Search This Blog

Loading...

Monday, September 12, 2005

Susilo Bambang Yudhoyono Janji Hapus Diskriminasi



Nasional


Selasa, 07 September 2004 | 20:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di depan sejumlah pimpinan media massa, televisi serta tokoh ekonomi dan politik, berjanji akan menghapuskan semua kebijakan yang bersifat diskriminatif. Dengan jargon "diskriminasi no, kesetiakawanan sosial yes", Yudhoyono menjanjikan lima komitmen utamanya apabila terpilih sebagai presiden.

"100 hari pertama, semua kebijakan yang diskriminatif akan ditinjau ulang," katanya dalam diskusi yang bertajuk "Indonesia untuk Semua" di Jakarta, Selasa (7/9). Untuk memastikan semua komitmennya terlaksana, dia akan menunjuk pembantu-pembantu yang benar-benar se-visi dan ideologi, serta telah teruji kemampuannya.

Tampak hadir dalam diskusi ini sejumlah tokoh pers seperti Djaffar Assegaf, Pemimpin Redaksi Media Indonesia Andi F. Noya, Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi RCTI Derek Manangka, dan Direktur Pemberitaan TV7 Uni Lubis. Sejumlah pelaku ekonomi juga hadir antara lain Lin Che Wei, mantan Kepala BPPN Edwin Gerungan.

Yudhoyono memaparkan, komitmennya yang pertama adalah menciptakan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Dengan mengutip pernyataan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi, dia mengatakan kemajuan suatu bangsa tidak akan ada artinya apabila tidak dapat menumbuhkan kebanggaan. Untuk itu, pembangunan karakter dan bangsa akan dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional.

Komitmennya yang kedua adalah menghapuskan semua kebijakan yang diskriminatif dan menumbuhkan kesetiakawanan sosial. Pemerintah, menurutnya, harus secara nyata terlibat dalam program kesetiakawanan sosial untuk membantu mereka yang miskin dan tidak dapat menikmati pendidikan.

Untuk menguatkan rasa sebagai satu bangsa, Yudhoyono juga menilai perlunya pembangunan prasarana transportasi, baik laut, darat maupun udara, yang menghubungkan seluruh Indonesia. Dia berjanji akan membangun sistem transportasi, Trans Indonesia, untuk mewujudkan hal itu.

Dia juga menilai perlunya kembali menghidupkan prestasi olahraga dan seni budaya Indonesia. Hal itu berguna untuk menciptakan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Yang lebih penting lagi, ujar Yudhoyono, adalah kerja keras. Mesin birokrasi yang selama ini dinilai lambat dan tidak efisien, harus diubah. "Itu harus dimulai dari orang pertama di negeri ini," katanya.

Soal dukungan partai kepadanya yang kurang dari 50 persen kursi parlemen, Yudhoyono mengatakan akan memperbaiki keseimbangan kekuatan di parlemen apabila terpilih nanti. Menurutnya, komposisi kekuatan politik saat ini masih mungkin berubah setelah pemilihan presiden diketahui hasilnya.

Namun menurutnya, dalam sistem presidensial seperti yang dipakai Indonesia, pemerintahan yang dukungan parlemennya tidak mencapai mayoritas tidak serta-merta akan gagal. "Tujuan DPR kan juga tidak sekedar mau menjatuhkan pemerintahan," katanya.

Sapto Pradityo - Tempo News Room

No comments: