Search This Blog

Loading...

Monday, May 16, 2011

Mimpi di Sebuah Halaman Facebook


Hosni Mobarak dalam karikatur. Foto dari www.muzic-world.com


Revolusi Mesir berhasil menurunkan rejim otoriter, memakzulkan Presiden yang berkuasa selama 30 tahun. Anak-anak muda penggeraknya mulai kuatir, setelah Revolusi, apa?



DIA mendeskripsikan dirinya sebagai: Constantly changing, Serious Joker, Internet Addict, Human, Egyptian who loves challenging status quo.

Dia adalah Wael Ghonim, kita bisa menemukan deskripsi ini di akun Twitter-nya, @Ghonim. Pekan lalu anak muda yang menjadi wajah dari revolusi Mesir yang berhasil menurunkan Presiden Hosni Mubarak dari kekuasaan selama 32 tahun itu, berkunjung di Bay Area, sebutan untuk kawasan di Palo Alto, Mountain View sampai Silicon Valley. Di sinilah “rumah” dari perusahaan seperti Twitter, Google, Facebook dan lainnya. Ghonim mendunia namanya bukan karena ia –sampai dua pekan lalu- adalah eksekutif Google.

Dia membawahi operasi perusahaan mesin pencari di Internet ini untuk wilayah Timur Tengah. Ghonim dikenal karena dia membuat akun Facebook yang menjadi pemicu mobilisasi kaum muda Mesir untuk menggerakkan mesin revolusi di Mesir. Revolusi yang dikenal dengan nama Gerakan 25th January itu berhasil melengserkan rejim Hosni Mubarak.

Saya tengah berada di Palo Alto, California, Jumat pagi (21/4) lalu, ketika membaca berita di www.cnn.com soal kunjungan Ghonim ke Bay Area. Ghonim akan berbicara soal Revolusi dan Masa Depan Mesir di Stanford University. Hari itu saya memang berencana ke Stanford, mengikuti sebuah seminar yang diadakan dalam rangka Earth Day.

Diskusi dengan Ghonim berlangsung Jumat malam itu, di Cubberley Auditorium, School of Education, Stanford. Hanya berjarak 300-an meter dari tempat seminar yang saya ikuti dalam rangkaian program Eisenhower Fellowships, Bishop Auditorium Mengenai Eisenhower Fellowships, bisa dibaca di

Saya mengikuti perjalanan Revolusi Mesir setiap hari, setiap jam, lewat Al Jazeera dan CNN selama 18 hari di bulan Januari dan Februari tahun ini. Sebuah Revolusi yang bahkan AS, sekutu kental rejim Hosni Mubarak tak pernah menduga. Sebuah Revolusi 2.0, karena disebarkan lewat media sosial seperti Twitter dan Facebook. Saya mengikuti cerita soal Ghonim.

Dia baru saja dinobatkan menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia bersama Presiden Barrack Obama, Oprah Winfrey dan Justin Beiber! Kunjungannya ke AS pun, dengan tujuan utama menghadiri Makan Malam yang diadalan Majalah TIME bagi para orang paling berpengaruh itu. Saya memutuskan mencoba mendaftar via online ke panitia, Muslim Student Awareness Network (MSAN) Stanford. Alamat email pendaftaran menunjukkan bahwa Tech Wadi, sebuah perusahaan teknologi di Bay Area menjadi pengundang juga, dan menyeponsori acara ini.

Poster mengenai ceramah Ghonim di Stanford. Foto dari author32.blogspot.com


Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia, ingin hadir. Jawabannya saya dapatkan tiga jam kemudian, sekitar tengah hari, ada satu kursi untuk saya. Alhamdulillah. Melihat Ghonim dari dekat, tentu pengalaman menarik.

Ghonim adalah magnet. Satu jam sebelum acara yang dimulai pada Pukul 8 malam waktu setempat, auditorium sudah penuh, sebagian berdiri di gang di kiri-kanan deretan kursi. Auditorium itu memuat sekitar 450an kursi. Saya termasuk datang paling duluan, karena seminar yang saya ikuti berakhir Pukul 6 sore. Tiga deretan kursi terdepan diisi oleh warga sekitar California, asal Mesir.

Bapak, Ibu berkerudung, anak-anak mereka, dengan semangat mengisi kursi-kursi terdepan. “Kami bangga pada Ghonim, dan ingin melihatnya langsung, “ kata seorang ibu yang duduk di sebelah saya, di deretan keempat dari depan. Dia datang dengan rombongan keluarga besarnya. 15an orang. Ketika Ghonim memasuki ruangan, semua berdiri memberikan tepuk tangan panjang. Anak muda berambut keriting, berkulit agak gelap, kerap tersenyum ini nampak agak malu.

