Search This Blog

Loading...

Monday, July 24, 2006

Mencari Kodok di Dalam Gelap


KATAK adalah binatang yang cukup populer di negeri kita. Bukan saja karena suaranya yang ‘’kang-kung-kang-kung’’ di musim hujan amat memekakkan telinga. Namun, entah kenapa katak sering dijadikan bahan cerita yang tak ada habisnya.

Di masa kecil, kita sering mendengar suara lagu yang mungkin masih akrab bagi ingatan Anda. ‘’Lompatlah..lompatlah… KATAK-KATAK lompatlah…’’
Ibu kita, juga guru ngaji kita, berkali-kali mengingatkan agar diri kita senantiasa sadar akan kemampuan diri. Bila tidak, kita akan cilaka. ‘’Tuh, lihat. Kamu jangan sampai seperti katak yang ingin menjadi lembu…’’

Katak jadi lembu? Ini adalah kiasan yang menunjukkan binatang yang tak mau mengakui dirinya sendiri. Perutnya dibesar-besarkan, maksudnya biar melebihi perut sapi. Hasilnya? Perut si kodok pecah. Ia mati.


Majalah Bobo, edisi Ny Widya Suwarna (Bobo No. 51/XXVIII) menulis cerita pendek ihwal anak-anak yang ‘’omong doan’’. Dalam bahasa anak, disebut: jangan seperti katak, yang bunyi terus… Mungkin, ini mirip : jangan seperti tong kosong yang nyanyinya nyaring…
***
Namun, tak selamanya kodok bermakna negatif. Bekas presiden kita, Pak BJ Habibie, amat membanggakan yang namanya ‘’frog leap’’, alias lompatan katak. Peramsalan ini ia gunakan untuk menjawab kritik mengapa Indonesia harus memiliki industri pesawat terbang, padahal peniti saja masih harus mengimpor.

Jawaban Pak Habibie sederhana, dan cespleng. Katanya, untuk membuat pesawat kita tidak harus mengurut dari belajar membikin peniti, sekrup, lalu kaca, dan mesin. Dengan membuat pesawat, maka kita sekaligus melompat jauh, sehingga urusan sekrup, kaca, sayap, hingga perkabelan dan permesinan beres semua.

***
Kalau saya bercerita banyak soal kodok, bukan karena saya ingin menyaingi Pak Habibie, atau bahkan seperti lembu. Saya cuma mau cerita, di halaman belakang saya terdapat binatang yang amat populer itu.

Binatang yang abadi adalah kodok induk yang senantiasa menggendong si anak. Hujan, panas, terik, maupun berkabut, ia selalu nongkrong di atas rumput. Tak pernah berganti posisinya.

Kodok induk dan anaknya itu memang patung. Mommy membelinya di Kasongan.

Lainnya adalah kodok yang betul-betul katak.


Alkisah, di Jumat malam pekan lalu (19 Juli 2006), ayah dan Darrel menyusuri gelapnya malam di halaman belakang. Wah, memang pekat betul gelapnya. Darrel membawa lampu senter. Berkali-kali ia berteriak, ‘’Ayah, kita mencari kodok di dalam gelap ya?’’

‘’Mencari kodok di dalam gelap’’ adalah istilah yang mirip dengan film yang sering ditonton Darrel: ada bayangan di tengah malam gelap. Kalau tak salah, tokoh dalam film itu adalah Tweeny. Darrel punya banyak VCD serial Tweeny. Ada yang ''Ayo Bermain'', ''Permainan di Dalam Gelap'', dst. Nah, yang terakhir itulah yang sering membuatnya mengucapkan ''berjalan di dalam gelap''.

Di film itu dikisahkan tentang seorang anak yang takut terhadap gelap. Ia tidur dengan lampu mati. Tiba-tiba, ia melihat bayang-bayang mirip kepala orang. Ia menangis. Lalu lapor pada hantu yang baik hati, yang selalu menemaninya. Oleh si hantu diberi penjelasan: tidak usah takut, karena yang mirp kepala itu sebetulnya cuma bayang-bayang kipas.

Film itu sebetulnya punya niat baik. Tapi, gantian kini ayah dan mommy menghadapi masalah lain lagi: Darrel takut pada hantu. Walah...
***

Jumat malam itu, ayah dan Darrel menemukan seekor capung. Juga lima ekor kodok. Si capung rupanya tersesat. Harusnya ia hinggap di pohon, tapi ia keliru mendarat di pot. Capung itu kemudian diangkat, lalu diletakkan di pohon.


Sehari kemudian, Sabtu malam, perburuan terhadap kodok dilakukan lagi. Kali ini aktornya bertiga: ayah, mommy, dan Darrel. Eh, ada juga mbak Minah. Mommy waktu itu libur. Jadi bisa berburu bersama.

Hari itu, Darrel berhasil menemukan dua ekor kodok. Warnanya agak kuning. Di atas lantai, Darrel mendapatkan lintah. Ini lintah darat beneran, yang kalau hinggap di kulit bisa menghisap darah sampai tangan berdarah-darah.

Lintah itu kemudian diangkat mbak Minah dengan kertas koran, lalu dibuang ke kotak sampah.
''Apa itu mbak?'' tanya Darrel.
''Ini lintah.''
Malam ini tak hanya kodok yang didapat. Tapi juga lintah.
Ada tidak ya, cerita ''lintah hendak jadi sapi?''

1 comment:

riek said...

Saya suka posting Mas Iwan di Blog ini. Ada kesan yang mendalam saat menulis sekaligus mengingat apa yang telah kita lakukan. Saya suka cerita bertutur dan mengalir seperti air. Eh, tapi bukan air hujan. Hehe...
Ok, thx menambah inspirasi saya buat nulis kembali di blog saya. Jika sempat, mampir ke blog saya yah Mas Iwan. thx b4...

Salam,

Eriek