Search This Blog

Loading...

Friday, March 16, 2007

Tatkala Jakarta Banjir




TELEPON berdering-dering dari mbak Yeni, mbak Tiwi, Ibu di Yogya, juga Tante Atik di Libya. ''Piye mas, kebanjiran ora?''

Percakapan itu terjadi pada awal Februari lalu. Hari itu, 2 Februari 2002, Jakarta dilanda hujan deras banget, dari sore sampai sore berikutnya. Harinya Jumat. Gara-gara hujan, saya berangkat ke kantor siang-siang.

Untuk salat Jumat, juga terganggu. Sebagian jalan di komplek terendam air --lihat tuh, di gambar pertama. Hujan juga masih deras. Ketika sampai di masjid, khotibnya belum datang. Ia rupanya terjebak banjir. Sungai di samping masjid juga heboh: airnya meluap, arusnya deras. Wah...

Kami bersyukur, komplek kami, Permata Timur, di Jati Cempaka, 200 meter dari perbatasan Jakarta Timur-Bekas, bebas banjir. Bebas banjir tidak berarti kami bebas dari rendaman air. Di beberapa lokasi, air menggenang. Tapi maksimum 20 cm.

Jauh lebih menyesakkan adalah mereka yang tinggal di komplek-kompleks langganan banjir. Kawannya Mommy, namanya Machsus, tinggal di Pondok Karya, Jalan Bangka, Jakarta Selatan.
Rumahnya kerendam ''cuma'' dua meter. Ketika hujan sedikit reda, airnya menyusut hingga ''cuma'' sepinggang orang dewasa.

***
Rumah kami, alhamdulillah, tetap nyaman. Ada beberapa bocor. Di jalan depan rumah, ada air menggenang (lihat tuh, ada gambar mbak minah dan pak rejo). Di halaman belakang, air juga mengucur cukup deras. Tapi, alhamdulillah lagi, aman.

Di halaman belakang, persis yang menempel teras, air sempat naik hingga tinggal 5 centimeter dari teras. Saya sempat deg-degan. Sebetulnya sudah ada saluran air cukup besar, yang langsung membuang air di situ ke selokan. Tapi hari itu selokannya airnya luber. Jadinya, air hujan agak lambat terbuang.
****
Sumur resapan membuat air hujan dengan cepat teresap. Sewaktu membangun halaman belakang, kami membangun tiga sumur resapan. Ada batu besar, kerikil, ijuk, pasir, dsb, yang kami tanam di halaman belakang. Ilmu sumur resapan itu kami dapatkan dari internet. Kami buat saja, mengikuti gambar, langsung diterapkan.

Banyak orang yang tidak membuat sumur resapan. Alasannya macam-macam. Di antaranya, sumur resapan dinilai hanya membuang biaya. Memang, sumur resapan tidak bisa dilihat, sebagaimana kalau kita membeli pot, menanam anggrek, atau membuat pagar. Sumur resapan adanya di bawah tanah, jadinya manfaat langsungnya tidak terasa seketika.

Padahal, sumur resapan punya arti penting untuk menyerap air ke dalam tanah. Sehingga tidak semua air hujan harus menggelontor, masuk ke selokan. Ketika Jakarta didera banjir seperti awal Februari lalu, arti pentingnya sumur resapan digaungkan lagi. Sampai-sampai, Gubernur menyatakan, akan mendenda rumah tangga yang tidak membuat sumur resapan.

Yah, tapi nasi sudah terlanjur matang. Banjir sudah terjadi. Meski demikian, rasanya belum terlambat untuk membuat sumur resapan, bagi yang belum memiliki. Seperti halnya: belum terlambat membuat banjir kanal timur, belum terlambat mendandani situ-situ yang sudah mendangkal, dan belum terlambat meresikkan sampah di pintu air Manggarai.

Kalau di rumah saya air relatif aman, tidak demikian halnya dengan kompleks dekat rumah, Jatiwaringin Antilope. Air menggenangi jalanan, hampir satu meter. Air bertamu ke rumah-rumah, hingga lebih dari satu meter.

Pernahkah Anda merasakan air masuk ke rumah, lima centimeter saja? Risih. Badan kita rasanya gatal-gatal. Serba tidak nyaman.

Di Cipinang Muara, air sampai setinggi tiga meter. Sekali lagi, tiga meter!! Di Kelapa Gading, juga sekitar tiga meter. Di Kampung Melayu, Pengadegan (ini dekat kantor saya), juga hampir sama ketinggiannya.

Banjir di Cipinang membuat jalanan Kalimalang lumpuh total. Pemilik mobil di Cipinang Indah (ini komplek bagus lo!), memindahkan mobilnya ke pinggir jalan Kalimalang. Komplek Cipinang Indah memang mengenaskan. Rumah-rumah bagus yang mahal itu terletak di Cekungan, lebih rendah dari Kalimalang.

Ketika hujan datang, air langsung menggenang. Susah untuk mencari jalur keluar.

Banjir Jakarta memberi pelajaran penting, tak hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi warga. Setidaknya para warga disadarkan kembali akan pentingnya menjaga kebersihan. Juga akan arti penting bekerjasama dengan tetangga untuk membersihkan selokan.

