Search This Blog

Loading...

Wednesday, December 21, 2005

Melihat KL


SELAMA empat hari, dari Rabu (21 Desember 05) sampai Sabtu (25 Desember 05), kami sekeluarga berkelana ke Kuala Lumpur. Ini ibukota Malaysia, yang menurut hikayat, di masa lalu hanya merupakan darah antah-berantah. Tambang timah, terpencil, dan sepi.

Kini, Kuala Lumpur adalah kota megapolitan. Luar biasa. Dengan penduduk yang hanya 18 jutaan, kurang dari 10% total rakyat Indonesia, Malaysia masih terasa sepi. Kuala Lumpur begitu mengesankan lalu lintasnya. Tak ada macet. Jalanan terasa lengang, sekalipun itu di jam macet.

Mas Bambang Susantono, kawan saya yang juga dikenal sebgai Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, mengirim kolom soal busway, tatkala saya sudah sampe di KL. ‘’Mas, kolom sudah sampai. Mohon dibaca,’’ katanya. Ketika saya jawab bahwa saya tengah di KL, ia menjawab balik, ‘’Tolong coba monorail, light train, juga stasiun transfer Masjid Jamek…’’ katanya.

Mas Bambang Susantono memang orang yang sangat memperhatikan transportasi. Maklum, ia doktor transportasi. Perhatiannya pada angkutan massal luar biasa. Apa yang dia katakan bener. KL memang wuih… Jalanan bagi pejalan kaki, lebar. Nyaman. Di samping itu, orangnya, entah kenapa, lebih disiplin ketimbang warga Jakarta. Padahal sama-sama ras melayu lo…
****
Kami berangkat menggunakan Lion Air, kode penerbangan JT 0282. Berangkat dari Jakarta jam 10.00. ‘’Kok sepi ya,’’ kata Opung. Opung adalah kakeknya Darrel. Ini ayahnya mommy. Nama lengkapnya Zulkifli Lubis, SH. Beliau pensiunan hakim, yang pada 18 Desember ini berulangtahun ke-64. Opung dilahirkan di Medan, dan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Sepi? Sekilas memang tampak begitu. Sewaktu kami sampai di ruang tunggu, hanya ada lima penumpang. Itu yang membuat Opung berkomentar demikian. Nyatanya tidak. Kami segera dipindah ke terminal pemberangkatan. Baru tahu: ternyata penumpang yang datang lebih awal sudah berada di situ lebih dulu.

Perjalanan ke KL ini juga dalam rangka ul-tah Opung. Di usianya yang sudah sepuh, beliau baru sekali berjalan-jalan ke luar negeri, yakni sewaktu naik haji. Dengan begini, kan Opung sudah bisa merasakan punya paspor.

Tak hanya Opung. Darrel juga. Di foto tampak Darrel membuka paspornya. Tak gampang lo untuk mendapatkan surat penting itu.

Tante Atik, yang mengurus paspor untuk Azul, harus membayar Rp 500an ribu ekstra, tanpa kwitansi. Karena Tante Atik orang baik, ia hanya bilang, ‘’Yah, daripada ngurus ke Karawang, ongkosnya juga mahal.’’

Sebagai pemegang KTP Bekasi, kami, termasuk Tante Atik, juga harus mengurus paspor ke Karawang. Cukup jauh ya? Sering lama juga lo. Karena di situ harus bersaing dengan para pegawai asal Korea Selatan, Jepang, India, yang bekerja di pabrik-pabrik di wilayah Bekasi. Entah kenapa mereka bisa cepat. Semenatara saya dan mommy, sewaktu mengurus paspor bulan Juni lalu, butuh waktu dua hari. Kami datang pagi jam 9, baru bisa difoto jam 16 (menunggu 7 jam bo!!!). Itu pun, paspor baru bisa diambil keesokan harinya.

Kalo Darrel dan Opung harus mengurus begitu, waduh… betapa kasihannya dia. Maka, sebelum berangkat, mommy menelepon dulu ke kenalannya di Departemen Kehakiman. ‘’Tolong dibantu ya. Biar ngurusnya bisa cepat.’’

Alhamdulillah, telepon itu manjur. Proses mengurus paspor bisa selesai kurang dari satu jam. Mbayarnya sih tetap, karena yang kami minta cuma jangan diperlama. ‘’Coba mom, kalo semua orang bisa mendapat rekomendasi pejabat departemen kehakiman, betapa lancarnya urusan imigrasi..’’

Berangkat jam 7.30 pagi, jam 11 mommy sudah mengirim SMS: urusan paspor sudah beres. Alhamdulillah.
*****
Di dalam pesawat, Darrel duduk di deretan kursi yang bertiga: dengan mommy dan Tante Agustina. Ayah dan Opung duduk bersebelahan. Penerbangan ke KL dari Jakarta ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit.Wuah, sewaktu di pesawat, Darrel tak pernah berhenti berteriak. Malu deh pada penumpang lain.


Maemnya juga tak pernah berhenti. Pokoknya, ia produktif banget. Sampai saya khawatir, jangan sampai ia kegemukan.

Darrel tak menggunakan pampers. Karena itu, satu jam setelah terbang, saya dan mommy kawatir: jangan sampai ia ngompol. Maka, Darrel pun dibujuk untuk pipis.

‘’Ayo.. pipis,’’ kata mommy dan ayah. Eh, ia nggak mau.
‘’Aku tidak mau pipis,’’ katanya sambil berteriak.
Pantas ia berontak tak mau pipis. Karena kursinya sudah basah…
******
Jam 11.30 waktu Jakarta kami mendarat di KL International Airport. Waktu lokalnya jam 12.30. Kami menggunakan kereta api, untuk menuju tempat imigrasi dan pengambilan bagasi. Semuanya sebetulnya nyaman. Airportnya bersih. Tak ada yang merokok.

Tapi, karena jumlah penumpang asing yang datang banyak betul, antrean pun panjang banget. Darrel tak betah. Sewaktu antrean di imigrasi, ia malah berlari ke sana- ke mari. Saya dibikin capek. Antreannya lama sih, sekitar 30 menit.
*******
Hotel Prince tempat kami menginap nyaman sekali. Kami menggunakan hotel apartemen. Ada dapur, tiga kamar tidur, dua televisi. Ada kulkas, dan peralatan masak yang lengkap. Rasanya seperti di rumah.

‘’Aku mau lo, punya rumah tinggal begini. Kan cukup..’’ kata mommy.
Memang sih. Kalau punya duit, memiliki apartemen memang pantas untuk dipertimbangkan.

Dengan tinggal di apartemen, persoalan makan, minum, dan kebutuhan lain jadi terasa nyaman. Mommy dan tante bisa masak. Tidak perlu jalan ke luar hotel, atau makan di luar.
*******
Kami pergi ke Petronas Tower di sore hari. Tidak naik, hanya ke gedung perbelanjaan di bawahnya. Untuk makan dan belanja makan.
‘’Ayah, apa ini?’’ tanya Darrel.
Ia menunjuk pohon natal dengan lampu warna-warni di tengah.
‘’Itu pohon natal,’’ jawab saya.
‘’Natal apa?’’

Walah.. Susah njawabnya.
Kami duduk di sekitar air mancur, di ruangan antara Hotel Mandarin dengan pusat perbelanjaan. Air mancurnya seperti di bundaran HI, cuma lebih banyak dan lebih tinggi.
Agustus lalu, saya juga ke Hotel Mandarin KL, ikut seminar pupuk. Saya diundang Pak Arifin Tasrif, direktur utama PT Petrokimia Gresik, yang saya kenal baik.

Maka, ketika saya datang lagi kali ini, saya masih ingat beberapa lokasi tempat saya dulu makan. Misalnya, Fish Market. Ini restoran makan asal Manhattan, Amrik. Enak, tapi cukup mahal. Harganya kalo dirupiahkan mencapai Rp 100an ribu.
********
Di Petronas Tower, saya harus berlari-larian terus mengejar Darrel. Ia menggunakan etalase toko, juga baju-baju yang digantung, sebagai alat untuk mengajak saya main petak umpet. Capeknya… Memang sih, usia tak pernah bohong.

Sekitar dua jam di situ, kami kemudian pulang. Naik taksi. Sesampai di hotel, kami beristirahat. Tak terasa, hari pertama ini bikin capek.

No comments: