Search This Blog

Loading...

Sunday, April 08, 2012

Merintis E-Bike di Indonesia




AHAD 8 Desember ini kami --saya dan Mommy Uni Lubis-- bertemu dua orang muda. Namanya David Hadi dan Angga. David Hadi adalah CEO E-Bike Indonesia, mengurusi aspek pemasaran dan pengembangan usaha, adapun Angga adalah mitranya dalam E-Bike yang bergelut dengan aspek teknis. Kantor mereka terletak di Cipete, persisnya di Garasi 66. Ini di Jalan Pangeran Antasari, Cipete. Kalau dari Blok M terletak di gang masuk di antara pilar jalan layang 16 dan 17.

E-Bike Indonesia menjual berupa seperangkat alat yang terdiri dari batere, motor, dan sistem transmisi, yang dipasang pada sepeda untuk membuat genjotan jadi ringan. Dalam bahasa gampang, setelah peralatan yang dijual E-Bike itu dipasang, maka sepeda kita bisa ''berkelamin'' ganda: ya sepeda onthel, tapi juga sepeda bermotor listrik.


Kalau kita capek, atau merasa berat mengayuh, motor listrik tinggal dihidupkan. Wussss... Sepeda pun melaju, tanpa suara, kecepatannya bisa mencapai 30-an kilometer, tergantung pada kekuatan batere yang kita punya. Kalau batere habis, ya sepeda bisa kita kayuh sebagaimana sepeda biasa. Kalau pengin informasi lebih lengkap, silakan mampir ke www.ebikeindonesia.com.

Batere listriknya punya kekuatan lumayan. Bila baterenya terisi penuh, dia bisa melaju hingga 60-an kilometer, ini dengan pemakaian kombinasi tenaga kaki plus motor. Untuk mengisi baterenya dari kosong hingga penuh, dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Saya dan Mommy Uni Lubis mencoba sepeda ebike cukup lama. Kata Mommy Uni, ''Lumayan.. Menanjak tidak lagi bikin berkeringat..''

Alat ini memang cukup bermanfaat membantu kita yang sering kesulitan naik sepeda di tanjakan, atau mungkin merasa capek setelah cukup jauh menggowes. Jangan lupa untuk segera mengisi baterenya, setelah sepeda berhenti.

Kalau kita ke kantor atau ke rumah saudara, insya Allah kita gampang mencari colokan untuk ngisi batere. Namun kalau kita pergi ke terminal, mal, pasar, atau tempat-tempat umum, mungkin kita kesulitan mencari colokan. Kampanye penggunaan motor listrik, sepeda listrik, atau mobil listrik sebagaimana digaungkan Menteri Dahlan Iskan, akan sukses bila disertai stasiun pengisian batere.
****

E-Bike buatan Yuji Fujimara, Jepang.

Untungkah menggunakan sepeda listrik?
Dari sisi lingkungan, jelas. Tidak menimbulkan polusi, baik suara maupun asap. Untuk keperluan jarak dekat, sekitar 30-an kilometer, saya merekomendasi. Tapi kalau digunakan untuk jarak jauh, ya sementara ini saya tidak menyarankan.

Bila kita menggunakan motor automatic, jarak 30 kilometer kira-kira menghabiskan premium satu liter, atau seharga Rp 4.500 untuk saat ini. Dengan sepeda listrik, kita hanya menghabiskan uang untuk nyetrum aki saja.. Pasti jauh lebih irit ketimbang biaya premium yang akan terus naik.

Menurut keterangan Angga, aki bisa dipake sekitar dua tahun. Hitungan kasar, kalau sehari habis seliter, berarti dalam dua tahun bisa menghabiskan lebih dari Rp 1,6 juta. Hampir sama dengan harga batere sepeda.

Karena alasan penghematan, sebuah perusahaan jasa kurir, JNE, ingin mencoba menggunakan sepeda listrik untuk kurirnya. Saya kutipkan di sini berita harian ekonomi Kontan, 28 Desember 2012. Beritanya bisa diakses di sini:.

SOLUSI KENAIKAN HARGA BBM
BBM naik, kurir JNE akan dibekali sepeda listrik
Oleh Asnil Bambani Amri - Rabu, 28 Maret 2012 | 17:49 WIB

JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tak hanya bikin pusing kalangan masyarakat luas saja. Kenaikan tarif BBM juga bikin pusing pelaku industri, terutama industri logistik yang berorientasi pengiriman dan pendistribusian barang, seperti JNE.
Agar kenaikan harga BBM tidak membuat bocor brankas mereka, JNE berniat memfasilitasi kurir dengan sepeda listrik. Walaupun masih dalam tahap rencana, JNE akan melakukan ujicoba memakai sepeda listrik untuk kurir yang beroperasi di dalam kota Jakarta.
“Kami mau beli 10 sepeda listrik dulu untuk diujicobakan,” kata Visi Firman, Head of Corporate Communications JNE saat berkunjung ke kantor KONTAN, Rabu (28/3). Jika dalam ujicoba itu sukses, maka JNE akan membuat program pengadaan sepeda listrik untuk kurir mereka yang ada di dalam kota.
Menurut Visi, pengadaan sepeda listrik tidak hanya untuk menghemat operasional dari pemakaian BBM saja, tetapi juga untuk menjaga komitmen perusahaan terhadap lingkungan. "Selain membatasi pemakaian BBM, juga ramah lilngkungan," tambah Visi.

****


Di khasanah internasional, sepeda listrik dikenal sebagai e-bike. Ensiklopedia gratis wikipedia.org mendefinisikannya sebagai ''sepeda dengan motor elektrik sebagai tenaga penggerak''. Sepeda ini mampu berjalan 24-32 kilometer per jam.
Di banyak negara, sepeda listrik dikelompokkan sebagai sepeda, bukan motor. Sehingga pengemudinya tidak perlu memiliki surat ijin mengemudi.
Pemakaian sepeda listrik di seluruh dunia berkembang cepat sejak 1998. Diperkirakan saat ini terdapat 120 juta pemakai e-bike di China. Di India, Amerika Serikat, Nederland, dan Swiss, penjualan meningkat pesat. Pada 2010 sebanyak 700.000 sepeda listrik terjual di Eropa, naik 350% ketimbang dua tahun sebelumnya.
Di Indonesia? Semoga juga ikut mendulang sukses. Angga dan David sudah merintisnya.

2 comments:

Anonymous said...

silakan mampir di www.sepedalistrik.weebly.com

yang merintis itu Bpk. Mario Rivaldi dari bandung dengan merek beatrix.

lowongan kerja said...

ide yang kreatif