6 comments:

Anonymous said...

Mas Iwan,

Apakah semua lokasi di Permata Timur bebas banjir? Kalau yang paling rendah genangan airnya di Permata Timur di blok/jalan apa?
Kebetulan saya sedang mencari rumah (LT sekitar 120-180 m2)di sekitaran Jatiwaringin. Barangkali punya info juga harga pasaran di daerah itu. Trims sebelumnya.

adji

IWAN QODAR HIMAWAN said...

Mas,
seluruh lokasi di permata timur bebas banjir. hanya saja, jalan di komplek sekarang lumayan rusak, karena developer blm mau memperbaiki.
saya tidak tahu persisnya berapa harga tanah/rumah di sekitar saya. di kampung belakang saya, tiga bulan lalu ada yang menjual tanah laku rp 800.000/m2. itu sertifikat. kalo di komplek saya kalo tidak salah sekitar Rp 1 juta/meter.
yang agak murah di komplek antilope (namanya jatiwaringin antilope). tapi saya tidak merekomendasi, karena jalan utamanya (jalan cendrawasih raya) banjir di musim hujan tinggi.
untuk cari informasi, mas adji enak kalo menelepon agen perumahan, untuk cek harga.
iwan

Anonymous said...

Mas Iwan,

Apakah jalan rusak karena ada genangan air sewaktu hujan?

Kelihatannya masih ada kegiatan pemasaran dari developer karena kantor pemasarannya masih buka. Aneh juga kalau developernya tidak segera memperbaiki jalan yg rusak ya?

Saya juga sudah cek ke Jatiwaringin Antilope. Waktu hujan deras hari Jum'at 2 pekan yg lalu ada lokasi yg terendam air hingga setinggi lutut orang dewasa.

Tadi saya jalan lewat dalam Perumahan Permata Timur I dan II. Sampai di kolam renang nyebrang jembatan. Lalu keliling-keliling dan balik nyebrang lagi. Omong-omong rumah mas Iwan yg di blok JJ sebelah mana? Siapa tahu ada rumah dijual yg cocok. Lumayan kan genangan airnya paling tidak cuma semata kaki...

adji

IWAN QODAR HIMAWAN said...

Mas Adji,
Rupanya Anda sudah akrab dengan wilayah Permata Timur ya? Hehehe.. Kemarin sore saya sengaja pulang cepat, agar bisa keliling kompleks dengan anak saya. Mungkin kita papasan waktu itu, cuma belum saling kenal.
Kerusakan jalan di Permata Timur saya pikir kombinasi dari faktor perawatan yang kurang, usia jalan, plus faktor cuaca. Sebelum musim hujan ini sebagian jalan sudah rusak. Setelah hujan, kerusakan makin parah.
Menurut kabar dari pengurus RT yang saya temui, developer kurang bertanggungjawab atas kerusakan jalan ini. Pemasaran masih jalan terus, tapi perbaikan jalan tidak ada. Yang menderita adalah warga. Jalanan rusak, tanpa perawatan, membuat lingkungan jadi kumuh... Harga rumah bisa jatuh.
Padahal dulu Permata Timur ini menjadi kompleks bagus lo di Jatiwaringin.
Rasanya perlu jalan pintas.. Namun ini pun juga tidak mudah. Sebagian warga enggan mengeluarkan uang untuk perbaikan jalan, karena mereka berpendapat, ini masih tanggung jawab developer.
Di blok JJ setahu saya belum ada rumah yang mau dijual. Tapi di blok HH, ini persis berhadapan dengan Blok JJ, ada rumah yang dijual. Di pojok, warna kuning. Agen perumahannya Ray White. Coba deh mas Adji tanya ke Satpam, rumah pojok tempat tinggalnya Pak Yudi. Di pagarnya digantungkan papan nama plus nomor telpon agen yang menjualkan.
Selamat berburu rumah. Semoga ketemu yang pas.
Iwan

Anonymous said...

mas, tolong dong minta gambar atau cara bikin sumur resapannya lbih detail. terima kasih

IWAN QODAR HIMAWAN said...

untuk bikin sumur resapan sebetulnya tidak sulit. ada beberapa postingan di internet. silakan klik: http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1611&Itemid=30, atau http://jalanku.multiply.com/reviews/item/7, atau http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/membuat-lubang-resapan-sendiri&channel=news%2Fperistiwa.
Tapi sekarang ada cara lain untuk menambah resapan air, dengan cara lebih mudah. Yakni dengan membuat lobang biopori. Prinsipnya buat lobang diameter 15-an cm, sedalam sekitar 1 meter, yang diisi sampah2 organik.
Silakan klik artikel di internet yang cukup melimpah. Ini bisa dikerjakan sendiri, dan murah. Saya lihat di TV One pekan ini, warga Cipinang Cemmpedak sukses menangkal banjir dengan pembuatan ribuan biopori. Dari biasanya banjir, setelah ada biopori air cuma setinggi 15 cm, itu pun di jalanan.