Search This Blog

Loading...

Thursday, September 16, 2010

Sang Pencerah dari Langgar Kidoel





LIBUR lebaran lalu, kami sekeluarga menyaksikan film yang lagi heboh: Sang Pencerah. Kami menyaksikannya di Ambarukma Plaza, Yogyakarta. Minat masyarakat Yogyakarta untuk melihat film itu luar biasa. Mommy Uni Lubis menyuruh keponakan saya, Eriza Hanif, untuk membeli tiket guna menonton tayangan yang jam 13.00. Jam 11 pagi ia antre, hasilnya tidak kebagian tiket. Walhasil, kami kebagian melihat yang jam 15.00.
Waktu keluarnya film Sang Pencerah memang pas dengan suasana lebaran. Di Yogya, orang butuh rekreasi sejenak seusai capek bersilaturahmi ke tetangga dan saudara. Rekreasi itu bersifat religius. Dan Sang Pencerah memberi jawaban.

Khusus untuk orang Yogya, nama KHA Dahlan juga sangat memasyarakat. Tanyalah orang-orang setempat soal nama beliau, hampir semua penduduk mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Apalagi nama beliau diabadikan sebagai jalan protokol cukup besar, yang melintas dari nol kilometer Yogya ke arah barat. Nol kilometer itu adalah perempatan Kantor Pos-Gedung Agung-Benteng Vredeburg-BNI.
Di sepanjang jalan KHA Dahlan, ada rumah sakit PKU Muhammadiyah, Gedung Poesat Moehammadiyah, Toko Buku Persatuan. Dan, jangan lupa, Jl. KHA Dahlan melewati sisi utara Kauman, kampung asal usul Muhammadiyah.

Nama istri KHA Dahlan, yaitu Nyonya Siti Waldiyah, juga cukup dikenal. Dari alun-alun utara ke arah barat, terdapat Jalan Nyai Haji Ahmad Dahlan, nama Siti Waldiyah setelah menikah dengan KHA Dahlan. Pokoknya semua serba Ahmad Dahlan.
Namun, baru akhir-akhir ini saja orang tersadarkan akan makna pentingnya napak tilas perjuangan Sang Kyai. Selama puluhan tahun, Langgar Kidoel, tempat ibadah yang menjadi awal mula pergerakan Ahmad Dahlan mengembangkan organisasinya, seperti teronggok begitu saja.
Saya punya teman bernama Muhammad Bariq Utama, yang tinggal sekitar 100 meter dari langgar itu. ‘’Selama ini saya cuma lewat begitu saja. Langgarnya kurang terurus,’’ kata Bariq. Ia belum pernah salat di langgar itu. Ia kaget ketika diberi tahu bahwa Langgar Kidoel sudah direnovasi.
Langgar Kidoel memang moncer lagi. Tahun ini pemerintah Kotamadya Yogyakarta merenovasinya. Tembok yang semula kusam, dicat putih. Bagian bawah langgar digunakan sebagai ruang audio visual. Kurang jelas apa yang ditayangkan di ruangan itu, karena ketika saya berkunjung ke Langgar Kidoel, Kamis 16 September lalu, ruangan masih tertutup. Musala juga dikunci rapat.
****
Langgar Kidoel adalah perwujudan dari Muhammadiyah yang serba simpel dalam beribadah. Di dalam langgar hanya ada sederet sajadah yang miring ke arah kiblat. Tidak ada ornamen atau foto yang dipajang di dalam musala. Bandingkan dengan masjid atau langgar milik NU, yang gemar memasang foto pendirinya, KH Hasyim Asyari.
Kesederhanaan langgar itu juga sekaligus menunjukkan keteguhan hati KH Ahmad Dahlan. Tatkala ia merintis Muhammadiyah, masyarakat masih menjalankan ajaran islam yang penuh bumbu-bumbu tradisi. Misalnya, untuk mencari keselamatan masih harus berdoa di kuburan.


Ada pula yang berdoa di ringin kurung. Zikir yang serba keras. Tahlil yang kuerass banget, dengan menggoyang-goyangkan kepala. Atau, memuliakan surat yasin untuk kesembuhan, atau mengantarkan seseorang ke surga.
Di film Sang Pencerah, Ahmad Dahlan berkata, ‘’Allah menurunkan surat-surat dalam Al Quran itu sama derajatnya. Surat yasin tidak lebih dari surat lainnya.,,
Bagi kita yang memahami konteks tata cara beribadah berbagai aliran dalam agama Islam, kita akan tahu, ucapan Ahmad Dahlan itu dampaknya sangat keras. Karena, kelompok yang mengusung kehebatan surat yasin juga tak kalah banyaknya…
*****
Bagi orang Yogya, dan orang Muhammadiyah pada umumnya, film Sang Pencerah betul-betul kena di hati. Dialognya khas Yogya. Guyonnya juga gaya Yogya.

Saya tidak bermaksud meresensi film ini. Saya hanya ingin mengajak para pembaca, terutama dari kalangan beragama, untuk menonton film itu ramai-ramai. Selama ini kita sering mendengar para agamawan, para guru, para intelektual, yang berteriak-teriak memaki-maki film Indonesia yang disebut sebagai ‘’menjual kemewahan, menjual ciuman, menjual paha dan dada’’.
Film Ahmad Dahlan jauh dari itu. Sepantasnya kita mendukung produksi film semacam itu agar tidak merugi. Agar produsernya mau membiayai film serupa, di masa mendatang.

2 comments:

rahmatmh said...

Setuju banget, Bu..
Ibu sempat mampir ke makamnya KH Ahmad Dahlan ga?
Ini foto makamnya: www.panoramio.com/photo/31821640 sederhana banget ya utk org gede spt beliau :)

YOGYAKARTA said...

Betul mas, makamnya sangat sederhana.. Terima kasih sayansudah dikirimi foto makam kha dahlan.
Iwan