Search This Blog

Loading...

Thursday, November 17, 2005

Dari Buku ke Buku (2): Paulo Coelho


PAULO Coelho menjadi penghuni baru di rak buku kami. Coelho adalah orang Brazil yang ketiban apes: dipecat dari kantornya, BMG Sony. Eh, lepas dari situ, ia malah mendapat lahan baru: menjadi penulis.

Hasil karyanya bak menjadi mantra sihir bagi jutaan penggemarnya. Buku-bukunya telah "menghipnotis" ribuan orang sehingga rela antre berjam-jam untuk mendapatkan tanda tangannya. Hal itu terjadi di Perpustakaan Kretzulescu, Bukarest, Rumania, Sabtu dua pekan lalu, saat peluncuran The Zahir, novel teranyar Coelho. Dengan sabar, selama hampir empat jam tanpa jeda, Coelho meneken ribuan buku yang disodorkan para pemuja karya-karyanya.

Sejak muncul April lalu, The Zahir telah dicetak lebih dari 8 juta eksemplar dan dipasarkan di 101 negara. Novel ini berkisah tentang pencarian seorang suami yang istrinya tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak. Selanjutnya dikisahkan bagaimana pencarian atas sosok istrinya yang hilang berubah menjadi sebuah perjalanan mempertanyakan eksistensi dan jati diri.


Mommy termasuk pembeli Zahir. Ia mencarinya ke sana ke mari. Butuh perjuangan keras, sampai akhirnya mendapatkannya. Novel ini menarik karena narasinya yang sederhana dan bahasanya yang lugas. Zahir dalam bahasa Arab artinya "hadir secara lahiriah". Namun sukses penjualan The Zahir di berbagai negara tak diikuti oleh pasar Iran. Pertengahan Mei lalu, menurut AFP, dalam pameran buku tahunan Teheran, novel itu dilarang pemerintah.

"Buku itu dilarang meskipun kami telah melewati prosedur normal untuk mendapatkan izin dari pemerintah untuk diterbitkan," kata Coelho, seperti disampaikan Flammarion, penerbit karya-karya Coelho di Prancis. Menurut Arash Hejazi, penerbit yang memegang hak cipta buku Coelho di Iran, aparat intelijen menyatroni stannya dan menyita 1.000 kopi novel yang masih tersisa.

"Namun 2.000 eksemplar telanjut dibeli orang," ungkap Arash Hejazi kepada Gatra lewat e-mail yang diprasaranai Flammarion. Menurut Arash, tampaknya Kementerian Kebudayaan dihinggapi ketakutan berlebihan melihat popularitas Coelho di mata rakyat yang terus meningkat.

Popularitas Coelho memang sulit dimungkiri. Kini 10 novelnya telah diterjemahkan dalam 60 bahasa dan mencatat penjualan hingga 65 juta eksemplar. Di beberapa negara, novelnya meraih rekor penjualan tertinggi. Ia juga telah menerima 22 penghargaan dari berbagai negara.


Tapi, meski mendulang sukses internasional, sejumlah kritikus sastra Brasil, negeri asalnya, menilai Coelho sebagai pengarang biasa. Karyanya disebut begitu sederhana tak ubahnya buku tuntunan hidup. Ketika namanya masuk ke Brazilian Academy of Letters, muncul kontroversi. Sebab beberapa kritikus menyebut novel Coelho komersial, alias cuma berorientasi pasar.

Bersama istrinya, Christina Oiticica, Coelho kini mendirikan Paulo Coelho Institute di Rio de Janeiro, kota tempat ia lahir pada 24 Agustus 1947. Lembaga ini bertujuan membantu anak dan orangtua miskin yang terpinggirkan. Separuh hidupnya dalam setahun dihabiskan di Tarbes, Prancis. Penggemar traveling ini juga mempraktekkan kyudo, sejenis panahan meditatif. Setiap pagi, usai jalan kaki selama dua jam, ia melesakkan 24 anak panah melalui satu dari tiga busur miliknya.


Satu novelnya, Veronika Memutuskan untuk Mati, telah difilmkan sutradara Jepang, Kei Horie. Film ini akan diluncurkan awal tahun depan. Saking kagum atas karya-karya Coelho, dua gadis Georgia, Tamuna dan Anuki, mendirikan sebuah kafe bacaan di Tbilisi, ibu kota Georgia. Novel Sang Alkemis juga telah menginspirasi grup musik Aurah menciptakan album berjudul ''Songs of The Alchemist''.

Ketika remaja, Coelho dimasukkan orangtuanya ke rumah sakit jiwa hingga tiga kali karena sering memberontak. Awal 1970-an, Coelho menjalani hidup sebagai hippies. "Semuanya semata demi seks, obat-obatan, dan rock 'n' roll," katanya. Ia juga pernah tiga kali masuk penjara karena mengecam rezim diktator militer Brasil.

Ketika berumur 36 tahun, Coelho memutuskan melakukan ziarah ke Santiago de Compostela, Spanyol Utara. Perjalanan inilah yang menginspirasi novel perdananya, The Pilgrimage. Sejak itu, sambil terus mempertanyakan makna hidupnya, Coelho memutuskan untuk hidup sebagai penulis. Ia sukses.
****
''Karya-karyanya bagus lo,'' kata Mommy.
Beberapa kali ia pergi ke QB, toko buku di kawasan Kemang, ia kehabisan buku Zahir. Ia kemudian memesan. Tiga bulan kemudian, QB meneleponnya. Tapi waktu itu Mommy sudah terlanjur membeli. Ia mendapatkan Zahir sewaktu melawat ke luar negeri --kalo tak salah ke Amerika. Di salah satu toko buku, Mommy mendapati Zahir, tinggal satu eksemplar.


Buku ''Gunung Kelima'' sudah lama dibeli Mommy. Dalam bahasa Inggris, judulnya ''The Fifth Mountain''. ''Coba deh, baca dengan teliti. Bisa memberi inspirasi,'' kata Mommy. Juga bisa memberi semangat hidup.

Gunug Kelima adalah satu-satunya buku Coelho yang sudah saya baca sampai habis. Buku yang lain baru melihar covernya. Kalo Mommy sudah membaca semuanya. Hebat ya?

Bagian atas diambil dari GATRA 22 Oktober 2005, dengan modifikasi.

5 comments:

agus bahrudin said...

Wah bagus2 isi blognya pak..
Salam,
Agus

kartyva@yahoo.com said...

w

kartyva@yahoo.com said...

wah terima kasih untuk info tentang Paulo Coelho-nya.
trims
http://fiksi.co.nr

IWAN QODAR HIMAWAN said...

terima kasih kembali.
salam.

DIDIN said...

SAYA MERASAKANNYA BAGAIMANA PAHIT MANISNYA SUATU PERJUANGAN UNTUK SEBUAH BERNAMA BUKU!