Search This Blog

Loading...

Wednesday, November 01, 2006

Lebaran 1427 H


LEBARAN ini, keluarga kami terpisah menjadi dua kubu. Kubu Senin dan kubu Selasa. Kubu Senin artinya ada kelompok yang berlebaran pada Senin 3 Oktober 2006. Kelompok ini anggotanya dua: ayah dan mommy. Kubu Senin lebih banyak pasukannya: Tante Agus, Mbak Mur, Sugeng, Opung, dan Eyang.

Darrel ikut siapa?
Tak jelas kubunya. Karena ia juga belum salat. Berdoa saja paling baru bisa ‘’Bismillalohmanilohim... Allahuakban...’’. Di usianya yang ke-3,5 tahun, ia belum bisa bilang ‘’r’’ dengan baik. Mohon dimaafkan kalau ia belum bisa melafalkan ‘’bismillahirrahmanirrahiim dan Allahu Akbar’’ dengan baik.

Pagi itu, ketika saya dan mommy sibuk berbenah untuk salat Idul Fitri, Darrel masih terlelap. Ia nyenyak di kamarnya. Tante Agus, Mbak Mur, dan Sugeng, juga masih di kamar. Dan Mbak Minah? Ia sudah ada di Purwokerto, pagi itu.

Saya dan mommy sudah sejak awal membuat keputusan: akan mengikuti jadwal idul fitri dan jadwal puasa mengikuti agenda PP Muhammadiyah. Mohon dimaklumi, di dompet saya ada kartu anggota Muhammadiyah. Sedang di dompet mommy yang hilang, ada kartu Aisyiyah.
***
Maka, di Senin pagi itu, kami –ayah dan mommy—bergegas Salat Idul Fitri. Rencananya, kami mau salat di halaman Giant, Jalan Jatiwaringin Raya, Pondokgede. Empat tahun lalu, tatkala Darrel masih dalam kandungan, kami salat Idul Fitri di Lapangan Parkir Timur, Senayan. Saya masih ingat, Muhammadiyah dan pemerintah tahun itu berbeda jadwal idul fitri-nya. Kami harus berjauh-jauh menempuh perjalanan ke Parkir Timur, untuk mencari tempat salat. Beruntung pula, khotibnya adalah Amien Rais.

Tahun itu, 2003, untuk kedua kalinya kami tidak mudik ke Yogya. Dokter melarang mommy naik pesawat terbang, karena lagi hamil muda. Kalau mau mudik pake mobil rasanya capek. Jadi, ya istirahat saja. Sebelumnya kami pernah tidak mudik pada 1997, ketika mommy harus operasi pengangkatan kista.

Pada tahun 2003, salat idul Adha juga berbeda jadwal –maafkan kalau saya lupa. Yang jelas kami salat di halaman toko grosir Giant, yang diselenggarakan oleh Pengurus Muhammadiyah Cabang Pondokgede. Jalan untuk menuju ke sana hari itu muacettt... Maklumlah, halaman sempit, sedang yang menuju ke Giant buanyakkk....
****
Tahun ini mommy tidak bisa ikut ke Yogya. Ia baru delapan bulan kerja di an-tv, sehingga belum boleh ambil jatah cuti.

Maka, keluarga Permata Timur mengirim dua jagoannya ke Yogya: Iwan dan Darrel. Si Iwan sebagai bapak, si Darrel sebagai anak. Wuah, pengalaman berlebaran hanya berdua sungguh mengesankan.

Kami naik Lion Air, jadwalnya terbang jam 13.40. Seperti biasa, Lion Air meminta penumpang datang dua jam sebelumnya. Kami diantar mommy dan Tante Agus.
Begitu ditinggal mommy, mulailah persoalan baru. Mengajak Darrel untuk antre check in saja susahnya minta ampun. Akhirnya hukum rimba berlaku. Lengannya saya pegang erat-erat. Ia tidak boleh pergi. Berontak-berontak lumayan keras, sampai akhirnya dia diam karena kecapekan.

Selesai check ini, kami menuju ruang tunggu. Anehnya, hingga jam 13.40, pengumuman boarding pesawat belum juga dikeluarkan.
Tak lama kemudian, barulah keluar cuap-cuap: karena masalah operasional di bandara Balikpapan, pesawat Lion Air kode JT558 menuju Yogya tertunda keberangkatannya.
Apa itu yang dimaksud dengan masalah operasional, saya tidak tahu. Yang jelas, Darrel makin rewel saja.

Diam lima menit saja, bagi Darrel sudah persoalan besar. Apalagi untuk menunggu dua jam. Dan itu pun molor hingga akhirnya empat jam. Lebih repot lagi, ini melewati jam makan siang. Perjuangan berat.

Ketika lagi menunggu, tiba-tiba datang serombongan keluarga yang dengan enaknya mengeluarkan makanan junkfood Kentucky Fried Chicken.
Begitu melihat itu, Darrel langsung teriak: ayah, aku mau makanan seperti ini....
****
Di Yogya, saya dan Darrel dijemput Pakde Joni dan Bude Yeni. Alhamdulillah. Karena capek dan lapar, saya dan Darrel langsung menuju rumah Tahunan, tempat tinggal pakde dan bude.

Hari kedua di Yogya, yaitu Selasa, diisi dengan silaturahmi ke Klaten. Pesertanya cukup banyak. Yangkung dan Yangti, pakde Joni dan bude, cita-bella-tifa (kok akhirannya ‘’a’’ semua ya??), dan keluarga dik Sigit.

Kami mampir dulu ke kediaman bu Warsito. Ini mertuanya Tante Atik, alias mamanya Om Ando. Rumahnya cukup luas, di Gedongkuning.

Bu Warsito kini sendirian. Pak Warsito telah wafat, kalau tidak salah Agustus lalu (semoga beliau dilapangkan jalannya oleh Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan mendapat berkah kesabaran). Bu Warsito kondisinya juga kurang sehat. Ketika ditemui, beliau harus duduk di kursi roda.



Sekitar 30 menit kami di situ. Setelah itu, ke rumah Bu Zaidan, ini mertuanya Bude Yeni, alias ibunya Pakde Joni. Di situ juga sekitar 30 menit.

Setelah itu, kami meluncur ke Klaten.
****
Hari Kamis, saya dan Darrel melihat Taman Pintar. Ini merupakan kawasan wisata bagi anak-anak, yang dibangun di bekas toko buku Shopping Center Sasana Triguna, di seberang SMP 2 Yogya.

Tempatnya sebetulnya lumayan menarik. Ada jembatan gantung. Ada roda putar.
Tapi, di cuaca terik seperti itu, bermain di Taman Pintar pada jam 13 sungguh menyiksa.
(Insya Allah, soal Taman Pintar akan kami lanjutkan di cerita berikutnya).

No comments: