Search This Blog

Thursday, July 19, 2007

Norway, Negeri di Sudut Utara

Norwegia, negeri di ujung utara sana, dikenal sebagai negara dengan tingkat usia harapan hidup paling tinggi di dunia. Kaum sepuh bisa ditemui berada di jalan-jalan. Duduk-duduk, mencari hangatnya sinar matahari, sambil ngobrol dengan sesama.
Ke negeri yang elok ini, Mommy Uni Lubis awal Juni lalu melancong. Ia bersama sejumlah pemuka media dari seluruh penjuru dunia ikut dalam Konferensi Internasional Mengenai Dialog Antar-kultur. Acaranya cukup menarik. ‘’Pokoknya kalo sekarang diajak bicara soal perdamaian, dialog antarkebudayaan, nyambung,’’ kata Mommy.
Namun ada lainnya yang mengesankan. Yaitu keelokan pemandangan Norwegia. Negeri di sudut utara ini begitu menawan hati. ‘’Sungainya bersih. Jalannya rapih. Semua serba tertata,’’ katanya.
Kebangkitan Norwegia dimulai dari penambangan minyak bumi di Laut Brent, pada 1970-an. Penduduk sedikit, kekayaan alam melimpah, diimbangi dengan pemanfaatan hasilnya yang hati-hati. dalam edisi berikutnyaNorwegia pun menjadi negara yang sejahtera.
Cerita lain dari Norwegia akan disambung . Kami muatkan di sini sebagian foto-foto perjalanan, yang diambil dengan kamera Nokia N92.
Wass.




Monday, July 16, 2007

Sekolah Setelah Libur Panjang










KEMBALI KE SEKOLAH SETELAH LIBURAN PANJANG Liburan sekolah nyaris usai. Anak-anak pun harus kembali ke rutinitas mereka sehari-hari: bangun pagi, berangkat sekolah, kena macet di jalanan, mengerjakan PR/tugas di sore hari, dan seterusnya. Bagi sebagian anak, kembali ke sekolah bisa membuat mereka merasa takut atau was-was. Terutama siswa yang harus menempati sekolah baru karena telah lulus SD/SMP. Begitu juga anak-anak yang baru pertama kali masuk kelompok bermain atau TK. Nah, berikut ini sejumlah saran untuk memperlancar dan mempermudah anak agar dengan riang gembira menyambut hari pertama sekolah. Atur Jam Tidur Pada liburan panjang seperti sekarang ini, jadwal tidur anak-anak biasanya tidak teratur. Sesudah melakukan sejumlah kegiatan di siang hari, keesokan paginya mereka bangun sesuka hati mereka. Anda pun biasanya cenderung mengizinkan mereka untuk berbuat "sesuka hati" dan tidak menerapkan jam tidur yang ketat. Toh, mereka tengah menikmati masa istirahat setelah sekian bulan memeras otak dan tenaga di sekolah. Sebaiknya, satu minggu sebelum masuk sekolah, atur kembali jam tidur mereka seperti pada waktu hari sekolah. Biasakan anak untuk tidur dan bangun pada jam tertentu agar ia kembali terbiasa dan tidak kaget dengan perubahan yang tiba-tiba ketika harus menghadapi hari pertama sekolah. Hal ini juga mengurangi stres di hari pertama. Jangan lupa, lakukan setidaknya seminggu sebelum hari pertama sekolah. Ingatkan Yang Menyenangkan Bila anak terluhat agak resah menghadapi tahun ajaran baru, entah karena pindah sekolah atau khawatir tak sekelas lagi dengan sahabat-sahabatnya, tunjukkan padanya sikap positif. Maksudnya, ingatkan akan hal-hal yang menyenangkan mengenai sekolah seperti berdarmawisata bersama teman-teman sekelas, pertandingan olah raga antar-kelas, acara kesenian, yang sudah dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya. Yakinkan anak, pasti akan ada hal-hal baru yang menyenangkan yang akan dialami pada tahun ini. Kunjungan Ini sangat dianjurkan terutama bagi anak-anak yang masih duduk di kelompok bermain, Taman Kanak-Kanak, atau baru masuk kelas 1 SD. Se-baiknya ajak mereka mengunjungi dan mengenal sekolah barunya. Kalau bisa, minta izin dari para pengajar atau pegawai sekolah agar dapat membawa anak mengelilingi sekolah dan melihat kelas yang akan ditempatinya. Dengan demikian rasa canggung serta kekhawatiran anak akan berkurang karena dia merasa sudah mengenal sekolah tersebut dan anak akan menjadi lebih percaya diri pada hari pertama masuk sekolah. Lengkapi Kebutuhan Sekolah Akan sangat menyenangkan bila dapat pergi bersama anak membeli keperluan sekolah mereka. Ini sekaligus memberi rasa tanggung jawab kepada mereka. Biarkan ia memilih sendiri keperluan-keperluan tersebut seperti tas sekolah, kotak roti, botol minum, pensil, krayon, tempat pensil, dan lainnya. Bila anak Anda lebih besar, mungkin perlu dibelikan kamus, kalkulator atau atlas. Biasanya para guru akan meminta murid-murid un-tuk menceritakan liburan mereka dan untuk itu ingatkan anak untuk menyiapkannya. Kalau perlu, bantu mereka. Laporan Kegiatan Adalah penting untuk mengetahui apa yang dialami anak di sekolah. Jelaskan padanya, pendidikan sangat berharga bagi mereka dan Anda berusaha memberi pendidikan yang terbaik baginya. Hindari pertanyaan, "Bagaimana tadi di sekolah?", karena kalimat ini hanya memerlukan satu jawaban. Buat pertanyaan seperti sebuah permainan, misalnya, minta anak memberi penilaian terhadap hari yang dilaluinya (antara 1 sampai 5, misalnya) dan tanyakan padanya, mengapa ia memberi angka tersebut. Dengan demikian, pembicaraan antara Anda dan anak akan lebih berkembang. Pekerjaan Rumah Membantu anak mengerjakan pekerjaan rumahnya merupakan cara yang efektif untuk memperlihatkan padanya, Anda peduli dengan apa yang mereka pelajari di sekolah. Tentu saja bukan membantu membuatkannya, melainkan menemaninya saat bikin PR, menolong jika memang diperlukan. Bila orang tua tidak peduli dan tidak menyadari pentingnya pelajaran yang diikuti anaknya, tidak heran bila anak tersebut tidak perduli dengan pelajaran yang diberikan kepada mereka. Libatkan Diri Dengan melibatkan diri Anda pada kegiatan yang diadakan di sekolah, menunjukkan dukungan dan antusiasme terhadap pengalaman belajar anak Anda. Anda dapat berpartisipasi pada bazar sekolah, ikut menyiapkan acara kesenian, darmawisata, dan sebagainya. Berpartisipasi seperti ini juga memudahkan Anda berkomunikasi mengenai perkembangan anak Anda dan mengenai apa-apa yang terjadi di sekolah baik dengan guru, karyawan sekolah, maupun sesama orang tua murid. Buka Mata & Telinga Bila kebiasaan makan atau tidur anak berubah secara drastis, biasanya merupakan tanda-tanda ia mempunyai masalah dalam menyesuaikan diri de-ngan kelas atau sekolah barunya. Perubahan lain yang perlu diperhatikan adalah bila anak yang tadinya biasa menceritakan mengenai kejadian di sekolah, tiba-tiba berhenti melakukan kebiasaan tersebut. Bisa jadi dia punya masalah di sekolah. Baca & Baca Meluangkan waktu untuk membaca buku bersama anak merupakan hal yang tidak ternilai harganya. Usahakan Anda dapat melakukannya setiap hari untuk beberapa waktu. Untuk anak yang sudah agak besar, minta ia membaca beberapa halaman setiap harinya. Jalin Hubungan Berkomunikasi dengan guru secara teratur merupakan hal yang penting yang dapat mempengaruhi pendidikannya. Guru dapat memberitahu bila anak Anda mengalami masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, hubungan sosial, juga soal pelajaran. Demikian juga sebaliknya. Bila anak sakit, Anda bercerai dari suami, meninggalnya salah satu anggota keluarga, atau hal-hal lain yang dapat mempengaruhi pelajaran anak, Anda dapat menceritakannya kepada guru sehingga Anda dan guru bisa bekerja sama mengatasi masalah belajar, bila ada, yang dihadapi anak.TIPS JALIN HUBUNGAN DENGAN GURU & SEKOLAH 1. Bicarakan dengan anak tentang sekolahnya tiap hari. Ini cara yang baik untuk mengetahui apa yang ia pelajari di sekolah dan un-tuk mengenali permasalahan yang mungkin ada dan harus Anda diskusikan dengan gurunya. Sebaiknya percakapan dengan anak dimulai dengan pertanyaan, "Apa kegiatan yang kamu sukai hari ini?" dan bukan "Bagaimana di sekolah hari ini?" 2. Baca semua catatan atau pengumuman yang dibawa anak dari sekolah. Biasanya guru mengirimkan laporan berkala harian atau mingguan yang berisi informasi mengenai berbagai hal. Karena biasanya anak lupa menyampaikannya pada orangtua, sering-seringlah memeriksa tas sekolahnya. Ada juga guru yang memberi informasi melalui website sekolah. Jadi, periksalah website sekolah secara teratur. 3. Ceritakan semua. Kirim surat ke sekolah atau datang langsung ke guru dan ceritakan tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan anak Anda yang mungkin akan mempengaruhinya di sekolah. Entah itu krisis yang dialami ketika sakit, perceraian orang tua, mendapat adik baru, atau ibu harus kembali bekerja. Jika anak menderita sakit tertentu, sebutkan juga obat yang biasa ia konsumsi. 4. Jadilah pembimbing yang baik. Andalah pembimbing yang terbaik bagi anak dan juga yang paling tahu tentang kemampuan dan minat anak Anda. Jangan terfokus hanya pada masalah-masalah yang ada. Biarkan guru memahami juga kelebihan dan kekurangan anak. 5. Patuhi jadwal. Dalam keadaan mendesak, jangan ragu untuk menghubungi sekolah setiap saat. Untuk hal-hal yang rutin, pilihlah waktu yang tepat untuk menghubungi guru. Pada umumnya mereka menyediakan waktu khusus untuk pertemuan guru-orang tua murid. 6. Luangkan waktu. Berkunjung secara teratur ke sekolah anak, bahkan ke kelasnya adalah cara yang baik untuk mengetahui kegiatan anak dari dekat. Tawarkan diri sebagai tutor bagimurid-murid secara individu (mendengar mereka membaca buku, misalnya) atau membantu rencana khusus sekolah seperti bazar, acara kesenian. Anda bisa juga mengawal anak-anak pada waktu karyawisata, menceritakan tentang karier atau latar belakang budaya Anda, atau memberi pelajaran di kelas mengenai cara membuat hidangan khusus atau pertunjukan kesenian. 7. Bawa pengetahuan ke rumah. Kontribusi terbesar yang dapat dilakukan orangtua adalah membacakan buku untuk anak-anak mereka. Terapkan pula aktivitas sehari-hari di rumah ke konsep yang dipelajari anak di sekolah. Misalnya, menjelaskan perihal gizi pada sarapan pagi dengan menggunakan informasi yang tercantum pada bagian belakang kotak sereal atau tentang persentase kandungan lemak pada susu skim dan susu biasa. 8. Jangan sungkan bertanya. Guru juga ingin mendengar dari Anda mengenai anak Anda. Ada guru yangbaik dalam berhubungan dengan orang tua, ada juga yang tidak. Tapi sebagian besar dari mereka menghargai kontribusi dan pehatian orang tua murid. Jadi, bila ada yang ingin ditanyakan pada guru tentang anak Anda atau sekolahnya, jangan ragu untuk bertanya!

(naskah diambil dari http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=9100)


Hari Pertama Sekolah

HARI ini, Senin 16 Juli 2007, Darrel sekolah beneran. Tahun lalu ia masuk Tumble Totts. Setelah itu pindah ke TPA Al Abraar. Semuanya diniatkan agar dia bisa bersosialisasi. Kalo kali ini, ia didaftarkan ke TK Embun Pagi International Islamic School, tujuannya biar sekolah bener.
Hehe.. sekolah bener. Kesannya serius amat ya?
Memang sih, ini serius. Bisa dilihat dari proses mendapatkan sekolah itu. Kami –maksudnya ayah dan mommy uni—paling tidak membandingkan ke tiga sekolah yang setara. Satu di Jl HR Rasuna Said, Jakarta. Tepatnya di Menara Rasuna. Sekolahnya bagus. Dekat dengan tempat kantor mommy. Masalahnya, terlalu jauh dari rumah.
Situasi jalanan Jakarta yang macet terus membuat kami merasa kasihan kalo Darrel sekolah di situ. Sekolahnya masuk jam 8 pagi. Berarti Darrel harus berangkat dari rumah jam 6. Jam berapa dia harus bangun? Sarapan? Pokoknya serba repot.
Kare ibu kepala sekolah di situ, dengan sekolah jauh sebetulnya menguntungkan. ‘’Bisa ngobrol dengan anak sepanjang jalan. Jadi malah menyenangkan,’’ katanya.
Sepintas bener sih. Tapi dipikir-pikir, berat juga. Memangnya mommy tiap hari harus berangkat jam 6?
Setelah itu, kami survei ke sebuah sekolah dekat rumah. Cuma 750 meter. Itu di ujung Jalan Curug Raya, tepi Kalimalang, masuk kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta. Kalau rumah kami, masuk Bekasi. Menimbang berbagai segi, dari A sampai Z, dari mata pelajaran, dsb, kami merasa kurang srek.
Kami pun mengikuti sekolah yang ketiga. Namanya TK Embun Pagi International Islamic School. Sekitar 1,5 Kilometer dari rumah. Mau masuk kelompok bermain saja pake tes. Yang dites anak dan orangtuanya lagi. Pokoknya, ruarrr biasa…
Alhamdulillah. Darrel diterima.
Maka, sejak Senin pertengahan Juli ini, Darrel resmi bersekolah. Ia punya seragam. Punya baju, ransel.
Untuk menyekolahkan Darrel, hebohnya sudah berlangsung sejak sepekan sebelumnya. Mommy pergi ke Hero Pancoran, membeli tas spiderman. Juga tempat untuk makan. Maklum, meski hanya playgroup, tapi sekolahnya cukup lama. Dari jam 07.30 sampe jam 12.30. Lama ya?
Ahad malam, di hari menjelang Darrel masuk sekolah, ayah ke dapur. Melihat panci yang airnya mendidih.
‘’Apa ini mom?’’
‘’Oh, itu spagetti. Buat bekal Darrel besok.’’ Wah…
Jam 21, lampu kamar dimatikan. Darrel dipaksa bobok. Kalao tidak begitu, bisa-bisa ia tidur jam 24, setelah lompat-lompat dan bergulung-gulung di kasur.
Di blog ini, tampak berbagai foto Darrel menjelang ia berangkat sekolah di hari pertama, dan kegiatannya setelah ia sampe di sekolah.
Mau tahu apa yang ia lakukan di sekolah?
Ya berlarian ke sana ke mari.
Kalo kata guru di sekolah lama: Pak, putranya dinamis sekali…



Wednesday, July 11, 2007

Tamasya ke Taman Buah Mekarsari

Di Taman Wisata Buah Mekarsari, ada kereta api. Boleh naik. Ongkosnya tak mahal. Mau coba?

Bagaimana menanam padi dilakukan? Pak Tani ini mengajari para murid untuk mengenal padi. Gaya hidup McD dan KFC membuat anak-anak tidak pernah mengenal tanaman padi itu seperti apa. Padahal, cara menanam padi itu gampang banget: tinggal tancep. Clup. Tunggu sebentar.
Apa daya, sawah sudah berubah menjadi mall, gedung, jalan. Anak-anak pun tak lagi kenal apa itu membajak sawah, menggembala kerbau, memotong rumput. Tatkala anak-anak sibuk menancapkan tanaman padinya, Darrel sibuk mencabuti. ''Horee.. aku dapat banyak!!''


Bagaimana menegakkan telur? Ini pertanyaan Cristopher Columbus kepada para tamunya, sekitar 300 tahun lalu. Si lonjong itu ditegakka. Tak satupun berhasil. Columbus kemudian memapras bagian bawah, lalu mendirikan telur itu di meja. Hadirin menggumam kencang: Kalo cuma begitu, saya bisa.
Columbus kemudian berkata: semua orang akan ngomong begitu, kalo sudah melihat pelaksanaannya. ''Kalo meniru, semua orang juga bisa,'' katanya.
Saya membayangkan telur Columbus yang dikepras itu bentuknya seperti telur putih yang disandari Darrel di Mekarsari.


Bernapas dalam lumpur, ini cerita film tahun 1970an awal, yang dibintangi Suzana, aktres yang ketika itu dikenal sebagai bintang ''panas''. Kalau lumpurnya keluaran dari bumi Porong, Sidoarjo, barangkali memang panas. Hot. Tapi kalau lumpur sawah Mekarsari, dijamin lunak. Adem. Tapi bikin kotor.
********
Ini foto-foto waktu DArrel bersama teman-temannya di TPA Al Abraar, Jaticempaka, berwisata ke Taman Buah Mekarsari.


Ini menjadi wisata terakhir baginya. Karena setelah itu, dia pamit.


Mulai tahun ajaran 2007 ini, Darrel pindah sekolah ke Embun Pagi Islamic International School, sekitar 1 km dari rumah.

Thursday, April 12, 2007

Surat dari Disneyland, Hong Kong

Assalamualaikum

Mas iwan dan Mb Uni, kalau minggu depan mb Uni sempat ke Disney, nginep di hotel disney nya enak juga kok. ga kalah deg hotel disney paris. kebetulan dapat kamar menghadap laut, enak banget. disini disney nya kecil, lebih kecil dr Paris, tapi mrk menang di pentas teater nya. Azul dah bisa menikmati, cuma saja kalau capek,dia nangis wae. akhirnya ya terpaksalah masih ada periode tidur duluan... naila balik lagi ke park utk main2. ada juga kembang api nya yg buagus banget ktanya. aku ga liat... wong nemenin aAzul tidur. tapi kakiku juag udah pegal2 kok. malah bisa internetan..he2...


Kalau mb Uni kan udah mondar mandir ke Hongkong ya. Tyt mirip Singapore ya mbak? sayang ga sempat keluar masuk toko. sempat sekali jalan2 di new world centre, eh barangnya branded gitu. ga tega, beli barang ribuan dolar gitu. aku juga masih bingung ngitungnya kok angkanya gedhe semua... he2... biasa itungan dinar dan dolar US sih... pancen kalau dari kampung Suryo, wah bakatnya belanja di toko Maga ya...