“Tolong, kamera video dimatikan. Juga jangan memotret saya. Saya alergi dengan sorot kamera,” pintanya. Agak kecewa juga saya, karena sudah menyiapkan dua kaset untuk merekam pembicaraan malam itu. Apaboleh buat. Tak ada yang mencoba merekamnya dengan kamera video selama acara yang berlangsung dua jam itu, tapi banyak yang tak tahan untuk memotretnya dengan kamera foto. Kapan lagi?

Ketika saya menulis ini, saya mencari tahu berapa usianya. Ghonim baru 30 tahun! Teringat kembali betapa bijaksana dan rendah hatinya dia ketika menjawab sejumlah pertanyaan dari hadirin di Stanford. “Terus-terang saya tidak nyaman kalau disebut sebagai wajah Revolusi Mesir. Saya tak ingin mengambil kredit dari apa yang terjadi. Warga Mesir melakukannya bersama-sama, anak-anak muda yang berani. Saya hanyalah salah satu dari mereka,” kata Ghonim. Dia memakai sweater warna gelap malam itu. “Nggak usah terlalu serius ya, malam ini saya ingin banyak melontarkan lelucon saja,” kata dia. Bisa dibayangkan, pertemuan malam itu adalah pertemuan yang kesekian kalinya sejak Revolusi Mesir.

Ghonim sibuk meladeni undangan berbicara. Pastilah pertanyaan yang harus dia jawab agak mirip dari satu acara ke acara lainnya. Ghonim memang lucu. Seperti bio Twitter-nya. Dia banyak melontarkan lelucon, menyerempet soal politik, yang memancing tawa hadirin. Sebagian dalam bahasa Arab. “Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik,” katanya. Tentu dia bercanda.

Dia menjadi serius ketika bicara soal kekuatirannya akan masa depan Mesir pasca Revolusi 25 Januari. “Tantangan sebenarnya bukan menyingkirkan rejim otoriter Mubarak. Itu bagian mudah. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kehidupan rakyat Mesir menjadi lebih baik setelah rejim berganti, dan demokrasi hadir di negeri saya,” kata Ghonim. Dia meminta panitia menampilkan halaman Facebooknya, yang menampilkan tulisannya pada 17 Januari 2011. Dalam bahasa Inggris tertulis judul tulisan itu: My Dream. Tulisan lengkap dalam bahasa Arab.

Ghonim di Tahrir Square. Foto dari Latimes.com

Di situ, beberapa hari sebelum Revolusi 25 Januari dimulai, Ghonim menulis,” Saya ingin bisa bersuara di negeri saya, saya berharap korupsi bisa diberantas di negeri saya, saya ingin para guru memastikan murid-muridnya mencintai belajar.” “Kita punya mimpi,” lanjut Ghonim. “Hosni Mubarak adalah mimpi buruk bagi kita, dan kita berhasil menyingkirkan mimpi buruk itu, tapi kita masih perlu menggapai mimpi kita,” ujar Ghonim. Dia nampak serius. Dan seluruh ruangan terdiam.

Ghonim tak menyembunyikan kekuatirannya. Revolusi Mesir sejauh ini baru berhasil menurunkan rejim, menurunkan Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa sejak tahun 1981. Tapi setelah euforia gerakan rakyat di lapangan Tahrir, di Alexandria, kini rakyat Mesir mulai resah. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Setelah lelah mendukung anak-anak muda menurunkan rejim, selanjutnya apa? “Saya mulai dapat pertanyaan yang bernada menyalahkan, mengapa kami melakukan revolusi? Apa setelah revolusi? Apakah menurunkan Mubarak membuat hidup saya lebih baik?” kata Ghonim.

Jika penggantian rejim dan hadirnya demokrasi tak membawa kebaikan dan manfaat kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Mesir, Ghonim kuatir hal ini akan memberikan sinyal buruk bagi upaya meniupkan angin demokrasi dan mengakhiri rejim otoritarian di negara lain. “Revolusi Mesir sebenarnya diinspirasi oleh rakyat Tunisia. Kami cemburu pada mereka,” kata Ghonim.

Ghonim di twitter. Foto: news.softpedia.com



Efek dominonya jelas. Setelah Tunisia dan Mesir, Yaman, Bahrain, Libya dan Suriah bergolak. Dua yang terakhir bahkan mengalami pergolakan berdarah yang memprihatinkan dunia. “Kalau kita gagal meyakinkan rakyat Mesir, maka para diktator akan berkata: Lihat yang terjadi di Mesir,” kata Ghonim.

