Search This Blog

Loading...

Monday, September 03, 2007

TAMAN MENTENG

BILA kita melewati Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, kita tidak lagi menjumpai kemacetan akibat mobil yang diparkir. Di masa lalu, terutama di jam makan siang dan sore sepulang dari kantor, Jalan HOS Cokroaminoto hanya tersisa satu lajur. Tiga lajur lainnya dipakai untuk parkir.

Kebayang kan, sempitnya? Apalagi, seringkali pengendara mobil harus berhenti sejenak, memberi kesempatan mobil yang mau parkir, atau meninggalkan parkiran.

Kini, kesemrawutan itu teratasi sejak Gubernur Sutiyoso membangun Taman Menteng. Bersamaan dengan dibongkarnya Stadion Menteng, Pemerintah Provinsi Jakarta membangun tempat parkir bertingkat di bekas stadion. Semua mobil dilarang parkir di badan jalan, seperti yang terjadi di masa lalu.

Di bekas ''tempat parkir'' itu, pemerintah Jakarta memasang pembatas dari beton untuk mencegah mobil yang mau parkir. Dan di ujung, Dinas Perhubungan Jakarta menempatkan mobil derek plus mobil DLLAJR yang siap menghalau siapa saja yang nekat memarkir mobilnya.

Bagi para pemobil, ini sungguh nyaman. Tapi para pemilik toko, saya kira mereka mengeluh. Dulu kalau mau belanja di Hero, atau Black Angus, kita bisa parkir di depan toko persis. Sekarang? Wah... jauhnya. Jadinya mending belanja di Carrefour, atau Hero di cabang lain.

Namun bagi kami, Taman Menteng sudah menjadi salah satu tempat favorit. Meski kami warga Jakarta coret --ini istilah kami untuk menyebut bahwa rumah kami 200 meter dari tugu perbatasan Jakarta-Bekasi-- Taman Menteng sudah beberapa kali kami datangi. Parkirnya enak. Aksesnya gampang. Lebih dari itu, ada kursi di sepanjang lintasan jalan. Kalau opung capek, Darrel letih, kami segera bisa memarkir pantat.
****
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso meresmikan Taman Menteng, Jakarta Pusat, pada akhir April 2007. Alias enam bulan sebelum lengser. Bekas markas Persija itu kini menjadi taman publik yang memiliki fasilitas olahraga, 44 sumur resapan, dan lahan parkir.

"Setiap kebijakan tidak bisa memuaskan semua orang, pasti ada yang menolak," kata Sutiyoso, ketika meresmikan ''penanda'' Jakarta itu. Awalnya, pembongkaran lapangan sepak bola itu ditentang banyak pihak. Namun Sutiyoso jalan terus.

Menurut dia, stadion itu sudah kumuh dan dikuasai oleh oknum yang bertanggung jawab, seperti lahan-lahan yang dipetak-petakan sebagai tempat kos, salon dan bengkel. "Uangnya lari ke oknum, " katanya.

Stadion Menteng tidak termasuk dalam 18 bangunan cagar budaya di Jakarta. Oktober 2006 stadion Persija di bongkar, aktifitas sepakbola dialihkan ke stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pengerjaan taman dilahan seluas 2,5 hektar itu menelan biaya Rp 30 miliar. "Semua anggaran dari APBD," ujar Bang Yos.

Kini, warga Jakarta memiliki taman baru di tengah kota, dengan fasilitas olahraga seperti lapangan basket, futsal dan voli serta 44 sumur resapan. Beberapa pejabat dan mantan pejabat tampak hadir dalam acara itu. Di antaranya, Fauzi Bowo, Ketua DPRD DKI Jakarta Ade Surapriatna, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta beserta mantan Gubernur Ali Sadikin, Wiyogo Atmodarminto dan Soeprapto.
*****

Stadion Menteng, yang kini sudah almarhum itu, adalah berkapasitas 10.000 penonton. Awalnya adalah lapangan yang didirikan tahun 1921 dengan nama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld). Stadion ini dirancang oleh arsitek Belanda, F.J. Kubatz dan P.A.J. Moojen. Dalam perkembangannya stadion ini kemudian digunakan oleh Persija.

Stadion sepak bola Persija di Menteng merupakan salah satu kebanggaan warga Jakarta dan paling bersejarah, baik dalam sejarah Kota Jakarta maupun persepakbolaan di Jakarta dan Indonesia. Banyak legenda pesepak bola Indonesia lahir di sini, seperti Djamiat Kaldar, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani.