Hongkong ki sebenarnya menang di pemandangan alam. tapi obyek lain yg dijual ga banyak, cuma menang di kemasannya saja. masak, ada trotoar dikasih patung bruce lee, jadi obyek wisata. ada cap tangan artis2nya, tiru2 hollywood. sayangnya mas Ando dan Naila terpesona juga dg Disney Hongkong ini, yg bagus pentas teaternya, malah kepingin next time insya allah disney tokyo..ealaah...kok ngono... prihatin aku... memang menyenangkan sih..

Tapi masak sih dr Disney ke Disney. Wong susunannya saja mirip dg di Paris itu kok. Persis. makanya aku agak sedih, krn persis setahun yll kita kan liburan bersama dg keluarga temanku yg anaknya tertabrak mobil itu lho mas. oh ya, akhirnya yg koma dulu itu meninggal lho mas, tgl 4 april yll. umurnya 11 tahun, seusia Ocha (innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan dari Allah SWT).

Kalau bisa sebenarnya Disneyworld saja ya mbak...he2..tapi masak sih ke Amrik gitu. kita masih anti kesana je.. moga2 aja Naila mau diajak umroh wae ah. wisata rohani. masak wisata disney melulu...

Oh ya, waktu masuk kita sempat ketahan imigrasi agak lama, interogasi nya lama, soale pasportnya kualitasnya jelek. jarene mas ando, masalahe pasportku kelahiran gunungkidul, jadi udah dicuragai mau cari kerja, jadi TKI gelap... he2... diwawancara sana sini, tahu udah ada tiket balik dan kartu kredit, to wis lancar akhirnya.. oh iya ini foto, dirangkul dolphin. moga2 dolphine cewek, he2...

udah dulu ya...

sun sayang

atik

Friday, April 06, 2007

Semangat Kompetisi Uni Lubis


Mengubah paradigma kerja karyawan, budaya organisasi perusahaan, dan bertekad membawa antv sebagai televisi swasta terdepan di Indonesia.

Ahmad Nurhasim

anurhasim@jurnas.com

Mengembangkan perusahaan televisi swasta yang lesu dan kurang energi bukanlah hal mudah. Apalagi tuntutan dari pemodal adalah mengubah posisi dari nomor buntut menjadi terdepan di Indonesia. Sebab, antv yang sudah berjalan belasan tahun dan salah satu dari lima stasiun televisi swasta pertama yang memperolah izin siaran bersama TPI, RCTI, SCTV, dan Indosiar, peringkatnya paling bawah.

Pada saat seperti itulah Uni Lubis, 39 tahun, masuk ke antv dengan jabatan GM News & Talkshow Production. Tepatnya pada bulan Februari 2006, saat beberapa bulan setelah antv menjalin aliansi strategis dengan STAR TV, stasiun milik News Corporation Ltd yang berbasis di Hongkong. Televisi milik raja media Rupert Murdoch. STAR TV menggelontorkan saham 20 persen di antv. Aliansi itu menyegarkan kembali (refresh) antv, termasuk bidang news. “Sekarang kita menata kembali,” ujarnya.

Hasilnya kini citra antv cemerlang dan secepat kilat rating-nya melonjak. Promosi besar-besaran digalakkan. Hanya dalam hitungan bulan, rating beberapa programnya mampu mengungguli televisi swasta lainnya. Menurut Uni, dalam beberapa program, antv rating-nya naik drastis.

Dia mencontohkan breaking news antv tentang insiden Tanah Runtuh, insiden Poso, penggerebakan teroris Noordin Top di Wonosobo, Jawa Tengah, adalah laporan ekslusif. Tentu laporan itu tidak bisa dipisahkan dari kerja Karni Ilyas, sang Pemimpin Redaksi antv yang dikenal luas jaringannya. Bahkan sekitar kunjungan Presiden AS George Bush ke Indonesia November 2006 lalu, Uni mengutip survei AC Nielson, rating antv naik 100 persen.

Uni bercerita, sebelum STAR TV menyuntikkan energi, kondisi antv terpuruk. “Tidak punya cukup energi untuk berkembang karena persoalan keuangan. Bisa dipahami, saat perusahaan kesulitan keuangan terjadi, yang penting asal hidup. Dulu mungkin memang sistem yang bagus. Tapi begitu kondisi keuangan sulit, siapa peduli dengan sistem?”
Dengan jabatan GM News & Talkshow Production, perempuan bernama lengkap Zulfiani Lubis ini memang turun pangkat. Sebab, di TV7 sebelumnya dia orang nomor dua setelah pemimpin redaksi. Di TV7 , dia membawahi beberapa produser, termasuk support production. “Tapi tidak apa-apa,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 November 1967 ini.

Tetapi, jabatan serupa di antv juga mengintipnya. Di antv akhirnya dia juga menempati posisi yang pernah dijabatnya di TV7: Wakil Pemimpin Redaksi, tepatnya sejak 11 Januari lalu. Jabatan nomor dua setelah wartawan senior Karni Ilyas, sang Pemimpin Redaksi. “Tentu, perusahaan ini tidak memberikan jabatan itu gratis. Sejak awal (masuk), saya harus menunjukkan apakah saya pantas menduduki jabatan itu,” ujarnya.

Tanggung jawab Uni di news antv kini berderet: mendesain program dan peliputan, mengkoordinasikan seluruh kegiatan peliputan dan produksi dan penayangan news dan current affairs, membuat standar operasional prosedur (SOP) dan job desc di lingkungan news, memimpin rapat-rapat harian di lingkungan news, memikirkan pengembangan program dan peliputannya.

Selain itu, masuknya STAR TV ke antv juga menuntut sistem, tata nilai, budaya kerja, dan orientasi yang baru. Paduan tata nilai, manajemen, dan sistem global dengan lokal memicu adaptasi yang luar biasa. “Sekarang sedang proses membuat dan menyesuaikan orang-orang (karyawan) dengan paradigma baru,” jelasnya.

Dari sekian hal itu, menurut Uni, yang paling berat adalah membangun semangat kompetisi di kalangan karyawan. “Kalau hari ini tidak dapat gambar ini, sementara televisi lain dapat, kita harus malu,” katanya. Dia menanamkan semangat itu kepada semua karyawan: reporter, kamerawan, produser, sampai general manajer production.

Di antv dia merasa seperti membangun dari nol. Tapi di antv menurutnya lebih sulit. “Sebab membangun yang sudah ada, dengan karyawan 900 orang (saat itu) yang memiliki cara berpikir, cara kerja lama, untuk beradaptasi dengan perubahan, sistem baru, dan aturan baru, tidak mudah. Bagi saya, mengubah itu cukup melelahkan, sekaligus cukup menantang,” katanya.

Bagi Uni, pekerjaan ini bukan hal baru. Sebab, saat menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Panji Masyarakat (1995-2001) dan Wapemred TV7 (2003) dia memiliki pengalaman dan pengetahuan cukup untuk menampilkan program dan laporan jurnalistik yang berkualitas. “Saya memang orang yang suka tantangan,” kata istri Iwan Qodar Himawan, 41 tahun, ini.

Meski menjabat sebagai pemimpin, dia masih sering turun ke lapangan untuk membuat laporan jurnalistik sendiri. Saat menjabat Pemred Panji Masyarakat dia menjadi pelopor yang menurunkan laporan rekaman percakapan mirip suara Habibie dan Andi Ghalib yang bikin heboh itu. Baru setelah itu, media-media lain melaporkan hal serupa. Hal yang sama ia lakukan di antv.

Untuk mencapai posisi sekarang, tentu Uni tidak cuma ongkang-ongkang kaki. Sejak awal meniti karier sebagai reporter di Warta Ekonomi tahun 1990, dia tipe wartawan yang memiliki energi dan stamina lebih.

Dia mengembangkan sikap malu jika kalah dengan media lain. Selalu berusaha mendapatkan berita dan narasumber yang eksklusif. Jaringan ke narasumber dia rawat dengan baik. Waktu dan kemampuannya dia dedikasikan untuk meningkatkan kualitas diri sebagai wartawan. Dia bekerja lebih keras. Sebab dia merasa bahwa dirinya termasuk orang yang tidak cerdas. “Jadi, harus bekerja lebih keras supaya dilihat dan menonjol,” katanya.

Bahkan pada hari pertama bekerja di antv, , 20 Februari 2006, dia masuk kantor pukul 01.00 dinihari. Saat para karyawan lain sudah pulang, dia justru sudah masuk kantor. Selama dua bulan pertama dia biasa sudah berada di kantor pukul 03.00 wib. Pulang pukul 22.00 atau 23.00.

Saat masih menjabat GM News & Talkshow Production, dia tidak sekadar memberikan tugas kepada bawahannya, tapi juga berdiskusi dengan anak buahnya. Langkah pertama adalah mendesakkan pembenahaan siaran pagi. “Sebab, siaran pagi jarang diperhatikan. Padahal, itu siaran yang penting,” katanya.

Sampai sekarang, dia sepekan sekali datang ke kantor pukul 05.00 pagi untuk mengobrol dengan kru yang berangkat malam. Selain tugas kantor, dia tidak segan-segan membantu bawahannya yang membutuhkan.

Dengan kecanggihan teknologi dan alat komunikasi, dia bisa memberikan perintah lewat email atau ponsel. Meski begitu, dia juga masih sering mendampingi krunya selama bekerja. Alasannya, “Selain bisa berdiskusi, jika ada masalah bisa langsung diambil tindakan.”

Lebih dari itu, aturan di antv memberikan libur dua hari dalam seminggu kepada karyawannya. Tapi, dia jarang menggunakan penuh haknya itu. “Paling-paling libur satu hari. Atau bahkan, jika dirasa mendesak, hari libur tidak saya gunakan,” katanya.

Karier Uni sekarang menunjukkan bahwa untuk membangun karier yang cemerlang tidak harus memiliki cita-cita. Bahkan dia merasa tidak sengaja terjun di dunia televisi. “Saya tidak punya cita-cita,” katanya.

Sebulan setelah lulus dari Insitut Pertanian Bogor tahun 1990, dia melamar dan diterima bekerja sebagai reporter Warta Ekonomi. Dari sanalah dia mulai mengasah ketajaman pena sampai sekarang.

Perkembangan karier Uni tidak bisa dipisahkan dari pengertian suaminya, Iwan Qodar Himawan, yang juga wartawan. “Pengertian suami sangat penting. Dia mengerti pekerjaan saya, meski misalnya, dua hari nggak pulang ke rumah,” katanya, tersenyum.

Tak hanya itu, dia tipe orang yang selama 24 jam bisa dihubungi. “Sejak dulu saya tidak pernah mematikan telepon seluler,” ujarnya.

Pantangan Uni selama meniti karier adalah korupsi. Sejak menjadi reporter sampai Wapemred antv sekarang, dia memegang teguh sikap antikorupsi, dan antiamplop. “Selama saya tidak korupsi dan menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi, saya mempunyai stand point yang kuat,” katanya.

Dengan jabatannya sekarang, Uni berwenang menayangkan atau tidak suatu berita. “Itu kewenangan yang menggoda,” katanya. Tetapi, ia sadar bahwa dirinya bukan orang yang memiliki kebutuhan hidup tinggi sehingga mampu menahan godaan itu.

“Suami saya juga sederhana. Apa yang saya terima dari perusahaan ini (antv) dan perusahaan sebelumnya lebih dari cukup. Rumah satu sudah cukup. Anak hanya satu. Saya memiliki lingkungan yang membuat saya tidak kemrungsung,” katanya.n

Kutipan:

Pantangan Uni selama meniti karier adalah korupsi. Sejak menjadi reporter sampai Wapemred antv sekarang, dia memegang teguh sikap antikorupsi, dan antiamplop.

Jurnal Nasional Edisi No. 007 Minggu III Maret 2007

Tuesday, March 27, 2007

Nyepi ke Yogya

HARI Raya Nyepi, jatuh pada 19 Maret lalu, menjadi libur panjang. Sabtu-Minggu-Senin menjadi tanggal merah. Selama tiga hari itu kantor-kantor tutup. Apalagi di Bali. Tepat pada hari Nyepi, suasana betul-betul sepi. Hanya pasukan adat, dalam bahasa lokal disebut pecalang, yang boleh bergerak. Penyeberangan dari Banyuwangi ke Gilimanuk diliburkan. Bandar udara diistirahatkan. Pendeknya, seluruh Indonesia bersatu dengan Bali, menjadi negeri yang sepi.

Hari libur itu juga kami manfaatkan untuk mewujudkan rencana lama: naik kereta api. Berbulan-bulan Darrel minta naik kereta api. Setiap kali melihat film Thomas and Friend, ia berteriak-teriak: ‘’wah, kereta apinya panjang ya… Aku mau naik thomas yang biru.’’ Thomas adalah nama kereta api yang baik hati. Dalam film kartun tiga dimensi itu, Thomas bersama teman-temannya berkelana ke sana ke mari, menembus derasnya salju, untuk melayani warga. Pokoknya hebatlah.
******
Beruntung ayah dan mommy punya banyak kenalan di PT Kereta Api Indonesia. Sehingga meski libur panjang, antrean pembeli tiket membludak, kami tidak punya kesulitan untuk membeli tiket. Pokoknya, lancarrrrrrrrrrrr!!!
Ayah membeli tiket pada hari Kamis, alias sehari sebelum keberangkatan. Di loket sudah ada tulisan: Taksaka habis. Argolawu habis. Argobromo Anggrek, habis. Dengan pertolongan seorang kenalan, kami bisa mendapatkan tiket. Menurut kebijakan PT KAI, memang ada tiket yang dialokasikan untuk keperluan darurat. Tidak banyak, paling cuma delapan tempat duduk. Alhamdulillah, kami tidak berurusan dengan calo, yang menjual tiket dengan harga Rp 300.000, alias naik Rp 80.000 per lembar.
**********
''Nanti jangan sampai Darrel ditinggal sendirian. Nanti, jangan sampai Ayah ketiduran. Kalau sampai Darrel bangun, terus jalan-jalan sendiri, bahaya. Jangan lupa membawa minuman. Jangan lupa membawa tissue basah untuk lap kalau pipis...''
Duh, banyak pesan dari mommy. Memang wajar sih, kan ini perjalanan panjang, 10 jam lebih...
Lagi pula, kereta api di Indonesia, meski eksekutif sekalipun, kurang begitu aman. Gerbong seringkali dibuka, yang membuat penumpang bisa melompat dari dalam. Sebaliknya, dari luar, pencoleng juga bisa masuk. Jangan bandingkan laju kereta Indonesia dengan sepur van Europe, atau van Amrik...
Kalau kita sudah terbiasa berkelana dengan kereta api di Eropa, akan terasa betapa sepur Indonesia tidak nyaman. Stasiunnya kurang bersahabat bagi calon penumpang: tempat duduknya kurang, WC-nya pelit kebersihan, jadwalnya banyak molor.
*********

Mommy ikut mengantar Darrel ke dalam kereta. ''Awas, ati-ati ya Darrel! tidak boleh jalan-jalan. Tidak boleh nangis,'' kata Mommy.
''Ya Mommy. I love you,'' kata Darrel.
Mommy kemudian berpelukan dengan Darrel.
Mommy kemudian pergi.
Setelah itu, Darrel kembali ke kebiasaan lama: lompat-lompat di atas kursi. Sampai jam 23. lewat, ia baru tidur....
Tidak nyaman baginya untuk bobok. Kursinya susah direbahkan. Sementara kakinya belum bisa menjangkau pijakan di depannya. Terpaksalah blingsatan, bergerak kiri kanan, untuk tidur...
Pelajaran penting: lain kali kalau pergi dengan kereta api, bawalah bantal, demi kenyamanan. Bantal pemberian KAI selain tipis, tidak nyaman, acapkali berbau.
Taksaka meninggalkan Gambir jam 20.45, on schedule. Tapi ia baru mendarat di Stasiun Gambir jam 06.45, meleset satu jam dari jadwal.
Eyang Kakung sudah menjemput dengan Pak Hadi, sopir keluarga, di stasiun. Alhamdulillah, Eyang Kakung sehat. Di rumah, Darrel ketemu Eyang Puteri. Alhamdulillah, beliau juga sehat...

*************
Tanpa janjian, ternyata Om Andi dan Tante Maya juga pergi ke Yogya. Mereka naik Adam Air, pada Sabtu pagi. Mereka dapat tiket murah, Rp 240.000, hanya Rp 20.000 di atas tiket kereta api.
''OK Andi, besok saya jemput kalau begitu,'' kata Ayah, pada Jumat siang.
''OK Mas, terima kasih.''
Kedatangan Om Andi dan Tante Maya membuat suasana liburan menjadi lebih meriah. Berempat kami berjalan-jalan ke ''Resto Jambon'', tempat makan dan minum di daerah Godean. Lokasinya kira-kira dari Nogotirto, masuk ke Utara sekitar 5 Kilometer. Tempatnya lumayan nyaman.
Kami datang pada hari Minggu, jam 13.00. Walah... tempatnya penuh. Hampir satu jam kami butuhkan untuk menunggu datangnya pesanan.
Pelajaran penting: jangan datang pas jadwal makan siang, di restoran yang ramai.
Selama satu jam menunggu itu, Darrel luar biasa gesit. Ia berlarian ke sana ke mari. Bergantian kami harus mengikutinya. Ia tidak boleh lepas dari pandangan mata, dan jangkauan tangan.
Makanannya memang lumayan nyaman di lidah.
Menu khasnya adalah udang berkecap, gurame bakar, kangkung tumis. Sebetulnya itu menu yang biasa. Hanya saja, karena disajikan di tengah-tengah kolam yang ikannya ''kecepek-kecepek'', rasanya jadi enak bin lezat...
Lepas dari Resto Jambon, kami berjalan ke Kasongan untuk membeli gerabah. Om Andi dan Tante Maya yang sibuk berbelanja. Ayah dan Darrel di dalam mobil, tidur....



Friday, March 16, 2007

Tatkala Jakarta Banjir




TELEPON berdering-dering dari mbak Yeni, mbak Tiwi, Ibu di Yogya, juga Tante Atik di Libya. ''Piye mas, kebanjiran ora?''

Percakapan itu terjadi pada awal Februari lalu. Hari itu, 2 Februari 2002, Jakarta dilanda hujan deras banget, dari sore sampai sore berikutnya. Harinya Jumat. Gara-gara hujan, saya berangkat ke kantor siang-siang.

Untuk salat Jumat, juga terganggu. Sebagian jalan di komplek terendam air --lihat tuh, di gambar pertama. Hujan juga masih deras. Ketika sampai di masjid, khotibnya belum datang. Ia rupanya terjebak banjir. Sungai di samping masjid juga heboh: airnya meluap, arusnya deras. Wah...

Kami bersyukur, komplek kami, Permata Timur, di Jati Cempaka, 200 meter dari perbatasan Jakarta Timur-Bekas, bebas banjir. Bebas banjir tidak berarti kami bebas dari rendaman air. Di beberapa lokasi, air menggenang. Tapi maksimum 20 cm.