Bagaimana membantu rakyat Mesir? “Terus-terang saya tidak tahu jawabnya. Anda yang peduli Mesir saya harapkan membantu. Ghonim lantas mempersilahkan Dr Ossama Hassanein, pimpinan Tech Wadi untuk menyampaikan sejumlah usulan. Tech Wadi adalah sebuah perusahaan di Silicon Valley yang melakukan upaya melatih kewirausahaan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ada sejumlah program yang bisa ditawarkan untuk membantu rakyat Mesir, dari mendorong usaha kecil, membantu pendidikan, sampai kesehatan.

Beberapa orang yang hadir serta-merta menyampaikan niatnya membantu. “Saya bekerja di Intel. Apa yang bisa kami lakukan untuk rakyat Mesir?” kata seorang hadirin. Begitulah suasana malam itu, keinginan kuat bertanya soal seluk-beluk Revolusi Mesir yang dibawa oleh semua yang hadir di sana, seketika luntur, karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan dan dipikirkan, ketimbang mendengar langsung dari mulut Ghonim, mengapa dia melakukan Revolusi Mesir? “Saya sudah menjawab itu berkali-kali,” ujarnya sambil tersenyum.


Uni Lubis di salah satu kegiatan Eisenhower Fellowship.


Malam itu saya merasa berada di tengah kepungan orang-orang Mesir di AS, yang mendadak disadarkan untuk segera melakukan aksi nyata membantu rakyat Mesir. “Ayo kita buat gerakan membangun desa di Mesir. Anda juga bisa menyeponsori pendirian sebuah usaha kecil, atau membiayai pelajar Mesir mendapatkan pendidikan lebih baik,” kata Ghonim. Dia menggaris bawahi perlunya berkunjung ke Mesir untuk membuktikan bahwa Mesir adalah negara yang aman. Bangkirnya pariwisata akan mendatangkan pekerjaan bagi rakyat Mesir dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tak kurang dari 20 pertanyaan dia jawab malam itu. Sekitar 20an orang yang sudah mengantre berdiri di belakang mikrofon terpaksa tak mendapat kesempatan. Ghonim menjawab pertanyaan soal apakah benar ia sempat dilarang berbicara di Lapangan Tahrir, soal penahanannya selama dua pekan, soal seorang blogger yang masih ditahan militer Mesir, soal minoritas Koptik, kekuatiran Persaudaraan Muslim akan membawa bibit fundamentalisme jika terlibat dalam pemerintahan baru pasca Pemilu, dan banyak lagi.

Seorang hadirin yang mengaku warga Libya meminta pendapat Ghonim, apa yang harus dilakukan rakyat Libya? Ghonim terdiam. “Maaf, tak semua pertanyaan saya punya jawabannya,“ kata dia.

Dia punya kharisma. Agak idealis. Sosok yang selalu gelisah. Malam itu Ghonim tampil sebagai “leader’. Pemimpin yang menginspirasi. Tak berhenti di situ, ia juga mengumumkan bakal berhenti sementara dari Google untuk membangun sebuah lembaga swadaya masyarakat, yang bisa mewujudkan impiannya memberi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Mesir. “Saya ingin membagi pengalaman dalam menggunakan teknologi,” kata Ghonim. Hadirin bertepuk-tangan. Menurutnya, membantu rakyat Mesir bisa dilakukan oleh siapapun yang peduli, meski tidak punya kelebihan yang. Berbagi pengalaman pun bakal membantu.

Ketika acara berakhir, semua berdesakan ingin menyalami, berfoto bersama. Saya ikut berdesakan, bukan untuk berfoto, tapi menyerahkan sebuah dvd soal Internet Sehat yang dititipkan Dr Onno Purbo, dan Donny BU, penggagas Internet Sehat, kepada saya sebelum berangkat ke AS. Malam itu saya kembali ke hotel di Palo Alto naik bis gratis yang meladeni kampus Stanford dan beberapa lokasi di Palo Alto, bersama sejumlah hadirin. Semua kagum. Semua terkesima akan kedewasaan Ghonim, dan betapa rendah hatinya dia.

Ghonim membuat semua berpikir, merenung. Revolusi, menurunkan rejim, bukanlah akhir. Justru perjuangan sebenarnya baru dimulai. Ghonim menghibur kami dengan menebar kekuatiran, optimisme, lelucon. Dia juga mengingatkan pentingnya siap berubah. Kualitas yang penting bagi seorang pemimpin. Dia mengumumkan perubahan itu, dimulai dari dirinya. Kita akan melihat Wael Ghonim yang lain. Di bio akun Facebooknya, dia menulis: Politician. Ups! Semoga ini juga canda.

*Uni Z. Lubis, Pemimpin Redaksi ANTV, sedang di AS, berkunjung ke beberapa kota dalam rangka Eisenhower Fellowships.

No comments: