Search This Blog

Loading...

Sunday, July 04, 2010

BERKUNJUNG KE MUSEUM alias VISITING MUSEUM



KAWAN akrab saya, Sigit Widiyanto, adalah seorang pejabat di Direktorat Pembangunan Karakter Bangsa, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Ia pernah bercerita pada saya, tahun ini Indonesia menggerakkan ‘’Tahun Kunjungan Museum’’. Departemennya, yang memang bertanggungjawab dalam urusan permuseuman, mewajibkan setiap pegawai yang melawat ke daerah juga harus berkunjung ke museum.
Himbauan itu rasanya patut kita dukung. Museum kita rata-rata sepi. Padahal bangunannya didirikan dengan dana cukup lumayan besar. Peninggalan yang disimpan juga sangat berharga. Namun karena kurang publikasi, juga kurang kampanye pentingnya museum, banyak di antara museum itu yang hanya jadi onggokan monumen sepi.
Di kota kampung halaman saya, Jogjakarta, ada banyak museum. Belum semuanya saya kunjungi. Museum di Jogja, di antaranya: Museum Perjuangan (Bintaran), Museum Sonobudoyo (Alun-alun Utara), Museum Affandi (dekat Kali Gajahwong), Museum Batik, Museum Tembi, Museum Puro Pakualaman, Museum Kereta, Museum Keraton Jogjakarta, Museum Pangeran Diponegoro, Museum Benteng Vredeburg, Museum Nyoman Gunarsa, Museum Dirgantara, dsb. Pokoknya buanyak sekali.



Seingat saya, saya baru berkunjung ke Museum Sonobudoyo, itupun ketika SMP, alias lebih dari 30 tahun lalu; Museum Perjuangan (lebih parah lagi, ini ketika masih SD sering main ke situ, alias 40 tahun lalu). Yang paling gres adalah ke Museum Kereta Keraton Jogja, lebaran tahun lalu.
Saya tidak yakin apakah kawan-kawan saya di Jogja sudah menjelajah berbagai museum itu.
*****
Akhir Juni-awal Juli ini, anak saya, Darrel Cetta, liburan sekolah. Tema yang kami pilih adalah ‘berkunjung ke museum’. Kunjungan pertama adalah ke Museum Satria Mandala, di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta. Ini adalah museum yang menyimpan berbagai peninggalan penting milik TNI, baik Angkatan Laut, Angkatan Darat, maupun Angkatan Udara.
Museum ini dikelola Pusat Sejarah TNI. Buka tiap hari, kecuali Senin, dari jam 08.00 hingga jam 14.30. Tempatnya gampang dijangkau. Insya Allah siapapun tidak akan tersesat untuk mencari Museum Satria Mandala.


Peninggalan TNI di awal kemerdekaan mendapat tempat cukup luas. Yang paling banyak adalah peninggalan Panglima Besar TNI Jendral Soedirman. Mulai dari bekas dipan, tandu, mobil, penghargaan, surat kematian, tiruan jas, hingga foto-foto perjuangannya semasa di rumah tinggalnya, di Bintaran, Jogjakarta, dipampang.
Peninggalan Jenderal Urip Sumohardjo juga mendapat tempat cukup lapang. Ada meja kerja, foto-foto, senjata, yang pernah dipakai Pak Jenderal. Juga ada lukisan Pak Urip tengah memimpin upacara. Beliau duduk di atas kuda, di tengah pasukan. Gagah.
****
Di lantai bawah, ada ruangan senjata. Di sini disimpan berbagai peralatan pembunuh yang dimiliki TNI mulai dari awal perang kemerdekaan, era 1950-an, dan era pemberantasan gerakan separatis. Ada stand gun, maksudnya senjata otomatis yang diberi besi penyangga, yang bisa mengeluarkan rentetan peluru dalam jumlah banyak tiap menitnya.
Ada juga senjata legenderis, AK47. Ini bedil otomatis bikinan Uni Soviet –kini Rusia—yang dipakai oleh hampir seluruh kesatuan di dunia: Vietnam, Indonesia, Myanmar, Malaysia, China, hingga Libya. Kelompok di Aceh yang digerebek Densus 88 tempo hari, yang dituding merupakan penerus kelompok Jamaah Islamiyah, juga berlatih menggunakan AK47.
Era awal Bung Karno memang ditandai dengan kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet. Maka, lumayan banyak senjata bikinan Soviet yang dipamerkan. Selain AK47, juga ada ranjau laut, peluru kendali, tank, duplikat kapal, yang dibuat Soviet.
*****
Sebetulnya ada banyak lagi yang bisa dipamerkan, entah kenapa tidak banyak gambarnya. Contohnya, operasi pembebasan teroris Woyla, yang dipimpin Jenderal Benny Moerdani (almarhum). Kliping dan artikel soal operasi legendaris ini lumayan banyak tersebar. Pelakunya juga banyak yang masih hidup, baik yang di pihak terorisnya maupun tentaranya. Film operasi Woyla juga bisa dicarikan di TVRI. Entah kenapa, kegiatan operasi ini tidak dipajang sama sekali.
Kegiatan Operasi Seroja di Timor Timur juga sama sekali tidak dipasang. Timor Timur kini memang sudah jadi Timor Leste. Tapi, biarkanlah perubahan Timor Timur jadi Timor Leste itu urusan politik. Namun operasi TNI ke wilaya yang pernah jadi provinsi ke-27 itu tetap menarik untuk dicatat.

Kegiatan TNI dalam memberantas Gerakan Kahar Muzakkar, PRRI Permesta, DI TII Kartosuwiryo, juga tidak dipajang. Saya memang tidak tahu alasan pemilihan tema yang dipajang. Sebagai orang luar saya hanya merasa, keingintahuan saya tidak terpenuhi.
Keberhasilan TNI sebagai Pasukan Perdamaian PBB juga tidak ada. Foto-foto Panglima TNI, serta foto para kepala staf angkatan, dari masa ke masa, juga tidak ada.
Dua tahun lalu saya ke Singapura. Salah satu acaranya adalah berkunjung ke Museum Nasional. Rasanya kita tahu, dari sisi perjuangan untuk meraih kemerdekaan, apa yang dilakukan Indonesia jauh lebih banyak, jauh lebih berwarna, jauh lebih berliku, ketimbang negeri tetangga. Korban jiwa dan raga yang diderita Bangsa Indonesia jauh lebih banyak.
Namun museum yang ditampilkan Singapura jauh lebih lengkap. Lebih berwarna. Digarap lebih profesional.
Kesan yang muncul setelah membandingkan Museum Nasional Singapura dan Museum Satria Mandala: oh, perjuangan rakyat Singapura untuk mencapai kemerdekaan sungguh luar biasa…. Kesan salah ini muncul lantaran museum kita tidak dikelola dengan baik.
********
Memang banyak hal yang masih bisa diperbaiki dari Museum Satria Mandala ini. Yang pertama, soal kelengkapan tema yang ditampilkan. Karena ini era keterbukaan, ada baiknya Pusat Sejarah TNI mengundang masyarakat umum, misalnya media massa, untuk merumuskan tema apa saja yang masih harus ditambahkan.


Kalau saya diminta memberi usulan, saya akan menyampaikannya dengan senang hati. Teman-teman wartawan dan teman-teman yang biasa menangani marketing, seperti di biro iklan, pasti tahu mana tema yang laku dijual ke publik dan mana yang bukan.
Audio dan video sangat menentukan keberhasilan penyampaian tema. Dalam hal ini, Museum Satria Mandala masih sangat kurang menggarap hal ini. Banyak kegiatan operasi TNI yang bisa ditampilkan gambar videonya. Saya rasa TVRI punya rekaman kegiatan TNI di Timor Timur, Operasi Kahar Muzakkar, pemberantasan OPM Papua, dsb.
Ada baiknya bila disediakan ruang khusus untuk melihat film. Atau mungkin, cukup di tiap tema disediakan pojok film dan audio.
******
Untuk bapak pengelola museum, ada lagi usulan perbaikan yang mendasar. Selain AC yang ‘’kurang niat memberi kedinginan’’, juga ada masalah lain. Ketika tengah di museum melihat senjata, tiba-tiba anak saya, Darrel Cetta, mengeluh kebelet pipis.
Saya bergegas ke toilet. Tapi langkah saya terhenti oleh tulisan di depan pintu: ‘’WC RUSAK’’.

1 comment:

Icho Ahmad said...

Mas Iwan, Mbak Uni & Darrel sudah pernah ke Museum Polisi Trunojoyo ??
Mestinya Satria Mandala, mengikuti gaya Museum Polisi Trunojoyo, yang punya ruang theater yg nyaman yang.
Dan kita bisa nonton pemutaran film2 Polisi membasmi kejahatan .

Trus kisah2 Polisi masa lampau juga bisa di lihat via monitor layar sentuh . Anak2 saya sangat menikmatinya