Jauh lebih menyesakkan adalah mereka yang tinggal di komplek-kompleks langganan banjir. Kawannya Mommy, namanya Machsus, tinggal di Pondok Karya, Jalan Bangka, Jakarta Selatan.
Rumahnya kerendam ''cuma'' dua meter. Ketika hujan sedikit reda, airnya menyusut hingga ''cuma'' sepinggang orang dewasa.

***
Rumah kami, alhamdulillah, tetap nyaman. Ada beberapa bocor. Di jalan depan rumah, ada air menggenang (lihat tuh, ada gambar mbak minah dan pak rejo). Di halaman belakang, air juga mengucur cukup deras. Tapi, alhamdulillah lagi, aman.

Di halaman belakang, persis yang menempel teras, air sempat naik hingga tinggal 5 centimeter dari teras. Saya sempat deg-degan. Sebetulnya sudah ada saluran air cukup besar, yang langsung membuang air di situ ke selokan. Tapi hari itu selokannya airnya luber. Jadinya, air hujan agak lambat terbuang.
****
Sumur resapan membuat air hujan dengan cepat teresap. Sewaktu membangun halaman belakang, kami membangun tiga sumur resapan. Ada batu besar, kerikil, ijuk, pasir, dsb, yang kami tanam di halaman belakang. Ilmu sumur resapan itu kami dapatkan dari internet. Kami buat saja, mengikuti gambar, langsung diterapkan.

Banyak orang yang tidak membuat sumur resapan. Alasannya macam-macam. Di antaranya, sumur resapan dinilai hanya membuang biaya. Memang, sumur resapan tidak bisa dilihat, sebagaimana kalau kita membeli pot, menanam anggrek, atau membuat pagar. Sumur resapan adanya di bawah tanah, jadinya manfaat langsungnya tidak terasa seketika.

Padahal, sumur resapan punya arti penting untuk menyerap air ke dalam tanah. Sehingga tidak semua air hujan harus menggelontor, masuk ke selokan. Ketika Jakarta didera banjir seperti awal Februari lalu, arti pentingnya sumur resapan digaungkan lagi. Sampai-sampai, Gubernur menyatakan, akan mendenda rumah tangga yang tidak membuat sumur resapan.

Yah, tapi nasi sudah terlanjur matang. Banjir sudah terjadi. Meski demikian, rasanya belum terlambat untuk membuat sumur resapan, bagi yang belum memiliki. Seperti halnya: belum terlambat membuat banjir kanal timur, belum terlambat mendandani situ-situ yang sudah mendangkal, dan belum terlambat meresikkan sampah di pintu air Manggarai.

Kalau di rumah saya air relatif aman, tidak demikian halnya dengan kompleks dekat rumah, Jatiwaringin Antilope. Air menggenangi jalanan, hampir satu meter. Air bertamu ke rumah-rumah, hingga lebih dari satu meter.

Pernahkah Anda merasakan air masuk ke rumah, lima centimeter saja? Risih. Badan kita rasanya gatal-gatal. Serba tidak nyaman.

Di Cipinang Muara, air sampai setinggi tiga meter. Sekali lagi, tiga meter!! Di Kelapa Gading, juga sekitar tiga meter. Di Kampung Melayu, Pengadegan (ini dekat kantor saya), juga hampir sama ketinggiannya.

Banjir di Cipinang membuat jalanan Kalimalang lumpuh total. Pemilik mobil di Cipinang Indah (ini komplek bagus lo!), memindahkan mobilnya ke pinggir jalan Kalimalang. Komplek Cipinang Indah memang mengenaskan. Rumah-rumah bagus yang mahal itu terletak di Cekungan, lebih rendah dari Kalimalang.

Ketika hujan datang, air langsung menggenang. Susah untuk mencari jalur keluar.

Banjir Jakarta memberi pelajaran penting, tak hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi warga. Setidaknya para warga disadarkan kembali akan pentingnya menjaga kebersihan. Juga akan arti penting bekerjasama dengan tetangga untuk membersihkan selokan.

Friday, February 09, 2007

Tenda dan Tante






SUDAH lama kami punya keinginan membeli tenda. Rumah-rumahan itu akan dipakai main Darrel. Namun, tiap kali lewat di depan Carrefour, rencana membeli tak kesampean. Ada saja alasannya untuk tidak membeli. Di depan Carrefour, MT Haryono, memang ada pedagang tenda yang memajang barang-barangnya.

Tenda berwarna-warni itu rencananya kami pakai main bersama Darrel.
****
Akhirnya jadi juga tenda itu dibeli. Januari lalu, di Ace Hardware, Mal Artha Gading, Jakarta. Harganya tidak mahal: Rp 199.000.

Tenda untuk anak harganya bermacam-macam. Kita bisa membeli yang Rp 2 juta, Rp 400 ribu, ato yang Rp 1 juta lebih. Kami memilih yang paling murah. Banyak mainan yang kami beli, ternyata hanya dipakai Darrel dua minggu. Ia bosan. Kalo beli tenda ini cuma dipake dua minggu, kami tidak rugi banget.
*****
Tenda itu biasanya dipasang pada hari Sabtu dan Minggu. Bukan di atas rumput, tapi di pendopo. Sambil bermain tenda, Darrel maem.
Sesekali, kami pasang tenda itu di atas rumput, seperti di foto.

Di dalam tenda itu, dihampirkan kasur, bantal, dan mainan.
Tapi biasanya main di dalam tenda itu tak lama. Paling jam 9 pagi sudah selesai. Karena pagi hari, Minggu, ada film seru di Indosiar, Power Rangers.
*****
Kalo Om, Tante, Opung, atao Eyang mau membeli tenda di awal Februari 2007 ini, jangan buru ke Mal Artha Gading. Mal elok di Jakarta Utara itu ikut kehantam banjir. Nggak kebayang, barang-barang di dalamnya pasti kena lumpur. Duh, kasihan.
****
Cerita tenda sudah ya?
Saya papangkan di sini foto Tante Atik, yang Januari lalu balik ke Libya. Ayahnya Darrel menemui Tante Atik di hotel Quality, ini hotel transit di Bandara Soekarno Hatta. Di foto tampak ia memeluk ayahnya Darrel…

Foto itu diambil di kamar hotel. Di samping tante itu sebetulnya ada gambar Mbak Naila dan Dik Azul, yang lagi bobok di kasur. Tapi motret orang bobok tidak baik kan?

Selamat kembali ke Libya, Tante. Semoga sukses.

Thursday, November 16, 2006

Menguber Biang Demam


HARI Minggu pagi, 12 November 2006 lalu, rumah kami terasa putih. Bukan karena salju bawaan dari Bandung masih menempel. Hari itu Pak RT punya program cukup penting, penyemprotan nyamuk demam berdarah.
Dua jam sebelum acara dimulai, Mommy sudah ribut. Ia menyuruh mbak Minah dan mbak Mur menyingkirkan semua makanan dan peralatan makan-minum dari atas meja ke dalam lemari, dan ditutup rapat. Ia juga sibuk menyiapkan masker, untuk menutup mulutnya Darrel.
Tumben, kali ini ia suka rela ‘’tutup mulut’’. Soalnya, mommy melontarkan kalimat-kalimat yang menakutkan. ‘’Awas, kalau tidak pakai masker, obatnya bisa masuk mulut… bahaya…’’
****
Menyemprot nyamuk hampir menjadi hal rutin setiap beberapa bulan, terutama di musim hujan. Kali ini, meski kemarau masih melanda Jakarta dan sekitarnya, si begundal aedes aegepty harus diuber karena –menurut kabar—sudah makan korban. Ada anak di luar kompleks yang sakit demam berdarah.
Maka diundanglah petugas untuk menyemprot nyamuk, dari rumah ke rumah. Termasuk ke Permata Timur Blok JJ/3 Jaticempaka, tempat kami bermukim.
Petugas datang jam 10-an. Ia langsung menyemprot di taman belakang. Setelah itu, ia masuk ke kamar tidur utama. Gudang, garasi, dapur, semuanya disemprot. Bahkan teras depan dan tamannya, juga ikut ditembak.
*****
Menguber nyamuk aedes aegepty, yang jadi penular sakit demam berdarah, sebenarnya sangat simpel. Dalam bahasa pemerintah, kegiatannya diberi nama ”3M”, yakni ”menguras”, ”menutup”, dan ”mengubur”. Menguras yaitu melakukan pengurasan secara teratur seminggu sekali tempat penampungan air bersih.