Sejak tahun 1921, lahan seluas 3,4 hektar yang sekarang menjadi stadion Persija tersebut sudah digunakan sebagai tempat berolahraga orang-orang Belanda. Selanjutnya, stadion tersebut digunakan untuk masyarakat umum, dan pada tahun 1961 hingga saat ini digunakan sebagai tempat bertanding dan berlatih bagi Tim Persija. Pada 1975, Surat Keputusan Gubernur Jakarta Tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.

Sebelum menempati stadion Menteng, Persija telah melakukan berbagai program pembinaan seperti menggelar kompetisi klub anggota, kompetisi kelompok umur, latihan tim senior dan tim berbagai jenjang usia di stadion IKADA yang sekarang dikenal sebagai Monumen Nasional (Monas). Kemudian, seiring adanya program pembangunan Monas pada tahun 1958, stadion Persija dipindahkan ke stadion Menteng yang diserahkan secara langsung oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada tahun 1960.

Rencana Gubernur DKI Sutiyoso mengubah fungsi Stadion Menteng menjadi Taman Menteng berawal sejak 2004. Sekitar bulan September 2004, Dinas Pertamanan DKI Jakarta membuka sayembara desain Taman Menteng, ruang terbuka publik serba-guna. Sayembara menekankan pada tema penyelesaian masalah parkir melalui parkir bawah tanah dan ruang publik yang memiliki karakter kontemporer. Soebchardi Rahim dengan tema desain "Dual Memory" sebagai pemenangnya. Desain pemenang sayembara tentunya sesuai selera Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu menghilangkan stadion bersejarah yang sudah berumur 84 tahun itu. Sementara desain yang tetap mempertahankan keberadaan stadion dan memadukannya dengan taman interaktif yang serba-guna justru ditolak.

Sejak awal keberadaan stadion yang menjadi salah satu daerah resapan air di Jakarta Pusat itu sudah direncanakan pindah. Dari penekanan tema desain, menghadirkan parkir bawah tanah, jelas terlihat adanya upaya menghilangkan resapan air di kawasan itu.

Rencana menata Taman Menteng seperti itu pernah mencuat di saat Surjadi Soedirdja menjadi Gubernur DKI Jakarta (1992-1997). Namun, dengan pertimbangan akan merusak resapan air, Surjadi menolak rencana tersebut. Kelompok Studi Arsitektur Lanskap yang diketuai Yudi Nirwono Joga mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan terhadap rencana memindahkan Stadion Menteng dan menjadikan taman serba guna. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memedulikannya.

Kepala Dinas Pertamanan Provinsi DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan bahwa perkiraan biaya pembangunan Taman Menteng senilai Rp 45 miliar semuanya ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara pengelolaan pascapembangunan mengandung prinsip pembiayaan pengelolaan secara mandiri dengan bentuk badan pengelola dan alternatif kedua adalah kerja sama dengan pihak swasta.

Asisten Perekonomian Sekretariat Daerah DKI Jakarta Ma’mun Amin mengatakan, masa pengelolaan Stadion Lebak Bulus oleh Grup Bakrie dengan kontrak 20 tahun akan berakhir pada tahun 2010. Untuk pengambilalihan pengelolaan di tengah jalan, Pemerintah Provinsi DKI harus membayar uang kompensasi senilai Rp 13 miliar tidak secara tunai.

Hal tersebut dilakukan karena pengelola lama masih belum membayar fasilitas sosial dan fasilitas umum kepada Pemerintah Provinsi DKI atas Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Rencananya di Taman Menteng nanti akan terdapat sarana olahraga futsal, badminton, jogging, taman dan monumen sepakbola, serta gedung parkir tiga lantai berkapasitas 200 mobil. Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan Taman Menteng ini sebesar 32 miliar rupiah, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2006.

Pada tanggal 28 April 2007, taman ini diresmikan dan dikategorikan sebagai taman publik yang memiliki fasilitas olahraga, 44 sumur resapan, dan lahan parkir
******
Dengan segala pro kontra-nya itu, kini Taman Menteng sudah berdiri. Dan, tidak mudah untuk mengoptimalkannya, atau menjaganya. Gedung kaca yang diniatkan sebagai lokasi pameran hingga kini belum pernah dipakai. Kata salah satu teman yang menjadi pegawai kontraktor: panas sekali, meski AC dinyalakan. Sampah juga banyak terserak. Prasarana olahraga juga cepat rusak. Ring basket yang elok itu, misalnya, cepat reot karena diganduli....

Apapun, dengan pro kontranya itu, kami merasa bahwa Taman Menteng lebih enak dinikmati sekarang ini, ketimbang tatkala masih menjadi lapangan bola...

(reportase + Koran Tempo + id.wikipedia.org).