Search This Blog

Loading...

Sunday, July 11, 2010

Nggowes di Taman Mini




HARI Minggu 11 Juli 2010 ini kami sekeluarga –saya, Mommy Uni Lubis, dan Darrel Cetta-- berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah. Kegiatan ini masih dalam rangkaian mengisi liburan Darrel Cetta. Soalnya kalau selama libur dia hanya tinggal di rumah, kasihan. Kunjungan ke Taman Mini menurut kami juga pas.
Taman Mini adalah tempat yang tak akan pernah habis untuk dijelajahi. Pertama, udaranya cukup segar. Kedua, Taman Mini adalah tempat yang pas untuk wisata edukasi: dari museum, taman, Keong Mas, masjid At Tiin, hingga berbagai pusat pengetahuan. Ketiga, selama tiga bulan ini, paling banter kami hanya ke Snow Bay, lokasi permainan air yang masih gres di Taman Mini. Di situ pula Darrel merayakan ulangtahunnya ke-7, bersama teman-temannya. Kali ini kami ingin mengenalkan pada Darrel berbagai sudut lain mengenai Indonesia.


Taman Mini tak begitu jauh dari rumah kami yang terletak di Jaticempaka –kelurahan terluar di Provinsi Jawa Barat, yang menempel wilayah Pondokkelapa, Jakarta Timur. Hanya sekitar 10 Kilometer, 30-an menit dengan mobil, melalui Jalan Jatiwaringin Raya. Kami datang di pagi hari. Tujuannya memang untuk berolahraga sepeda.
*****
Menyediakan sepeda merupakan salah satu cara TMII untuk menyesuaikan dengan perubahan jaman. Tatkala nggenjot sepeda lagi jadi trend, TMII ikut menyediakan fasilitas naik sepeda. Maklum, ini eranya orang naik sepeda sebagai bagian dari gaya hidup.
Sewaktu di Yogya, saya naik sepeda karena bapak ibu memang tidak punya rejeki yang cukup untuk membelikan saya sepeda motor. Begitu pula dengan teman-teman saya di era 1980-an itu. Kalau kegiatan saya waktu itu diberi istilah sekarang, mungkin namanya ‘’bike to school’’.
Di Pekalongan, hingga sekarang, buruh pabrik tekstil naik sepeda karena ya memang itu mampunya. Dapat sehat, dapat teman, dan dapat murah. Di Bantul, tiap hari tukang-tukang batu naik sepeda ke arah Yogya. Kalau dalam bahasa Jakarta sekarang, para tukang di Bantul dan para buruh di Pekalongan itu masuk kelompok ‘’bike to work –alias B2W’’.




Tapi di era sekarang, orang naik sepeda bukan berarti tak mampu beli sepeda motor. Lihat saja, orang-orang yang menggowes sepedanya sering kali memboncengkan sepedanya di mobil. Lalu di lokasi tertentu, sang majikan turun, menggenjot sepeda. Si sopir diberi tugas mengawal si bos.
Ini mungkin jaman yang kebolak-balik. Dulu orang beli handphone untuk bicara. Tapi sekarang, kadang orang tidak mau bicara dengan handphone. Maunya bersms atau beremail… Hehehe…
Di Indonesia, kegemaran bersepeda sempat meredup. Namun kini muncul lagi, seiring kesadaran masyarakat akan perlunya lingkungan yang sehat. Muncullah berbagai klub bersepeda: Bike to Work, Dubic, Army Cycling Club, Suryadharma Cycling Club, Trijata Cycling Club, dsb. Boom kegemaran bersepda bisa dilihat di jalan protokol Jakarta, tatkala car free day.
Saya punya beberapa teman yang termasuk penggila bersepeda. Wikanto Atmanto, teman SMA di Yogya yang kini bekerja di Bank CIMB Niaga, amat gemar nggenjot kereta anginnya. Lihat saja foto-foto di facebooknya. Foto dia naik sepeda di Parangtritis, Candi Boko, di Yogya, di BSD, semua terpampang. Lengkap dengan helmnya. Kawan saya yang lain, Agung Primanto, juga begitu. Ia sering memajang status di facebooknya: ‘’ayo nggowessss…’’



Adiknya Mommy Uni Lubis, namanya Om Andi Lubis, juga hobi bersepeda. Beberapa kali kami janjian dengan dia bertemu di Jalan Thamrin, tatkala jalan itu dibebaskan dari kendaraan bermesin milik pribadi. Ia juga pernah ke Taman Mini, untuk bersepeda.
Saya juga termasuk penggowes, walau bukan maniak. Tiap hari Minggu, saya mengayuh sekitar 30 Kilometer. Namun hari Minggu 11 Juli ini, saya hanya menyusuri area sekitar 3 Kilometer, mengitari area dalam Taman Mini. Sepedanya beroda empat. Bisa ditumpangi tiga orang.
Jalur di dalam Taman Mini lumayan enak. Jalannya halus, aspalnya utuh. Namun, hati-hati. Jalan untuk sepeda masih berbaur dengan bis-bis besar, mobil pribadi, sepeda motor. Ada kalanya mereka jalan ngebut. Sebagian dari mereka mengemudi seperti terburu-buru. Sama sekali tidak memberi kesempatan sepeda untuk berbelok. Apalagi bis-bis yang datang berombongan. Pokoknya sangat berbahaya.
Hari ini kami mendapat kesulitan, hanya sekadar untuk berbelok kanan. Rombongan bis Hiba Utama sama sekali tidak mengijinkan kami untuk memotong jalan.. Apa boleh buat, kami harus menunggu lebih dari enam bis itu lewat lebih dahulu..
Di Ancol, pengelola kawasan wisata sudah menyediakan trek khusus bagi pengayuh sepeda.
*****
Saya akan mengutipkan di sini tiga manfaat bersepeda, yang saya kutip dari situs http://www.metrotvnews.com/index/Nikmati-3-Manfaat-Sehat-Bersepeda.
1. Membakar kalori tubuh!

Sudah sempat dibahas di atas, bahwa bersepeda akan membantu membakar kalori tubuh. Berapa banyak kira-kira kalori yang dibakar? Sebagai contoh, seorang wanita dengan berat tubuh 50,39 bersepeda sejauh 19-22 kilometer dalam waktu satu jam. Maka dalam satu jam tersebut ia telah membakar 488 kalori tubuhnya. Memang tak semua orang mengalami pembakaran jumlah kalori yang sama, semua tergantung pada berat tubuh dan kelebihan lemak yang dimiliki. Namun, rata-rata bersepeda selama 60 menit setiap hari akan membantu membakar kurang lebih 300-500 kalori tubuh.

2. Melatih semua otot tubuh!

Tak hanya otot kaki, tangan dan perut saja, namun seluruh otot tubuh bagian atas pun juga dilatih. Bahkan menurut Erik Moen, seorang terapis fisik yang kerap menangani para atlit, mengatakan bahwa jantung juga ikut berlatih dengan bersepeda ini. Saat berpacu di atas sepeda, denyut jantung turut berpacu sesuai usia dan kayuhan, seperti dilansir oleh Womenshealth.

Namun perlu dicermati, untuk Anda yang mengidap asma atau penyakit jantung, selalu konsultasikan dengan dokter Anda sebelum berpacu di atas sepeda. Masing-masing tubuh memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai kondisinya.

3. Sebagai relaksasi tubuh

Banyak yang berpikir dengan berlatih dan berolahraga maka tubuh akan lemas dan tak berdaya. Asumsi ini tak sepenuhnya benar, karena dengan berolahraga secara rutin, justru tubuh akan lebih segar dan bugar. Apalagi peredaran darah akan jauh lebih lancar, sehingga oksigen dapat tersalurkan pada seluruh bagian tubuh dengan efektif.

Rasa lemas yang dialami muncul hanya pada beberapa hari pertama saja, namun jika Anda sudah rutin melakukannya, maka otot akan lebih kuat, dan tubuh lebih bugar.