Menutup adalah menutup rapat-rapat tempat penampungan air bersih. Dan mengubur, yang dimaksudkan adalah mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik, dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air hujan hingga menjadi sarang nyamuk.
Wartawan Pikiran Rakyat, Bandung, Marsis Santoso, dalam artikelnya di Pikiran Rakyat 17 Januari tiga tahun lalu menulis, siapa pun yakin tidak ada yang sulit untuk melakukan kegiatan tiga ‘’M’’. Tidak perlu biaya dan kalaupun harus dikeluarkan hanya sedikit tenaga. Namun, apakah orang mau melakukannya? Di sini memang problemanya.
Kendati sejak 1998, Departemen Kesehatan pernah membuat klip program kampanye penanggulangan demam berdarah dengan menggunakan bintang film/sinetron populer Rano ”Si Doel” Karno yang rajin tayang di televisi, rasanya orang lebih terpikat dengan akting sang bintang. Apakah pemirsanya mau mengikuti dan melaksanakan anjurannya, masih perlu dipertanyakan.
Terbukti, penyakit demam berdarah atau Demam Berdarah Dengue (BDB) masih sering mewabah. Seperti yang tengah melanda Desa Sengon Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes, Jawa Tengah belakangan ini. Bahkan, karena telah merenggut nyawa 8 anak-anak dalam sebulan terakhir (Pikiran Rakyat, 15/1), hampir setiap orang tua di desa itu dibuat panik berlebihan setiap salah seorang atau lebih dari anaknya menderita panas dan demam. Mereka takut anak-anaknya akan sama nasibnya dengan kedelapan anak yang telah meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes aegypty itu.
Setelah menjadi wabah seperti itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Dr. H. Laode Budiono, M.P.H., warga desa yang terkena maupun desa-desa sekitarnya langsung berbondong meminta dilakukan fogging (pengabutan) atau penyemprotan dengan menggunakan campuran Malathion 4% dan solar. ”Karena masyarakat menganggap, penyemprotan merupakan satu-satunya senjata pamungkas. Ada kasus demam berdarah, asumsi masyarakat berarti harus ada fogging,” ujarnya.
Padahal dalam upaya penanggulangan demam berdarah dewasa ini, pengabutan hanyalah upaya penanggulangan sesaat dan tidak memiliki efek pencegahan.
Alasannya, nyamuk-nyamuk yang mati akibat terkena semprotan hanya nyamuk Aedes aegypty dewasa saja. Sementara itu, jentik dan kepompong sebagai stadium nyamuk yang hidup di tempat berair tidak tersentuh. Oleh karena itu, efek pengabutan akan hilang bersama hilangnya kabut insektisida yang disemprotkan. Selama penderita DBD masih ada dalam wilayah tersebut, nyamuk baru yang muncul kemudian dari kepompong tetap memunyai kesempatan mengisap darah penderita DBD yang masih ada dan penularan akan tetap berlangsung.
Diakui Laode, bila pengabutan dilakukan berulang kali dengan frekuensi teratur, memang akan menekan kepadatan populasi nyamuk. Akan tetapi, setelah pengabutan dihentikan, populasi nyamuk akan kembali meningkat. Di sisi lain, pengabutan di era krisis seperti sekarang ini dihadapkan pada banyak kendala. Pengabutan memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama dalam pengadaan insektisida. Gambarannya, satu kali pengabutan dengan jangkauan wilayah yang tidak terlalu luas biaya yang diperlukan Rp 150.000,00 per liter.


”Karenanya, dengan program penanggulangan DBD di Kabupaten Brebes yang saat ini sumber dananya dari Dana Alokasi Umum (DAU), yang pada tahun 2001 anggarannya cuma sebesar Rp 12,2 juta dan naik menjadi Rp 15 juta untuk tahun 2002, sulit bagi Dinkes untuk bisa meliputi 295 desa dan kelurahan yang ada,” kata Laode menambahkan.
******
Kabupaten Brebes merupakan daerah endemi DBD. Pada tahun 2001, terdapat 17 desa endemis di 7 kecamatan yakni Jatibarang, Ketanggungan, Larangan, Bulakamba, Wanasari, Tanjung, dan Brebes. Jumlah kasus sebanyak 120 penderita dengan 8 orang di antaranya meninggal. Dari data itu diperoleh kesimpulan, angka kesakitan sebesar 7 per 100.000 penduduk. Dari sisi ini tergolong baik karena target nasional 20 penderita per 100.000 penduduk. Namun, dari sisi angka kematian (case fatality rate) yang mencapai sebesar 6,7%, bisa dikatakan kurang baik karena target nasionalnya kurang dari 1%. Adanya kasus wabah di Desa Sengon yang terjadi awal tahun ini dan menyebabkan 8 orang penderitanya meninggal, mengisyaratkan bahwa DBD diam-diam terus menelan korban.
Untuk itu, Ka Dinkes Laode Budiono kembali menegaskan, kini sudah saatnya orientasi penanggulangan DBD mesti berubah. Program penanggulangan DBD yang selama ini cenderung pada upaya pemberantasan nyamuk dewasanya saja, sementara aspek pencegahan dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) belum mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Padahal, justru PSN merupakan kegiatan yang efektif dan efisien hanya belum secara utuh diketahui masyarakat sebagai langkah penanggulangan DBD yang benar.
”Asumsi ini bisa saja keliru. Tetapi, jika mengkaji beberapa surat usulan dari masyarakat untuk kegiatan pengabutan masih menunjukkan ketidaktahuan masyarakat terhadap upaya penanggulangan DBD. Misalnya saja, ada surat dari seorang kepala desa yang meminta agar wilayahnya segera diberikan pengabutan dengan alasan di wilayahnya banyak air kotor yang tergenang. Alasan ini bisa dikatakan kontradiktif, mengingat nyamuk Aedes aegypty lebih suka bertelur dalam bejana dengan air yang relatif jernih bahkan yang tidak kontak dengan tanah,” kata Laode.
Pemberantasan sarang nyamuk pada dasarnya menganut prinsip-prinsip dalam pencegahan DBD. Yakni kemampuannya untuk memutuskan rantai penularan karena daur hidup Aedes aegypty tidak akan pernah tercapai. Jadi pada gilirannya mampu menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypty. Pemberantasan sarang nyamuk akan menjadi sangat berarti jika dilaksanakan satu kali dalam seminggu, dengan maksud agar daur hidup nyamuk yang berlangsung 7-10 hari tidak tercapai sehingga nyamuk tidak sempat menjadi dewasa.
Memang banyak kendala yang menyertai upaya pencegahan ini. Akan tetapi, paling tidak sudah ada agenda nasional yaitu ”Bulan Gerakan 3M” yang telah dicanangkan sejak 24 April 1998. Tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi gerakan kebersihan tersebut.
Menurut Dr. H. Laode Budiono M.P.H., pendekatan reward and punishment dapat saja diterapkan dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk. Misalnya, bila ada rumah yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypty maka oleh warga masyarakat lainnya akan diberikan ”penghargaan”. Begitu pun sebaliknya, layak diberikan ”hukuman” pada warga yang rumahnya banyak jentik nyamuk Aedes aegypty-nya. Bentuk-bentuk penghargaan maupun hukuman tersebut dapat disepakati bersama oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

Dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, hendaknya masyarakat sendiri yang melaksanakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasinya. Sementara itu, petugas kesehatan hanyalah bertindak sebagai pendorong saja. Hanya dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, masyarakat masih perlu meminta bantuan petugas kesehatan yang memunyai data mengenai Demam Berdarah dengue. Petugas kesehatan akan menentukan ”Bulan Gerakan 3 M” sebaiknya dilakukan. Jadi, menguras, menutup, dan mengubur sebagaimana disarankan Rano ”Si Doel” Karno lewat kampanye ”Gerakan 3 M” memang satu-satunya cara untuk menghindar dari ancaman demam berdarah**
******
Mau 3M, atau M3, tidak jadi masalah. Tapi, lebih penting dari itu adalah bagaimana menjaga pola hidup bersih, sehingga si nyamuk tidak punya tempat untuk bermukim….

Dunia Salju Isinya Es Batu


DI halaman parkir Bandung Super Mall, dekat kampus Seskoad Bandung, ada ‘’Snow World’’. Bahasa Indonesianya: dunia salju. Bahasa Sundanya? Kurang jelas, tapi mungkin Ice Juice… Di Bandung Tourism, ada infonya.
Melihat namanya, kesannya amat sensasional. Di Bandung yang terik menyengat, ada salju. Maka, begitu selesai bermain di ‘’Alam Fantasi’’ Bandung Supermall, mommy mengajak Darrel berjalan ke tempat parkir, masuk ke Snow World alias Ice Juice itu.
Harganya cukup mahal. Untuk anak-anak, Rp 25.000. Untuk orang dewasa, Rp 35.000. Hampir Rp 100.000 hanya untuk merasakan dinginnya cuaca plus hembusan salju. Si ‘’dunia salju’’ itu terletak di barak, mirip tempat pengungsian. Luasnya kira-kira 500 meter persegi.
****
Mommy membeli tiga tiket. Antrenya lumayan, sekitar 10 menit. Sebelum masuk, kita diberi jaket warna merah, yang harus dikembalikan begitu keluar dari ruangan ‘’bersalju’’.

Semula saya mau mencoba untuk tidak usah memakai jaket. Ternyata tidak bisa. Begitu masuk ke ruangan, langsung terasa dinginnya minta ampun… Bakat reumatik saya terbukti. Tangan saya langsung ngilu-ngilu. Gigi ikut linu.
Yang namanya dunia salju ini ternyata ya dunia bohong-bohongan. Lebih pas bila disebut sebagai dunia es batu. Begitu masuk, kita akan melihat patung macan, garuda, gajah, juga puteri duyung, yang semuanya dari es batu. Di kiri kanan gedung terlihat lobang-lobang cukup besar, sekitar 75 cm, tempat mesin pendingin menghembuskan hawa ademnya.
Saya tidak tahu kenapa penyelenggara menyebutnya sebagai ‘’Dunia Salju’’, bukan ‘’Dunia Es Batu’’. Tapi kalau mau mencari dingin saja, ya pas. Karena memang menyengat banget dinginnya.
Saya betul-betul tidak tahan. Baru masuk sebentar, sudah ingin mencari jalan darurat untuk keluar. Mommy juga begitu. Tapi Darrel tenang saja. Sekali-kali ia ketawa sambil mencopot jaketnya. Walah.
‘’Eh, Darrel. Ayo pake jaket…’’ teriak mommy.
Yang diteriaki malah tersenyum, sambil melarikan diri…
*****
Ini bukan ‘’Dunia Salju’’ yang pertama di Indonesia. Kompas 31 Desember 2005 menulis berita ‘’Sensasi Titik Beku Dunia Salju’’. Ini kisah pengalaman wartawannya yang berkelana ke dunia salju di Dunia Fantasi, Ancol, Jakarta. Tulisannya sebagian saya muat di sini:
Tak perlu jauh-jauh ke Eropa, Amerika, atau daerah kutub untuk menikmati pemandangan serba es dan hujan salju. Kini, suasana itu telah hadir di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Ice World, nama tempat itu, mulai membius warga Ibu Kota. Sayang, seperti arena lain di Ancol, harga tiketnya tidak murah untuk kocek rakyat kecil.

Bukan berarti ada perubahan iklim jika salah satu tempat di Pantai Carnaval, Ancol, tiba-tiba bersuhu di bawah nol derajat Celsius. Pada suhu seperti itu, napas yang terembus melalui hidung atau mulut menyemburkan buih tipis. Kulit yang tak terlindungi terasa mengeras, membeku, dan seperti mau pecah.
Suasana tidak lazim untuk penduduk di negeri tropis itu justru menjadi magnet bagi ribuan warga Ibu Kota guna memadati Ice World, sejak dibuka 23 Desember lalu. Seperti pada hari Jumat (30/12), antrean pengunjung tampak mengular panjang di depan pintu masuk. Lapangan dan kiri-kanan jalan di sekitar taman hiburan itu penuh dengan mobil pengunjung.
Begitu padatnya pengunjung siang itu, Marketing Manajer Ice World Waylan Gerung sempat cemas karena tiket mulai habis. Menurut dia, beberapa hari terakhir pengunjung terus meningkat. Dari 1.000, 1.500, 2.000, hingga 3.400 orang per hari.
Seperti namanya, Ice World (dunia salju) menawarkan suasana alam dan pemandangan serba es. Di dalam ruangan seluas 1.200 meter persegi, setiap pengunjung bisa merasakan suhu di bawah titik beku, yakni berkisar minus 10-15 derajat Celsius. Pada suhu ini pengunjung harus memakai jaket tebal yang telah disediakan pengelola.
Sambil merasakan embusan suhu sangat dingin, seperti lazimnya di negara-negara Eropa atau Amerika pada musim dingin, pengunjung disuguhi pahatan-pahatan es berbentuk obyek-obyek dari tujuh keajaiban dunia, seperti Istana Taj Mahal (India), Menara Eiffel (Paris, Perancis), Istana Kaisar China di Kota Terlarang, kereta Narnia, papan seluncur es, serta ikan keberuntungan. Tidak ketinggalan, juga guyuran butiran-butiran putih hujan salju.
Seperti diakui sejumlah pengunjung, semuanya mendatangkan sensasi tersendiri mengingat mereka umumnya belum pernah mengalami suasana iklim tersebut. Kami jadi tahu rasanya tinggal di negara-negara yang mengalami hujan salju. Dingin banget, menggigil, tapi menyenangkan, kata Bobby (12). Kayak di negara kutub aja, timpal Dio (9), saudaranya.
Kami pernah tinggal setahun di Perth, Australia, tapi belum pernah mengalami suasana seperti ini, ujar Yanti (31), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang membawa serta anaknya yang berusia tiga tahun.
Pemahat Harpin
Pahatan es dalam beraneka bentuk itu terlihat semakin indah karena muncul cahaya berwarna-warni dari dalam es. Menurut Waylan, inilah yang membedakan Ice World Ancol dari Ice World serupa di Barcelona (Spanyol), Auckland (Selandia Baru), Sidney (Australia), Ho Chi Minh City (Vietnam), Manila (Filipina), serta Kuala Lumpur dan Malaka (Malaysia).
Di sini semua lampu itu tertanam di dalam es. Di luar negeri, pencahayaan berupa lampu sorot, ujar Waylan. Lampu es berwarna-warni itu tampak dominan dengan pengaturan cahaya dalam ruangan yang sedemikian rupa. Pahatan-pahatan es bertahan pada bentuknya berkat pengaturan suhu ruangan yang digerakkan 12 mesin.

Keindahan pahatan es tersaji di hadapan pengunjung berkat keahlian pemahat dari Harpin, daerah di China bagian utara. Satu di antara mereka, menurut Waylan, adalah juara dunia pemahat tahun 2005 di Belgia. Selama bulan Desember, pengunjung bisa juga menikmati kemahiran para pemahat itu dalam membentuk balok-balok es.
Untuk membentuk pahatan-pahatan es itu, pengelola mendatangkan tak kurang dari 480 balok es. Balok-balok es dipilih dari sejumlah pabrik es yang bebas dari kotoran untuk menghasilkan pahatan es sempurna, tanpa ternoda kotoran.
****
Mau ke mall atau mau ke Dunia Fantasi, silakan. Bebas pilih. Yang jelas, kondisi fisik harus prima. Kalau kita lagi sakit gigi, lagi pusing, atau perut mual, masuk ke dunia es batu sungguh tidak nyaman.
Yang tak kalah penting, jangan lupa membawa dompet dengan isi tebal.

Thursday, November 09, 2006

Taman Pintar Yogya


DI Yogyakarta, ada tempat wisata baru untuk anak-anak. Namanya Taman Pintar. Lebaran lalu, ayah dan Darrel main ke tempat di sebelah timur Benteng Vredeburg ini. Tiga puluh tahun lalu, saya sering main ke tempat lokasi Taman Pintar ini, sewaktu masih menjadi toko buku bernama ‘’Shopping Center Sasana Triguna’’.

Pak Herry Zudianto, walikota Yogya sekarang, menggagas lahirnya Taman Pintar. Saya teringat sewaktu dua tahun lalu bertemu beliau di Hotel Sahid, Jakarta. Pak Herry sedang menginap di situ, ketika itu. Ia bercerita, Yogyakarta sebagai kota pelajar ternyata malah tidak punya tempat wisata pendidikan. Ia mengangankan lahirnya Taman Pintar, yang diharapkan bisa menambah mencorong citra Yogya sebagai kota pelajar.

Pak Herry kemudian menggandeng berbagai lembaga untuk mengisi Taman Pintar. Ada pabrik susu Sari Husada, Excelcomindo, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jangan kaget kalau main ke Taman Pintar, di situ ada berbagai baliho nampang. Saya memandang ini merupakan bukti kecerdikan Pak Wali.
****
Di situs www.tamanpintar.jogja.go.id, om, tante, eyang dan opung, bisa menyaksikan konsep lahirnya Taman Pintar. Kalimat di situs ini bunyinya filosofis banget: ‘’Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, adalah sesuatu yang seharusnya disyukuri karena menjanjikan kemudahan bagi peningkatan peradaban manusia. Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan juga menyembunyikan tantangan berupa sikap manusia atas laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.’’
Lanjutnya: ‘’Program pembangunan Taman Pintar secara umum terbagi dalam perencanaan secara umum, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta perencanaan dan pelaksanaan materi isi. Perencanaan materi isi mempunyai arahan untuk dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada keseluruhan kelompok sasaran. Pendekatan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui berbagai media dengan tujuan meningkatkan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.’’

Secara garis besar materi isi Taman Pintar terbagi menurut kelompok usia dan penekanan materi. Menurut kelompok usia terbagi atas usia tingkat pra sekolah hingga taman kanak - kanak dan sekolah dasar hingga sekolah menengah, sedangkan menurut penekanan materi diwujudkan dalam interaksi antara pengunjung dengan materi yang disampaikan melalui anjungan yang ada.
****

Tiga perusahaan pengusung teknologi informatika, IBM Indonesia, Cisco Indonesia, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk, ikut membiayai lahirnya Taman Pintar. Juli tahun lalu, ketiga perusahaan ini menggalang kerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta membangun 'Taman Pintar.'

'Taman pintar' dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak dan masyarakat umum di Yogyakarta sebagai tempat untuk mengekspresikan, mengkreasi, serta belajar ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rencananya, dalam 'Taman Pintar' itu akan disediakan berbagai fasilitas seperti warung informasi teknologi, radio anak, warung internet, ruang eksibisi, serta ruang pertemuan.

Kelompok sasaran dari program pembangunan 'Taman Pintar' adalah anak-anak dari usia pra-sekolah hingga tingkat sekolah menengah. Rentang usia kelompok sasaran ini dipilih karena dipandang sebagai generasi penerus bangsa yang potensial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Direktur Komersial Excelcomindo Pratama (XL) Joy Wahjudi mengatakan, untuk mendukung 'Taman Pintar' ini perseroan akan menyediakan koneksi internet dengan kecepatan akses 64 kilo byte per second dan mengisi content berbasis teknologi informasi.
*****

Kementerian Negara Riset dan Teknologi juga membantu dengan menyerahkan alat peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pada 12 Desember 2005. Taman Pintar ini merupakan Pusat Peragaan Iptek di Yogyakarta sebagai salah satu sarana pembelajaran Iptek luar sekolah.

Kementerian Ristek menyediakan paket alat peraga listrik yang terdiri dari : Halilintar (yang berfungsi untuk menjelaskan kepada anak-anak tentang proses terjadinya halilintar); Bola Listrik (berfungsi untuk menjelaskan pola kilatan bunga api listrik akibat proses ionisasi); Generator Pedal (berfungsi untuk menjelaskan prinsip kerja generator yang merubah energi mekanik menjadi energi listrik); dan Generator Van de Graff (berfungsi untuk menjelaskan timbulnya listrik statis).

