihat dari luar. Melihat dari pagar, yang besinya gede-gede banget. Wuahhhh... Semoga Om Ando dan keluarganya jadi pulang ke Yogya, Desember depan. Soalnya, kalo tidak ditempati, rumahnya sayang lo...

No comments: