Search This Blog

Sunday, July 14, 2013

AKHIRNYA MEDICAL CHECK-UP JUGAK!

Diary Ramadan 2013 Day-1 AKHIRNYA MEDICAL CHECK-UP JUGAK! “Ibu harus kurangi gorengan ya. Olahraga rutin sudah bagus. Nanti konsultasi lanjutan soal tiroidnya ke Prof. Muchlis ya. Gula darah puasanya di atas normal, tapi nggak banyak. Dua minggu lalu cek gula darah yaa. Lainnya sih lumayan bagus, Bu. Oh, iya karang gigi perlu dibersihkan. Ini di ginjal ada pasir-pasir kecil..kurang minum air putih niih...” Daaan, masih panjang lagi catatan yang disampaikan oleh Bu Dokter yang saya temui di Unit Medical Check-Up salah satu rumah sakit swasta di Jakarta ini. Hiks..Tapi, alhamdulillah, tidak ada yang sangaaaat serius. Hm...ada sih...kemu ngkinan besar tiroid saya harus dioperasi karena ada massa padat yang membesar. Di punggung juga ada indikasi pengapuran. Tinggi badan saya ternyata 168 cm sajah!!! Menciut?? Selama ini tahunya sih 172 cm. Hm..
Ini hari Selasa, 9 Juli 2013. Hari pertama saya, suami dan anak berpuasa. Sejak dulu kami selalu mengikuti jadwal puasa dan lebarannya Muhamadiyah? Kenapa? Ya nggak apa-apa. Nggak perlu dibahas di tulisan ini yaa;-). Sesudah mengecek run down berita untuk Topik Siang, saya sempatkan mengambil hasil medical check up (MCU) yang saya lakukan seminggu sebelumnya. Iyess!!! Seumur hidup baru kali ini saya melakukan MCU secara lengkap. Komprehensif. Lho kog bisa?? Iya, karena selama ini merasa sehat-sehat aja sih. Sakitnya paling pusing, demam, batuk-batuk. Tujuh tahun bekerja di ANTV padahal saya dapat fasilitas MCU. Ini juga nggak pernah saya gunakan. Baru keinget ketika diingatkan teman HRD yang mengantar saya ke rumah sakit dua bulan lalu saat saya tiba-tiba tumbang di tengah acara workshop dan harus dibawa ke IGD #hadeh. Bulan-bulan belakangan saya memang sering merasa mudah lelah. Bagian pundak dan punggung sakit. Kepala sering pusing –tadinya mikir karena ukuran lensa kacamata berubah. Frekuensi perjalanan ke luar kota juga lumayan sih. Juni lalu saya ke Israel dan ke Australia. Lalu ke Pekanbaru. Sebelumnya, Mei kami sekeluarga ikut roadtrip dengan rombongan jip Thread Light Society ke Pacitan. Perjalanan Jakarta-Yogya kami tempuh 24 jam karena macet!! Daaan, mungkin juga ini akumulasi dari tingginya kesibukan saya sebagai anggota Dewan Pers 2010-2013 yang berakhir Maret tahun ini. Selama tiga tahun, nyaris tiap pekan saya ke daerah untuk pelatihan, seminar, diskusi, pendataan dan sebagainya. Karena tak ingin terlalu memakan waktu urusan pekerjaan kantor, hampir selalu saya berangkat dengan pesawat paling pagi, alias nyaris nggak tidur semalaman, dan pulang hari yang sama. Capeeekkk..bouw. Nggak nyesel karena pengalamannya juga tak ternilai, mengenal langsung kehidupan teman-teman media di daerah. Sekalian kulineran #Ups:p
Jadi, setelah bekerja dengan ritme tinggi selama 22 tahun, akhirnya saya MCU jugak! Bukannya saya nggak pernah periksa darah, urine dan sejenisnya. Itu sih beberapa kali. Saat proses kehamilan Darrel dan sebelumnya, saya menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap juga. Juga saat menjalani operasi pengangkatan kista. Tapi ya itu, menjalani MCU lengkap belum pernah. Yang pake treadmill segala itu lhoh. Kalau treadmill di fitness club sih tiga kali seminggu. Tapi kan beda;-). Saya mengambil MCU paket lengkap. Saking lengkapnya sampai capek juga lho, seharian di RS pindah dari satu dokter spesialis ke spesialis lainnya. Mulai dari dokter penyalit dalam dokter gigi, spesialis mata, dokter bedah dan spesialis tumor, dokter kandungan, dokter THT dan pemeriksaan rekam jantung, USG dan sebagainya. Yang selama ini saya alami sama kayak tulisan seorang dokter di bawah ini. Banyak diantara kita yang baru periksa ke dokter atau cek kesehatan kalau merasa sakit beneran. Padahal yang terbaik adalah cek kesehatan minimal setahun sekali untuk mendeteksi potensi penyakit dan kelainan dalam tubuh. Baca niiih: The Importance of Annual Medical Check-Ups By Dr Carlos Perez Date posted: September 3, 2012 E-mail Carlos Perez, M.D., Family Medicine Some people think that feeling well is reason enough to forget to visit their doctor. In fact, many of them wait until they feel sick to consider the possibility of seeking medical help. The experts, however, believe that the best way to fight disease is detecting it as early as possible, even before feeling any symptoms.
According to the Center for Disease Control, “Regular health exams and tests can help find problems before they start. They also can help find problems early, when your chances for treatment and cure are better. By getting the right health services, screenings, and treatments, you are taking steps that help your chances for living a longer, healthier life. Your age, health and family history, lifestyle choices (i.e. what you eat, how active you are, whether you smoke), and other important factors that impact what and how often you need healthcare.” An annual physical exam is recommended for children and adults. Dr. Carlos Pérez, family doctor affiliated with the Kendall Regional Medical Center, explains that “in the case of children and adolescents, it is very important to determine the normal progression of age-appropriate development. Cardiac malformations, neurological disorders, orthopedic problems, vision or speech irregularities and a multitude of other things can be treated successfully if they are caught early on by a health professional.” With regards to adults, Dr. Pérez adds that the American Medical Association points out several reasons why it is important that an annual medical exam be performed. One of the reasons are the routine exams or screenings. Routine screenings, such as cholesterol and diabetes tests, pap smears and breast exams, can detect signs of diseases at their earliest and most treatable stages. The markers of prescribed screenings, such as blood or urine tests, or just body weight, are another good reason that deserves an annual medical check-up. These markers clearly show the doctor if there have been changes in the patient’s condition. The yearly visit to the doctor is a valuable opportunity to ask him/her general questions, or to point out specific aspects about one’s health that could be improved, how to quit a harmful habit, or to ask for a referral to visit other health professionals. An additional reason to have an annual medical exam is to maintain one’s medical history up-to-date. A clear and complete medical record can help detect hereditary problems. Saya berjanji akan rutin melakukan MCU tiap tahun. Wis tuwo Met puasa ya teman-teman, semoga puasanya lancar, begitu juga ibadahnya. Maaf lahir batin.

Friday, May 18, 2012

Penipu Bergentayangan Lewat Facebook

SEBUAH pesan masuk di ''dinding'' facebook saya. Yang menulis Pak Mohammad Singgih. Pak Singgih ini alumni Teknik Geodesi UGM, angkatannya sembilan tahun sebelum saya. Ia lulus tahun 1974. Figurnya dikenal baik, suka membantu, dan dikenal suka menjadi penggerak kegiatan. Pesan di wall itu kira-kira bunyinya begini, ''Ini cerita beneran. Saya kira yang saya beli ini produk Cina. iPad cuma Rp 2,5 juta. Komputer Toshiba Rp 2,5 juta. Kamera Rp 2 - 4 juta. Eh, ternyata barangnya asli beneran. Masih dalam kemasannya. Dikirim lewat Tiki. Saya membelinya lewat saudara saya di Bea Cukai. Silakan kirim pesan ke inbox saya, bila berminat..'' Pesan menarik ini sampai ke wall facebook saya hari Minggu, 17 Mei 2012, sore sekitar jam 15.00. Ini informasi menarik. Apalagi dua bulan sebelumnya kami kehilangan iPad. Dalam sebuah acara di Hotel Dharmawangsa, iPad kami hilang. Wassalam. Dilacak ke sana ke mari, tetap saja barang canggih itu tidak ketemu. Saya segera berchatting dengan Pak Singgih. Ini saya kutipkan percakapan saya dengan ''beliau'': ''
Hallo mas, barang-barang di beacukai itu serius?'' tanya saya. ''Hubungi saja no ini 082 187 195 516 namanya pak WAHYUDI,dia spupuku/ptinggi bea dan cukai,minta saja no rekeningnya,sperti sy kmaren.nanti barangnya d krim lwat TIKI/KURIR,blang sj nanti dapat dr sya no nya,di jamin bakal d kasih,dan barangnya original and new brand kok,sy jamin 100%,soalnya sy dah bli juga dan buktikan sndri.ok'' ''Kalo kameranya tipe apa?'' ''Tanya saja langsung ke sepupu saya biar jelas..'' Setiap kali bertanya lewat facebook, jawabannya segera muncul. Kesimpulan saya, Pak Singgih sedang online. Saya segera men-SMS nomor yang diberikan. ''Pak, adanya kamera seri apa? iPad-nya seri 1 atau 2? Si ''Wahyudi'' segera menjawab: telepon saya saja biar jelas.. Kemudian saya menelepon. Si ''Wahyudi'' mengabari bahwa iPad-nya seri 2. Kalau Nikon-nya seri D4, lengkap dengan lensanya. ''Saya tunggu 30 menit dari sekarang ya, transfernya.. Saya kirim segera nomor rekeningya..'' Tak lama kemudian masuk SMS mengabari nomor rekeningnya di Bank Panin. ''705 202 5563 ats nama Wahyudi, BANK PANIN. Kalo misalnya dr atm yg beda bank pake kode bank 019 lalu no rek tjuan.tk''. Wow.. 30 menit untuk transfer? Jujur saja, harganya sangat menarik. Walau untuk itu saya justru bertanya-tanya: ini beneran atau tipuan? Sudah banyak cerita di internet berseliweran, mengabari penipuan lewat facebook. Dua tahun lalu ada kabar seorang ibu tertipu US$ 100.000. Ia mendapat pesan di inbox dari ''suaminya'' bahwa si ''suami'' kecelakaan di Amerika Serikat. Si Ibu ini orang Jerman. Si suami minta dikirimi uang, untuk biaya pengobatan. Begitu uang dikirim, si ibu berhasil kontak suami sebenarnya. Ia baru tahu bahwa dirinya jadi korban penipuan. Tahun lalu kakak saya, mbak Yeni Widowaty, mendapat pesan dari ''promotor''-nya kuliah S3. Pesan SMS itu intinya Pak Profesor minta bantuan biaya pengobatan. Mbak Yeni curiga, gaya minta-minta begini bukan modelnya Pak Profesor, yang ia kenal sangat baik, sangat santun, dan agamis. Begitu dikontak, ia tahu: pesan itu ternyata bohong. ****
Prinsip pertama untuk setiap hal adalah perlunya verifikasi. Kalau bahasa ustad: perlunya tabayun. Kalau dalam bahasa mommy Uni Lubis di , perlu cek ricek: benarkah Pak Singgih beli laptop dan barang elektronik lain dengan harga murah? Kenapa barangnya bisa murah? Pertanyaan berikutnya menyangkut etika: Apakah ini barang halal? Apakah ini barang selundupan? Apakah ini barang curian? Jawaban untuk beberapa pertanyaan terakhir, hampir pasti ini barang ilegal. Lagipula aneh, membeli barang pada orang yang belum dikenal, kok transfer duluan. Namun adanya rekomendasi dari ''Pak Singgih'' membuat saya yakin: masak sih sepupunya Pak Singgih menipu.. ****
Sore itu setelah sekitar dua jam berusaha menghubungi, akhirnya saya berhasil mengontak Pak Singgih sebenarnya, lewat SMS. ''Iya mas, minta maaf, facebook saya dihack. Sudah delapan orang mengontak saya untuk konfirmasi. Alhamdulillah, tidak ada yang ketipu...'' Jadi jelas, ada orang kurang ajar yang menipu, yang membajak facebook-nya Pak Singgih. Gantian saya ''mengerjai'' si Wahyudi kurang ajar. ''Hallo Pak, saya sudah transfer Rp 4,5 juta. Mohon dicek. Bagaimana pengiriman barangnya?'' Sekitar 10 menit kemudian si Wahyudi menjawab, ''Lo, kok belum masuk. Transfernya lewat bank apa?'' Saya jawab lagi:''Lo, ini rekening saya sudah didebet.. Masak belum masuk. Coba dicek..'' Sekitar 10 menit kemudian ia menjawab, ''Kok uangnya belum masuk. Transfernya lewat bank apa?'' Setelah itu ia berkali-kali menelepon untuk konfirmasi. Selalu saya jawab ''sudah transfer''. Hari ini saya mendapat hikmah penting lagi, dari perlunya verifikasi.

Sunday, April 08, 2012

Merintis E-Bike di Indonesia




AHAD 8 Desember ini kami --saya dan Mommy Uni Lubis-- bertemu dua orang muda. Namanya David Hadi dan Angga. David Hadi adalah CEO E-Bike Indonesia, mengurusi aspek pemasaran dan pengembangan usaha, adapun Angga adalah mitranya dalam E-Bike yang bergelut dengan aspek teknis. Kantor mereka terletak di Cipete, persisnya di Garasi 66. Ini di Jalan Pangeran Antasari, Cipete. Kalau dari Blok M terletak di gang masuk di antara pilar jalan layang 16 dan 17.

E-Bike Indonesia menjual berupa seperangkat alat yang terdiri dari batere, motor, dan sistem transmisi, yang dipasang pada sepeda untuk membuat genjotan jadi ringan. Dalam bahasa gampang, setelah peralatan yang dijual E-Bike itu dipasang, maka sepeda kita bisa ''berkelamin'' ganda: ya sepeda onthel, tapi juga sepeda bermotor listrik.


Kalau kita capek, atau merasa berat mengayuh, motor listrik tinggal dihidupkan. Wussss... Sepeda pun melaju, tanpa suara, kecepatannya bisa mencapai 30-an kilometer, tergantung pada kekuatan batere yang kita punya. Kalau batere habis, ya sepeda bisa kita kayuh sebagaimana sepeda biasa. Kalau pengin informasi lebih lengkap, silakan mampir ke www.ebikeindonesia.com.

Batere listriknya punya kekuatan lumayan. Bila baterenya terisi penuh, dia bisa melaju hingga 60-an kilometer, ini dengan pemakaian kombinasi tenaga kaki plus motor. Untuk mengisi baterenya dari kosong hingga penuh, dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Saya dan Mommy Uni Lubis mencoba sepeda ebike cukup lama. Kata Mommy Uni, ''Lumayan.. Menanjak tidak lagi bikin berkeringat..''

Alat ini memang cukup bermanfaat membantu kita yang sering kesulitan naik sepeda di tanjakan, atau mungkin merasa capek setelah cukup jauh menggowes. Jangan lupa untuk segera mengisi baterenya, setelah sepeda berhenti.

Kalau kita ke kantor atau ke rumah saudara, insya Allah kita gampang mencari colokan untuk ngisi batere. Namun kalau kita pergi ke terminal, mal, pasar, atau tempat-tempat umum, mungkin kita kesulitan mencari colokan. Kampanye penggunaan motor listrik, sepeda listrik, atau mobil listrik sebagaimana digaungkan Menteri Dahlan Iskan, akan sukses bila disertai stasiun pengisian batere.
****

E-Bike buatan Yuji Fujimara, Jepang.

Untungkah menggunakan sepeda listrik?
Dari sisi lingkungan, jelas. Tidak menimbulkan polusi, baik suara maupun asap. Untuk keperluan jarak dekat, sekitar 30-an kilometer, saya merekomendasi. Tapi kalau digunakan untuk jarak jauh, ya sementara ini saya tidak menyarankan.

Bila kita menggunakan motor automatic, jarak 30 kilometer kira-kira menghabiskan premium satu liter, atau seharga Rp 4.500 untuk saat ini. Dengan sepeda listrik, kita hanya menghabiskan uang untuk nyetrum aki saja.. Pasti jauh lebih irit ketimbang biaya premium yang akan terus naik.

Menurut keterangan Angga, aki bisa dipake sekitar dua tahun. Hitungan kasar, kalau sehari habis seliter, berarti dalam dua tahun bisa menghabiskan lebih dari Rp 1,6 juta. Hampir sama dengan harga batere sepeda.

Karena alasan penghematan, sebuah perusahaan jasa kurir, JNE, ingin mencoba menggunakan sepeda listrik untuk kurirnya. Saya kutipkan di sini berita harian ekonomi Kontan, 28 Desember 2012. Beritanya bisa diakses di sini:.

SOLUSI KENAIKAN HARGA BBM
BBM naik, kurir JNE akan dibekali sepeda listrik
Oleh Asnil Bambani Amri - Rabu, 28 Maret 2012 | 17:49 WIB

JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tak hanya bikin pusing kalangan masyarakat luas saja. Kenaikan tarif BBM juga bikin pusing pelaku industri, terutama industri logistik yang berorientasi pengiriman dan pendistribusian barang, seperti JNE.
Agar kenaikan harga BBM tidak membuat bocor brankas mereka, JNE berniat memfasilitasi kurir dengan sepeda listrik. Walaupun masih dalam tahap rencana, JNE akan melakukan ujicoba memakai sepeda listrik untuk kurir yang beroperasi di dalam kota Jakarta.
“Kami mau beli 10 sepeda listrik dulu untuk diujicobakan,” kata Visi Firman, Head of Corporate Communications JNE saat berkunjung ke kantor KONTAN, Rabu (28/3). Jika dalam ujicoba itu sukses, maka JNE akan membuat program pengadaan sepeda listrik untuk kurir mereka yang ada di dalam kota.
Menurut Visi, pengadaan sepeda listrik tidak hanya untuk menghemat operasional dari pemakaian BBM saja, tetapi juga untuk menjaga komitmen perusahaan terhadap lingkungan. "Selain membatasi pemakaian BBM, juga ramah lilngkungan," tambah Visi.

****


Di khasanah internasional, sepeda listrik dikenal sebagai e-bike. Ensiklopedia gratis wikipedia.org mendefinisikannya sebagai ''sepeda dengan motor elektrik sebagai tenaga penggerak''. Sepeda ini mampu berjalan 24-32 kilometer per jam.
Di banyak negara, sepeda listrik dikelompokkan sebagai sepeda, bukan motor. Sehingga pengemudinya tidak perlu memiliki surat ijin mengemudi.
Pemakaian sepeda listrik di seluruh dunia berkembang cepat sejak 1998. Diperkirakan saat ini terdapat 120 juta pemakai e-bike di China. Di India, Amerika Serikat, Nederland, dan Swiss, penjualan meningkat pesat. Pada 2010 sebanyak 700.000 sepeda listrik terjual di Eropa, naik 350% ketimbang dua tahun sebelumnya.
Di Indonesia? Semoga juga ikut mendulang sukses. Angga dan David sudah merintisnya.

Wednesday, March 28, 2012

KISAH MAS TOTOK PENGUNGSI MERAPI




Liburan Nyepi tahun ini, Darrel dan kawan-kawan berlibur ke Yogya. Kunjungan ke Merapi paling berkesan baginya.
“Kenapa kog kolam lelenya kosong?Waktu terjadi letusan Merapi Mas Totok lari ke mana? Kog posko pengamatannya dibangun dekat sekali dari Gunung Merapi? Kan bahaya? Nggak boleh!”.
Rentetan kalimat di atas datang dari Darrel. Yang dituju Mas @HartantoTotok, salah satu korban letusan Merapi 2010, Sabtu sore lalu (24/3). Selain Darrel yang banyak melontarkan pertanyaan, ada Rayhan Kamajaya putra @Ray_nia, Ebhin putranya @VenturaE dan Rayhan Galih putra @Blanthik_Ayu. Empat ibu berlibur menikmati akhir pekan panjang karena Hari Raya Nyepi. Tujuan liburan yang sudah direncanakan sejak dua bulan lalu ini: Yogyakarta. Berdelapan kami menumpang kereta Argo Dwipangga berangkat dari Stasiun Gambir Jam 8 pagi, tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta Jam 4 sore. Perjalanan seru.
Wisata kuliner adalah salah satu tema penting liburan ini. Tapi liburan yang mencerdaskan juga perlu bagi anak-anak (selain kesempatan belanja tas buatan pengrajin lokal buat ibu-ibunya....;-). Keempat jagoan sempat mengeksplorasi Taman Pintar, sebuah taman hiburan sekaligus arena pengenalan dunia sains. Darrel sudah pernah berkunjung ke sini bersama ayahnya (baca http://iwan-uni.blogspot.com/2006/11/taman-pintar-yogya_08.html).



Bagi Darrel, highlight liburan bersama kawan kali ini adalah kunjungan ke Merapi. Kali ini Mas Totok yang baru saya kenal via Mas @budhihermanto, pentolan akun informasi dan komunitas @jalinmerapi, memandu kami ke posko 1 Kepuharjo, posko pengamatan Gunung Merapi. Letaknya paling dekat dengan Merapi, yakni 6 km dari puncaknya. Anak-anak (dan ibunya) sangat antusias menaiki bangunan posko ini. Sayang, saat kami ke sana, sudah sore dan kabut tebal menutupi keindahan gunung. Jadi, kami gagal melihat gunung.

Pemandangan sekitar cantik. Sejauh mata memandang kami bisa melihat bekas aliran lahar hujan di Kali Gendol, juga hamparan tanah kosong yang ditinggalkan penghuninya. Di area posko 1 Kepuharjo beberapa warung makanan siap melayani ”turis” seperti kami. Ada juga rumah yang baru diperbaiki tak jauh dari posko. ”Kog masih boleh tinggal di sini? Bahaya kan,” gugat Darrel ke Mas Totok. Waks!
Kepada kami, Totok bercerita bahwa dia adalah salah satu korban letusan Merapi. Rumahnya hancur tak berbekas. Tak ada harta tersisa. Ia menjadi salah satu penghuni Hunian Sementara (huntara) korban Merapi di Dongkelsari, Desa Wukirsari. Sebelum mengungsi, Totok dan keluarganya tinggal di Srodokan, Desa Wukirsari. “Saya dan keluarga sempat mengungsi ke Klaten saat terjadi erupsi Merapi,” kisah Totok. Darrel bertanya: “Jauh nggak Klaten?”. Kali ini saya yang menjawab, “Klaten itu kan tempat keluarganya eyang kakung. Darrel tiap tahun ke sana saat lebaran. Lumayan jauh dari sini. Sekitar satu sampai satu setengah jam perjalanan.” Darrel manggut-manggut.

Di huntara Dongkelsari ada 204 Kepala Keluarga (KK), yang masing-masing menghuni rumah terbuat dari dinding gedek (anyaman bambu) seluas 30 meter persegi. Huntara dibangun di atas tanah kas desa. Ada dua jenis huntara bagi korban letusan Merapi, yakni huntara yang dibangun secara mandiri di atas tanah milik sendiri, maupun huntara yang dibangun di atas tanah kas desa. Yang diprioritaskan pemerintah daerah adalah huntara mandiri.
Kami sempat diajak mampir ke huntara Dongkelsari Sabtu sore itu. Sejumlah orang duduk di depan huntara. Puluhan kolam ikan lele nampak kosong, ada juga yang terisi air berlumut. Kolam ikan lele itu dibuat dengan menggali tanah, dilapisi plastik terpal tebal warna biru. “Ini program dinas sosial. Tapi warga enggan melanjutkan karena baunya menyengat.” Kata Totok.
Kolam-kolam itu memang dibangun bersisian dengan huntara. Membangun kolam lele menjadi sebuah program rutin yang ditawarkan dinas sosial manakala terjadi bencana alam. Belum tentu cocok untuk warga. Kini warga huntara memilih kembali ke pekerjaan lama, menjadi penambang pasir di Kali Gendol. Jatah hidup yang pernah diterima warga paska erupsi Merapi, senilai Rp 5.000/orang/hari cuma diterima sebulan pertama setelah Oktober 2010.
Menurut Totok, huntara Dongkelsari tergolong kurang diperhatikan. Kami memang melihat nyaris tak ada aktivitas komunitas di sana. Sekolah bagi anak-anak pun agak jauh. Listrik ada. Totok membeli voucher PLN senilai Rp 5.000, bisa bertahan selama sebulan dengan pemakaian minimal. Kini dia membantu Mas @budhihermanto menjadi community organizer di Combine, sebuah gerakan komunitas di lingkar Merapi. Huntara lain relatif baik keadaannya karena dibantu oleh sejumlah perusahaan besar baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kami melihat sejumlah logo perusahaan dipasang di huntara yang ada di Desa Wukirsari. Padahal, warga huntara mulai resah karena tersiar kabar dua pekan lagi huntara mereka akan dibongkar. Di lokasi itu akan dibangun hunian tetap (huntap). “Kami belum tahu akan mengungsi ke mana? Warga ada juga yang kembali ke rumah lama yang masih bisa ditempati, atau menumpang di rumah saudaranya, “ kata Totok.
Bukan cuma Darrel yang suka mengingat kisah Mas Totok dari Merapi. Saya penasaran dengan kenyataan bahwa warga Dongkelsari resah akan dipindah. Selasa siang (27/3) saya menelpon Pak Urip Bahagia, pelaksana tugas kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman. Pak Urip menjawab dengan ramah saat saya menelpon ke ruangannya di BPBD Sleman.
Soal rencana pindah, menurut Pak Urip warga Dongkelsari tak perlu resah. Saat ini pembangunan huntap di Batur, Desa Kepuharjo sudah tahap akhir. Ada 194 rumah diperkirakan siap dihuni secara tetap pada awal April 2012.
“Prioritas pertama yang dipindahkan adalah warga Gondang 1,” kata Pak Urip. Huntap Batur dibangun di atas tanah kas desa. Awal April pula pembangunan hunian tetap Pager Jurang, Desa Kepuharjo. Akan dibangun 340-an rumah. Baik Batur maupun Pager Jurang adalah lokasi hunian baru, bukan eks lokasi hunian sementara. Tautan ini menunjukkan lokasi pembangunan huntap (http://www.mpbi.org/files/workshops/20111205-Rani-Sjamsinarsi-Pendekatan-Kultural-dalam-Relokasi.pdf).
Pemindahan warga dari huntara ke huntap akan menggunakan metode “dakon”. Ini nama permainan saat saya masih kecil. Mayoritas orang Jawa mengenalnya. Intinya, biji sawo yang digunakan untuk permainan dakon akan mengisi lobang yang kosong, susul menyusul. Jadi, jika huntap Batur selesai, akan diisi oleh warga Gondang1. Sampai Gondang 1 kosong, sehingga bisa dibangun huntap, begitu juga dengan pengisian huntam Pager Jurang. “Intinya warga Dongkelsari tak perlu kuatir,” kata Pak Urip.
Soal perhatian yang kurang, Urip malah mengeluhkan pihak pemberi bantuan yang seringkali memilih langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan tanpa koordinasid dengan pemda atau instansinya. “Kalau kami di pemda, prinsipnya semua dapat perlakuan sama,” ujar Urip. Masalahnya, Dongkelsari secara lokasi memang dianggap “tidak menarik” bagi donatur untuk mengadakan acara penyerahan bantuan. Urip merasa instansinya tak memiliki kemampuan memaksa donatur untuk memperhatikan huntara yang luput dari perhatian.

“Kalau perusahaan koordasi, kami siap bantu informasi area mana yang masih perlu, mana yang sudah banyak bantuan,” katanya. Good point! Kasus seperti ini sering terjadi dalam setiap penyaluran bantuan paska bencana. Informasi Pak Urip saya teruskan ke Totok. Lewat pesan pendek via telpon seluler dia menjawab, “ok makasih infonya mbak, ini rencana jam 1 mau rapat warga shelter bahas itu.’
Kunjungan ke Posko 1 Merapi di Kepuharjo dan Huntara Dongkelsari bagi Darrel adalah pengalaman ke sekian berinteraksi dengan bencana Merapi. Sepekan setelah Merapi meletus, dua tahun lalu, Darrel saya ajak mengunjungi posko pengungsian di Magelang dan Klaten. Bersama @VenturaE dan Ebhin, kami membantu menyalurkan bantuan dari teman-teman dari komunitas Twitter.


Selain membagikan susu dan makanan, Darrel dan Ebhin berbagi buku gambar dan buku cerita untuk anak-anak. Lebaran tahun lalu, bersama sepupunya Darrel berkunjung ke kawasan yang terkena dampak Merapi di Wukirsari juga, tapi bukan lokasi yang kami kunjungi akhir pekan lalu. Di lokasi itu puluhan rumah tertimbun letusan, ditinggalkan kosong. Kunjungan yang berkesan. Dahsyatnya dampak sebuah bencana letusan gunung berapi.
Minggu malam saat belajar membuat puisi untuk tes bahasa, Darrel membuat puisi tentang Merapi. Isinya? Nanti baca di akun Facebooknya ya 

Wednesday, March 07, 2012

Menjadi Pasien Jantung By-Pass di US

Oleh: Didi Prambadi





Rasa senut-senut, nyeri di dada kiri yang datang dan pergi sejak tiga hari sebelumnya, kembali muncul saat saya di meja kerja, Senin dua pekan lalu. Melihat ini, teman saya langsung berinisiatif memanggil ambulans dan saya yang sudah lemas diangkut menuju ke rumah sakit terdekat, Montgome Medical Center. Selama perjalanan dua petugas mencecar dengan sejumlah pertanyaan seputar jantung, kapan dirasakan, adakah keluarga yg menderita jantung (ibu dan kakak saya meninggal karena jantung. Adik saya, satu kamar dan sama-sama oprasi dengan almarhum Mas Widi Yarmanto di RS Harapan Kita, Jakarta). Masuk ke ICU tidak terlihat tanda-tanda mengkhawatirkan, dan baru keesokan harinya menjalani stress tes (diminta lari dan jalan cepat di atas treadmill), tetap tak ada kelainan. Barulah setelah diperpanjang waktunya satu menit, saya gelagapan dan hampir pingsan. Saya lantas ingat almarhum Yulizar Kasiri yang tidak kuat lari saat dites ini bersama saya dulu.

Saya pun dikirim menjalani tes kateter, pakai selang dimasukkan ke pinggang kanan. Hasilnya? Ada empat penyumbatan pembuluh darah menuju jantung. ‘’Anda harus operasi. Besok,’’ kata dokter. ‘’Kabar baiknya, jantung anda masih berfungsi 55%. Biasanya penderita lain hanya 5% sampai 10% saja, itu yg rawan,’’ lanjutnya. Malam itu juga saya dikirim ke Lankenau Medical Center, sebuah rumah sakit lebih lengkap yang letaknya di pusat kota. Menjelajah keramaian kota dalam ambulans tidak begitu menyenangkan, karena saya harus terbaring menatap pohon-pohon kering di jendela belakang.

Tiba di Lankenau, masuk ke ruang biasa dan diberi penjelasan proses operasi oleh dua dokter ahli: Jantung dan Thoracic Surgery (ahli bedah rusuk/rongga dada). Dada akan dibuka dan beberapa rusuk dipotong, lantas dokter Roberto akan mencangkokkan pembuluh darah lain ke sana. ‘’Diambil dari pembuluh darah di lengan kiri, pembuluh dari paha kiri, plus satu pembuluh yang khusus disediakan oleh Allah SWT di dada anda. Proses ini semua berlangsung tanpa menghentikan detak jantung sedetik pun. Biasanya jantung dikendalikan di mesin. Ini tidak. Jantung tetap pada tempatnya dan bekerja seperti biasa!’’ kata ahli jantung Roberto Rodriguez, ditemani dr. Scholtz (ahli toracic) yang tampan seperti Richard Burton itu. Ada pertanyaan?



(Bagaimana gue mau tanya, wong nggak tahu apapun soal jantung. Kalau soal laporan reporter sih bolehlah, tapi ini?) Berapa lama prosesnya? ‘’Memakan waktu sekitar tujuh jam! Anda tidak ingat apapun. Jangan khawatir, kami menangani ratusan pasien selama sebulan. Jantung anda bakal sehat kembali. Yang penting, setelah sembuh, jangan berlagak seperti orang normal. Anda sudah cacat dan tidak sempurna seperti remaja lagi,’’ kata Roberto. Hindari merokok, sodium (garam), dan banyak olahraga. (Saya ingat potret teman-teman seperti Iwan QH, Taufik Alwie dan lainnya main badminton tanpa henti, futsal, dll., sementara saya hanya naik sepeda. Paling-paling seminggu sekali keliling museum).
Pukul 1.00 siang saya digelandang masuk ke ruang operasi oleh seorang perawat lelaki berkulit hitam. Badan sudah disteril sejak pagi dan ditelanjangi, dan hanya mengenakan baju longgar. Lampur-lampu neon di langit-langit koridor yang berseliweran cepat, menandai ruang operasi itu cukup jauh. Begitu sampai, saya disambut perawat hitam lain yang membawa vakum dan mesin pencukur. ‘’Saya asisten pasien dan tugas saya membersihkan bulu di dada, tangan, kaki, termasuk ‘dua bola’ sahabat anda di sana, (dia menunjuk di kawasan pribadi),’’ katanya, langsung membuka baju saya sehingga saya kedinginan.

Tetap cuek, dia cepat bergerak dan setelah bersih barulah saya disambut dr. Roberto dan Scholtz ditemani sejumlah perawat, ahli anestesia. Semuanya mengenakan topeng dan seragam operasi biru muda. ‘’Wah Di, saya sudah menunggu lama, ke mana aja?’’ katanya bercanda. Saya melirik perawat membuka plastik pembungkus peralatan operasi dan gunting lainnya. Oooh berarti benar-benar steril. Saya senyum saja dan pasrah (Mau ngapain lagi? Mau berontak? Saya pasrah dan berdoa semoga operasi ini tidak gagal! Aku masih pengin hidup. Aku ingin sembuh. Tiba-tiba ada rasa takut, kenapa operasi sejenis ini ada yang gagal? Kenapa Mas Widi wafat? Kenapa Yulizar wafat? Kenapa familiku ada yg wafat juga, tapi kenapa adikku masih bertahan? Dan… blessss…. Saya tidak ingat sama sekali. Sejumlah mimpi – entah apa saya lupa – menghiasi pikiran saya selama tujuh jam menjalani operasi.

Saya baru siuman saat berada di ICU, melihat Billy Cristal nongol di televisi membawa acara Academy Awards 2012 (Oscar) di televisi. Mulut dimasuki pipa napas dan penyedot darah. Leher ditancapi jarum infus dan dada diberi perekat lem dan dipasangi dua pipa (penampung darah dan cairan dari dada). Saya melihat putri dan istri saya di samping tempat tidur. Mereka memberi isyarat agar tidak banyak bicara dan operasi berlangsung lancar. ‘’Bagaimana merasa sakit di mana?’’ tanya perawat. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak merasakan sakit apapun. Belakangan saya baru tahu saya diberi obat pain-killer Oxycodone yang dikonsumsi Michael Jackson dan Whitney Houston serta selebriti lainnya? Seumur-umur baru ngrasain hebatnya narkoba.

Besoknya pipa napas dan penyedot darah di mulut sudah dilepas dan keesokan harinya dua kantung plastik penampung darah dan cairan di dada juga dilepas. Saya diminta turun dari tempat tidur dan berdiri. Tidak ada pusing atau mual, yang ada selera makan luar biasa dan pengin makan ‘Sayur Asem’ dan ‘Tempe Goreng’. Awalnya daging turki dan kentang rebus serta kopi terasa nikmat, tapi lama kelamaan bosen juga dan pengin masakan Indonesia. Hari ketiga sudah dikirim ke ruang biasa dan diberi obat sembilan macam sehari sekali. Oxycodone masih diberikan jika ada rasa sakit saja.

‘’Kapan mau pulang?’’ tanya dokter Roberto sambil menekan dada saya agar batuk. ‘’Sering batuk dan latihan napas pakai ini’’ sambil memberi alat plastik pengukur napas dari angka terendah 250 sampai 2500 angka tertinggi. Keesokan harinya saya pulang sendirian naik taksi, karena sanak famili dan istri harus masuk kerja. Sampai di rumah sudah tersedia Sayur Asem dan Tempe Goreng. Saya makan sepuasnya sampai dua piring. ‘’Jangan makan banyak2, sedikit2 dulu,’’ kata istri saya mengingatkan. Hemm. Benar-benar nikmat rasanya sayur asem itu.

Hingga kini saya latihan naik turun tangga, dan berjalan. Selain sayur asem, ada sup ikan, tempe, tahu dan nasi sedikit. Saya bersyukur karena operasi berlangsung lancar, dan ingin mengingatkan pada seluruh keluarga Eureka: Hati-hati bila ada terasa nyeri di dada kiri. Jangan dianggap remeh, karena itu gejala jantung. Periksa ke dokter agar ditangani sejak dini, karena di dunia – termasuk Indonesia – Serangan Jantung merupakan ‘The Silent Killer’ yang sewaktu-waktu mampu mencabut nyawa. Ribuan orang terkena penyakit ini setiap bulannya. Di samping itu, mendaftarlah ke asuransi kesehatan sejak awal, karena operasi ini membutuhkan biaya cukup banyak. Dan tentu saja sering olahraga seperti Iwan QH, Taufik A., dan teman2 lainnya. Badan terasa capek tapi sehat. Atau jalan kaki setiap hari selama 15 sampai 30 menit cukup.

Saya baru tahu bahwa kegagalan Mas Widi karena proses pemulihannya (bukan operasi), akibat gula darah yang cukup tinggi sehingga luka di dalam tak sembuh2. Demikian pula Yulizar Kasiri dan salah satu famili saya yang gula darahnya tinggi dan membuat luka tetap becek tak sembuh-sembuh. Proses operasi di RS Harapan Kita, Jakarta tidak kalah dan tak berbeda dengan proses operasi di Lenkenau Medical Center, USA. Yang terpenting lagi berdoa dan pasrah kepada Allah SWT. Amiin…. Semoga pengalaman ini dapat bermanfaat bagi keluarga Eureka.

*)Didi Prambadi, wartawan, pernah menjadi senior saya di TEMPO dan GATRA. Mas Didi, demikian saya memanggilnya, kini bekerja di Philadelphia, Amerika Serikat. Sewaktu tahun lalu kami sekeluarga ke Amerika Serikat, mas Didi dan istrinya menemui kami di hotel di New Jersey. Ketika itu mas Didi kelihatan sehat dan energik.. Semoga beliau segera sembuh.. Amien..

Thursday, February 23, 2012

Pesawat tanpa awak di Singapore Air Show





PEKAN lalu, kami berkunjung ke Singapura untuk melihat Singapore Air Show. Yang dimaksud kami adalah saya (Iwan), mommy Uni Lubis, dan Darrel Cetta. Setiap dua tahun, negeri tetangga itu memang menyelenggarakan pameran dirgantara yang cukup besar. Lebih dari 20 negara, termasuk Indonesia, berpartisipasi. Pengunjung yang datang cukup melimpah.
Dua tahun lalu kami menginap di Singapura sehari sebelumnya, dan keesokan paginya meluncur ke bandara Changi, tempat pameran berlangsung. Kali ini kami berangkat dari Jakarta. Kami naik Lion Air, berangkat jam 06.00, dan kembali dari Singapura jam 19.55, dengan harga tiket yang lebih murah daripada ke Yogya. Tidak perlu menginap lagi, cuma risikonya harus meninggalkan rumah jam 03.30 pagi, saat yang nyaman untuk tidur.
Bagi Anda yang belum pernah melihat Singapore Air Show, informasi ini mungkin cukup bermanfaat. Untuk bisa masuk ke lokasi pameran, Anda harus membeli tiket. Tiket bisa dibeli langsung menjelang pintu masuk pameran, harganya US$30 untuk dewasa, dan US$ 14 untuk anak-anak. Kalau kita membeli jauh hari sebelumnya, harganya US$ 20 untuk dewasa, dan US$ 8 untuk anak-anak.
Membeli tiketnya cukup mudah. Masuk saja ke website-nya Singapore Air Show (www.singaporeairshow.com). Di situ tersedia link untuk membeli tiket. Setelah membeli tiket, jangan lupa, itu baru tanda pemesanan. Selanjutnya Anda harus menukarkan tanda pemesanan itu ke agen Sistic di Indonesia, yaitu Smailing Tour. Ada dua lokasi penukaran, Smailing tour cabang Senayan City dan cabang Jalan Majapahit, Jakarta. Untuk menukarkan tiket, Anda masih kena ‘b iaya administrasi’ lagi. Untuk tiga tiket, saya membayar total Rp 90.000.
****