TIPS SEHAT:

* Saking asyiknya bersepeda, kebanyakan orang akan lupa bahwa bersepeda adalah olahraga yang akan menggerakkan hampir seluruh otot tubuh. Oleh sebab itu, pemanasan seringkali dianggap remeh dan dilupakan. Hati-hati, pemanasan sangat penting dilakukan sebelum melakukan suatu kegiatan. Untuk itu pastikan bahwa Anda melakukan pemanasan yang benar sebelum mulai bersepeda.
* Konsumsi air mineral yang cukup agar tubuh tak kehilangan ion-ion tubuh. Atau konsumsi jus buah yang kaya akan vitamin dan nutrisi lainnya.

Bersepeda di pagi hari atau berangkat ke tempat kerja, Anda bebas menentukan waktunya.Happy bike to work!
*****
Situs Taman Mini () menyebutkan, penyewaan sepeda bisa didapat di sudut kanan Parkir Utara, berdekatan dengan Desa Seni dan Kerajinan. Tempat ini menawarkan berbagai jenis sepeda yang disewakan mulai dari sepeda anak hingga MTB untuk orang dewasa. Bahkan ada juga sepeda tandem, yakni satu sepeda dengan dua setir dan dua pasang pedal untuk dikendarai berdua. Bisa lebih mudah dan ringan ketika mengayuh sepedanya. Tarif sewa sepeda ada beragam dan semuanya murah meriah, mulai dari Rp. 7.000 hingga Rp. 15.000-an per jam.
Bagi pengunjung dari luar daerah, informasi itu pasti kurang lengkap. Menemukan Taman Mini saja sudah prestasi sendiri, apalagi mencari lokasi Parkir Utara. Tak mudah untuk mengenali mata angin bagi pengunjung. Ada baiknya pengelola Taman Mini melengkapi website-nya dengan peta.


Hari ini kami menyewa sepeda beroda empat. Sewanya Rp 40.000 per jam. Harus cukup sabar untuk mendapatkan sepeda itu. Kami harus antre…
Jalanan yang terasa ringan bila ditempuh dengan mobil ternyata tak gampang bila disusuri dengan sepeda. Total berat kami bertiga sekitar 160 Kilogram… Wow, pantas harus berkeringat habis. Beberapa kali kami berhenti. Mula-mula di depan anjungan Aceh. Lalu di depan Istana Anak-anak. Di parkiran. Pokoknya, di banyak tempat lah…
Bagaimana membersihkan badan setelah berkeringat, juga masalah tersendiri di Taman Mini. Tidak ada toilet atau tempat mandi yang memadai. Hampir semuanya jorok. Tidak ada toilet yang bersih, wangi, terawat. Banyak toilet yang rusak, keran airnya tidak mengucur, dan sampah bertaburan, termasuk toilet di dekat tempat penyewaan sepeda di depan Snow Bay. Pokoknya cukup menjijikkan. Padahal, untuk masuk ke Taman Mini, pengunjung harus membayar Rp 9.000 (dewasa) plus Rp 10.000 (untuk mobil).




Saya heran, kenapa ya untuk ke toilet pengunjung harus membayar Rp 1.000? Duitnya masuk ke mana? Duit Rp 1.000 tidak besar, untuk ukuran sekarang. Tapi dengan kondisi toilet yang amburadul begitu, biaya masuk toilet Rp 1.000 terasa mahal. Pertanyaan: jadi siapa yang bertanggungjawab merawat toilet? Servis apa yang disediakan pengelola Taman Mini?
Februari lalu tatkala ke Singapura, kami bisa ke sembarang toilet di seluruh penjuru negeri dengan nyaman. Setiap toilet terasa wangi, ada sabun untuk cuci tangan, ada kertas untuk membasuh, plus ada pengering elektrik. Pengelola Taman Mini harus belajar banyak. Tak perlu malu ngangsu kawruh ke Singapura.

No comments: