Search This Blog

Loading...

Tuesday, December 27, 2005

Dari Karawang Menuju Genting

MENGURUS PASPOR



DI tulisan awal, kami sudah menulis mengenai bagaimana mengurus paspor. Cepat, tak membutuhkan prosedur ruwet, itu kalo menurut aturan wajarnya. Namun, prakteknya untuk mengurus paspor dibutuhkan kesabaran. Kawan saya, I Made Suarjana, yang mengurus paspornya di Yogya, harus bolak-balik dua kali. Artinya ia harus membayar tiket kereta dua kali pulang pergi. Di Kantor Imigrasi Yogya memang ada pengumuman berbunyi: paspor jadi dalam waktu sepekan. Kalau di Karawang, dalam tempo empat hari. Kurang jelas, apa yang membuat lamanya pemrosesan buku saku setebal belasan halaman itu.

Kami bersyukur, mommy punya kenalan pejabat tinggi di Departemen Hukum. Sehingga ketika datang di Karawang, cukup berhahahihi sebentar, ia bak lewat jalan tol bebas macet.

Jam 7 pagi, mommy berangkat. Pada jam 8.30 ia sudah mengirim SMS. ‘’Urusan cepet. Lancar. Tinggal menunggu tanda tangan Kepala Imigrasi, yang tengah menghadiri pelantikan Bupati Karawang.’’ Eh, jam 10.30, ia mengirim SMS kedua: ‘’Urusan paspor beres. Sekarang aku otw home. Nanti ikut makan siang di TIM.’’

Kata mommy, selama mengurus paspor, Darrel tidak rewel. Waktu disuruh foto, nurut. ‘’Disuruh miring ke kiri, ke kanan, tidak berontak,’’ katanya. Padahal, menyuruh Darrel untuk berfoto bukan perkara gampang. Ia lebih suka bergerak, berlari-lari, sehingga gambarnya kabur. Kalopun menghadap kamera, badannya acap kali menunduk.

Syarat untuk mengurus paspor cukup simpel. Untuk anak, hanya dibutuhkan akta kelahiran serta kartu keluarga orang tuanya. Untuk dewasa, Anda harus menyertakan akta kelahiran atau ijazah terakhir, ktp, kartu keluarga. Masing-masing syarat, baik untuk anak maupun dewasa, harus disertakan kopiannya. Dulu, kita masih harus menyertakan foto beberapa lembar, berbagai ukuran. Kini tak diperlukan lagi, karena foto langsung dijepret di kantor imigrasi. Ongkos resmi membuat paspor, Rp 260.000 per orang, di Karawang.

Anak sebetulnya tak wajib memiliki paspor sendiri. Identitasnya bisa ditempelkan di ibunya. Darrel semula juga akan disertakan di paspor mommy. Tapi, seorang kawan mommy mengingatkan, sebaiknya ia dibuatkan paspor terpisah. ‘’Kan belum tentu ia perginya dengan mommynya,’’ kata si kolega itu.

Benar juga.
******
Bila Anda di luar negeri, paspor harus selalu dibawa. Jangan sampai hilang, karena ini merupakan bukti identitas diri yang berlaku secara internasional. Sewaktu di Malaysia, kami juga selalu mengantongi buku saku berwarna hijau itu.


Di KL, acara kami hampir selalu tetap: pagi bangun, sarapan, setelah itu berkemas-kemas untuk keluar. Sesiangan kami keluar. Sore hari kami pulang. Istirahat sebentar, lalu malamnya keluar lagi.

Di hari kedua, kami ke Genting Highlands, kawasan sekitar 1 jam perjalanan dari KL dengan bus, tempat berjudi. Banyak cara untuk menuju ke sana. Salah satu di antaranya adalah melalui Pasarakyat, terminal yang mempunyai warung serba ada gede seperti Goro. Warung di Pasarakyat tak dilengkapi AC untuk menekan ongkos. Etalase-nya pun dibuat dari bambu. Antik sekaligus murah. Warung Pasarakyat diresmikan Yang Berbahagia Datuk Mahathir Mohammad pada 2002.

Dari Prince Hotel kami naik taksi untuk mencapai Pasarakyat. Ongkosnya RM 4. Kalau mau jalan kaki sebetulnya juga bisa. Apalagi terminalnya lebar, hawanya juga adem. Tapi Darrel pasti berontak kalo diajak jalan jauh begini.


Ongkos menuju Genting RM 25 per org dewasa. Anak usia di bawah 5 tahun gratis.. Kalo dirupiahkan sekitar Rp 67.000. Biaya ini termasuk untuk bus dan kereta gantung pp, masuk ke taman tematis, makan di salah satu restoran, serta ikut permainan di luar ruangan. Jauh lebih murah ketimbang biaya ke Dunia Fantasi atau Sea World. Padahal, pengalaman yang kita dapat termasuk luar biasa. Bis dipenuhi kakek dan nenek. “Mereka mau berjudi,” bisik Mommy. Kasino di berbagai tempat memang dipenuhi orang-orang sepuh yang mengadu peruntungan. Mommy pernah masuk ke Burswood casino di Perth. Yang main judi ecek-ecek macam black jack ya para nenek dan kakek.

Jalan menuju Genting saja lumayan jauh, juga menanjak. Naiknya lebih terjal ketimbang ke Puncak atau ke Patuk, Gunungkidul. Untuk mencapai Genting, kita harus menyambung perjalanan dengan kereta kabel, yang menjuntai di atas ketinggian 1.800 meter dari muka laut. Wow.. ini pengalaman mendebarkan. Keretanya berayun-ayun di atas jurang sedalam 200-an meter. Mendaki.


Tapi, kalau sudah terbiasa, tenang saja. Darrel senang betul. “Aku ngga takut. Mommy takut ya?” begitu katanya berulang-ulang. Untuk menenangkan mommy, Darrel memegangi tangannya. “Sekarang ngga takut lagi, kan” he..he… anak laki-laki betul dia! Kereta gantungnya sudah berumur puluhan tahun –pastinya saya belum tahu. Nyaris tanpa kecelakaan. Kalau pulangnya kemalaman, kabutnya tebal banget.

Setelah bergantung di kabel selama 15 menit, sampailah kami di Genting Highland yang tersohor itu. Petualangan di dunia hiburan dimulai.#

1 comment:

arispria, Juru Kunci Blog said...

Pantas janjian makan siang karena 'kalah taruhan' tertunda-tunda, karena yang diundang sedang 'bertaruh' di Genting Island.
;0