Dibanding dua tahun lalu, Singapore Air Show tahun ini terasa lebih senyap. Mungkin ini karena Eropa tengah limbung dihantam krisis ekonomi. Dua tahun lalu saya melihat pesawat helikopter cheenox, pesawat yang punya mulut ikan hiu, dan stand Boeing-Airbus yang lebih luas. Tahun ini cheenox tidak hadir. Pesawat bermulut ikan hiu tidak datang. Stand Boeing-Airbus terasa lebih kecil. Hari Minggu pagi, sekitar jam 10.00, kami masuk ke hall pameran. Hall terasa sepi. Baru siangnya, sekitar jam 13.00, rame.
Dari Indonesia ada dua stand yang saya temui. Yang pertama, Garuda Maintenance Facility, biasa disingkat GMF. Ini merupakan unit di bawah Garuda Indonesia yang bertugas memelihara pesawat. Dulunya GMF hanya untuk keperluan internal. Kini GMF sudah jadi raksasa sendiri. Maskapai Timur Tengah banyak yang jadi pelanggannya.
Yang kedua adalah Susi Air. Silakan masuk ke www.susiair.com untuk informasi lebih detail mengenai perusahaan penerbangan yang banyak meladeni daerah terpencil ini. Susi Air memamerkan pesawat Cessna Caravan (berpenumpang 13 + 2 pilot dan crew), dan Piagio Avanti, pesawat eksklusif berpenumpang tujuh orang.
Di tabloid Aviation Week yang kami dapatkan di lokasi pameran, kami membaca berita gembira. Yang jadi gambar utama adalah Susi Pudjiastuti, perempuan asli Pangandaran pemilik Susi Air. Ia akan menambah 16 pesawat baru, tahun ini. Wow!! Ia menyebut beberapa merk: Cessna Caravan, Pilatus Porter PC6, Dornier, Agusta, dan Citation Sovereign. Pokoknya mantep.
Semoga pembeliannya berlangsung sukses. Semoga makin menambah kesejahteraan.
*****
Dalam pandangan saya, bintang Air Show kali ini adalh Israel. Negeri di pojokan semenanjung Timur Tengah ini warganya 7 juta jiwa. Perasaan terpencil, serba tidak aman, ini mendorong Israel membangun pertahanannya (dan penyerangannya) dengan kuat.
Israel membuka stand cukup luas: IAI alias Israel Aerospace Industry. IAI memamerkan pesawat tanpa awak berbagai seri.
• Tipe Machatz-1. Jenis ini mampu terbang terus-menerus selama 52 jam. Ketinggian maksimum 35.000 kaki. Lama terbang dan tinggi terbang bisa berkurang tergantung pada berat muatan.
• Tipe Hermes. Hermes ini tipenya bermacam-macam. Ada seri 450, seri 900. Kegunaannya untuk menyerang, mengintai, dan menghancurkan. Jangan bayangkan pesawat UAV ini hanya untuk mainan. Panjangnya saja yang ini sampai 10 meter. Bisa terbang terus-menerus sampai 20 jam. Di film youtube, disebutkan, jenis ini sudah pernah menjalankan 20.000 misi penyerbuan. Silakan klik di http://www.youtube.com/watch?v=cTAN9oXZT-o.
• Tipe Heron. Ini sudah dipakai untuk berbagai misi penggempuran. Dipakai pertama kali waktu operasi Israel untuk mengenyahkan pejuang Palestina di jalur Gaza, pada 2008-2009. Gerakannya dipandu satelit GPS. Beratnya total 250 kgr. Kini, Heron dipakai di Australia, Singapura, Canada, Turki, Prancis. Berbagai misi sudah diemban. Dari Afghanistan, Palestina, hingga Irak.


Jangan kaget, Heron juga bisa mencapai Jakarta dari pangkalannya di Singapura sana...

Tuesday, November 29, 2011

Naik Merpati dari Jogja ke Jakarta



PEKAN lalu, dari tanggal 18 sampai 21 November 2011, saya ke Jogja. Ada acara penting di situ. Kakak paling besar saya, mbak Yeni Widowaty, menjadi doktor dalam bidang ilmu hukum pidana. Sehingga kakak saya yang bekerja sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu sekarang namanya cukup panjang: Dr. Yeni Widowaty Herindrasti, SH, Mhum. Satu kata terakhir ‘’Herindrasty’’ hanya pernah nongol di rapor sekolah dasar, tapi tidak ada di ijazah. Sehingga sampai sekarang namanya hanya ‘’Yeni Widowaty’’.
Acara ujian terbuka itu berlangsung di Universitas Diponegoro, Semarang. Namun karena bapak dan ibu saya tinggalnya di Jogja, saya pulang dulu ke Jogja untuk mengambil mobil, menjemput beliau. Sebetulnya Pak Syarief dan Bu Siti Asiyam –demikian nama beliau—sudah ditawari untuk menginap di Hotel Ibis Semarang, bergabung dengan mbak Yeni dan keluarga (suami –mas Faisal Heryono, dan dua puterinya –Cita dan Bella. Si bungsi Tifa ada di Jepang, sehingga tidak bisa bergabung). Namun beliau sudah wanti-wanti: aku kuwi nek nginep neng hotel rasane ora penak tenan je… (dalam bahasa Inggris: it’s really unconvenience to stay at hotel).
Alhamdulillah, acara berlangsung lancar. Setelah lebih kurang lima tahun kuliah S3, mb.ak Yeni kini sudah lulus kuliah S3.
*****
Bukan promosi doktor itu yang mau saya ceritakan di sini kali ini. Sepulang dari acara di Jogja, saya pulang pakai pesawat Merpati rute Adi Sucipto-Halim Perdanakusuma. Rute ini sangat menarik bagi saya: mendarat di Halim, hanya sekitar 5 Kilometer dari rumah.

Merpati rute Jakarta-Jogja merupakan trayek baru. Sebelum krismon 1998, saya bersama mommy Uni pernah juga naik Merpati dari Halim ke Jogja. Kalau tidak salah pesawatnya CN 235. Waktu itu penumpangnya hanya empat orang. Jumlah pilot dan pramugarinya lebih banyak ketimbang penumpangnya. Penerbangan itu rugi, dan rute Jakarta-Jogja ditutup. Entah kenapa kalau maskapai lain mendapatkan duit banyak dari rute Jakarta-Jogja, kalo Merpati malah merugi.
Sejak Maret lalu, Merpati membuka kembali rute ke Jogjakarta. Berbeda dengan jalur dahulu kala, kali ini rutenya Merpati berbeda: Jakarta-Bandung-Jogjakarta. Berangkat dari Halim jam 09.00 sampai di Jogja jam 15.00.. Lama sekali? Karena pesawat ini harus mampir dulu di Bandung.Tiba jam 10.00, tapi baru berangkat dari Bandung jam 14.00. Mungkin, Merpati ingin memberi kesempatan para wisatawan yang lagi belanja di factory outlet. Jadi kalo bapak ibu ingin berbelanja dulu di Bandung, Merpati ini pilihan yang pas. Tapi kalo buru-buru ke Jogja, ya jangan naik Merpati.
Maka saya berangkatnya ke Jogja naik Lion Air. Baru pulangnya naik Merpati. Jadwal pulangnya Merpati cukup menarik: dari Jogja jam 15.40, berhenti di Bandung jam 16.40, terus jam 17.00 berangkat dari Bandung ke Jakarta, sampai di Halim jam 18.00. Kalau semua tepat waktu, setengah jam kemudian saya sudah sampai di rumah.
****
Saya mencoba mencari tahu mengenai rute Merpati ke Jogjakarta. Menurut penjelasan distrik manager Merpati Bandung, Yanuar Fadhillah, ketika peluncuran rute ini Maret lalu, rute Bandung-Jogja merupakan rute penting: untuk wisata, seni, dan pendidikan. Bandung punya pabrik tekstil, Jogja adalah pasar tekstil Bandung. Kedua kota sama-sama dikenal punya nilai lebih di bidang seni. Ketika itu Bandung-Jogja diarungi dengan Boeing 737-300, tiga kali seminggu: Rabu-Jumat-Minggu. Tarifnya pukul rata: Rp 297.000.
Sejak peluncuran Maret lalu hingga kini sudah terdapat beberapa perubahan. Pertama, kini rute Bandung-Jogja diarungi tiap hari. Pesawatnya juga berubah. Tidak lagi Boeing, melainkan pesawat MA-60.


Kalau Boeing 737-300 berpenumpang 148 orang, Xian MA60 ini lebih kecil, bisa mengangkut 58 penumpang. Merpati memiliki 14 unit pesawat MA60, satu di antaranya jatuh di perairan Kaimana, Papua, pada Mei 2011. Label kata ‘’MA’’ merupakan kependekan dari ‘’Modern Ark’’ alias ‘’Perahu Modern’’. Wah, top..
Pesawat MA 60 dibuat oleh Xi’An Aircraft Industrial Corporation. Pesawat ini mendapatkan sertifikasi dari Badan Penerbangan Sipil China pada Juni 2000. Tapi belum mendapatkan sertifikat dari Federal Aviation Administration, Amerika Serikat. Sehingga pesawat ini belum boleh diterbangkan di Amerika. Ketiadaan sertifikat FAA ini yang menimbulkan gonjang-ganjing ketika Mei lalu pesawat MA60 jatuh di perairan Kaimana: mengapa Merpati membeli pesawat yang tanpa sertifikat FAA. Namun pejabat Indonesia dan petinggi Merpati ketika itu berpendapat: sertifikat FAA bukan suatu keharusan.
Pesawat MA60 ini tidak hanya dioperasikan oleh Merpati. Dewasa ini beberapa MA60 juga mengangkasa di beberapa negara. Di antaranya Laos, Burundi, Myanmar, Ghana, Ecuador, Kamerun, Filipina. Namun, yang terbanyak membeli memang Merpati. Agen penjualan MA60 patut diacungi jempol, karena sukses memasarkan MA60 ke Merpati. Bahkan yang dibeli Merpati jauh lebih banyak ketimbang yang dibeli maskapai di China. Di negeri pembuatnya itu, terbanyak sebagai pembeli adalah YingAn Airlines, 10 unit. Dua maskapai lainnya adalah Wuhan Airlines (tiga unit), dan Sichuan Airlines (dua unit).
Dalan pandangan Merpati, pesawat MA60 kinerjanya yahud. Maka Mei lalu Merpati mengumumkan, akan mendatangkan dua pesawat baru. Sehingga total Merpati akan memiliki 15 unit.
****




Saya sudah biasa naik pesawat lebih kecil dari MA 60. Hubungan dekat saya dengan Susi Pudjiastuti, pemilik maskapai Susi Air membuat saya beberapa kali naik pesawat Cessna Caravan rute Jakarta-Pangandaran, yang punya 14 tempat duduk. Saya juga pernah naik Piagio Avanti, yang hanya berpenumpang tujuh orang. Karena itu ketika naik MA60, saya tidak takut.
Memang bukan pada kinerja MA60 ini yang saya keluhkan. Saya percaya, China, yang sudah sukses membuat peluru kendali jarak jauh, meluncurkan roketnya ke ruang angkasa, juga mampu menembak satelit di orbitnya, bisa membuat pesawat terbang dengan baik.
Yang saya keluhkan adalah pada pengoperasian pesawat MA60 oleh Merpati. Bila sesuai jadwal, harusnya saya tiba di Jakarta jam 18.00. Namun hari itu saya apes..
Semula saya dikabari via sms bahwa pesawat Merpati akan berangkat ke Bandung jam 18.40, mundur tiga jam dari jadwal. Karena itu saya berangkat ke Adisucipto jam 17.00. Ketika check in saya dapat kabar dari petugas bahwa Merpati masih ’’ tetap sesuai jadwal’’, jam 18.40.
Saya menunggu di lounge Borobudur, Adisucipto, yang sudah nyaris kosong menu makanannya karena terlalu banyak penumpang yang menunggu. Tempe goreng, tahu goreng, kacang, emping, nasi goreng, semua ludes. Tinggal kue. Minuman cocacola, fanta, masih tersedia..
Sampai jam 19.00 ternyata pesawat belum datang. Lalu muncul pengumuman: pesawat diperkirakan tiba dari Bandung jam 20.15. Dan balik ke Bandung sekitar jam 20.40. Wah… kok molor lagi.
Alhamdulillah, kali ini Merpati tidak ingkar janji. Jam 20.40 pesawat terbang beneran. Sampai di Bandung jam 21.30. Begitu turun, saya dapat informasi: penerbangan ke Jakarta dibatalkan, sehingga penumpang yang berangkat ke Jakarta diantar dengan jalan darat, via tol Cipularang.
Kali ini Merpati menepati janjinya. Dari Bandung saya diantar dengan Suzuki APV ke Halim Perdanakusuma. Sampai Halim jam 23.30. Bukan perkara gampang mencari angkutan dari Halim di malam selarut itu.

Musibah lain, malam itu saya kehilangan acara penting: final sepakbola Sea Games antara Indonesia-Malaysia..

Saturday, October 22, 2011

iPad yang Ruwet





SEBAGAI produk teknologi baru, harus diakui iPad amat sangat sukses. Gamenya cukup banyak, dan menarik. Darrel Cetta sangat suka pada game global war. Ia juga suka main game superhero, angry bird, dan airportmania.

Game yang disediakan memang beragam. Anda suka fashion, memasak, perang, terbang, semua ada. Namun di luar berbagai keunggulan itu, saya masih merasakan banyak hal yang membuat iPad kurang menarik.

Tulisan pendek ini saya buat ketika Steve Jobs, sang pendiri Apple, sudah wafat, dua pekan lalu. Tulisan ini juga nongol karena saya habis dikerjain oleh iPad: file-file penting ketlingsut, dan kini masih dalam proses pencarian. Insya Allah sih ketemu.Sekadar informasi, iPad punya Mommy Uni Lubis itu seri pertama.

Komplain saya soal iPad adalah, peralatan ini egois. Hanya mau menerima program yang dikeluarkan Apple, atau konco-konconya. Di luar berbagai program itu, wassalam. Jangan harap. Anda pernah mendonlod program google chrome yang terkenal itu? Atau google earth? Atau pernah menginstall flash di iPad? Kalau belum, tidak usah mencoba, karena mubazir. iPad akan menolaknya.

Maka untuk menonton program yang butuh flash, seperti pada banyak game, kita tidak akan bisa melakukannya via iPad. Mau nonton televisi via internet, juga tidak bisa.

Masalah lain yang saya hadapi adalah, iPad tidak nyaman untuk bekerja. Anda pernah membuat tulisan sampai satu halaman di iPad? Dijamin jauh lebih susah ketimbang kita membuat tulisan yang sama di notebook atau komputer meja.

Yang ketiga, mungkin karena saya terbiasa dengan program Microsoft, memakai iPad ini terasa sulit. Alkisah, saya mau memback up file penting yang ada di iPad. Untuk itu, iPad saya hubungkan dengan iTunes yang ada di laptop. Perintah di iTunes menyatakan, bahwa sistem di iPad itu ternyata sudah lama, harus diupdate.



Eh, begitu update selesai, file yang mau diback up malah nyelip nggak tahu di mana... Jadi ceritanya saya sekarang lagi mencari file yang tersembunyi itu..
Begitulah ceritanya.

Tuesday, August 02, 2011

Uni Lubis: Ready, willing and able

Uni Lubis: Ready, willing and able

Dina Indrasafitri, The Jakarta Post, Jakarta | Mon, 08/01/2011 8:00 AM
A | A | A |

Zulfiani Lubis took a deep breath when asked about her current activities. “My main job is of course the chief editor of ANTV,” the woman popularly known as “Uni” said, referring to the private television station under her care.

She is also serving a term as a member of the Press Council until February 2013 and as the Association of Indonesian Private Television Station’s (ATVSI) commission of news and inter-institutional relations head.
JP/Dina IndrasafitriJP/Dina Indrasafitri

According to Uni, her most time-consuming duties are those at the television station and the Press Council.

“At least once a week I go to the regions to conduct trainings because I am the head of the commission for reporter education, training and development,” Uni said.

With the throng of activities related to journalism and her various campaigns, it is hard to conceive that the mother of one initially had almost no interest in working in the media.

Yet, the woman who drew the attention of fellow media workers with her swift, soaring career, which included becoming the chief editor of Panji Masyarakat magazine at the age of 32, said at first her profession was something that simply happened to her.

Uni was in her last year of studying agribusiness at the Bogor Institute of Agriculture and was organizing a seminar. One of the speakers was Erlangga Ibrahim, the leader of Warta Ekonomi magazine.

Her effort to approach him for the event evoked the unpredictable consequence of being offered a job at the magazine. “When you graduate, come to [work at] my place,” she recalled Erlangga saying.

She sent a letter, partly because she was “lazy at applying for jobs” and was accepted as a reporter. “And, I loved it,” Uni said.

Eyebrows may rise at her story from then on. After just one year, she was promoted to one of the editors at Warta Ekonomi. She then moved to Panji Masyarakat and quickly became the chief editor there.

Uni then sailed through top positions at private television station TV7 and eventually got to where she is now.

Her secret to success is far from miraculous or shady, she said. She was simply ready, willing and able.

This was evidently the reason she was quickly entrusted to write cover stories for Warta Ekonomi despite having spent only nine months in the newsroom. She was the only one available and ready to cover a banking scandal during a holiday when most reporters were on leave, and she delivered a decent report.

It was one of many more that followed. “My career at Warta Ekonomi was rather fast. In fact, I was promoted within a year as an editor because I wrote a record number of cover stories in one year,” Uni said.

Her promotion to chief editor at Panji Masyarakat in 1999 was another case of her being ready, willing and able.

Uni said she was asked by several of the magazine’s investors, including former finance minister Fuad Bawazier, to join Panji Masyarakat’s revitalization, and was at first appointed the deputy. She was also endorsed by another former finance minister, Marie Muhammad. At that time, she was a reporter covering the monetary and finance beat, and one of her posts was at the Finance Ministry.

Panji Masyarakat had been known as a magazine with strong Islamic tendencies. But, a team that included Uni gave the magazine a face lift so it could garner a larger audience. It resumed publication after a hiatus in 1997 with a fresh start.

“[At that time] there wasn’t a woman who was a leader of a general news magazine, let alone an
Islamic one,” she said.

Panji Masyarakat published a cover story in 1999 centering on an alleged recorded conversation between former president B.J. Habibie and then attorney general Andi M. Ghalib. The alleged conversation suggested that inquiries on corruption charges toward former president Soeharto were to be held ceremoniously or less intensely than that imposed on the others who were being questioned at the same time.

According to Uni, she took the initiative to publish the story, which was already circulating in the media, because she felt the public needed to know. She said the question of how far journalists should go in investigating cases remained.

An upcoming discussion by the Press Council is slated to carry the theme of journalists invading privacy. This theme was partly fueled by the recent alleged hacking scandal involving the now defunct News of the World owned by Rupert Murdoch. The case, which saw former editor and Murdoch’s close aide Rebekah Brooks arrested, has drawn public attention to media ethics.

“Personally, I think [the alleged hacking] was wrong… If we oppose ruthless tapping of civilians in the intelligence bill then the press should be consistent in not engaging in such activities as well,” Uni said, referring to the currently deliberated bill.

She is obviously equipped with guts and a sense of justice.

Her father, who was a judge, taught her valuable lessons, Uni said.

“I learned about integrity. Seeing so many judges arrested for receiving money [illegally] reminds me of my father who had a 26-year career and could barely afford a house and a car,” she said.

Her father quit six years before his retirement age. According to Uni, it was due to a decision he made at that time linked to the July 27, 1996, riot near the Indonesian Democratic Party (PDI) headquarters in Jakarta.

According to Uni, her father’s decision at that time leaned toward the innocence of Budiman Sudjatmiko, the former chairman of the Democratic People’s Party and now a near Indonesian Democratic Party of Struggle legislator.

“After [his decision], he was assigned to Papua. To him, it was equal to being scrapped,” she said.

Tuesday, May 17, 2011

Media Convergence in the US and in Indonesia: A Talk with Uni Lubis

Posted by dinidjalal | on May 13, 2011 | No comment | Cat : weekly-champion PrintMail


As a veteran journalist who is now Chief Editor of ANTEVE, Uni Lubis thought she knew quite a lot about the media business. Yet halfway through the 7-week fellowship with the Eisenhower Foundation that is taking her across the United States — meeting with fellow journalists, academics, politicians and enterpreneurs — Uni is learning much more than she expected.
The focus of her study? Media convergence in the age of digital media. In an age when traditional media businesses are trying to redefine themselves through digital outlets, and when news companies are increasingly being sold to conglomerates, this topic could not be timely. And as a member of Indonesia’s National Press Council, Uni felt it is her duty to help find answers to the challenges now faced by Indonesian media.
Uni spoke with The Indonesia Network recently to explain the bumpy path ahead:
Q: Why did you pick Media Convergence as your study focus?
A: Well, besides being a journalist, I head the Association of Indonesian Television Stations, which has 10 members. I’m also a member of the National Press Council, and we are currently discussing the Media Convergence bill, or Undang-Undang Konvergensi Telematika, in Bahasa Indonesia.
We already have the Press Freedom Bill, the Broadcasting Bill, and the Information and Electronic Transaction Bill. Our objective is that, if we really want to establish a Media Convergence Bill, then we don’t need all the other laws, because then all the media becomes one. The internet provides the structure, and the press provides the content.
But now that we have this Media Convergence Bill, everyone, especially those involved in the internet and media, is criticizing the bill endlessly, because the bill talks only about telecommunications, and not about the media, all multi-media.
Q: Do you feel that Media Convergence is a concrete threat against press freedom?
A: I talked earlier with Tom Rosenstiel and Bill Kovach (former Washington Post journalist), who wrote ‘Blur’, and asked them, what is the biggest threat to press freedom? Well, in the era of media convergence, content is produced by big corporations, such as Comcast, which just bought NBC.
In the future, there will be less and less big corporations which can control distribution as well as content. This consolidation has been happening in the last 10 years already, and we can already see the effects. For example, the media started focusing on entertainment, on what the public wants to know, not what the public needs to know.
I also learned that the United States does not like to make laws concerning technology, because technology is always changing. They just make short-term regulations, between the Federal Communication Commission (FCC) or Congress. These regulations do not need to go through a complicated process. I am learning a lot about these regulations.
Regulations impacting technology are very important in Indonesia. For example, ANTEVE is now streaming through the intent, through various channels. So, if, say, one of our affiliates like Vivanews streams our content and it’s problematic, then we will face charges on multiple levels, as a broadcaster and as internet content provider.
The bonus of being here is that while I am learning about making laws, I am also meeting experts of digital media. I spent three days meeting with digital media professors at the Medill School of Journalism in Chicago, and also at Stanford.


Book on understanding media convergence.


Q: What lessons from the US can apply for Indonesia?
A: I learned, what needs to be regulated and what does not. What needs regulation is infrastructure, but not technology. Infrastructure means the networks, the laying down of cables and fiber optics. Other aspects of the industry do not need laws, but simple business regulations.
We have deadlines in Indonesia about television going digital. Here, there are no laws regarding this. Your company goes digital based on its ability to do so. Here, the market sets the rules, so that if your market demands that you go digital, then you will have to follow these market demands.
Content does not need regulation, unless it involves, say, child pornography. The best supervisor of content remains traditional, and that’s the public, but this system does not need to be formalized. For example, these days we get our criticism through Twitter. Social media is much more effective at prompting us to make corrections than traditional media. If our news items get criticised through Facebook or Twitter, we will investigate the issue and recant the item.
Our Press Council should focus on education, not necessarily whether this media has violated regulations or not. There are no sanctions anyway at the moment, all you have to do if you violate the rules is say sorry. So the sanction of social media is more scary. When we read on Twitter people saying, oh your questions are so stupid, we take this criticism very seriously.
Q: What are the threats to the media in Indonesia?
A: One of the biggest threats is the intimidation and interference a media company can get from its owners, who are increasingly big corporations. Another threat is intimidation from the public, such as protesters coming from your office demanding a retraction. This is already happening in Indonesia. The first threat will happen to Indonesia too.
Indonesia is a country that still likes to make laws. So even though we are in the era of takeovers by big corporations, we can still make laws that will ensure freedom of expression and freedom of creation. We should learn the trends happening in the United States, because whatever happens here, will likely happen in Indonesia five years down the road.
Q: And how have these takeovers impacted American media?
A: The Americans I’ve talked to have said, on principle, they do not like these take-overs. But they also say that they had hoped initially that the take-overs would improve the quality of production. And the technology part of it, for the most part, has gotten better. There is much more capacity for going digital. But the content is not improving. For example, the US was subject to non-stop airing of the royal wedding, and that is strictly a profit-oriented decision. The bosses were hoping for content that is easy to sell, not content that may be more beneficial to the public.
And look at Fox News. They produce mostly talk-shows because talk-shows are cheap! As a result, other networks like CNN follow suit, and what you get are shows with people yelling at each other. It’s not necessarily beneficial to the public.
Q: What about positive examples from the US that Indonesia can emulate?

Mobile phone will become main player of media convergence.


A: Number one, media literacy. People are much more media literate here. And media literacy should be one of the top priorities of the Press Council and the government. Instead of focusing on regulations, the government should focu on media literacy. In the US, media literacy is part of the education curriculum. In Indonesia, it is not. Rather than make threatening regulations, the government should work on educating the public. Media literacy is also the responsibility of the private sector. Companies can incorporate media literacy programs into their Community Service Programs (CSR).
A second lesson we can learn from is the ethical code here. The US media is quite strict in adhering to their code of ethics. For example, the Bin Laden story. I asked fellow journalists here, if they get a video of Osama Bin Laden, what do they do? Their answer: only the pictures would be aired, not his voice declaring jihad. In Indonesia, that’s the part we would play over and over again! Here in the US, there is still consideration towards an item’s impact on the public. There is still discussion in the newsroom about why we should broadcast a news item, and what benefit would it serve the public. Journalists and editors here still ask, what is the good in this? In Indonesia, we just think about ratings!
It seems that here, this code of ethics is already ingrained. Education likely plays a part. In Indonesia, many of the working journalists are journalists because that’s the only work they got.
Q: So you have learned quite a lot during your time here.
A: Well, I learned while I am here that I still have a lot to learn. Engagement with the audience is something I still have a lot to learn. American media takes this engagement very seriously, they do a lot of research on what it is audiences want to see and hear about. Meanwhile, in Indonesia, ratings for TV news are all falling.
Q: Why are ratings declining?
A: Because we think that what the audience wants to see is violence. We think that they want to watch people fighting. But we learned from the Japanese coverage of the tsunami, that Japanese television showed not one single body. In Indonesia, we even provoke the victims, and ask them, please cry. We exploit pain and suffering. Here, they may also exploit suffering but they will also show the optimism in a situation. They will show that although there is a disaster, not everyone is suffering.
In Indonesia, I am one of the people guilty of exploitation. If there is a disaster, we exploit it. If there is conflict, we push them to have more conflict. And if there is any happy news, like the one of that Indonesian soldier who became famous dancing on youtube, we exploit it endlessly too and air it constantly as if there is no other news.

Entertainment program at antv, one of private channel in Indonesia.

Indonesians often wonder, why is Indonesia always depicted as an unstable place, prone to bombs going off? Because that is what we like to exploit: the bomb attacks, the political demonstrations and protests. As a result, the outside world also thinks, these are the biggest concerns in Indonesia. When in fact, it is not necessarily true.

Monday, May 16, 2011

Mimpi di Sebuah Halaman Facebook


Hosni Mobarak dalam karikatur. Foto dari www.muzic-world.com


Revolusi Mesir berhasil menurunkan rejim otoriter, memakzulkan Presiden yang berkuasa selama 30 tahun. Anak-anak muda penggeraknya mulai kuatir, setelah Revolusi, apa?



DIA mendeskripsikan dirinya sebagai: Constantly changing, Serious Joker, Internet Addict, Human, Egyptian who loves challenging status quo.

Dia adalah Wael Ghonim, kita bisa menemukan deskripsi ini di akun Twitter-nya, @Ghonim. Pekan lalu anak muda yang menjadi wajah dari revolusi Mesir yang berhasil menurunkan Presiden Hosni Mubarak dari kekuasaan selama 32 tahun itu, berkunjung di Bay Area, sebutan untuk kawasan di Palo Alto, Mountain View sampai Silicon Valley. Di sinilah “rumah” dari perusahaan seperti Twitter, Google, Facebook dan lainnya. Ghonim mendunia namanya bukan karena ia –sampai dua pekan lalu- adalah eksekutif Google.

Dia membawahi operasi perusahaan mesin pencari di Internet ini untuk wilayah Timur Tengah. Ghonim dikenal karena dia membuat akun Facebook yang menjadi pemicu mobilisasi kaum muda Mesir untuk menggerakkan mesin revolusi di Mesir. Revolusi yang dikenal dengan nama Gerakan 25th January itu berhasil melengserkan rejim Hosni Mubarak.

Saya tengah berada di Palo Alto, California, Jumat pagi (21/4) lalu, ketika membaca berita di www.cnn.com soal kunjungan Ghonim ke Bay Area. Ghonim akan berbicara soal Revolusi dan Masa Depan Mesir di Stanford University. Hari itu saya memang berencana ke Stanford, mengikuti sebuah seminar yang diadakan dalam rangka Earth Day.

Diskusi dengan Ghonim berlangsung Jumat malam itu, di Cubberley Auditorium, School of Education, Stanford. Hanya berjarak 300-an meter dari tempat seminar yang saya ikuti dalam rangkaian program Eisenhower Fellowships, Bishop Auditorium Mengenai Eisenhower Fellowships, bisa dibaca di

Saya mengikuti perjalanan Revolusi Mesir setiap hari, setiap jam, lewat Al Jazeera dan CNN selama 18 hari di bulan Januari dan Februari tahun ini. Sebuah Revolusi yang bahkan AS, sekutu kental rejim Hosni Mubarak tak pernah menduga. Sebuah Revolusi 2.0, karena disebarkan lewat media sosial seperti Twitter dan Facebook. Saya mengikuti cerita soal Ghonim.

Dia baru saja dinobatkan menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia bersama Presiden Barrack Obama, Oprah Winfrey dan Justin Beiber! Kunjungannya ke AS pun, dengan tujuan utama menghadiri Makan Malam yang diadalan Majalah TIME bagi para orang paling berpengaruh itu. Saya memutuskan mencoba mendaftar via online ke panitia, Muslim Student Awareness Network (MSAN) Stanford. Alamat email pendaftaran menunjukkan bahwa Tech Wadi, sebuah perusahaan teknologi di Bay Area menjadi pengundang juga, dan menyeponsori acara ini.

Poster mengenai ceramah Ghonim di Stanford. Foto dari author32.blogspot.com


Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia, ingin hadir. Jawabannya saya dapatkan tiga jam kemudian, sekitar tengah hari, ada satu kursi untuk saya. Alhamdulillah. Melihat Ghonim dari dekat, tentu pengalaman menarik.

Ghonim adalah magnet. Satu jam sebelum acara yang dimulai pada Pukul 8 malam waktu setempat, auditorium sudah penuh, sebagian berdiri di gang di kiri-kanan deretan kursi. Auditorium itu memuat sekitar 450an kursi. Saya termasuk datang paling duluan, karena seminar yang saya ikuti berakhir Pukul 6 sore. Tiga deretan kursi terdepan diisi oleh warga sekitar California, asal Mesir.

Bapak, Ibu berkerudung, anak-anak mereka, dengan semangat mengisi kursi-kursi terdepan. “Kami bangga pada Ghonim, dan ingin melihatnya langsung, “ kata seorang ibu yang duduk di sebelah saya, di deretan keempat dari depan. Dia datang dengan rombongan keluarga besarnya. 15an orang. Ketika Ghonim memasuki ruangan, semua berdiri memberikan tepuk tangan panjang. Anak muda berambut keriting, berkulit agak gelap, kerap tersenyum ini nampak agak malu.

“Tolong, kamera video dimatikan. Juga jangan memotret saya. Saya alergi dengan sorot kamera,” pintanya. Agak kecewa juga saya, karena sudah menyiapkan dua kaset untuk merekam pembicaraan malam itu. Apaboleh buat. Tak ada yang mencoba merekamnya dengan kamera video selama acara yang berlangsung dua jam itu, tapi banyak yang tak tahan untuk memotretnya dengan kamera foto. Kapan lagi?

Ketika saya menulis ini, saya mencari tahu berapa usianya. Ghonim baru 30 tahun! Teringat kembali betapa bijaksana dan rendah hatinya dia ketika menjawab sejumlah pertanyaan dari hadirin di Stanford. “Terus-terang saya tidak nyaman kalau disebut sebagai wajah Revolusi Mesir. Saya tak ingin mengambil kredit dari apa yang terjadi. Warga Mesir melakukannya bersama-sama, anak-anak muda yang berani. Saya hanyalah salah satu dari mereka,” kata Ghonim. Dia memakai sweater warna gelap malam itu. “Nggak usah terlalu serius ya, malam ini saya ingin banyak melontarkan lelucon saja,” kata dia. Bisa dibayangkan, pertemuan malam itu adalah pertemuan yang kesekian kalinya sejak Revolusi Mesir.

Ghonim sibuk meladeni undangan berbicara. Pastilah pertanyaan yang harus dia jawab agak mirip dari satu acara ke acara lainnya. Ghonim memang lucu. Seperti bio Twitter-nya. Dia banyak melontarkan lelucon, menyerempet soal politik, yang memancing tawa hadirin. Sebagian dalam bahasa Arab. “Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik,” katanya. Tentu dia bercanda.

Dia menjadi serius ketika bicara soal kekuatirannya akan masa depan Mesir pasca Revolusi 25 Januari. “Tantangan sebenarnya bukan menyingkirkan rejim otoriter Mubarak. Itu bagian mudah. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kehidupan rakyat Mesir menjadi lebih baik setelah rejim berganti, dan demokrasi hadir di negeri saya,” kata Ghonim. Dia meminta panitia menampilkan halaman Facebooknya, yang menampilkan tulisannya pada 17 Januari 2011. Dalam bahasa Inggris tertulis judul tulisan itu: My Dream. Tulisan lengkap dalam bahasa Arab.

Ghonim di Tahrir Square. Foto dari Latimes.com

Di situ, beberapa hari sebelum Revolusi 25 Januari dimulai, Ghonim menulis,” Saya ingin bisa bersuara di negeri saya, saya berharap korupsi bisa diberantas di negeri saya, saya ingin para guru memastikan murid-muridnya mencintai belajar.” “Kita punya mimpi,” lanjut Ghonim. “Hosni Mubarak adalah mimpi buruk bagi kita, dan kita berhasil menyingkirkan mimpi buruk itu, tapi kita masih perlu menggapai mimpi kita,” ujar Ghonim. Dia nampak serius. Dan seluruh ruangan terdiam.

Ghonim tak menyembunyikan kekuatirannya. Revolusi Mesir sejauh ini baru berhasil menurunkan rejim, menurunkan Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa sejak tahun 1981. Tapi setelah euforia gerakan rakyat di lapangan Tahrir, di Alexandria, kini rakyat Mesir mulai resah. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Setelah lelah mendukung anak-anak muda menurunkan rejim, selanjutnya apa? “Saya mulai dapat pertanyaan yang bernada menyalahkan, mengapa kami melakukan revolusi? Apa setelah revolusi? Apakah menurunkan Mubarak membuat hidup saya lebih baik?” kata Ghonim.

Jika penggantian rejim dan hadirnya demokrasi tak membawa kebaikan dan manfaat kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Mesir, Ghonim kuatir hal ini akan memberikan sinyal buruk bagi upaya meniupkan angin demokrasi dan mengakhiri rejim otoritarian di negara lain. “Revolusi Mesir sebenarnya diinspirasi oleh rakyat Tunisia. Kami cemburu pada mereka,” kata Ghonim.

Ghonim di twitter. Foto: news.softpedia.com



Efek dominonya jelas. Setelah Tunisia dan Mesir, Yaman, Bahrain, Libya dan Suriah bergolak. Dua yang terakhir bahkan mengalami pergolakan berdarah yang memprihatinkan dunia. “Kalau kita gagal meyakinkan rakyat Mesir, maka para diktator akan berkata: Lihat yang terjadi di Mesir,” kata Ghonim.

Bagaimana membantu rakyat Mesir? “Terus-terang saya tidak tahu jawabnya. Anda yang peduli Mesir saya harapkan membantu. Ghonim lantas mempersilahkan Dr Ossama Hassanein, pimpinan Tech Wadi untuk menyampaikan sejumlah usulan. Tech Wadi adalah sebuah perusahaan di Silicon Valley yang melakukan upaya melatih kewirausahaan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ada sejumlah program yang bisa ditawarkan untuk membantu rakyat Mesir, dari mendorong usaha kecil, membantu pendidikan, sampai kesehatan.

Beberapa orang yang hadir serta-merta menyampaikan niatnya membantu. “Saya bekerja di Intel. Apa yang bisa kami lakukan untuk rakyat Mesir?” kata seorang hadirin. Begitulah suasana malam itu, keinginan kuat bertanya soal seluk-beluk Revolusi Mesir yang dibawa oleh semua yang hadir di sana, seketika luntur, karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan dan dipikirkan, ketimbang mendengar langsung dari mulut Ghonim, mengapa dia melakukan Revolusi Mesir? “Saya sudah menjawab itu berkali-kali,” ujarnya sambil tersenyum.


Uni Lubis di salah satu kegiatan Eisenhower Fellowship.


Malam itu saya merasa berada di tengah kepungan orang-orang Mesir di AS, yang mendadak disadarkan untuk segera melakukan aksi nyata membantu rakyat Mesir. “Ayo kita buat gerakan membangun desa di Mesir. Anda juga bisa menyeponsori pendirian sebuah usaha kecil, atau membiayai pelajar Mesir mendapatkan pendidikan lebih baik,” kata Ghonim. Dia menggaris bawahi perlunya berkunjung ke Mesir untuk membuktikan bahwa Mesir adalah negara yang aman. Bangkirnya pariwisata akan mendatangkan pekerjaan bagi rakyat Mesir dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tak kurang dari 20 pertanyaan dia jawab malam itu. Sekitar 20an orang yang sudah mengantre berdiri di belakang mikrofon terpaksa tak mendapat kesempatan. Ghonim menjawab pertanyaan soal apakah benar ia sempat dilarang berbicara di Lapangan Tahrir, soal penahanannya selama dua pekan, soal seorang blogger yang masih ditahan militer Mesir, soal minoritas Koptik, kekuatiran Persaudaraan Muslim akan membawa bibit fundamentalisme jika terlibat dalam pemerintahan baru pasca Pemilu, dan banyak lagi.

Seorang hadirin yang mengaku warga Libya meminta pendapat Ghonim, apa yang harus dilakukan rakyat Libya? Ghonim terdiam. “Maaf, tak semua pertanyaan saya punya jawabannya,“ kata dia.

Dia punya kharisma. Agak idealis. Sosok yang selalu gelisah. Malam itu Ghonim tampil sebagai “leader’. Pemimpin yang menginspirasi. Tak berhenti di situ, ia juga mengumumkan bakal berhenti sementara dari Google untuk membangun sebuah lembaga swadaya masyarakat, yang bisa mewujudkan impiannya memberi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Mesir. “Saya ingin membagi pengalaman dalam menggunakan teknologi,” kata Ghonim. Hadirin bertepuk-tangan. Menurutnya, membantu rakyat Mesir bisa dilakukan oleh siapapun yang peduli, meski tidak punya kelebihan yang. Berbagi pengalaman pun bakal membantu.

Ketika acara berakhir, semua berdesakan ingin menyalami, berfoto bersama. Saya ikut berdesakan, bukan untuk berfoto, tapi menyerahkan sebuah dvd soal Internet Sehat yang dititipkan Dr Onno Purbo, dan Donny BU, penggagas Internet Sehat, kepada saya sebelum berangkat ke AS. Malam itu saya kembali ke hotel di Palo Alto naik bis gratis yang meladeni kampus Stanford dan beberapa lokasi di Palo Alto, bersama sejumlah hadirin. Semua kagum. Semua terkesima akan kedewasaan Ghonim, dan betapa rendah hatinya dia.

Ghonim membuat semua berpikir, merenung. Revolusi, menurunkan rejim, bukanlah akhir. Justru perjuangan sebenarnya baru dimulai. Ghonim menghibur kami dengan menebar kekuatiran, optimisme, lelucon. Dia juga mengingatkan pentingnya siap berubah. Kualitas yang penting bagi seorang pemimpin. Dia mengumumkan perubahan itu, dimulai dari dirinya. Kita akan melihat Wael Ghonim yang lain. Di bio akun Facebooknya, dia menulis: Politician. Ups! Semoga ini juga canda.

*Uni Z. Lubis, Pemimpin Redaksi ANTV, sedang di AS, berkunjung ke beberapa kota dalam rangka Eisenhower Fellowships.