Tak gampang untuk menjelaskan kepada para murid ihwal berbagai fenomena ilmu pengetahuan di atas. Maka disarankan agar orang tua mendampingi anak-anaknya melihat Taman Pintar..
"Para orangtua siswa di samping mendampingi putra-putri mereka ke Taman Pintar sekaligus bisa mendapat semacam bimbingan konseling mengenai tumbuh kembang anak," kata Pak Suparno, pejabat yang mengurusi Taman Kanak-kanak di Yogya.
Pak Suparno merencanakan, 215 TK di Yogya datang bergiliran ke Taman Pintar. "Hanya saja, untuk biaya selain penggunaan fasilitas playground yang gratis, sepertinya akan dibebankan ke sekolah dulu. Berat jika pemerintah kota menanggung bagi 215 TK yang ada di wilayahnya," tuturnya.
Suparno mengemukakan, pemanfaatan Taman Pintar sebagai tempat rekreasi edukatif dengan sistem kunjung yang terjadwal lebih mudah dilakukan kepada siswa TK ketimbang anak yang belum menginjak bangku TK. Selain sekolah lebih mudah mengawasi, siswa TK juga lebih mampu melakukan kegiatan mandiri.
*****
Tapi, mohon berhati-hati kalau membawa anak ke Taman Pintar. Saya pernah ke Dunia Fantasi, Taman Safari, juga Kota Fantasi di Bandung Supermall. Kalau dibandingkan, tampak Taman Pintar kedodoran. Misalnya saja, WC-nya cuma ada dua. Ketika Darrel kebelet pipis, dia saya suruh ngampet dulu. La antreannya saja sepuluh orang.
Waktu mau berteduh, walah, susahnya… Semua tempat sudah keisi. Walhasil, ya kita harus tahan-tahan berpanas-panas.
Lebih repot lagi, pengamanan untuk anak juga jadi masalah. Salah satu favorit anak-anak, termasuk Darrel, adalah menaiki jaring-jaring tali untuk menggapai jembatan gantung. Susah lo untuk menaiki tali yang dianyam menjadi seperti net volley itu.
Tingginya sekitar 2,5 meter. Kalau jaringnya masih utuh, gampang bagi anak-anak untuk naik. Sayangnya tali di baris kedua dari atas sudah hilang. Walhasil, terdapat lobang besar. Darrel hampir jatuh. Kalau jatuh beneran wah… bisa repot..
Anehnya, tidak ada petugas yang menunggu. Hampir semua arena permainan dibebaskan. Tak ada satu pun petugas yang menunggui.
***
Kalau ada kekurangan, harap dimaklumi. Yang jelas, kalau mau ke Taman Pintar, ya siap-siap saja untuk capek menunggui buah hati. Lebih bagus perginya berdua, biar bisa gantian nunggu anak. Kalau sendirian, dijamin lumayan melelahkan.
Saya merasa amat lelah, sepulang dari Taman Pintar. Sebaliknya Darrel. Ia tetap saja gembira, tertawa, dan terus bermain-main. Tanpa capek.

Maklumlah, kalori yang tersimpan di perutnya saja amat berlimpah ruah…

Wednesday, November 01, 2006

Lebaran 1427 H


LEBARAN ini, keluarga kami terpisah menjadi dua kubu. Kubu Senin dan kubu Selasa. Kubu Senin artinya ada kelompok yang berlebaran pada Senin 3 Oktober 2006. Kelompok ini anggotanya dua: ayah dan mommy. Kubu Senin lebih banyak pasukannya: Tante Agus, Mbak Mur, Sugeng, Opung, dan Eyang.

Darrel ikut siapa?
Tak jelas kubunya. Karena ia juga belum salat. Berdoa saja paling baru bisa ‘’Bismillalohmanilohim... Allahuakban...’’. Di usianya yang ke-3,5 tahun, ia belum bisa bilang ‘’r’’ dengan baik. Mohon dimaafkan kalau ia belum bisa melafalkan ‘’bismillahirrahmanirrahiim dan Allahu Akbar’’ dengan baik.

Pagi itu, ketika saya dan mommy sibuk berbenah untuk salat Idul Fitri, Darrel masih terlelap. Ia nyenyak di kamarnya. Tante Agus, Mbak Mur, dan Sugeng, juga masih di kamar. Dan Mbak Minah? Ia sudah ada di Purwokerto, pagi itu.

Saya dan mommy sudah sejak awal membuat keputusan: akan mengikuti jadwal idul fitri dan jadwal puasa mengikuti agenda PP Muhammadiyah. Mohon dimaklumi, di dompet saya ada kartu anggota Muhammadiyah. Sedang di dompet mommy yang hilang, ada kartu Aisyiyah.
***
Maka, di Senin pagi itu, kami –ayah dan mommy—bergegas Salat Idul Fitri. Rencananya, kami mau salat di halaman Giant, Jalan Jatiwaringin Raya, Pondokgede. Empat tahun lalu, tatkala Darrel masih dalam kandungan, kami salat Idul Fitri di Lapangan Parkir Timur, Senayan. Saya masih ingat, Muhammadiyah dan pemerintah tahun itu berbeda jadwal idul fitri-nya. Kami harus berjauh-jauh menempuh perjalanan ke Parkir Timur, untuk mencari tempat salat. Beruntung pula, khotibnya adalah Amien Rais.

Tahun itu, 2003, untuk kedua kalinya kami tidak mudik ke Yogya. Dokter melarang mommy naik pesawat terbang, karena lagi hamil muda. Kalau mau mudik pake mobil rasanya capek. Jadi, ya istirahat saja. Sebelumnya kami pernah tidak mudik pada 1997, ketika mommy harus operasi pengangkatan kista.

Pada tahun 2003, salat idul Adha juga berbeda jadwal –maafkan kalau saya lupa. Yang jelas kami salat di halaman toko grosir Giant, yang diselenggarakan oleh Pengurus Muhammadiyah Cabang Pondokgede. Jalan untuk menuju ke sana hari itu muacettt... Maklumlah, halaman sempit, sedang yang menuju ke Giant buanyakkk....
****
Tahun ini mommy tidak bisa ikut ke Yogya. Ia baru delapan bulan kerja di an-tv, sehingga belum boleh ambil jatah cuti.

Maka, keluarga Permata Timur mengirim dua jagoannya ke Yogya: Iwan dan Darrel. Si Iwan sebagai bapak, si Darrel sebagai anak. Wuah, pengalaman berlebaran hanya berdua sungguh mengesankan.

Kami naik Lion Air, jadwalnya terbang jam 13.40. Seperti biasa, Lion Air meminta penumpang datang dua jam sebelumnya. Kami diantar mommy dan Tante Agus.
Begitu ditinggal mommy, mulailah persoalan baru. Mengajak Darrel untuk antre check in saja susahnya minta ampun. Akhirnya hukum rimba berlaku. Lengannya saya pegang erat-erat. Ia tidak boleh pergi. Berontak-berontak lumayan keras, sampai akhirnya dia diam karena kecapekan.

Selesai check ini, kami menuju ruang tunggu. Anehnya, hingga jam 13.40, pengumuman boarding pesawat belum juga dikeluarkan.
Tak lama kemudian, barulah keluar cuap-cuap: karena masalah operasional di bandara Balikpapan, pesawat Lion Air kode JT558 menuju Yogya tertunda keberangkatannya.
Apa itu yang dimaksud dengan masalah operasional, saya tidak tahu. Yang jelas, Darrel makin rewel saja.

Diam lima menit saja, bagi Darrel sudah persoalan besar. Apalagi untuk menunggu dua jam. Dan itu pun molor hingga akhirnya empat jam. Lebih repot lagi, ini melewati jam makan siang. Perjuangan berat.

Ketika lagi menunggu, tiba-tiba datang serombongan keluarga yang dengan enaknya mengeluarkan makanan junkfood Kentucky Fried Chicken.
Begitu melihat itu, Darrel langsung teriak: ayah, aku mau makanan seperti ini....
****
Di Yogya, saya dan Darrel dijemput Pakde Joni dan Bude Yeni. Alhamdulillah. Karena capek dan lapar, saya dan Darrel langsung menuju rumah Tahunan, tempat tinggal pakde dan bude.

Hari kedua di Yogya, yaitu Selasa, diisi dengan silaturahmi ke Klaten. Pesertanya cukup banyak. Yangkung dan Yangti, pakde Joni dan bude, cita-bella-tifa (kok akhirannya ‘’a’’ semua ya??), dan keluarga dik Sigit.

Kami mampir dulu ke kediaman bu Warsito. Ini mertuanya Tante Atik, alias mamanya Om Ando. Rumahnya cukup luas, di Gedongkuning.

Bu Warsito kini sendirian. Pak Warsito telah wafat, kalau tidak salah Agustus lalu (semoga beliau dilapangkan jalannya oleh Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan mendapat berkah kesabaran). Bu Warsito kondisinya juga kurang sehat. Ketika ditemui, beliau harus duduk di kursi roda.



Sekitar 30 menit kami di situ. Setelah itu, ke rumah Bu Zaidan, ini mertuanya Bude Yeni, alias ibunya Pakde Joni. Di situ juga sekitar 30 menit.

Setelah itu, kami meluncur ke Klaten.
****
Hari Kamis, saya dan Darrel melihat Taman Pintar. Ini merupakan kawasan wisata bagi anak-anak, yang dibangun di bekas toko buku Shopping Center Sasana Triguna, di seberang SMP 2 Yogya.

Tempatnya sebetulnya lumayan menarik. Ada jembatan gantung. Ada roda putar.
Tapi, di cuaca terik seperti itu, bermain di Taman Pintar pada jam 13 sungguh menyiksa.
(Insya Allah, soal Taman Pintar akan kami lanjutkan di cerita berikutnya).